Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Cowok Setia Terjebak Jadi Pangeran 5 Selir

Cowok Setia Terjebak Jadi Pangeran 5 Selir

Luana | Bersambung
Jumlah kata
77.6K
Popular
359
Subscribe
71
Novel / Cowok Setia Terjebak Jadi Pangeran 5 Selir
Cowok Setia Terjebak Jadi Pangeran 5 Selir

Cowok Setia Terjebak Jadi Pangeran 5 Selir

Luana| Bersambung
Jumlah Kata
77.6K
Popular
359
Subscribe
71
Sinopsis
18+FantasiIsekaiHarem21+Transmigrasi
Seno, cowok culun yang bekerja sebagai staf administrasi di perusahaan penerbitan, jatuh cinta pada Nindya, editor naskah yang manis dan ramah. Meskipun belum berani menyatakan perasaan, Seno berjanji pada diri sendiri untuk menjaga kesetiaan cinta dan kesuciannya hanya untuk Nindya. Sampai pada suatu hari, Seno tak sengaja membaca sebuah naskah novel tua yang ditemukannya di gudang. Seno terisap masuk ke dunia dalam naskah, di mana dia menjadi seorang pangeran yang memiliki lima orang selir, dan mereka semua menginginkan anak darinya. Seno terjebak dan panik. Bagaimana cara dia bisa menjaga kesuciannya untuk Nindya sementara dia diwajibkan untuk menggilir selir-selir cantik ini setiap malam?
1. Naskah Tua

"No, cewek lo lewat, tuh!" bisik Wira pada Seno yang sedang fokus dengan layar komputernya.

Sontak, Seno mengangkat kepala, menatap ke luar jendela ruang kantornya, dan melihat sosok Nindya. Gadis itu berjalan dengan tenang, sepertinya baru kembali dari rapat redaksi. Ujung-ujung rambut panjangnya yang dijepit sebagian ke belakang dengan jepit rambut hitam tampak terayun-ayun seirama langkahnya. Dia tampak mengangguk dan tersenyum sopan pada orang-orang yang berpapasan dengannya. Senyumnya sangat manis!

"Yaelah, elo, No, beraninya ngeliatin dari jauh doang. Pengecut, lo! Deketin, dong! Ajak makan siang bareng sekali-sekali, gitu. Kalau lo nggak ada pergerakan, gimana mau nembak dia?" sindir Wira memanas-manasi.

"Sabar, lah, Bro," tukas Seno sambil kembali menunduk menatap komputernya. "Belum waktunya."

"Alaah, alesan aja lo, No. Bilang aja lo nggak punya nyali buat deketin dia, kan? Hahaha!" Wira tertawa keras.

Seno terdiam. Dia menjauhkan kepala dari layar komputer, dan menatap pantulan wajahnya di sana. Sesungguhnya, ucapan Wira memang benar. Seno sangat tak percaya diri dengan tampilannya. Wajah tirus dan pucat seperti orang sakit tipes, kacamata tebal, rambut kaku acak-acakan, tubuh kurus padahal tidak kurang makan, dan selalu terbata-bata setiap bicara dengan perempuan. Apalagi, jika perempuan itu adalah Nindya. Baru melihat dari jauh saja sudah keluar keringat dingin.

Dengan tampilan di bawah standar seperti ini, Seno sadar, sangat sulit bahkan mustahil untuk mendapatkan Nindya. Jenjang jabatan mereka dalam perusahaan saja sudah terasa sangat jauh. Nindya adalah seorang editor naskah senior, sementara dirinya hanya staf administrasi yang mengurus hal-hal remeh--menurutnya. Ditambah lagi, seumur hidup Seno belum pernah pacaran. Penampilannya yang super culun di mata perempuan membuat rasa percaya dirinya terbenam jauh di bawah kakinya, tak pernah percaya diri untuk mendekati cewek manapun sejak di bangku sekolah.

Namun, sejak berkantor di perusahaan penerbitan ini hampir dua tahun lalu, di dalam hatinya hanya ada Nindya. Selalu wajah manis Nindya yang hadir dalam mimpi dan angan-angannya.

"Yang jelas, gue akan menjaga kesetiaan cinta dan kesucian gue hanya untuk Nindya. Kalau bukan dengan Nindya, gue nggak akan mau pacaran atau menikah," ucap Seno tanpa sadar.

"Buset, pede amat lo, Bro! Sadar, woi, sadar! Hahahaha!" Tawa mencela Wira terdengar semakin keras.

Seno hanya diam saja dengan wajah merah padam. Meskipun kalimatnya barusan terdengar memalukan, tetapi itu memang isi hati yang sejujurnya. Seno yakin, dia hanya bisa mencintai Nindya.

***

"Bro, makan siang, nggak?" tanya Wira sambil membereskan berkas-berkas di mejanya.

"Lo duluan, deh," sahut Seno. "Gue belum selesai, nih."

"Oke."

Setelah Wira meninggalkan ruangan, Seno melepaskan pandangan dari layar komputernya. Sebenarnya dia berbohong soal belum menyelesaikan pekerjaan. Seno hanya sedang malas saja makan siang dengan Wira. Teman satu divisinya itu terkadang membuatnya tersinggung dan sakit hati dengan ucapannya. Seno menyesal, dulu pernah memberitahu Wira tentang perasaannya pada Nindya. Akibatnya, Wira jadi sering mengejek dan mengatainya pengecut.

Seno mengistirahatkan layar komputer, lalu mengamati kertas-kertas yang bertumpuk di atas mejanya. Berpikir untuk mengulur waktu makan siangnya agar tak usah bertemu Wira di kantin, Seno berniat untuk merapikan semua berkas yang sudah terdata di komputer, dan memindahkannya ke gudang seperti biasanya.

Seno berjalan menyusuri selasar panjang menuju gudang sambil melamunkan Nindya. Wajah Nindya yang manis dan lembut tampak tersenyum dalam bayangannya.

Braaakk!

Pintu yang sedang dilewati Seno tiba-tiba terbuka. Berkas-berkas yang dibawa olehnya jatuh berserakan di lantai.

"Eh, aduuh, maaf maaf!"

Terdengar suara perempuan berseru dari balik pintu. Sosok itu segera berjongkok untuk mengumpulkan berkas-berkas yang berserakan itu.

Jantung Seno seolah berhenti berdetak melihat sosok itu. Rambut panjang yang dijepit sebagian ke belakang dengan jepit rambut hitam, dan poni samping yang jatuh ke bawah saat menunduk.

Ini Nindya!

Dengan kaki gemetar dan dada berdebar kencang, Seno segera ikut berjongkok.

"Maaf, yaa, aku buka pintu nggak lihat-lihat!" ucap Nindya sambil mendongak sekilas, menatap wajah Seno yang seketika merah padam.

Jantung Seno berdebar semakin kencang melihat wajah Nindya dalam jarak sedekat ini.

"Eh--ng--nggak pa-apa, nggak apa-pa," ucap Seno tergagap-gagap. Tangannya bergerak serabutan untuk mengumpulkan berkas-berkas itu. Sekali, tangan Seno sedikit bersentuhan dengan tangan Nindya. Ternyata kulitnya sangat halus!

"Ini. Maaf banget, ya, Seno," ucap Nindya sambil mengulukan berkas-berkas yang berhasil dikumpulkannya.

Seno tertegun sesaat.

Nindya menyebutkan namaku! Nindya menyebutkan namakuuuu! Seno menjerit dalam hati.

"Ehh, ng--nggak papaa, terima kasih," sahut Seno masih tergagap.

"Sama-sama. Ya udah. Aku ke kantin dulu, ya," ucap Nindya sambil tersenyum dan berlalu.

"Iy--iyaa," jawab Seno, kesulitan menormalkan cara bicaranya.

Selama beberapa detik, Seno hanya bisa berdiri gemetar di tempat. Rasanya tak percaya dia baru saja bicara dengan Nindya, dan Nindya menyebutkan namanya. Seno merasa takjub. Dia bahkan tak tahu kalau Nindya tahu namanya.

Ini benar-benar hari yang paling membahagiakan dalam hidupnya!

Seno melanjutkan langkah menuju gudang dengan hati riang. Angan-angannya melambung tinggi, membayangkan momen-momen selanjutnya di mana dia bisa ngobrol santai setiap bertemu dengan Nindya. Khayalannya bahkan semakin liar, membayangkan dia akhirnya bisa berpacaran dengan Nindya. Makan siang berdua di kafe, nonton film horor di bioskop sambil berpegangan tangan, lalu saat muncul sosok hantu menyeramkan, Nindya akan langsung memeluknya karena ketakutan. Kemudian, mereka akan saling bertatapan dalam gelap, lalu wajah mereka saling mendekat, dan....

Khayalan itu buyar ketika Seno tiba di depan pintu gudang. Seno membuka pintu dan langsung masuk ke dalam. Gudang penuh debu ini dipenuhi oleh rak-rak tinggi berisi kotak-kotak penyimpanan berkas, buku-buku rusak, dan tumpukan kertas yang sudah menguning.

Seno menuju ke rak bagian penyimpanan berkas administrasi, menarik satu kotak yang masih setengah kosong, dan memasukkan tumpukan berkas yang dibawanya. Setelah itu, Seno mendorong kembali kotak itu.

Tiba-tiba, seekor kecoa terbang keluar dari balik kotak. Seno mundur terkejut sampai menabrak rak tinggi di belakangnya dan mengibaskan tangan, menepis kecoa itu agar menjauh.

Bruk!

Seno menoleh. Sesuatu jatuh dari rak di belakangnya.

Seno membungkuk dan mengambilnya. Benda itu adalah setumpuk kertas HVS ukuran A4 yang dijilid dengan rapi. Dilihat dari debu tebal yang menempel dan warna kertasnya yang sudah kuning kecokelatan, Seno yakin ini pasti sisa-sisa naskah kiriman dari para penulis sejak zaman penerbitan ini masih menerima naskah dalam bentuk cetak.

Seno mengusap halaman depannya, membersihkan debu tebal yang menumpuk. Sebuah kalimat dalam huruf besar yang dicetak tebal tertulis di sana.

'KISAH PANGERAN 5 SELIR'.

Seno membuka halaman paling depan naskah tua itu, penasaran dengan isinya.

Saat halaman pertama terbuka, tiba-tiba sebuah sinar terang menyilaukan menerpa wajah Seno.

Lanjut membaca
Lanjut membaca