

Tamat.
"Setelah kematian Pangeran Hira,Pangeran Davis akhirnya naik takhta jadi Pangeran Mahkota. Kenapa harus nunggu Pangeran Hira mati dulu baru naik takhta? Padahal dari segi kemampuan, Pangeran Hira gak sebanding sama Pangeran Davis atau dua Pangeran lainnya. Aneh!" komentar Yasa sesaat setelah menyelesaikan halaman terakhir pada novel yang ia baca berjudul 'Keagungan Pangeran Mahkota'.
Yasa menutup novel tersebut. Beralih pada handphone yang sudah beberapa jam lalu ia biarkan dalam mode diam. Ia melihat jam pada layar handphonenya, jam sudah menunjukkan waktu dini hari.
Jendela kamar yang tak sepenuhnya tertutup gorden, di balik kain vitrase putih memperlihatkan gemerlap bintang dan bulan sabit yang menghiasi langit malam.
"Ternyata udah mau pagi aja. Tidur ah, besok kerja." Yasa menaruh novel itu di atas nakas samping tempat tidurnya. Menarik selimutnya yang hangat serta mengatur posisi yang nyaman untuk tidur.
Yasa Rexadanu merupakan seorang pemuda berusia 26 tahun yang bekerja di salah satu café yang tak jauh dari apartemennya sebagai seorang barista. Ia mempunyai hobi membaca buku apapun genrenya, menurutnya semua buku pasti memiliki kisah yang menarik untuk dirinya yang menjalani hidup monoton. Anak tunggal yang memilih tinggal di sebuah apartemen minimalis karena kedua orang tuanya lebih sibuk bekerja. Pemuda yang memilih menikmati hidup dengan hobi-hobinya.
Cahaya matahari menembus sela-sela tirai membuat tidurnya terusik. Sebelum membuka mata, Yasa merasakan kepalanya sangat berat seperti terbentur sesuatu yang keras.
"Pangeran?" Ia terbangun dengan napas yang terengah-engah karena rasa kaget, butuh beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa tidak berada di kamar apartemennya. Kamarnya saat ini terlihat lebih klasik namun mewah.
Manik matanya dengan jelas melihat ada beberapa orang yang berdiri tak jauh dari posisinya menatapnya khawatir. "Pangeran Hira sudah sadar!" kata seorang pria tua yang memakai jubah putih dengan logo emas di dada kirinya.
Pikirannya melayang, pasalnya Yasa mengingat jelas jika dia tidak pernah mengenal atau sekedar bertemu dengan orang-orang di hadapannya saat ini.
"Ini di mana?" tanyanya seraya memegang kepalanya seakan sesuatu di dalam kepalanya berdenyut kencang.
Pria tua berjubah putih itu mendekat ke arahnya, "Pangeran Hira, mohon untuk kembali berbaring. Saya akan memeriksa keadaan anda."
Masih dalam keadaan bingung yang menyelimutinya, ia menuruti pria tua itu membantunya untuk kembali berbaring di atas tempat tidur. Terlihat pria itu memeriksa beberapa bagian tubuhnya dengan hati-hati.
"Syukurlah, kondisi Pangeran Hira sekarang jauh lebih baik dari perkiraan. Saya akan buatkan resep obat untuk Pangeran agar meredakan sakit di kepala anda," ucap si pria tua setelah memeriksa tubuhnya. Yasa dapat mendengar dengan jelas nama 'Hira' disebut oleh pria tua di hadapannya ini.
"Tabib!" Pintu terbuka menampilkan seseorang masuk ke dalam ruangan dengan pakaian yang khas kerajaan. Tampak mewah dan elegan. Semua orang di dalam ruangan menunduk hormat padanya.
"Bagaimana kondisi Pangeran Hira?" tanyanya dengan napas yang terengah-engah. Meski begitu, auranya sangat terasa berbeda. Sangat berwibawa.
Pria tua yang sempat berbicara dengannya baru saja dipanggil dengan sebutan Tabib. Dia mendekat ke arahnya. "Yang Mulia Raja, bersyukur Dewa mengabulkan doa-doa kami. Kondisi kesehatan Pangeran saat ini sangat baik. Saya akan meresepkan obat agar kondisi Pangeran semakin pulih," jelas Tabib.
Mendengar sebutan Raja, Yasa kini mulai menyadari sesuatu. "Apa aku masuk di dunia novel? Jadi Pangeran Hira?" pikirnya sendiri.
Raja Mahesa, Raja kerajaan Bhupendra sekaligus ayah dari Pangeran Hira merupakan Raja yang paling berkuasa. Menjadi kerajaan yang paling kuat dalam sejarah yang disebutkan pada novel.
"Baguslah. Terus pantau kondisinya dan laporkan padaku!" titahnya pada Tabib dengan dingin dan wajah yang datar. Tabib dan orang-orang disampingnya segera mengiyakan perintah tersebut.
Tak menoleh ataupun bertanya, Raja keluar dari ruangan diikuti para pelayan yang berpakaian seragam termasuk Tabib. Kini hanya menyisakan Yasa sendiri di kamar tersebut. Ia turun menuju cermin besar di dekat jendela.
Di dalam kaca itu menampilkan tubuhnya yang kurus kering, otot-otot yang ia bentuk selama tiga tahun di tempat gym hilang seketika. Wajahnya juga tirus tak terawat. Tampak sangat menyedihkan.
Satu desah panjang meluncur dari bibirnya. "Ini beneran harus jadi Pangeran Hira? Gak ada yang lebih baik apa?" tanyanya menatap pantulan cermin.
Telapak tangannya ia gunakan untuk menampar pipinya dengan keras, memastikan apakah yang sedang dia alami adalah mimpi atau bukan. "Aw sakit. Berarti beneran dong? Yang bener aja, masa iya ujungnya mati sih."
Beralih tepat di depan jendela, matanya menyisir setiap sudut halaman dengan saksama. "Kalau emang aku jadi Pangeran Hira. Gak akan ku biarkan kisahnya berakhir tragis kayak di novel."
Yasa memperhatikan sekitarnya. Suasana kamarnya saat ini terasa lebih hangat, desain dan barang-barang Pangeran Hira memiliki kepribadian yang sangat berbeda dengan dirinya.
Langkahnya berhenti di depan karangan bunga yang cantik namun terlihat layu sepertinya sudah lama bunga itu disimpan. Tidak hanya satu, tapi dua.
"Pelayan!" panggil Yasa. Suaranya kini juga terdengar berbeda dengan dirinya, kini Yasa harus memerankan adalah Pangeran Hira sepenuhnya.
Salah satu pelayan masuk ke dalam kamar Pangeran Hira. Menunduk hormat, "Ada yang bisa saya bantu Pangeran?"
"Sudah berapa lama karangan bunga ini di sini? Siapa yang mengirimnya?" tanya Pangeran Hira.
Mendengar pertanyaan tersebut, pelayan tidak langsung menjawab. Ia terdiam mendengar suara Pangeran Hira yang sedikit berbeda dari sebelumnya. Terdengar lebih dingin seperti bukan Pangeran Hira itu sendiri.
"Pelayan?" tegur Hira saat pelayan tersebut terlihat diam tak menyahut.
Terkejut dengan suara tuannya yang meninggi, pelayan pun menjawab, "Karangan bunga tersebut dikirim oleh Pangeran Razel dan Pangeran Galendra, Pangeran. Kedua karangan bunga tersebut dikirim sehari setelah Pangeran tidak sadarkan diri… sekitar dua minggu yang lalu."
Yasa teringat, dalam novel tersebut Pangeran Hira dirundung habis-habisan oleh beberapa teman di Sekolah Pangeran setelah acara kelulusannya. Yang artinya Pangeran Razel dan Pangeran Galendra ada di tempat kejadian.
Pangeran Razel dan Pangeran Galendra merupakan teman satu angkatan Pangeran Hira, di balik kesetiaannya pada Pangeran Hira, Pangeran Razel dan Pangeran Galendra merupakan pembual ulung. Membuat cerita yang berkebalikan dari fakta dan diam-diam menusuk Pangeran Hira dari belakang. Semua itu diketahui pada bab terakhir novel. Yasa memutar bola matanya malas, muak dengan segala kepalsuan dua Pangeran itu.
"Buang semuanya!" perintahnya dingin.
Pelayan tersebut dengan cepat memanggil beberapa pelayan lain yang berada di luar kamar untuk membantu mengeluarkan dua karangan bunga tersebut.
Tangan Pangeran Hira menahan pundak pelayan saat hendak keluar ruangan, "Siapa namamu tadi?"
"R-Rion, Pangeran," jawabnya dengan terbata-bata.
Pada bab yang menceritakan tentang pengkhianatan Pangeran Hira, Rion adalah salah satu pelayan setianya bahkan hingga akhir hidupnya. Rion ikut dihukum mati tepat sehari setelah kematian Pangeran Hira karena dianggap sebagai pengikut pengkhianat kerajaan.
"Tolong siapkan air untuk mandi dan baju juga ya. Tubuhku rasanya sangat lengket," pinta Pangeran Hira, ekspresinya melunak menampilkan senyuman hangat.
"Baik, Pangeran." Pelayan bernama Rion itu segera keluar dari kamar.
Yasa kini akan mencari tahu mengapa Pangeran Davis yang merupakan anak pertama Raja, baru bisa naik takhta sebagai Pangeran Mahkota setelah kematian Pangeran Hira. "Apa mungkin sebenarnya Pangeran Davis bukanlah Pangeran Mahkota sejak awal? Artinya—"
"—Jangan-jangan Pangeran Hira dari awal adalah Pangeran Mahkota dan bukan Pangeran Davis. Makanya ciri-ciri yang disebut oleh peramal di novel itu…. Wah gila! Berarti penulis aslinya memang sengaja gak menjadikan Pangeran Davis sebagai Pangeran Mahkota dari awal karena ya emang Pangeran Davis bukanlah pewarisnya." Kesadaran tersebut mendadak merayap di tengkuknya, membuatnya bergidik ngeri pada pikirannya sendiri.