
CEO Itu Mantan Teman Sekelasku
nindielisa|Bersambung
- Jumlah kata
- 1.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 6
- Jumlah kata
- 1.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 6
Sinopsis
Dulu mereka hanya dua siswa SMA yang duduk di kelas yang sama, tanpa pernah menyelesaikan perasaan yang tumbuh diam-diam. Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali dalam posisi yang berbeda—dia sebagai CEO dingin dan sukses, sementara dia berjuang membangun hidupnya sendiri. Pertemuan itu membuka kembali kisah lama yang belum benar-benar selesai, memaksa keduanya menghadapi masa lalu, luka, dan perasaan yang masih tersisa. Apakah cinta yang tertinggal di bangku sekolah masih layak diperjuangkan saat mereka telah dewasa?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
nama yang kembali
Namanya muncul di layar ponselku saat aku sedang berdiri di halte, menunggu bus yang selalu datang terlambat.
Aku kira itu spam. Atau berita ekonomi yang tak pernah benar-benar kubaca.
Raka Adinata — CEO Adinata Group.
Jantungku berdegup lebih cepat. Bukan karena kagum, tapi karena satu hal yang kupikir sudah lama selesai. Nama itu bukan sekadar milik seorang CEO. Ia adalah nama yang pernah kutulis kecil-kecil di sudut buku tulis, lalu kuhapus cepat-cepat agar tak ada yang melihat.
Dulu, Raka adalah teman sekelasku.
Aku menutup layar ponsel, menarik napas panjang. Kota bergerak seperti biasa—bising, tergesa, tak peduli. Aku, sebaliknya, diam di tempat. Ingatan berloncatan ke masa SMA: bangku kayu yang dicoret-coret, suara bel masuk, dan seorang laki-laki pendiam yang selalu duduk dua baris di depanku.
Kami tidak pernah benar-benar dekat. Hanya berbagi catatan saat guru menjelaskan terlalu cepat. Hanya saling meminjam pulpen. Hanya saling menatap sebentar, lalu berpura-pura tak terjadi apa-apa.
Bus datang. Aku naik, duduk di dekat jendela. Ponselku bergetar lagi—kali ini email.
Undangan Interview Tahap Lanjutan — Adinata Group
Aku membaca alamat gedungnya. Jantungku berdebar.
Tak mungkin.
Tapi kenyataan jarang peduli pada kemungkinan.
Lobi gedung Adinata Group luas dan dingin. Kaca-kaca tinggi memantulkan bayanganku: kemeja sederhana, tas kerja yang sudah mulai usang, wajah yang berusaha terlihat tenang. Aku melangkah ke meja resepsionis, menyebutkan namaku, lalu diarahkan ke lantai dua puluh.
Di dalam lift, aku berdiri sendiri. Angka-angka menyala satu per satu. Aku mengingatkan diriku: ini soal kerja. Soal masa depan. Bukan soal masa lalu.
Interview berjalan lancar. HR bertanya, aku menjawab. Aku mulai percaya diri—sampai pintu ruangan terbuka dan suasana berubah.
“Selamat siang, Pak.”
Aku menoleh.
Dia masuk dengan langkah tenang, diikuti dua orang staf. Jas hitamnya rapi, rambutnya tersisir sempurna. Tidak ada lagi wajah lelah anak SMA yang sering begadang mengerjakan tugas. Yang ada hanya seorang pria dewasa dengan aura yang membuat ruangan otomatis hening.
Matanya menyapu ruangan.
Berhenti padaku.
Hanya satu detik.
Tapi cukup.
Tak ada senyum. Tak ada ekspresi terkejut yang berlebihan. Hanya tatapan datar, profesional—seolah aku adalah orang asing. Dan mungkin, memang begitulah seharusnya.
“Silakan lanjut,” katanya singkat.
Aku menunduk, fokus pada pertanyaan berikutnya. Tapi detak jantungku tak mau kembali normal. Nama itu kini punya wajah. Wajah itu punya jarak.
Interview selesai. Aku keluar dengan kepala penuh. Di bangku lobi, aku duduk, menatap lantai marmer yang mengilap. Ponselku kembali bergetar.
Selamat. Anda lolos tahap awal.
Aku menutup mata sejenak. Ada perasaan aneh—bukan bahagia, bukan takut. Lebih seperti sadar bahwa sesuatu sedang dimulai, meski aku belum tahu apa.
Keesokan harinya, aku dipanggil ke lantai paling atas. Ruangan itu sunyi, luas, dan menghadap kota. Raka berdiri membelakangiku, menatap keluar jendela seolah kota itu miliknya.
“Duduk,” katanya tanpa menoleh.
Aku duduk. Sunyi kembali.
“Aku tidak menyangka kita akan bertemu lagi,” katanya akhirnya, berbalik. Tatapannya kini lebih tajam. Lebih personal.
Aku mengangkat wajah. “Aku juga.”
“Kamu melamar di perusahaanku,” lanjutnya. “Itu… menarik.”
“Aku melamar karena kualifikasiku,” jawabku pelan. “Bukan karena kamu.”
Sudut bibirnya bergerak sedikit. Hampir seperti senyum. Hampir.
“Aku tahu,” katanya. “Dan itu alasan aku memanggilmu.”
Ia membuka map di depannya. “Kita pernah satu kelas. Tapi sekarang kita berada di tempat yang berbeda.”
Aku mengangguk. “Benar.”
“Pertanyaanku sederhana,” lanjutnya. “Kamu siap bekerja secara profesional, tanpa membawa masa lalu?”
Aku menatapnya. Lama. Lalu menjawab jujur. “Aku sudah meninggalkan masa lalu. Tapi aku tidak menghapusnya. Aku belajar darinya.”
Ia terdiam sejenak. Lalu menutup map. “Baik.”
Aku berdiri, mengucapkan terima kasih, dan melangkah keluar. Saat pintu menutup, aku baru menyadari satu hal: pertemuan ini bukan sekadar kebetulan.
Nama yang dulu hanya kusimpan diam-diam, kini berdiri di hadapanku—dengan jarak, kuasa, dan kisah yang belum selesai.
Dan entah kenapa, aku merasa… ini baru permulaan.
Langkah kakiku terasa ringan sekaligus berat saat meninggalkan gedung itu. Lift menutup perlahan, memantulkan bayanganku yang masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi. Aku menatap pantulan itu—diriku yang sekarang, bukan lagi siswi SMA yang mudah gugup setiap kali namanya dipanggil guru.
Namun, perasaan aneh itu tetap tinggal.
Di luar gedung, angin sore menyapa. Langit kota berwarna kelabu, seolah ragu memilih antara hujan atau cerah. Aku berjalan tanpa tujuan pasti, hanya mengikuti langkah kaki yang membawa pikiranku kembali ke masa lalu.
Dulu, Raka adalah orang yang paling jarang berbicara di kelas. Ia selalu datang lebih awal, duduk rapi, dan pulang tepat waktu. Tidak ada gosip, tidak ada cerita menarik—kecuali satu hal yang tak pernah kukatakan pada siapa pun: caranya menatap ke depan, seolah sudah tahu ke mana hidup akan membawanya.
Aku tidak pernah menyangka ia benar-benar sampai sejauh ini.
Ponselku kembali bergetar. Kali ini bukan email, melainkan pesan singkat dari nomor tak dikenal.
“Terima kasih sudah datang hari ini. Kita akan sering bertemu ke depannya.”
Aku berhenti melangkah. Menatap layar cukup lama sebelum akhirnya membalas singkat.
“Terima kasih atas kesempatannya.”
Tidak ada emotikon. Tidak ada kalimat berlebih. Profesional. Seharusnya begitu. Tapi jantungku berdegup sedikit lebih cepat saat layar ponsel kembali gelap.
Aku sadar, bekerja di perusahaan miliknya berarti membuka kembali pintu yang selama ini kututup rapat. Masa lalu yang kupikir sudah selesai, ternyata hanya menunggu waktu untuk kembali mengetuk.
Pertanyaannya bukan lagi apakah aku siap bekerja.
Melainkan, apakah aku siap menghadapi seseorang yang dulu hanya bisa kutatap diam-diam—kini sebagai atasan, dan mungkin… sebagai seseorang yang belum sepenuhnya kulupakan.
Aku melanjutkan langkah. Kota tetap bising, hidup tetap berjalan. Namun di dalam diriku, satu hal berubah: kisah yang tertunda itu akhirnya menemukan jalannya kembali.
Dan aku tahu, ini bukan sekadar tentang pekerjaan.
Ini tentang perasaan yang dulu tak pernah mendapat nama.
Di lorong kantor yang dingin dan panjang, langkah kakiku terasa lebih pelan dari biasanya. Nama itu masih bergema di kepalaku, bercampur dengan kenangan yang dulu kupikir sudah terkubur rapi. Dulu kami duduk di bangku yang sama, berbagi tawa sederhana dan mimpi yang belum tahu arahnya. Kini, ia berada di puncak—sementara aku berdiri sebagai orang asing yang membawa masa lalu di dadaku. Aku menarik napas dalam-dalam. Jika takdir mempertemukan kami lagi, pasti ada alasan. Dan aku tak yakin aku siap menghadapi apa pun yang akan datang setelah hari ini
Aku tak tahu apakah aku harus berlari menjauh, atau justru bersiap menghadapi takdir yang perlahan mendekat.
Daftar bab
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Volume 1 · Volume 1
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.








