

Dengung mesin pendingin ruangan berkapasitas besar itu terdengar seperti dengkuran monster besi yang kelelahan. Udara di dalam ruang server lantai tiga belas PT Graha Solusi Data terasa kering, menusuk kulit, dan berbau khas debu sirkuit yang terpanggang panas lampu neon. Di sudut ruangan yang sempit, di antara jajaran rak besi server yang mengular tinggi, Aksara Benua mendesah pelan. Napasnya berat, tersendat oleh kelelahan yang menumpuk selama empat belas jam bekerja non-stop tanpa jeda yang layak.
Punggungnya terasa remuk. Kemeja putih berkerah kaku yang ia kenakan sejak kemarin pagi telah kusut masai, dihiasi noda keringat di bagian kerah dan siku lengan. Di atas meja kerjanya yang berantakan oleh tumpukan kabel UTP, patch cord, dan sebuah obeng minus yang tumpul, sebuah cangkir kertas berisi kopi instan dingin menyisakan endapan hitam pekat di dasarnya. Rasa pahit yang tertinggal di lidahnya seolah merefleksikan kepahitan hidup yang harus ia telan setiap hari di kota besar ini.
"Aksa! Jangan bilang kerjaan migrasi data klien yang dari Jakarta itu belum beres juga?"
Suara langkah kaki berat berbalut pantofel menghentak lantai ubin keramik dengan angkuh. Reno, manajer operasional divisi IT dengan perut buncit dan dasi longgar yang selalu miring, muncul dari balik rak server sektor dua. Wajahnya memerah, menampakkan guratan amarah khas atasan yang tidak peduli pada jam istirahat bawahannya, apalagi pada kesehatan fisik orang yang digajinya di bawah rata-rata.
Aksa menegakkan tubuhnya yang kaku. Ia menatap layar monitor di depannya, lalu melirik Reno dengan sorot mata sayu namun tajam. Lingkaran hitam tercetak jelas di bawah kedua kelopak matanya, bukti nyata dari tiga malam berturut-turut ia tidur kurang dari tiga jam.
"Baru sembilan puluh persen, Pak Reno. Ada korupsi data di sektor tiga yang harus saya *repair* manual satu per satu supaya tidak merusak basis data utama perusahaan," jawab Aksa, berusaha menjaga suaranya agar tetap datar, menahan gejolak emosi di dadanya yang rasanya ingin meledak saat itu juga.
Reno mendengus kasar, melangkah mendekat hingga aroma parfum murahan bercampur bau rokok kretek melintas di hidung Aksa. Ia menepuk meja kerja Aksa dengan keras, membuat cangkir kertas kopi di dekatnya bergetar hebat. "Saya tidak peduli manual atau otomatis! Klien itu kolega penting direksi pusat. Kalau sampai besok pagi sistemnya masih error, kamu tahu sendiri risikonya. Gaji bulan ini bisa dipotong setengah, atau... silakan cari jalan keluar dari gedung ini secara sukarela."
Ancaman itu diucapkan dengan nada meremehkan, seolah keberadaan Aksa di perusahaan itu hanyalah debu yang bisa disapu kapan saja tanpa ada artinya. Reno memutar badan tanpa menunggu jawaban, meninggalkan bau tak sedap dan gema langkah kaki yang memantul tajam di dinding ruang server yang dingin dan kedap suara.
Aksa mengepalkan tangan kanannya di bawah meja. Kuku-kukunya menancap kuat di telapak tangan, menciptakan rasa sakit tumpul yang membantunya tetap sadar dan berpijak di kenyataan. Hidupnya di Surabaya selama dua tahun terakhir memang tidak lebih dari sebuah lingkaran setan yang melelahkan: bekerja hingga larut malam, menerima upah pas-pasan yang separuhnya harus ia sisihkan untuk biaya sewa kos dan obat ibunya di kampung, lalu diremehkan oleh orang-orang bermental tiran seperti Reno.
Ia kembali menatap layar monitor yang menampilkan baris-baris kode pemrograman yang melelahkan mata. Pukul 02.15 dini hari. Ruangan itu kembali sunyi senyap, menyisakan suara dengung server yang kian memekakkan telinga di kepala Aksa yang mulai pening.
Ketika Aksa merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel pintar miliknya—yang sedari tadi bergetar karena sebuah surel dari bagian administrasi kantor—layar ponsel berukuran lima inci itu mendadak mati total secara misterius. Ia mengernyitkan dahi, mencoba menekan tombol daya di sisi ponsel berkali-kali dengan rasa kesal, namun layar tetap gelap gulita tanpa tanda-tanda kehidupan.
Tiba-tiba, tanpa ada sambungan internet yang aktif atau perintah apa pun darinya, layar ponsel itu menyala sendiri dengan intensitas cahaya putih yang sangat terang, menyilaukan matanya di tengah remangnya ruang server. Sebuah logo geometris aneh berbentuk mata rantai patah muncul tepat di tengah layar, diikuti oleh deretan teks berwarna hijau berpendar tajam yang merayap turun perlahan-lahan membentuk barisan kode asing.
Initializing system protocol...
Detecting host biological signature: Aksara Benua.
Compatibility: 99.8% (Optimal).
Anomali System successfully injected.
Aksa terpaku di tempatnya, napasnya tertahan di tenggorokan, membuat dadanya terasa sesak. Ia mencoba melempar ponsel itu menjauh ke atas meja, namun jari-jarinya seolah mendadak lumpuh dan kehilangan tenaga, terpaku menatap teks yang terus berganti di hadapannya dengan kecepatan yang tidak masuk akal.
[Anomali System v.0.1 berhasil terpasang di perangkat fisik Host.]
[Peringatan: Energi purba The Grid terdeteksi bocor di sektor Anda. Sinkronisasi paksa dimulai.]
Aksa mengerjap, menggelengkan kepalanya pelan untuk memastikan ia tidak sedang berhalusinasi akibat kelelahan kronis dan kopi basi. "Gila... Aku pasti sudah terlalu stres lembur sampai kena micro-sleep parah," gumamnya serak, mencoba menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya yang kini bergemuruh kencang.
Ia menekan tombol daya dengan kasar menggunakan ibu jarinya. Layar ponsel tidak merespons sama sekali. Ia bahkan mencoba mencopot casing belakang dan melepas baterai tipis ponselnya—sebuah trik klasik yang biasa ia lakukan saat ponsel mengalami hang total. Namun, keanehan yang di luar nalar terjadi di hadapannya. Baterai itu sudah terlepas dan berada di atas meja, tetapi layar ponsel tetap menyala terang benderang, menampilkan kotak dialog antarmuka yang tampak seperti kode pemrograman tingkat tinggi yang mustahil dibuat oleh pengembang aplikasi mana pun di dunia nyata.
[Status Host saat ini: Sangat Lemah.]
[Kekuatan Fisik: 42/100 (Di bawah rata-rata manusia normal)]
[Mental/Stamina: 30/100 (Risiko pingsan mendadak sebesar 78%)]
[Skill Aktif: Belum Terbuka]
Sebuah bilah status melintang di layar, menunjukkan grafik garis merah berkedip-kedip layaknya indikator nyawa di dalam gim peran (*RPG*). Aksa tertegun membaca deskripsi tentang dirinya sendiri yang terpampang nyata. Meskipun ia adalah seorang teknisi IT yang sangat skeptis dan tidak percaya pada hal-hal mistis atau mitos, kenyataan bahwa statistik tubuhnya terbaca seakurat rekam medis membuat bulu kuduk di tengkuknya meremang seketika.
Sebelum Aksa sempat berpikir lebih jauh untuk membanting ponsel itu ke lantai, sebuah jendela notifikasi baru kembali muncul dengan warna merah menyala, berkedip agresif menuntut perhatian.
[Daily Quest (Misi Harian) Pertama Tersedia!]
Deskripsi: Tekanan hidup telah membuat Anda menjadi pengecut penurut di hadapan atasan yang tidak kompeten. Untuk memicu adaptasi awal Anomali System, Host wajib melakukan tindakan koreksi sosial pertama.
Tugas: Datangi meja kerja Reno dalam waktu 10 menit ke depan, lalu tumpahkan sisa kopi dingin di atas laporan palsunya yang belum ditandatangani di meja sudut.
Batas Waktu: 09:00 menit tersisa...
Hukuman Kegagalan: Penurunan permanen fungsi motorik tangan kanan selama 24 jam penuh.
Mata Aksa membelalak lebar, memantulkan cahaya hijau dari layar ponselnya. Jantungnya berdegup semakin kencang, kali ini bukan karena kelelahan fisik, melainkan lonjakan adrenalin luar biasa yang mengalir deras di dalam pembuluh darahnya. Menumpahkan sisa kopi ke atas laporan Reno? Itu sama saja dengan mencari surat pemecatan dengan cara paling cepat dan brutal di muka bumi.
Selama bertahun-tahun bekerja di bawah tekanan, Aksa selalu memilih untuk menunduk, menerima setiap makian tanpa perlawanan, dan menjadi budak korporat yang patuh demi bisa bertahan hidup di kota sebesar Surabaya. Tapi ancaman hukuman di layar itu... kelumpuhan motorik permanen? Otaknya bergolak, menolak percaya namun instingnya memperingatkan bahwa ancaman itu nyata.
"Kau benar-benar gila..." bisik Aksa pada udara kosong, jemarinya gemetar hebat saat memegang benda pipih yang kini mendadak terasa panas membakar di telapak tangannya.
[Waktu tersisa: 07:45 menit...]
[Sistem mendasarkan hukuman pada hukum fisika kuantum Anomali. Penolakan akan memicu kelumpuhan saraf motorik permanen.]
Di luar bilik ruang server, suara jam dinding besar di lorong kantor berdetak nyaring, memecah keheningan malam dan menghitung mundur detik demi detik kewarasan Aksa di tengah pekatnya malam Surabaya.