

Ini adalah hari bahagia bagi Randi, laki-laki tampan yang memiliki banyak skill dan kecerdasan. Sayangnya, dibalik wajah tampan itu banyak kekurangan dalam dirinya, salah satunya dia terlahir dari keluarga miskin. Tetapi semua itu tidak menyurutkan niatnya untuk hidup lebih baik dan bisa membahagiakan kekasihnya.
Hari ini tepat tiga tahun dirinya bekerja di negeri orang dan sekarang waktunya dia kembali ke tanah air untuk menikahi kekasihnya sesuai dengan janjinya dulu.
“Setelah menikah kamu balik lagi, Ren?” tanya Ruri teman satu pekerjaan dengannya.
“Balik lah, nanti sekalian ajak istriku tinggal di sini. Selama liburan, aku urus berkas-berkasnya dulu, nanti saat tiba tanggal aku kembali, dia ikut bersamaku,” balasnya sambil menarik koper besar miliknya. Tidak banyak yang dia bawa karena dirinya akan kembali melanjutkan kontrak kerja.
“Maaf, aku tidak bisa mengantarmu ke bandara. Setelah ini pergantian shift ku,” ucap laki-laki berambut pirang.
Kedua nya saling berpelukan untuk melepas kepergian teman satu kamarnya. Tidak banyak yang bisa dia bantu untuk Randi, hanya doa baik saja yang dapat dia panjatkan untuk temannya itu.
Setelah berpamitan laki-laki tampan itu pergi menuju bandara menaiki taxi. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di sana karena jaraknya tidak terlalu jauh. Senyum indah tak pernah luntur dari wajahnya, rasa bahagia itu terus membuncah tak sabar ingin segera menemui tunangannya.
“Azizah, tunggu aku pulang,” lirihnya sebelum memasuki pesawat.
.
.
.
Setelah menempuh perjalanan panjang, laki-laki tampan itu akhirnya sampai di kampung halamannya menjelang malam hari. Tidak ada satu keluarga yang dia hubungi termasuk kedua orang tuanya. Randi berharap kepulangannya kali ini sukses membuat terkejut semua keluarganya termasuk tunangannya.
Dengan percaya diri kakinya melangkah menuju pintu rumah yang tertutup. Biasanya jika mulai malam hari, keluarganya berkumpul di dalam.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Bu Ani berjalan tergopoh-gopoh untuk membukanya. “Tunggu sebentar,” ucapnya menuju pintu.
Saat pintu terbuka, tatapannya terpaku pada seseorang yang terlihat sedikit berubah karena tubuhnya sedikit berisi dan kekar dari sebelumnya. “Randi,” cicitnya.
Tanpa permisi, butiran kristal itu jatuh begitu saja tanpa permisi. Anak yang selama ini dia rindukan akhirnya pulang berdiri di hadapannya.
Wanita paruh baya itu segera memeluknya melepaskan rasa rindu yang terpendam. “Pak, Bapak!” Teriaknya penuh semangat memanggil sang suami yang saat itu berada di ruang tengah.
“Apa sih, Bu.”
“Cepat ke sini, Pak.”
Tanpa pikir panjang, Pak Amir berlari menyusul istrinya yang berteriak kencang, takut kalau ada apa-apa. Sesampainya di depan, alangkah terkejutnya melihat anak semata wayangnya berdiri di hadapannya. Ketiga orang itu saling berpelukan menyalurkan rasa rindu yang mendalam.
“Kenapa tidak bilang bapak kalau pulang.”
“Randi sengaja mau kasih kejutan, Pak.”
“Ayo kita masuk dulu, nggak enak kalau di lihat sama tetangga,” ujar Bu Ani lalu menggiring anak dan suaminya memasuki rumah.
Sambil menunggu anaknya membersihkan diri, Bu Ani menghangatkan masakannya.”Kamu mandi dulu, ibu siapkan makanan.”
“Iya, Bu.”
Pak Amir pun ikut membantu istrinya. Suasana hati kedua orang tua itu begitu bahagia bisa berkumpul lagi dengan putranya, berharap setelah ini dia tidak kembali lagi dan bekerja di sekitar rumahnya saja. Begitu berat rasanya harus berpisah dari anak satu-satunya.
Setelah selesai, mereka berkumpul di ruang tengah untuk makan bersama sambil bercerita sedikit tentang kehidupannya di sana. Begitu selesai makan Randi menyampaikan kepada keluarganya kalau kepulangannya kali ini ingin menikahi Azizah dan setelah itu dia mengajaknya untuk tinggal di dekat tempat kerjanya.
Saat tunangan dulu, mereka sudah saling setuju untuk menunggu kurang lebih 3 tahun. Karena posisi Azizah saat itu baru saja naik jabatan di tempat kerjanya dan mengharuskan untuk tidak menikah dulu sampai waktu yang telah di tentukan perusahaan. Dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk mewujudkannya.
“Kalau begitu besok Randi ke rumahnya, Bu. Nanti sekalian bicara dengan orang tuanya.”
“Kalau sudah segera kabari ibu, nanti biar bapak yang urus surat-suratnya ke kantor desa,” ujar Bu Ani penuh semangat.
Malam itu terasa tentram dan damai tidak seperti saat hari-harinya di perantauan.
.
.
.
Pagi-pagi sekali laki-laki tampan itu sudah menyiapkan hadiah yang dia bawa dari perantauan untuk kekasihnya. Meski nilainya tidak besar, tetapi set perhiasan itu terlihat begitu mewah. Rencananya hari ini dia akan mengajak Azizah untuk pergi ke kota membeli ponsel baru dan beberapa keperluan pernikahan. Karena belum lama ini tunangannya itu mengeluh kalau layar ponselnya rusak.
“Bu, Randi pergi dulu. mungkin nanti pulangnya agar sore sekalian cari perlengkapan lainnya,” ujarnya.
“Iya, hati-hati Ren.”
"Tunggu," ucap Pak Amir saat itu beru saja keluar dari kamarnya sambil memakai bajunya. "Tunggu Bapak, Ren. Bapak masih pakai baju ini," lanjutnya sambil berlari keluar dari kamarnya.
"Bapak lama, sih. Randi tinggal saja," goda sang anak.
"Enak saja. Bapak juga pengen ketemu sama calon istri kamu."
Tidak di pungkiri jika Pak Amir begitu antusias untuk menemui calon besannya. Lagi pula orang tua Azizah juga sudah akrab. Selain itu mereka juga sering bercanda saat bertemu di sawah. Seluruh penduduk desa juga sudah tahu kalau Azizah adalah calon dari Randi.
Dengan hati yang berbunga-bunga kakinya melangkah menuju rumah kekasihnya yang letaknya sedikit jauh dari tempatnya tinggal. “Semoga dia nanti suka sama hadiahnya,” gumamnya. Dalam genggaman tangan itu ada set perhiasan dan beberapa lembar uang yang rencananya akan dia berikan untuk orang tua kekasihnya nanti.
Setelah menaiki angkutan umum, dia berjalan sedikit untuk menuju rumah yang tidak terlalu megah tetapi terlihat begitu mewah. Tetapi pandangannya terhalang dengan tenda biru yang berdiri kokoh tepat di depan rumahnya.
“Siapa yang menikah? Apa mungkin kakaknya? Tapi kenapa nggak bilang kemarin,” gumamnya pelan.
"Acara pesta siapa ya, Ren? Bapak kok gak dengar beritanya. Biasanya orang-orang di sawah selalu bergosip," ujar Pak Amir ikut penasaran. Kedua laki-laki itu terus berjalan bersama memasuki tempat pesta pernikahan yang mungkin acara saudaranya.
"Ren, apa sebaiknya kita lewat belakang saja? Rasanya kurang pantas kalau masuk ke sini sedangkan kita tidak tahu ini acara siapa," ujar Pak Amir merasa tidak enak.
"Nanti kita bisa tanya di dalam, Pak. Siapa tahu ini acara kakaknya menikah," balasnya begitu percaya diri. Namun langkahnya terhenti ketika nama seseorang yang sangat dia kenal baik disebutkan oleh penghulu.
Jantungnya berdetak semakin kencang memacu langkahnya agar lebih cepat sampai di mana letak sumber suara itu. Begitu kedua matanya melihat dengan jelas siapa wanita yang ada di atas pelaminan itu hancur sudah hati yang selama ini dia jaga. Wanita yang selama ini dia sayangi, dia cintai dan hormati ternyata menusuknya dengan belati yang sangat tajam.
Butiran kristal bening itu membendung tertahan agar tidak sampai terjatuh. Betapa malunya dia jika dirinya menangis di hadapan banyak orang. Sekuat tenaga dirinya menahan isakan yang menyesakkan dada. Tangannya bergetar hebat tak mampu mengontrolnya hingga perhiasan yang rencananya akan dia berikan tiba-tiba saja terjatuh membuat sebagian orang memandangnya termasuk wanita pujaannya.
“Mas Randi,” cicit wanita itu terlihat dari mimik wajahnya.
Laki-laki miskin itu hanya bisa tersenyum menyambutnya dengan senang. Namun, sedetik kemudian sakit itu tidak bisa dia tahan ketika kata sah terucap dari para saksi. Bagai pisau yang menancap berkali-kali dalam tubuhnya, dirinya tetap berdiri tegak mencoba bertahan dari guncangan hebat.
Sayangnya, laki-laki paruh baya di sampingnya tak sanggup menahan malu keluarganya. Sudah lama meraka mengenal, bahkan sudah bertunangan sebelum ankanya berangkat untuk mengusahakan pernikahan mewah. Nyatanya semua janji dan kepercayaan itu hanya isapan jempol belaka.
Beberapa orang yang berusaha menolong dia abaikan. Dia pejamkan mata mencoba berdamai dengan keadaan meski begitu sulit.
Sanak saudara yang tahu bagaimana perjalanan kisah mereka, merasa begitu kasihan. Sudah pasti ini cobaan yang sangat berat untuknya. Tidak sedikit waktu yang dia berikan selama ini. Tetapi apa balasan dari kasih sayangnya?
Melihat mantan tunangannya jatuh, wanita itu berlari menuju Randi ingin menolongnya, sayangnya laki-laki yang baru sah sebagai suaminya menahan tangannya agar tidak menghampirinya. “Lepas!” Ucap Azizah begitu ditahan.
“Jangan bikin malu. Kamu tidak lihat bagaimana orang memandang kita, hah?!” balas Doni penuh penekanan.
“Ingat Azizah, kamu sekarang istri Doni dan dia bukan siapa-siapa. Apa kata orang nanti kalau melihat kamu dengannya,” sahut ayah wanita itu.