
SI GANTENG KESAYANGAN TANTE
samudra|Bersambung
- Jumlah kata
- 1.6K
- Popular
- 210
- Subscribe
- 34
- Jumlah kata
- 1.6K
- Popular
- 210
- Subscribe
- 34
Sinopsis
datang untuk menolong di saat rumah tangga tanteku tidak Baik Baik saja
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1
Pagi itu, suasana lebaran di rumah eyang Reno sudah terlihat begitu ramai dengan kehadiran sepupu dan keponakan keponakan Reno disana.
Reno sendiri yang memang sudah sangat lama tidak pernah berkumpul ataupun merayakan lebaran bersama sanak saudaranya pasca meninggalnya Mamanya itu, terlihat cukup canggung berada disana.
Bahkan dia juga tidak tahu kalau rumah eyangnya itu kini telah ditempati dan dirawat oleh Kakak Sepupunya, Mas Bayu beserta istri dan anak-anaknya.
Reno yang kini hanya terlihat duduk sendiri diteras belakang rumah eyangnya itu, sambil melihat saudara sepupunya dari kejauhan, tampaknya tengah menikmati kesendiriannya disana sembari menikmati sebatang rokok dengan ditemani segelas air teh hangat yang ada di meja.
Namun saat Reno tengah menikmati kesendiriannya, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki dan seorang perempuan paruh baya yang tak lain mereka adalah Pak Dhe Heru, kakak kandung dari Mamanya, serta Tante Erni, yang juga anak nomor 3 dari eyangnya itu.
Sementara Mama Reno sendiri adalah anak nomor dua dari empat bersaudara tersebut.
"Ya ampun... ini Reno to ?", sapa Pak Dhe Heru disana.
"Iya Pak Dhe, ini Reno...", sahut Reno yang tampak tersenyum dan langsung berdiri dari kursinya untuk mencium tangan Pak Dhe dan Tantenya itu.
"Kamu apa kabar Ren ? udah 8 tahun sejak Mamamu meninggal.. kamu kok gak pernah mau lebaran kesini lagi...", sahut Pak Dhe Heru
"Yaelah basa-basi banget sih..", batin Reno. "Alhamdulillah baik kok Pak Dhe", sambungnya sambil tersenyum disana.
"Makasih ya Ren, tahun ini.. kamu mau nyempetin datang lagi kesini, mau kumpul lagi sama kita semua..", ujar Tante Erni disana.
"Sebenernya 2 tahun lalu itu.. aku udah mau datang Tante.. sayangnya waktu itu kan covid, dan kebetulan aku juga mau ke Kanada waktu itu..", sahut Reno.
"Ke Kanada ?", sahut Pak Dhe Heru yang terlihat cukup terkejut ketika mendengar itu.
"Iya Pak Dhe..", sahut Reno.
"Bentar to Mas.. Kamu ngapain ke Kanada Ren ?", sahut Tante Erni.
"Ehmm aku dapat beasiswa buat nerusin S3 disana Tante... ya udah deh, karena ini kesempatan bagus, terus kebetulan, semua biaya-biaya selama disana itu kantorku mau nanggung juga.."
"Yaudah deh, aku putusin buat langsung berangkat kesana aja..", sahut Reno.
"Oalah gitu..", sahut Tante Erni.
"Wahhh hebat kamu Ren.. Pak Dhe bener-bener gak nyangka lo.. kamu bisa kuliah sampai S3 dan di Kanada lagi.. wes hebat banget pokoknya..", sahut Pak Dhe Heru sambil menepuk-nepuk bahu Reno.
"Iya, Ren," Tante Erni tersenyum lebar sambil menatap penuh bangga.Tangannya meremas lembut bahu keponakannya. "Tante bangga banget, Kamu bisa kuliah di Kanada, apalagi dapat beasiswa. Hebat deh pokoknya"Mendengar itu, Reno terlihat hanya menanggapinya dengan senyuman tipis dan anggukkan kepalanya saja."Oh iya Ren, kamu udah ziarah ke makam Papa sama Mamamu belum?", tanya Tante Erni.
"Udah kok Tante, kemarin sore aku ke makam Papa sama Mama, terus ke makamnya eyang juga... dan udah aku bersihin juga kok makamnya...", sahut Reno.
"Wahh kita belum sempet kesana Ren, palingan kesananya nanti barengan sama kelurganya Danu...", sahut Pak Dhe Heru.
Reno yang terlihat menatap wajah-wajah itu satu per satu, dadanya terasa.begitu sesak. Suara mereka yang santai membuat luka lama dihatinya seakan-akan kembali terbuka.
"Ya udah, pasti kalian belum pergi kesana,"pikirnya dengan getir. Dalam hatinya, dia mengulang-ingat momen itu, ketika Mamanya terbaring lemah di rumah sakit dan butuh biaya operasi besar. Sementara dia sibuk mencari cara, sedangkan saudara kandung Mamanya itu hanya diam membisu, tak satu pun yang mau mengulurkan tangan.
"Oh, gitu ya, Pak Dhe..." sambungnya dengan senyum pahit menghiasi wajahnya
Setelah mengobrol panjang dengan Pak Dhe dan Tantenya, suara langkah pelan terdengar dari pintu. Mas Bayu dan Mbak Winda muncul, kakak sepupu Reno yang juga anak pertama dan kedua dari
Pak Dhe Heru. Mereka membawa aura hangat keluarga, wajah Mas Bayu yang ramah tersenyum lebar, sementara Mbak Winda menatap Reno dengan sorot mata penuh perhatian pada dirinya.Dan disaat yang sama, Pak Dhe Heru dan Tante Erni terlihat meninggalkan mereka bertiga dan langsung kembali ke dalam.
"Kamu apa kabar Ren?", sapa Mas Bayu dengan ramah sambil menjabat tangan Reno.
"Baik Mas, Mas Bayu sama Mbak Winda sendiri apa kabar?", sahut Reno dengan pelan.
"Kami berdua juga baik kok Ren...", sahut Mas Bayu.
"Ren...", sahut Mbak Winda.
"Iya Mbak...", sahut Reno.
"Maafin kita berdua ya..", sahut Mbak Winda dengan pelan
"Maaf soal apa ya Mbak?", tanya Reno dengan rasa bingung disana.
"Ya soal 8 tahun lalu itu lo Ren... maafin kita berdua ya.. karena waktu itu kita berdua gak bisa bantu kamu sama Mamamu...", sahut Mas Bayu dengan pelan.
"Iya, Ren. Waktu itu keadaan ekonomi kita memang sedang sangat sulit," sahut Mbak Winda pelan, wajahnya tampak sedih. " Waktu itu aku baru aja di-PHK dari perusahaan lamaku..." lanjutnya.
"Aku juga lagi butuh biaya buat lahiran istriku Ren...", sahut Mas Bayu.
"Oalah soal itu to.... yaudah sih Mas, Mbak.. toh kejadiannya juga udah lama berlalu. Disesali pun juga percuma, lagian Mamaku juga udah tenang disana...",sahut Reno penuh senyuman.
"Maafin kita ya Ren... kita bener-bener minta maaf...", sahut Mbak Winda sembari menitikan air matanya.
"Udah lah Mbak, gak usah nangis kayak gitu...", sahut Reno sambil mengusap-usap lengan Winda dengan pelan.
"Lha terus selama 8 tahun ini, kamu kemana aja Ren? kok gak ada kabar sama sekali...", sahut Mas Bayu.
"Iya, Ren, kamu kemana saja sih selama delapan tahun ini ? Soalnya, setelah Mamamu meninggal, tiba-tiba kamu menghilang tanpa kabar. Terus, waktu kami ke rumahmu, tetanggamu bilang kalau rumah itu sudah kamu jual," sahut Mbak Winda.
"Ya emang sejak Mama meninggal dan semua urusan udah beres, rumahku itu. langsung aku jual Mbak... terus gak lama setelah itu, aku dapat panggilan kerja di Surabaya...",
"Yaudah deh, dari pada rumah itu kosong... aku jual terus aku tinggal di Surabaya...", sahut Reno.
"Oh gitu, jadi sekarang kamu tinggal di Surabaya?", tanya Mas Bayu.
"Kalau sekarang ini, aku di Balikpapan sih Mas...", sahut Reno.
"Loh tadi katamu Surabaya?", tanya Mbak Winda.
"Ya itu pas masih awal-awal kerja Mbak... ya kurang lebih 3 tahunan lah disana, habis itu aku di mutasi ke Medan, ya kurang lebih setahunan disana... terus sekarang di Balikpapan...", sahut Reno.
"Oalah gitu...", sahut Mbak Winda.
"Lha terus kamu sendiri Mbak, sama
suamimu sekarang tinggal dimana? kalau rumah eyang ini kan di tempati sama Bayu...", tanya Reno.
"Pindah-pindah juga Ren, kan suamiku tentara... jadi pas awal-awal nikah itu aku ikut suamiku di Maluku... terus kalau sekarang sih, Alhamdulillahnya... udah pindah ke jawa lagi, di Madiun sih tepatnya...", sahut Mbak Winda.
"Wah ya deket aja sih, kalau penempatan di Madiun, Mbak..", sahut Reno.
"Lha terus Mas Reno sendiri, sekarang masih jadi guru SMA, Mas?", sambungnya.
"Masih Ren, tapi sekarang aku ngajar di SMA Swasta...", sahut Mas Bayu.
"Kalau swasta berarti gak jadi PNS dong Mas?", tanya Reno.
"Ya enggak Ren, sebenernya dulu itu.aku lolos tes CPNS, tapi penempatannya itu di Lombok... ya aku kasihan istriku, kan istriku kerjanya disini... mana waktu itu dia juga baru aja diangkat jadi pegawai tetap...", sahut Mas Bayu.
"Oalah gitu...", sahut Reno.
Sesaat setelah mereka bertiga mengobrolkan banyak hal, terdengarlah suara Tante Erni yang memanggil mereka bertiga untuk segera masuk ke dalam rumah karena sepertinya acara sudah akan dimulai.
"Lha ini nggak nunggu keluarganya Om Danu dulu Tante?", tanya Reno.
"Keluarganya Om Danu biasanya datang paling terakhir Ren...", sahut Mbak Winda.
"Iya Ren, udah mending dimulai sekarang aja... biasanya juga kayak gitu kok dari pada makin kesiangan...", sahut.
"Oh...", sahut Reno.
Setelah semua orang sudah berkumpul di ruang tengah, kini Pak Dhe Heru selaku anak paling tua pun segera membuka acara tersebut.
"Assalamu'alaikum wr wb....", ujar Pak Dhe Heru dengan lantang
"Waalaikum salam wr wb...", sahut semua orang disana.
Pak Dhe Heru baru saja membuka mulutnya, "Selamat pagi semuanya, pertama-tama-" suara klakson mobil tiba-tiba memecah keheningan dari luar rumah Eyang Reno.
"Tiiinn... Tiiinnn..." klakson itu terdengar nyaring, memaksa semua yang ada di dalam ruangan menoleh, seolah ingin mengusir fokus dari ucapan Pak Dhe Heru yang belum sempat selesai.
"Siapa ya?", gumam Reno.
"Kayaknya itu Om Danu deh Ren...", bisik Mbak Winda yang duduk disamping Reno sambil menggendong putra kecilnya.
"Kalau datang pasti heboh gitu ya Mbak?", tanya Reno.
"Ya semenjak Om Danu jadi anggota Dewan, jadi agak sok gitu Ren...", sahut Mbak Winda.
"Udahlah, biarin aja...", ujar Mas Zaki, suami Mbak Winda yang duduk disebelahnya.
Reno yang tampaknya juga sedikit merasa penasaran, langsung saja mencoba untuk mendongakan kepalanya agar bisa melihat keluar.Kemudian, saat Reno berhasil melihat ke luar, dia melihat sebuah mobil Alphard.putih yang berhenti di depan rumah eyangnya. Pada saat yang sama, satu per satu orang mulai keluar dari mobil itu.
"Assalamu'alaikum..." sapa seorang pria berusia sekitar 40 tahun. Tubuhnya pendek, dengan wajah yang cukup tampan dan senyum ramah yang langsung membuat suasana menjadi hangat yang tak lain adalah Om Danu.
"Wa'alaikum salam...", sahut semuanya.
Sesaat setelah Om Danu masuk ke dalam rumah, Reno melihat dua orang wanita berparas cantik yang mengenakan kerudung berjalan di belakangnya. Mereka bertiga pun langsung menyalami Pak Dhe Heru dan Tante Erni yang sudah berdiri di dekat pintu.
Beberapa saat kemudian, istri Om Danu, Tante Sofi, seorang wanita berusia.empat puluhan dengan paras cantik dan
berhijab, berjalan menyusul mereka sambil mendorong seorang wanita sangat cantik yang duduk di kursi roda.
"Mbak...", bisik Reno pada Mbak
Winda.
"Kenapa Ren?", tanya Mbak Winda.
"Ehm dua orang perempuan yang jalan dibelakangnya Om Danu itu siapa ? terus sama perempuan yang duduk di kursi roda itu siapa?", tanya Reno.
"Oh itu... mereka bertiga itu istri-istrinya Om Danu Ren...", sahut Mbak Winda.
"Hah ?!! Serius Mbak?", tanya Reno yang begitu terkejut.
"Lha emang kamu belum tahu Ren ?", tanya Mas Zaki suami Mbak Winda.
Daftar bab
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Volume 1 · Volume 1
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.








