

GUBRAK!
Tubuh Dirga menghantam lantai keras dengan posisi menyamping. Rasa sakit yang tajam menjalar dari bahu hingga ke pinggangnya. Napasnya tersengal, matanya terbelalak menatap langit-langit kayu yang penuh sarang laba-laba.
"Serangan udara?!"
Dirga berguling cepat, insting tempurnya mengambil alih. Dia mencari perlindungan, tangannya meraba-raba mencari senapan serbu yang seharusnya ada di sampingnya. Namun, tangannya hanya menyentuh botol kaca dingin yang berbau menyengat.
Hening.
Tidak ada suara ledakan artileri. Tidak ada teriakan prajurit yang meregang nyawa. Tidak ada bau amis darah yang biasanya memenuhi parit pertahanan.
Dirga mengerjapkan mata, mencoba memproses situasi. Detik terakhir yang dia ingat adalah momen di medan perang Perbatasan Utara. Dia adalah Jenderal Besar Dirga, Sang Dewa Perang yang memimpin pasukan terakhir melawan invasi penjajah asing. Di tengah hujan peluru, saat jantungnya hampir berhenti berdetak karena luka fatal, dia menelan sebuah pil hitam kecil pemberian Dokter Tedi, sahabat seperjuangannya.
"Jika ini gagal, kau mati. Jika berhasil... perbaiki takdirmu," itu kata-kata terakhir Tedi.
Ingatan Dirga melayang pada Tedi. Pria itu bukan sekadar dokter militer, melainkan pewaris tunggal teknik pengobatan kuno yang hilang. Selama sepuluh tahun di medan perang, di sela-sela misi penyusupan yang sunyi, Tedi telah mewariskan seluruh ilmu "Jarum Naga" kepada Dirga. Siapa sangka, Dirga yang dikenal sebagai mesin pembunuh ternyata memiliki bakat medis yang melampaui gurunya sendiri. Tangan kanannya bisa mencabut nyawa, sementara tangan kirinya bisa menghidupkan orang mati.
Dirga memegang kepalanya yang berdenyut hebat. Dia melihat ke sekeliling. Ruangan ini sempit, pengap, dan berantakan.
"Di mana ini?" tanyanya pada diri sendiri.
Matanya tertumbuk pada sebuah kalender dinding yang tergantung miring di dekat pintu. Angkanya tercetak jelas dengan tinta merah tebal.
MEI 2025.
Jantung Dirga seakan berhenti berdetak.
"Dua Ribu Dua Puluh Lima? Dua puluh tahun yang lalu? Jadi ini…?"
Dirga merangkak bangun, mendekati cermin retak di lemari pakaian. Sosok yang memantul di sana bukanlah pria paruh baya dengan bekas luka di wajah dan tubuh kekar. Sosok itu adalah seorang pemuda bermata cekung dengan lingkaran hitam pekat, dan wajah pucat seperti mayat hidup.
Dia mengenali wajah ini. Ini adalah wajah Dirga kala berusia 28 tahun. Dirga si Sampah. Dirga si Pecandu Judi. Dirga yang menjadi aib bagi seluruh keluarga besar.
Jadi, pil itu benar-benar bekerja? Dia kembali ke masa lalu?
"Papa...?"
Suara anak kecil membuat Dirga menoleh tajam ke arah pintu kamar yang terbuka sedikit.
Di sana, berdiri seorang gadis kecil berusia empat tahun dengan baju yang sudah kekecilan dan lusuh. Lisa. Putri semata wayangnya yang di kehidupan sebelumnya meninggal karena sakit parah yang tidak mampu dia biayai.
Di belakang Lisa, muncul seorang wanita dengan wajah cantik namun terlihat sangat lelah dan ketakutan. Wanita itu adalah Anggun. Istrinya Dirga.
"Lisa... Anggun..."
Mata Dirga memanas. Kerinduan yang tertahan selama dua puluh tahun meledak seketika. Tanpa sadar, dia melangkah cepat ke arah mereka, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Dia ingin memeluk mereka, memastikan bahwa mereka nyata, bukan halusinasi sebelum mati.
"Kalian masih hidup... Syukurlah..."
Namun, reaksi yang dia dapatkan bukanlah pelukan hangat.
Anggun menyambar tubuh kecil Lisa dengan gerakan kasar, menarik anaknya ke dalam pelukan protektif, lalu mundur tergesa-gesa hingga punggungnya menabrak tembok ruang tamu.
"Ja-jangan..." suara Anggun bergetar, nyaris tak terdengar. "Dirga, tolong... jangan pukul Lisa. Dia nggak berisik, dia nggak minta jajan... Tolong jangan sakiti dia."
Lisa membenamkan wajahnya di dada ibunya, isak tangis tertahan terdengar memilukan. "Ampun, Pa... Lisa janji nggak nakal..."
Dirga terpaku di tempatnya. Tangannya masih tergantung di udara, kaku.
Pemandangan di depannya menghantam kesadarannya lebih keras daripada peluru musuh. Dia baru sadar, bagi Anggun dan Lisa, merupakan seorang suami dan ayah yang kasar, yang tak segan melayangkan tamparan hanya karena kalah judi online, yang sering membentak hingga tenggorokan serak.
Dirga melihat lebam ungu di lengan Anggun yang tersingkap. Samar-samar ingatan Dirga mulai berputar di otaknya. Dan dia tahu kalau itu perbuatannya kemarin malam.
Rasa bersalah yang teramat sangat meremukkan dada Dirga. Bahkan lututnya langsung lemas menghadapi ketakutan istri dan anaknya sendiri.
Perlahan, Dirga menurunkan tangannya. Dia menatap Anggun dengan lembut, tatapan yang belum pernah dia berikan seumur hidupnya di masa lalu.
"Aku nggak akan pukul kalian," ucap Dirga pelan. "nggak akan pernah lagi."
Anggun menatapnya curiga. Napasnya masih memburu. "Omong kosong apa ini? Kamu pasti kalah judi lagi, kan? Atau kamu butuh uang untuk beli obat penenang? Nggak ada uang lagi, Dirga! Demi Tuhan, beras pun kita nggak punya!"
"Aku nggak butuh uang," Dirga menggeleng. "Aku hanya... aku baru sadar betapa bajingannya aku selama ini."
Anggun tertawa sinis, air mata mengalir di pipinya. "Sadar? Oh ya? Omong kosong! Lihat saja! Matamu merah, tanganmu gemetar, kamu pasti baru menelan pil sialan itu lagi, kan?! Pergi! Jangan mendekat!"
Dirga tahu, kata-kata manis tidak akan bisa menghapus trauma Anggun dan Lisa. Oleh karena itu, di hadapan istri dan anaknya, Dirga menjatuhkan kedua lututnya ke lantai keramik yang dingin.
BRUK!
Dia bersimpuh. Kepala yang biasanya tegak menantang langit, kini tertunduk dalam.
"Anggun…" suara Dirga tegas, namun penuh penyesalan. "Aku tahu aku sampah. Aku tahu aku nggak pantas dimaafkan. Tapi hari ini, aku bersumpah di hadapanmu, Lisa dan Tuhan... Dirga yang lama sudah mati. Mulai detik ini, aku akan menebus semua dosaku. Aku akan menjadi kepala keluarga yang melindungi kalian, bukan yang menyiksa kalian. Tolong beri aku satu kesempatan."
Keheningan menyelimuti ruangan sempit itu. Anggun terdiam, mulutnya sedikit terbuka karena syok. Dia belum pernah melihat suaminya bersikap seperti ini. Biasanya, Dirga akan mengamuk jika dituduh macam-macam. Tapi hari ini... ada aura wibawa yang aneh memancar dari tubuh suaminya.
Namun, tiba-tiba, pintu depan rumah mereka yang rapuh digedor dengan brutal.
BRAK! BRAK! BRAK!
"Dirga! Keluar kau, Bajingan!"
Suara teriakan kasar dari luar membuat Lisa menjerit kaget. Sekarang wajah Anggun kembali pucat, ketakutan yang lebih besar kini menghantuinya.
"I-itu mereka..." bisik Anggun gemetar. "Debt Collector..."
Dirga mengangkat wajahnya. Ekspresi penyesalan di wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh ketenangan sedingin es.
Dia berdiri perlahan. Ingatannya kembali terputar. Di masa ini, dia terlilit utang puluhan juta pada sindikat pinjaman online ilegal untuk menutupi kekalahan judinya.
Dirga berjalan menuju pintu. Ketika sampai, dia langsung membuka pintu.
Di teras rumah, lima orang pria berbadan kekar dengan wajah sangar sudah menunggu. Mereka mengenakan jaket kulit dan membawa balok kayu. Aroma rokok dan keringat menyengat hidung.
Pemimpin mereka, seorang pria dengan bekas luka bacok di pipi, meludah ke tanah tepat di depan kaki Dirga.
"Akhirnya keluar juga kau, Sampah," seringai pria itu. Namanya Baron, penagih utang paling sadis di wilayah ini. "Jatuh tempo sudah lewat 3 hari. Mana uangnya? 50 Juta plus bunganya. Cepat bayar!"
Dirga menatap Baron datar. Di kehidupan sebelumnya, Baron hanyalah sebutir debu yang bisa dia lenyapkan dengan jentikan jari. Tapi sekarang, dia harus menghadapi realita tubuhnya yang masih lemah.
"Aku nggak punya uang sekarang," kata Dirga tenang, suaranya stabil tanpa getaran sedikitpun. "Beri aku waktu tiga hari. Aku akan melunasi pokok dan bunganya."
"Tiga hari?" Baron tertawa terbahak-bahak, diikuti keempat anak buahnya. "Kau pikir ini negosiasi dagang kacang goreng?! Kau sudah nunggak dua bulan, Bangsat!"
Baron maju selangkah, menekan dada Dirga dengan telunjuknya yang kasar.
"Bos kami sudah bosan mendengar alasanmu. Kalau kau nggak punya uang, kami sita barang-barangmu!"
Mata Baron kemudian menyapu ke dalam rumah, melewati bahu Dirga, dan mendarat pada sosok Anggun yang gemetar di sudut ruangan. Mata Baron menyipit licik, sebuah ide kotor melintas di kepalanya.
"Hmm... Sebenarnya, rumahmu ini isinya cuma sampah. TV pun gak ada," Baron menyeringai menjijikkan, menampakkan giginya yang kuning. "Tapi istrimu... dia boleh juga. Masih kencang walaupun kurus."
Darah Dirga mendidih mendengar itu, tapi wajahnya tetap datar. "Jaga bicaramu."
Baron tidak peduli. Dia malah semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Dirga, menantang.
"Dengar, Pecundang. Karena kau miskin dan gak berguna, aku lagi berbaik hati memberimu solusi," kata Baron, serius. "JBegini saja, biarkan istrimu ikut kami malam ini. Dia bisa 'melayani' aku dan empat temanku ini sampai pagi. Kalau servisnya memuaskan, utangmu bulan ini kami anggap lunas. Bagaimana? Mudah, bukan?"
Di belakang Dirga, Anggun menutup telinga Lisa, air matanya tumpah. Dia merasa harga dirinya diinjak-injak sampai ke dasar tanah.
Napas Dirga terhenti sesaat. Kalimat itu adalah pemicunya.
"Apa kau bilang?" suara Dirga turun satu oktaf, terdengar seperti geraman binatang buas yang terbangun dari tidur panjang.
Baron tertawa meremehkan. "Aku bilang, istrimu jadi pelacur kami malam i—"
Syuuuut!
Dunia seakan bergerak lambat. Dirga tidak berpikir. Tubuhnya bergerak sendiri mengikuti memori otot yang tertanam di jiwanya.
Tangan kanan Dirga melesat bagai kilat, mencengkeram leher Baron dengan presisi mematikan. Jempolnya menekan tepat di arteri karotis, membuat aliran darah ke otak Baron terhenti seketika.
"Uhuk!" Mata Baron melotot, wajahnya memerah padam. Dia mencoba memukul, tapi Dirga sudah mengantisipasinya.
Dirga memutar pinggangnya, menggunakan teknik bantingan militer tingkat tinggi.
BRAKK!
Tubuh Baron yang besar itu terhempas keras ke lantai teras. Suara punggung yang menghantam lantai teras terdengar mengerikan.
"AAARGGHH!" Baron mengerang kesakitan.
Keempat anak buah Baron ternganga. Mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Dirga si pecandu narkoba yang biasanya memohon-mohon di kaki mereka, baru saja membanting bos mereka seperti karung beras?
Dirga berdiri tegak di atas tubuh Baron yang menggeliat kesakitan. Dia menatap kedua telapak tangannya sendiri dengan takjub.
"Tenaga tubuh ini memang lemah... sangat lemah," batin Dirga, merasakan otot lengannya yang sedikit nyeri. "Tapi... pengetahuanku, teknik membunuhku, dan keberanianku... semuanya masih ada."
Dirga mengepalkan tangannya. Lalu dia mendongak, menatap empat debt collector yang masih berdiri mematung. Tatapan Dirga kini bukan lagi tatapan manusia biasa, melainkan tatapan seekor Singa yang siap memangsa.
"Siapa lagi yang ingin menginap di rumah sakit?" tanya Dirga dingin.
Salah satu anak buah Baron, yang paling besar badannya, meraung marah. Dia mencabut sebuah pisau lipat dari saku celananya.
"Bajingan! Mati kau!"
Pria itu berlari menerjang Dirga, mengarahkan pisau tajam itu lurus ke perut Dirga.
Anggun menjerit histeris dari dalam rumah. "Awas!!"