

Suara petir menggelegar, memecah langit Jakarta yang sejak sore diselimuti awan hitam.
Di tengah guyuran hujan, seorang pria berdiri mematung di depan sebuah rumah mewah yang selama tiga puluh tahun ia sebut sebagai rumahnya.
Pakaiannya telah basah kuyup. Rambut hitamnya menempel di dahi. Namun Delano Mahendra Admaja sama sekali tidak peduli.
Tatapannya hanya tertuju pada koper hitam yang tergeletak di depan pagar.
Itu adalah seluruh harta yang masih ia miliki.
Pintu rumah terbuka.
Seorang pria paruh baya keluar bersama wanita berusia sekitar lima puluh tahun. Keduanya memandang Delano tanpa sedikit pun rasa iba.
"Mulai hari ini, jangan pernah menginjakkan kaki di rumah ini lagi," ucap pria itu dingin.
Delano mengepalkan kedua tangannya.
"Ayah... aku benar-benar tidak mengambil uang perusahaan."
Pria itu tertawa sinis.
"Ayah?"
"Sekarang kau masih berani memanggilku ayah setelah mempermalukan keluarga ini?"
Delano menggeleng cepat.
"Percayalah. Ada seseorang yang menjebakku."
"Cukup!"
Bentakan itu membuat suasana seketika sunyi.
"Audit perusahaan sudah selesai. Rekening tujuan transfer memakai identitasmu. Semua bukti mengarah kepadamu. Apa lagi yang ingin kau bantah?"
Delano menggigit bibir bawahnya.
Ia memang Direktur Operasional di perusahaan keluarga.
Namun selama tiga bulan terakhir, ia merasa ada banyak transaksi yang janggal. Saat hendak melaporkannya, justru namanya yang muncul sebagai pelaku utama.
Semua bukti telah dipalsukan dengan begitu rapi.
Tidak ada seorang pun yang percaya padanya.
Termasuk ayahnya sendiri.
Wanita paruh baya yang berdiri di samping pria itu melangkah maju.
"Sudahlah, Mas. Untuk apa bicara panjang lebar dengan anak yang sudah menjadi aib keluarga?"
Kalimat itu menghantam dada Delano.
Wanita itu bukan ibu kandungnya.
Sejak ibunya meninggal dua puluh tahun lalu, ayahnya menikah lagi dengan Ratih.
Dan sejak saat itu pula, hidup Delano perlahan berubah.
Ratih selalu memperlakukan Delano seperti orang asing.
Sedangkan putra kandungnya, Gavin, selalu dianggap paling sempurna.
Tak lama kemudian, Gavin muncul dari dalam rumah.
Ia mengenakan setelan jas mahal dengan senyum tipis yang sulit diartikan.
"Kak."
Sapaan itu terdengar begitu munafik.
"Kalau memang tidak bersalah, buktikan saja nanti di pengadilan."
Delano menatap adik tirinya lekat-lekat.
Entah mengapa...
Tatapan Gavin hari ini terasa berbeda.
Bukan khawatir.
Melainkan puas.
Seolah semua yang terjadi memang sesuai rencananya.
"Kamu..." gumam Delano.
"Gavin, apakah semua ini ulahmu?"
Gavin tersenyum kecil.
"Aku?"
"Aku mana mungkin melakukan hal sekejam itu."
Jawaban itu terdengar biasa.
Namun sorot matanya mengatakan hal yang berbeda.
Delano mulai mengerti.
Semua ini bukan kecelakaan.
Ada seseorang yang sengaja menghancurkan hidupnya.
Dan orang itu berada tepat di hadapannya.
Belum sempat ia berkata apa-apa, sebuah mobil sport hitam berhenti di depan rumah.
Seorang wanita turun dari kursi penumpang.
Begitu melihat wajahnya, jantung Delano serasa berhenti berdetak.
"Aluna..."
Wanita itu adalah kekasihnya.
Mereka telah bersama selama enam tahun.
Delano bahkan sudah menyiapkan cincin untuk melamarnya bulan depan.
Namun Aluna hanya berdiri beberapa meter darinya.
Tatapan yang dulu penuh cinta kini berubah asing.
"Aku datang... untuk mengembalikan ini."
Aluna melepaskan cincin yang melingkar di jari manisnya.
Kemudian meletakkannya di atas koper Delano.
"Kita selesai."
Delano menggeleng pelan.
"Kamu percaya kalau aku mencuri?"
"Aku percaya pada bukti yang ada."
Jawaban singkat itu terasa lebih menyakitkan daripada tamparan.
"Jadi... enam tahun hubungan kita kalah oleh berita di televisi?"
Aluna menundukkan kepala sesaat.
Lalu kembali menatap Delano dengan wajah datar.
"Aku tidak bisa membangun masa depan dengan seorang tersangka."
Hati Delano benar-benar hancur.
Dalam satu hari...
Ia kehilangan pekerjaan.
Kehilangan keluarga.
Dan kehilangan wanita yang paling dicintainya.
Seolah dunia bersekongkol untuk menghancurkannya sekaligus.
Delano menatap satu per satu wajah yang berdiri di hadapannya.
Ayah yang tak lagi mengakuinya sebagai anak.
Ibu tiri yang sejak dulu menginginkan dirinya pergi.
Adik tiri yang menyembunyikan senyum kemenangan.
Serta wanita yang memilih meninggalkannya saat ia paling membutuhkan.
Ia menarik napas panjang.
Tatapannya perlahan berubah.
Tidak lagi memohon.
Tidak lagi kecewa.
Yang tersisa hanyalah tatapan dingin yang belum pernah dimiliki sebelumnya.
"Baiklah kalau nini yang kalian mau."
Hanya kata itu yang keluar dari bibirnya.
"Mulai hari ini, aku pergi."
Ia berhenti sejenak.
"Lalu suatu hari nanti..."
Delano menatap mereka satu per satu.
"...aku akan kembali."
"Bukan untuk meminta maaf."
"Bukan untuk memohon diterima lagi."
"Melainkan untuk membuktikan bahwa kalian telah menghancurkan orang yang salah."
"Dan ketika hari itu tiba..."
"Tidak akan ada satu pun dari kalian yang mampu menghentikanku."
Ketiga orang itu tersenyum puas, seolah baru saja menyingkirkan duri yang selama ini mengganggu hidup mereka.
Hanya Aluna yang tidak.
Wanita itu tetap terdiam. Jemarinya mengepal di sisi tubuh, sementara tatapannya terus mengikuti punggung Delano Mahendra Admaja yang semakin menjauh, menembus derasnya hujan.
Untuk sesaat, hatinya terasa sesak.
Entah mengapa, langkah Delano yang tampak begitu kesepian membuat nuraninya terusik. Ada bagian kecil dalam dirinya yang ingin memanggil lelaki itu, menghentikannya, lalu bertanya apakah semua tuduhan itu benar.
Namun suara itu kalah oleh kenyataan.
Bukti-bukti yang beredar terlalu kuat.
Dan ia memilih untuk mempercayainya.
Perlahan, Delano menghilang di balik tirai hujan.
Tanpa menoleh sekali pun.
Tanpa mengetahui bahwa di belakangnya, masih ada sepasang mata yang diam-diam mengantarkannya pergi dengan perasaan yang tak mampu dijelaskan.
Aluna tak mampu berbuat apa-apa.
Meski jauh di lubuk hatinya ia masih ingin percaya bahwa Delano, pria yang telah enam tahun mengisi hidupnya, bukanlah orang yang sanggup mengkhianati siapa pun, apalagi mencuri uang perusahaan.
Namun keinginan itu harus ia telan bulat-bulat.
Orang tuanya berasal dari keluarga terpandang yang sangat menjaga nama baik dan kehormatan. Menjalin hubungan dengan seorang pria yang telah dicap sebagai tersangka kasus penggelapan hanya akan menjadi aib yang mencoreng martabat keluarga mereka.
Sejak kabar itu mencuat, kedua orang tuanya bahkan telah melarang Aluna bertemu dengan Delano. Pertunangan yang semula tinggal menghitung minggu pun dibatalkan tanpa memberi kesempatan kepada Delano untuk membela diri.
Dengan mata yang mulai berkaca-kaca, Aluna terus menatap punggung Delano yang semakin menjauh ditelan derasnya hujan.
Bibirnya bergetar pelan.
"Maafkan aku, Delano... Aku ingin tetap berada di sisimu. Tapi kali ini... aku tidak punya keberanian untuk melawan seluruh duniaku."
Tanpa disadari, setetes air mata mengalir di pipinya.
Entah itu air mata penyesalan...
Atau air mata karena ia baru saja melepaskan pria yang selama ini paling ia cintai.
Sementara itu, di sudut teras rumah, Ratih dan Gavin saling bertukar pandang. Senyum miring terukir di bibir keduanya, penuh kemenangan, seolah rencana yang mereka susun selama ini akhirnya berhasil menyingkirkan Delano dari keluarga Admaja.
Ratih menyilangkan tangan di dada dengan puas. “Akhirnya rumah ini kembali tenang tanpa kehadiran anak itu,” bisiknya pelan.
Gavin hanya tersenyum tipis, namun sorot matanya menyimpan kepuasan yang sulit disembunyikan. Sejak lama ia memang menginginkan posisi Delano di perusahaan keluarga. Dan kini, tanpa perlu mengotori tangannya secara terang-terangan, semua itu jatuh ke dalam genggamannya.
Berbeda dengan mereka, Arman Admaja berdiri diam beberapa langkah di belakang. Wajahnya tetap keras, berusaha mempertahankan wibawa seorang kepala keluarga. Namun di balik tatapan dingin itu, ada luka yang ia tahan mati-matian.
Matanya sempat memerah saat melihat putra sulungnya berjalan pergi membawa satu koper kecil di tengah hujan deras. Berkali-kali jemarinya mengepal, seolah ada bagian dari dirinya yang ingin memanggil Delano kembali.
Tetapi harga diri, tekanan keluarga, dan keyakinannya pada bukti-bukti yang ada membuatnya memilih diam.
“Kalau aku salah… maka aku baru saja mengusir anakku sendiri,” batin Arman lirih.
Namun penyesalan itu hanya ia simpan dalam-dalam, terkubur bersama langkah Delano yang semakin jauh meninggalkan rumah dan keluarganya.