Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Supeno Pemikat Harta dan Wanita

Supeno Pemikat Harta dan Wanita

Leva Lorich | Bersambung
Jumlah kata
104.0K
Popular
11.0K
Subscribe
1.4K
Novel / Supeno Pemikat Harta dan Wanita
Supeno Pemikat Harta dan Wanita

Supeno Pemikat Harta dan Wanita

Leva Lorich| Bersambung
Jumlah Kata
104.0K
Popular
11.0K
Subscribe
1.4K
Sinopsis
18+PerkotaanAksiPria MiskinHaremUrban
Peno ingin kaya dan punya banyak wanita. Sejak mandi dengan air itu, segala kesulitannya terangkat, keinginannya terwujud!
1. Senyum Getir

SUPENO, nama yang sangat simpel. Ia biasa dipanggil Peno oleh orang-orang.

Menurut bahasa yang digunakan di desanya, Supeno artinya mimpi atau bermimpi.

Peno berusia 19 tahun, baru lulus SMA tahun lalu namun tidak lanjut kuliah karena tak memiliki biaya.

Ia hanya hidup sendiri di rumahnya. Bapaknya telah lama meninggal, sedangkan Emaknya masih hidup, namun sudah diperistri pria lain.

Di sisa sebagian kecil tanah sekeliling rumah, Peno membuat kandang unggas dan menanam beberapa sayuran serta buah.

Di luar itu, Peno juga memiliki sampingan sebagai kuli panggul di pasar desa.

Peno sedang berjalan santai menuju kantor karang taruna yang menempel di samping bangunan balai desa.

Siang itu agendanya adalah rapat rutin anggota karang taruna.

Yang membuat Peno semangat bukan sekadar isi dari rapatnya, melainkan bisa curi-curi pandang menatap kecantikan Santi, sang bendahara karang taruna.

“Mau kemana, No?“ Sapa Pak Sukri, pedagang kerupuk keliling langganan Peno. Bagi Peno, kerupuk adalah lauk utama. Meski tak ada daging atau ikan, asalkan ada nasi dan kerupuk, itu sudah cukup.

“Mau ke kantor karang taruna, Pak, ada rapat,” ia mendekat ke samping Pak Sukri, mencomot satu kerupuk dan langsung berlari pergi. “Totalan minggu depan, Pak!“ teriaknya dengan mulut penuh kerupuk.

Pak Sukri hanya bisa menggeleng dan tertawa melihat ketengilan Peno. Tapi ia tak marah karena sudah cukup akrab dengan Peno selama ini.

Kantor karang taruna dan balai desa letaknya tidak terlalu jauh dari rumah Peno, hanya berkisar tiga ratusan meter. Oleh karena itulah ia cukup berjalan kaki menuju kesana.

Hasil rapat, mereka bersepakat untuk bekerja bakti membantu kebersihan lingkungan balai desa.

Melihat momen yang tepat, Peno berjalan mendekati Santi yang saat itu sedang menyapu halaman balai desa.

“Aku bantuin ya, San,” sapa Peno sambil mesam-mesem.

Bola mata Santi bergerak cepat, menatap Peno dengan kelopak terbuka lebar. “Nggak, No. Makasih!“ jawab Santi datar.

Peno tak kendor. “Nggak apa-apa aku bantu, biar lebih ringan,” ia terus berusaha.

Namun lagi-lagi Santi menolak tawaran bantuannya. “Kamu bantu ringankan pekerjaan anggota yang lain aja, No. Aku masih bisa sendiri!“ ujar Santi masih datar.

“Halaman balai desa ini luas loh, San. Kasihan kamu kalau—”

“Peno! Kenapa maksa banget sih?!“ tiba-tiba Santi menyentak.

Wajah Peno sedikit berubah akibat bentakan itu. “Aku cuma kasihan lihat kamu. Cuma nawarkan bantuan. Jangan marah dong.“

“Bantuan apa? Kasihan apa? Emangnya aku nggak tahu niat kamu? Sudah sejak tahun lalu aku bergabung di karang taruna ini, kamu sudah tertarik sama aku. Iya, kan?!“ nada tinggi suara Santi terdengar.

“Aku… aku—” Peno tergagap.

“Harusnya kamu sadar! Dari tadi aku udah nolak bantuanmu, itu artinya apa?! Aku nggak mau ada kamu di sini, paham?!“ lanjut Santi masih berang.

“Tapi kenapa, San? Apa salahnya berteman baik?“ Peno masih saja tak menyerah.

“Berteman baik katamu? Niatmu itu pengen jadi cowokku, bukan teman!“ tersungging senyum sinis di bibir Santi. “Sadar diri, No. Ngaca! Keluargaku itu tengkulak besar desa ini, dan kamu itu siapa?! Cuma anak miskin yang dibuang ibunya sendiri!“

Seketika wajah Peno terangkat begitu Santi mengusik emaknya. “San, tolong jaga omonganmu! Kamu boleh menghina aku bahkan lebih rendah melebihi anjing, tapi jangan sekali-kali menodai martabat emakku!“ tatapannya berubah dingin dan menusuk.

Santi tak bergeming, membuang mukanya ke arah lain.

Namun tiba-tiba muncul orang lain di dekat Santi. Dia adalah Gino, sekretaris karang taruna yang selama ini juga mengincar Santi.

“Kenapa, San? Kamu diganggu lagi sama dia?“ tanya Gino sok perhatian.

Santi tak menjawab, namun bergerak ke belakang Gino seolah minta perlindungan.

Gino segera paham dan langsung menatap Peno tajam. “No, kamu itu kok nggak ada capek-capeknya ganggu Santi sih?! Aku peringatkan kamu ya, jangan bikin masalah di sini, atau aku bakal ambil tindakan!“ sentak Gino bak pahlawan penyelamat bagi Santi.

Peno yang terlanjur emosi karena Ibunya tadi dihina oleh Santi, langsung membalas dengan tak kalah keras, “Kamu ngancam aku?“ tangannya terkepal.

Gino menatap kepalan tangan Peno, khawatir jika Peno menyerangnya. “Bukan ngancam, tapi ini peringatan! Aku dan Santi adalah pengurus utama karang taruna. Di belakang kami ada Darko, ketua karang taruna dan juga Pak Lurah. Kamu jangan macam-macam!“ ia menakut-nakuti Peno.

Peno yang miskin merasa sungkan dengan Darko dan Pak Lurah. Ia merasa tak enak sendiri jika masalahnya terdengar oleh mereka.

Melihat keraguan di wajah Peno, Gino segera mengambil kesempatan untuk mengajak Santi pergi. “Ayo, San. Jangan dekat-dekat lagi sama dia!“ ia menarik tangan Santi, membawanya pergi.

Peno hanya bisa terdiam dengan dua tangan masih terkepal, menatap kepergian Santi dan Gino.

Plak!

Tiba-tiba sebuah tangan menepuk bahu Peno yang masih tertegun.

Peno menoleh, dan mendapati Lintang, salah satu teman dekatnya di desa.

“Sabar, No. Santi memang begitu, sok kaya dan mulutnya pedas. Jangan diambil hati,” Lintang berusaha menenangkan.

Peno tersenyum getir. “Ini bukan soal perasaan lagi, Tang. Dia udah menghina emakku. Aku nggak terima!“ seru Peno menumpahkan kekesalannya.

Lintang mengangguk paham. “Iya, No, aku ngerti. Tapi kamu juga perlu mikir, di belakang Santi ada keluarganya yang kaya, belum lagi Gino dan Darko yang sepertinya melindunginya juga. Jangan gegabah, No!“

Peno terdiam, merasa bahwa apa yang dikatakan Lintang ada benarnya.

“Ya udah deh, Tang. Aku mau pulang aja. Mood ku ancur buat lanjut bersih-bersih. Makasih ya udah nenangin aku,” Peno menepuk ringan bahu Lintang.

“Iya, No, sama-sama. Kalau kamu masih suntuk dan perlu temen ngobrol. Cari aku di tempat biasa,” jawab Lintang merasa kasihan pada sahabatnya tersebut.

Peno hanya mengangguk pelan sebagai jawaban.

Ia lalu melangkah hendak keluar dari gerbang balai desa, mengabaikan acara kerja bakti yang justru menyesakkannya.

Namun sebuah suara menghentikan langkahnya.

“Peno! Tunggu!“

Peno mengedarkan pandang, mencari pemilik suara tersebut.

Seorang gadis berlari kecil dari rumah dinas kepala desa, menuju ke arahnya.

“Diana?!“ Peno menatap dengan sedikit kaget.

Diana adalah keponakan kepala desa. Rumahnya di pusat kota. Ia hanya sesekali menginap di rumah pamannya tersebut. Karena sudah sering bertemu, ia dan Peno sudah saling mengenal.

“Kamu mau kemana?“ tanya Diana, tatapannya jelas menunjukkan kekhawatiran.

“Pulang.“

“Hmm, kan kegiatan bersih-bersihnya belum selesai. Kamu ketua kebersihan karang taruna, loh. Gimana kalau nanti malah dipersalahkan oleh anggota lainnya?“ tegur Diana pelan, tak ingin Peno tersinggung.

“Bodo amat lah!“ jawab Peno singkat, padat, dan jelas.

Diana memilih diam, memberikan kesempatan bagi Peno untuk menenangkan diri.

Setelah melihat emosi Peno berangsur turun, Diana kembali angkat bicara, “kamu marah, No?“

Peno seketika menoleh. “Kamu mengintipku tadi?“ tanyanya panik. Ia tak ingin skandal kecilnya terendus orang lain.

“Nggak sengaja denger sih. Jendela kamarku pas di sebelah Santi berdiri,” jawab Diana meluruskan.

Sejenak Peno menatap wajah cantik Diana. Jika berbicara perbandingan, Santi dan Diana sama-sama berada di puncak klasemen. Yang jelas membedakan adalah karakter mereka.

“Dia itu cinta pertamaku, Na. Sejak lulus SD aku selalu menatapnya dalam diam. Dia yang selalu hadir dalam lamunanku selama ini,” Peno mengeluarkan isi beban di hatinya.

“Tapi kenyataannya?!“ tanggap Diana. “Udahlah, No. Kata orang, dunia nggak selebar daun kelor. Masih banyak wanita cantik lain yang lebih bisa menerima keadaanmu,” ucapnya penuh perasaan seakan itu adalah ungkapan hatinya sendiri.

Peno mengangguk. “Iya, Na. Kamu bener! Sejak mendengar perkataannya tadi, perasaanku seketika hampa.“

“Nggak perlu dipikirin lagi. Buang-buang pikiran dan energi,” timpal Diana menenangkan. “Eh ngomong-ngomong, kamu nggak ada niatan liburan kemana gitu? Biar aku bisa ikutan,” ia mengalihkan arah pembicaraan demi membuat Peno lebih tenang.

Peno menggeleng lemah. “Nggak ada waktu buat begituan, Na. Sehari aja nggak kerja, aku nggak makan,” ucapnya berubah tegas.

Lanjut membaca
Lanjut membaca