Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
KALANTAKA: Sang Detektif Iblis

KALANTAKA: Sang Detektif Iblis

Lisa Lune (L.L) | Bersambung
Jumlah kata
74.0K
Popular
155
Subscribe
50
Novel / KALANTAKA: Sang Detektif Iblis
KALANTAKA: Sang Detektif Iblis

KALANTAKA: Sang Detektif Iblis

Lisa Lune (L.L)| Bersambung
Jumlah Kata
74.0K
Popular
155
Subscribe
50
Sinopsis
FantasiIsekaiPsikopatIblisThriller
Kalantaka - Sang putera mahkota kerajaan Iblis terjerumus melakukan tindak kriminal yang tidak bisa dimaafkan begitu saja oleh kerajaan iblis. Sebagai panglima pemburu jiwa berdosa, ia melakukan kesalahan hukuman kepada jiwa manusia. Satu jiwa tidak berdosa ia seret ke dalam Naraka. Dan kesalahan lain yang ia lakukan karena memberontak kepada sang Ayah - Raja Iblis, ia mencuri tiga artefak sakral milik kerajaan iblis. Meski ia seorang putera mahkota kerajaan iblis, hukum tetap berlaku baginya. Kehidupan di Naraka memiliki aturan dan hukum sendiri. Ia harus membawa sepuluh jiwa manusia yang melakukan perbuatan keji, jiwa-jiwa yang pantas dimasukan ke dalam jurang Naraka. Ada konsekuensi besar jika tidak memenuhi hukuman tersebut. Mati menjadi cairan api lava. Sayangnya, ia mau tidak mau harus hidup di dunia manusia dan hidup di dalam tubuh seorang pria yang sudah mati. Awalnya, semua terasa mudah, sampai semua itu tidak mudah dijalani lagi, meski ia seorang putera mahkota iblis. Namun, saat di dunia manusia, sesuatu yang seharusnya tidak dimiliki oleh bangsa Iblis mulai muncul dalam dirinya.  Rasa kemanusiaan. Satu jiwa tidak berdosa ke Naraka. Tiga artefak sakral menghilang. Kalantakan siap dengan segala konsekuensinya.  Hidup itu…selalu punya pilihan bukan?
chapter 1: Pemburuan

Suasana di ruangan Reserse Kriminal Polres Metro sudah sepi. Hanya terdengar suara jemari yang menari dengan lincah di atas keyboard. Jam dinding menujukkan pukul 01.48 WIB ketika Arya berhenti sejenak dari ketikannya. Ia menyibak rambut potongoan crew cut nya ke belakang. Sekali lagi ia membaca ulang hasil laporan kasus pembunuhan mutilasi yang ia tangani sejak kemarin masih terbuka. 

Kata-kata formal yang tersusun rapi terasa terlalu dingin dibanding kematian itu sendiri.

Kata kunci yang harus digaris bawahi, korban belum terindentifikasi.

Pelaku belum diketahui. Senjata membunuh korban pun nihil.

Satu-satunya adalah penemuan empat kotak berisi potongan tubuh korban. Tidak ada petunjuk lain. Bahkan CCTV tidak menampakan potongan puzzle yang dicari. 

Penyelidikan kasus ini pun jalan di tempat.

Lampu ruangan sudah padam sedari jam 10 malam. AC sentral demikian sudah dimatikan di waktu yang sama. Satu-satunya penerangan datang dari lampu kerja meja Arya yang memantulkan cahaya pucat. Meja kerjanya pun penuh berkas dan foto-foto olah TKP. Udara yang ia rasakan juga didapatnya dari aliran udara yang masuk dari jendela gedung yang ia buka. 

Jemarinya mulai mengetik  lagi dengan cepat di atas keyboard. 

Laporannya sudah selesai. Send. Laporan pun terkirim.

Arya menghela napas lega saat telah menyelesaikan laporan itu. Hari yang panjang dan melelahkan. 

Ia membereskan beberapa berkas di hadapannya dan ditumpuk sembarang di atas meja. 

Ia berdiri perlahan. Menguap lebar-lebar sambil meregangkan tubuhnya yang terasa kaku setelah duduk lama di kursi kerjanya. 

Ia segera mengemas barang miliknya. Ponsel, kunci mobil, dan dompet yang ia masukan ke dalam tasnya. 

Arya sesungguhnya merasa lapar. Tapi rasa lelah mengalahkan rasa laparnya. Yang ia tahu, ingin segera merebahkan dirinya di atas kasurnya. Arya melangkah ke luar ruang Reserse. Ia melangkah dengan cepat membuatnya bergema di lorong yang sepi.

Hanya beberapa staf cleaning service yang bekerja shift malam sedang mengepel lantai di salah satu ruang rapat.

Di jam seperti ini gedung Polres sangat terasa sepi dan sunyi. Rasanya jauh lebih horor ketimbang film horor itu sendiri. Karena tempat ini juga sering dipenuhi oleh kisah kematian.

Arya Bhagawanta, menghentikan langkah kakinya ketika ia sampai di lobi utama Polres. Ia menarik resleting jaket nya ke atas untuk menghalau angin malam yang lumayan menusuk tulang.

Ia memandang sekeliling di sekitar lobi utama. Mulai dari halaman parkir, hingga ke semak-semak yang tidak jauh dari pintu gerbang Polres Metro. Nalurinya sebagai detektif senior membuatnya selalu waspada akan sesuatu. Apalagi di malam hari seperti ini.

Biasanya, para kriminal bergerak di waktu yang orang lain pikir itu sunyi. 

Setelah merasa sekelilingnya aman, Arya mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celananya, menyalakan satu batang, menarik asap nikotin ke dalam tenggorakannya, menuju paru-parunya, kemudian menghembuskannya dengan penuh kenikmatan.

Tubuhnya rileks. Ia menyandarkan punggung nya ke dinging.

Asap rokok menari nari di udara malam yang dingin.

Matanya menatap kosong ke atas langit malam yang berwarna abu kehitaman. Hanya sedikit bintang yang ia lihat. 

Pikirannya melayang jauh.

Jauh hingga berhenti ke suatu memori yang tidak ingin ia ingat.

Memori seorang perempuan yang selalu menghantuinya. Bahkan saat ia tidur.

Perempuan itu tersenyum tulus dan cantik. Sungguh, bayangannya tidak pernah pergi.

Dan Arya, tidak pernah tega membiarkan bayangan itu pergi.

Intan Ayu Widata, tunangan Arya yang mati terbunuh.

Dua tahun telah berlalu sejak Intan meninggal dunia. Namun, bayangan Intan selalu hadir kapanpun Arya ingin mengingatnya. 

Saat itu, seorang warga menemukan tubuh Intan di pinggir sungai. Tubuhnya penuh luka lebam dan berlumuran darah. Intan mengalami dua tusukan dan lima sayatan di tubuhnya. Saat itu Intan masih hidup, ia mencoba merangkak dan berteriak. Namun, aksi terakhirnya gagal, ia harus menghembuskan napas terkahirnya saat pelaku sengaja melindas Intan yang sekarat dengan motor.

Pelaku melarikan diri. Tidak ada jejak pelaku tertinggal.

Kasus telah ditutup, dianggap selesai,  meski pelaku tidak pernah tertangkap.

Tentu saja Arya merasa gagal menjadi seoarang detektif senior, dan juga seorang laki-laki.

Ingatan itu seperti hantu yang tidak pernah ia undang.

Selalu datang dan pergi semaunya. 

Membuat luka nya tidak pernah sembuh. 

Arya menghela napas panjang, seolah telah membuang beban berat di dadanya. Meski ia tahu beban itu akan datang kembali.

Arya mendengar suara langkah orang berjalan mendekatinya saat ia melempar putung rokok sembarang di halaman lobi.

Langkah itu pelan. Seperti predator yang sedang mengintai mangsanya.

Arya menoleh ke arah kanannya.

Dalam cahaya seadanya di halaman parkir Polres, Arya bisa yakin sosok itu adalah seorang perempuan yang saat ini hampir berdiri dekat dengannya. 

Perempuan itu menggunakan ponco hujan berwarna hijau tua. 

Seketika sekujur tubuh Arya tidak mampu bergerak. Hatinya mencelos.

Ia mengenali wajah itu.

Perempuan itu adalah Ratih Kusuma, mantan kekasih Arya. 

Arya dan Ratih putus hubungan sejak 3 tahun lalu. Dan Ratih pun menghilang tanpa kabar. Tidak ada seorang pun yang tahu dimana Ratih saat itu.

Karena Arya sudah memiliki hati yang baru, Intan. Arya sudah tidak pernah memikirkan Ratih lagi.

Bahkan membayangkan ia bertemu dengan Ratih lagi saja tidak.

Sayangnya, sosok itu sedang berdiri di depannya. Sambil tersenyum aneh.

Senyum yang hanya orang tanpa emosi dan jiwa yang memilikinya. 

“Hi, sayangku! Akhirnya ketemu lagi. Kamu nggak berubah.” Ratih berbisik lembut tapi datar sambil mendekatnya bibirnya ke telinga kanan Arya. 

Saat mendengarnya, Arya menggertakan giginya. Raut wajah Arya kaku penuh dengan amarah yang ia tahan. 

“Mau apa kamu?” Tanya Arya

“Nggak mau apa-apa.” katanya. “Cuma pengen peluk kamu.”

Sedetik kemudian Ratih memeluk Arya, “nyaman banget.” katanya sambil memejamkan mata. “Dulu kita sering begini” lanjutnya dan semakin mendekap tubuh Arya dengan erat.

Arya yang merasa jijik dan takut, segera mendorong tubuh Ratih agar tidak memeluknya lagi. 

Seketika raut wajah Ratih sedikit berubah. Otot wajahnya terlihat tegang, menunjukan seringai kaku yang membuat takut siapa saja yang melihatnya. 

“Kamu nggak mau dipeluk aku, sayang?” tanya Ratih dingin. Arya bisa melihat ketidakhadiran emosi di dalam jiwa Ratih.

Ratih kembali mendekati Arya.

Arya tidak mundur selangkah pun. Tidak pula menjawab pertanyaan ratih. Hanya tetap diam dan waspada. Dirinya terlalu fokus pada ekspresi wajah Ratih. 

Jleb. 

Suara pisau menancap dengan mantab di perut Arya. 

Arya meilihat pisau di perutnya itu. Rasanya sakit sekali. Ia masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan ratih kepadanya. Senyuman Ratih, menyeringai semakin lebar dan tatapan tanpa jiwa.

Genggamannya mantap, seolah ia sudah terlatih menggunakan benda itu. 

Adrenalin Arya bekerja. Jantungnya berdegub cepat.

“Kamu kenapa, sayang?” Tanya Ratih sambil meraba wajah Arya dengan pisau yang ia gengam. “Takut?” 

Arya terdiam.

Melihat Arya tidak memberikan reaksi apapun, Ratih tertawa. Tawanya kosong, dingin. Bikin bulu kuduk merinding.

“Singkirkan pisaunya.” Arya memberi peringatan ke Ratih. Tubuhnya menegang.

Ratih berhenti tertawa.

“Kamu mau tahu satu rahasia?” Tanya Ratih dengan ekspresi datar. “Dia mati, aku seneeengg.” Ratih kembali tertawa. Tawanya aneh, datar, dan tanpa emosi.

“Aku bosen simpen rahasia ini sendirian.” lanjutnya

“Maksud kamu?”

Dengan ekspresi datar, sambil memiringkan kepalanya, menatap dengan mantap ke dalam diri Arya, “aku bunuh tunangan kamu.” Kata Ratih disusul dengan tawa kecil.

Arya diam membeku. Udara terasa semakin dingin. Jakarta seperti kedatangan badai salju mendadak.

Pengakuan dari Ratih seperti samurai yang membelah tubuhnya. 

Dunia sekeliling Arya berhenti bergerak. 

Mulutnya terbuka untuk mengucapkan sesuatu, namun tak satu kata pun keluar dari mulutnya. 

Seketika, Ratih dengan cepat menusukan pisau itu ke Arya, tepat di perut sebelah kiri. 

Kejadiannya begitu cepat. Arya tidak melihat kilatan logam yang bergerak menuju perutnya.

Ratih terus mendorong pisau itu semakin dalam ke dalam perut Arya.

Membuat Arya terhuyung mundur. 

Nafasnya tersengal-sengal dan melambat. Rasa nyeri dan panas menyebar dari luka tusuk itu. Seketika darah juga ikut mengalir deras dari mulutnya.

“Sakit sayangku?” tanya Ratih yang tanggannya masih memegang gagang pisau, wajahnya datar dan tenang. 

Tubuh Arya melunglai. Kakinya sudah terlalu lemas menahan beban tubuhnya sendiri. 

Ratih melepas genggaman pisaunya.

Kemudian ia menendang Arya agar jatuh terlentang di aspal.

Pandangan Arya sudah mulai kabur. Namun ia masih bisa mendengar apa yang Ratih bicarakan.

“Aku selalu penasaran, gimana rasanya melihat orang yang aku cinta mati di depan mata.” katanya sambil menyaksikan Arya seolah ia adalah sesuatu yang sangat menarik.

Tidak ada emosi kemarahan di wajah Ratih. Begitu juga dengan penyesalan. 

Hanya suara tawa pelan yang dingin, dengan raut wajah yang datar, tenang, sehingga terlihat sangat mengerikan.

Ratih menarik pisau di perut Arya. Darah Arya menyembur menyiprati wajah Ratih. Namun Ratih seolah tidak peduli akan darah yang mengotori wajahnya.

“Sayonara, sayangku.” katanya sebelum ia melangkah pergi di tengah gelap malam.

Arya tergeletak di aspal dingin sendirian. Tubuhnya mengigil.

Dunia seperti menjauhinya. Dunia menjadi sunyi. Semakin dingin.

Adit masih bisa merasakan sesuatu yang aneh disekitarnya. Ia mencoba untuk bangkit namun tak berdaya.

Pandangannya hampir gelap.

Ia masih bisa merasakan angin kencang dan dingin di sekitarnya. Seolah angin itu akan membawa jiwa nya pergi.

Tiba-tiba terdengar suara langkah berat berjalan mendekatinya. 

Sosok itu sorang pria. Tinggi, berpakaian serba hitam. Tapi Arya tidak sempat melihat wajahnya. Matanya sendiri sudah tertutup. 

Sosok itu berjongkok di samping tubuh Arya. tangannya mengeluarkan sebilah pedang yang terlihat kokoh namun elegan. 

Di bawah gagang pedang, terdapat tulisan नरक (Naraka) yang menyala murka. 

Sosok itu menempelkannya ke kening Arya.

Tanah bergetar hebat. Sebuah pintu besar gerbang neraka muncul dari aspal. Pintu itu berwarna merah tua. Depan gerbang neraka itu juga terdapat simbol नरक. Meski pintu kokoh, kamu yang berdiri jauh pun sudah bisa merasakan panasnya api neraka, dan juga mendengar jeritan para penghuni neraka. Bau busuk darah, daging manusia, dan nanah juga bisa tercium dari jarak jauh sekalipun.

Pintu Naraka pun terbuka lebar. Meski itu neraka, kamu bisa melihat cahaya yang sangat menyilaukan keluar dari dalam pintu itu. 

Sedetik kemudian, jiwa Arya ditarik keluar dari tubuhnya. Jiwa itu berbentuk seperti asap dengan cahaya yang berwarna biru dan putih yang menyatu. Jiwa Arya melayang dengan cepat memasuki pintu Naraka.

Sosok itu berkata, “Selamat datang di Naraka.” 

Lanjut membaca
Lanjut membaca