
Mencintai Seorang Penipu
Aksa Kanya ahsara rea|Bersambung
- Jumlah kata
- 17.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
- Jumlah kata
- 17.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
Sinopsis
Lelaki bernama Alex yang tengah kalut dalam hidupnya, tak di sangka ia akan mengenal wanita yang mencuri hatinya, bernama Ratih di sebuah takdir yang berbeda. Alex yang telah lama menduda dan memiliki kepribadian yang dingin entah mengapa seketika luluh terhadap perempuan baru itu. Perempuan yang hadir dengan kenyataan bahwa dirinya tak akan pernah tulus dan penuh dengan maksud terselubung ini. akan kah kisahnya berakhir indah seperti harapan Alex dan keluarganya? ataukah sebaliknya. baca selengkapnya hanya di Mencintai Seorang Penipu.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Aku dan Keluargaku
Aku lelaki yang sejak kecil terlahir di tengah-tengah keluarga yang memiliki kekuatan supranatural, kini begitu terlihat terpuruk. Aku tak peduli dengan pandangan keluarga serta orang lain lagi. Hidupku telah hancur sejak kepergian istriku tercinta empat tahun yang lalu. Setiap hari aku tak hentinya mabuk dan menyendiri di kamar mau pun di kantor. Pekerjaan ku sebagai CEO mungkin sebentar lagi akan menemukan keruntuhan. Sebab kepimpinanku kini mulai semeraut dan tak terkendali. Kekuatan supranaturalku pun berangsur memburuk. Aku tak dapat lagi pergi ke masa lalu untuk sekedar bertemu mendiang istriku Karina.
Ku pikir kekuatanku yang bisa pergi ke masa lalu bisa menyelamatkan istriku yang saat itu mengalami kecelakaan. Nyatanya takdir lebih kuat menggenggam raganya untuk kembali ke sang pencipta.
Sakit hatiku, aku menyalahkan diriku sendiri. Aku menyesal saat itu terlalu sibuk membantu orang-orang lemah, sedangkan keluarga sendiri tengah mendapatkan musibah.
Hari-hari yang buruk kini juga, telah membuat diriku yang hangat hilang dan acuh pada sang buah hati semata wayang. Putriku bernama Hana yang beranjak remaja terlihat menjadi gadis kecil yang pendiam dan dingin.
"Brak!!!!" suara pintu di dobrak paksa membuyarkan lamunanku seketika.
"Keluar! Kita harus buat rapat keluarga!", teriak ibuku bernama Sukma. Raut wajahnya memendam sebuah amarah besar.
Mau tak mau aku pun beranjak dari kursi dalam kamar yang menghadap kejendela itu. Dengan langkah yang berat aku menuruni anak tangga menuju ruang keluarga. Terlihat di sana sudah ada anakku Hanna, kakak perempuanku Sandra juga ayahku Brahwijaya. Dengan raut wajah mereka yang sama tegangnya dengan ibu, aku yakin kali ini ada pembahasan penting di antara keluarga kami.
"Ada apa sih mah? Euh, bt banget gak jelas! Aku kan lagi nonton drama terbarunya Lee Min Hoo" protes kakak perempuanku dengan tangannya yang tak lupa selalu membawa cemilan.
"Mamah kumpulin kalian karena kalian sudah keterlaluan kali ini!", tegas nya dengan mata menyalang dan urat wajah yang menegang.
"Bisa tidak kalian bicara dengan pelan-pelan dan santai saja?", sahut papa mencoba menengahi di suasana yang selalu tegang di keluarga ini.
Sedangkan aku dengan Hanna hanya bisa terdiam tanpa ingin berkomentar apa pun jika wanita paling tua di rumah ini sedang serius.
"Aku lihat-lihat kalian ini semakin hari semakin malas untuk berkontribusi dalam perusahaan. Terutama kamu! Kamu bisanya cuma diam di dalam kamar dan menghabiskan minuman jahanam itu. Mau sampai kapan kamu seperti ini?", bentaknya dengan nada tinggi menunjuk pada diriku.
Aku hanya menatap lesu dan tak bergairah, karena memang jika harus mati hari itu aku akan memilih mati saja agar bisa bertemu istriku.
"Kedap-kedip, kedap-kedip! Jawab Alex! Kau ini sudah tua, kamu tidak sadar sudah memiliki anak yang mulai beranjak remaja? Dia juga butuh sosok Ayahnya. Kamu gak bisa kaya gini terus! Kamu harus lupakan Karina!", lanjutnya menyambarku kembali.
Hatiku terkoyak, aku tak sanggup jika siapa pun membahas mendiang Karina termasuk keluargaku. Terlebih mama menyuruhku untuk melupakannya. Aku tidak terima, sungguh sangat menyakitkan.
"Apa? Melupakannya? Mama jangan asal bicara! Dia adalah wanita yang aku cintai hingga kapan pun. Aku tidak akan melupakannya, dia satu satunya orang yang bisa mengerti keadaanku dan menerima aku apa adanya!", jawabku dengan berapi-api. Sebab memang hanya dia yang telah mengubah hidupku dengan penuh warna saat itu. Dia adalah cinta sejati ku hingga nanti kami di pertemukan kembali di kehidupan yang lain.
"Ya loe gak bisa gitu dong Lex, benar apa kata Mama, loe tuh harus bisa move on. Lagian loe gak sadar, anak loe bakalan malu juga punya bapak yang kerjanya cuma mabok-mabokan kaya gitu. Mendiang bini Loe juga pasti kecewa loe berubah jadi pemalas dan cuma bisa mabok tiap hari tanpa ngurusin anak peninggalannya", ucap kakak perempuanku ikut berkomentar.
Semakin sebal aku mendengarnya, mereka sungguh tak mengerti apa yang telah terjadi padaku saat ini. Aku memang lelaki dewasa, namun perasaan dan hidupku selesai saat perempuan yang aku cintai telah pergi untuk selamanya.
"Gak perlu loe ikut campur! Ini hidup gue, emang gak ada satu pun di keluarga ini yang peduli sama keadaan gue sekarang!", ujarku masih dengan menggebu-gebu.
"Masalah sesungguhnya perusahaan kita sekarang sedang krisi Alex! Kalo kamu kaya gini terus, mau kamu hidup miskin? Kekuatan kamu tercipta untuk mempertahankan kekayaan keluarga ini. Mana bisa kamu seperti itu terus menerus!", mama mencelah ucapanku, mengungkapkan tujuan utamanya kenapa tadi ia memanggilku.
"Hah? Yang di pikiran Mama dan keluarga ini hanya uang,uang, dan harta saja. Apa kalian pernah sedetik saja memikirkan perasaanku?", mataku menyipit memancarkan intensi kuat pada mereka.
"Halah! Kaya bukan laki aja loe, sadar dong tanggung jawab loe bukan diri loe sendiri. Coba liat dia, masa depan dia siapa yang mau tanggung kalo bukan loe, Bapaknya!", kembali Sandara ikut beragumen dan menunjuk Hanna sebagai senjata untuk menekan diriku.
"Di keluarga ini bukan cuma ada gue, loe sendiri apa ada kontribusi buat perusahaan? Harusnya sekarang giliran loe sebagai anak pertama, untuk pimpin perusahaan. Jangan semua selalu gue yang harus urus! Gue tau dia anak gue, dia tanggung jawab gue. Tapi loe ngaca dong ada gak kontribusi loe? Apa loe cuma bisa makan aja sampe gemblung kaya gajah?", aku melawan dengan pembelaan diri agar tak hanya di salahkan dan di tekan oleh keluargaku sendiri.
"Jangan kurang ajar loe ya, gue udah banyak berkorban demi loe. Dari gue di langkahi loe menikah duluan, ngurus keperluan anak loe setelah istri loe meninggal. Dan empat tahun terakhir yang urus perusahaan selama ini siapa, hah? GUE!", Sandra kakakku meneriakiku kali ini sambil melempar bungkus cemilan ditangannya ke wajahku.
Tentu saja aku semakin tersulut dan tidak terima. Kami bertikai hingga membuat kedua orang tua memisahkan. Dengan masih penuh amarah aku pun memutuskan untuk pergi keluar rumah.
"Bagus kelakuan loe begitu? Pergi loe dari sini gak usah balik lagi!" teriak Sandra saat aku melangkah pergi. Aku sempat melirik pada kakakku dengan memicingkan tatapan, tapi tak kusangka mataku bersitatap dengan Hanna. Dia terdiam menatapku kosong, apakah dia benar terluka jika aku terus seperti ini?.
Sore itu, aku putuskan untuk pergi mengendarai mobil sport dengan kecepatan tinggi. Aku berharap bisa mengalami kecelakaan seperti apa yang sudah mendiang istriku alami. Sungguh aku merindukannya, entah apa aku lelaki terlemah di muka bumi ini. Yang jelas cintaku memang hanya untuk dirinya.
"Bug!", mobilku tak sengaja menubruk sebuah taxi yang tengah berada di persimpangan jalan. Sepertinya taxi tersebut baru saja mengambil penumpang.
Dengan cepat aku pun turun dari kendaraan, untuk menghampiri dan memastikan keadaan orang yang berada di dalam mobil taxi itu. Bagaimana pun aku telah salah, aku harus bertanggung jawab bila terjadi kerusakan.
Daftar bab
13 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








