

Tanah lapuk. Laut keruh. Langit suram. Mayat, di mana pun kau berdiri, akan terlihat jutaan mayat bertumpuk-tumpuk bagai dedaunan di musim gugur. Begitulah suasana dunia setelah Perang Magnaruin. Kengerian luar biasa dari suatu tragedi yang sukar dilukiskan lewat bahasa.
Perang Magnaruin adalah perang panjang melawan makhluk asing yang turun dari langit sekitar 500 tahun lalu. Penduduk bumi menyebut mereka Nemesis. Makhluk paling kejam, menyeramkan, dan hampir tak terkalahkan. Para Nemesis memiliki kekuatan di luar nalar manusia. Beberapa dari mereka ada yang dapat membakar satu kota hanya dalam satu menit, melubangi gunung sekali percobaan, membekukan gurun di siang bolong, menebarkan penyakit dan kematian, atau bahkan mengurung seluruh cahaya di bumi. Bagian terburuknya adalah Nemesis menggunakan kekuatan itu hanya untuk dua tujuan: memusnahkan umat manusia dan menguasai bumi. Dengan semua kemampuan itu, tentu hampir mustahil umat manusia dapat mengalahkan mereka.
Tak ada yang tahu pasti dari mana asal para Nemesis. Yang jelas, mereka datang ke bumi dari langit laksana ratusan bintang jatuh. Mereka datang bersama bongkahan-bongkahan batu raksasa. Di dalam batu itulah para Nemesis berada selama jatuh dari langit. Namun siapa sangka, bongkahan-bongkahan batu raksasa yang menjadi perantara invasi Nemesis itu justru jadi cikal bakal perlawanan manusia terhadap mereka.
Setelah lebih dari tiga dekade perang melawan invasi Nemesis, lima manusia akhirnya menemukan senjata ampuh untuk melakukan perlawanan. Senjata itu disebut arch-stone, sebuah batu yang ditempa dari bongkahan-bongkahan raksasa yang turun dari langit bersama para Nemesis. Siapa pun yang dapat menguasai arch-stone dengan baik, ia akan memperoleh kekuatan yang luar biasa, persis kekuatan para Nemesis. Para pengguna kekuatan arch-stone disebut arcanist. Dan lima manusia yang menjadi arcanist pertama di bumi disebut Primordial.
Para Primordial menempa lebih banyak arch-stone dan mengajarkan manusia-manusia lain bagaimana cara memanfaatkan kekuatannya. Maka jumlah arcanist pun makin bertambah hingga akhirnya umat manusia memiliki pasukan arcanist yang siap menantang para Nemesis dalam perang Magnaruin. Atas bimbingan Primordial, umat manusia akhirnya mampu mengalahkan para Nemesis dan merebut kemerdekaannya kembali. Namun, itu semua bukanlah akhir, melainkan sebuah awal bagi umat manusia menuju era baru. Era arcanist.
*****
Sudah lebih dari 500 tahun sejak Perang Magnaruin berakhir, dan dunia mulai terlihat membaik. Meskipun sepertinya terlalu naif untuk dibilang baik. Perang masih ada, tapi bukan melawan Nemesis, melainkan perang antar bangsa, persis yang sering umat manusia lakukan jauh sebelum invasi Nemesis. Manusia selalu punya alasan untuk berperang. Agama, ideologi, sumber daya, apa saja bisa dibuat-dibuat demi melakukan penjajahan.
Perang adalah hal buruk, dan ternyata itu bisa menjadi lebih buruk karena di era sekarang perang dipersenjatai oleh kekuatan arch-stone. Itu artinya kerusakan yang disebabkan lebih besar. Semakin banyak nyawa yang mudah direnggut dalam perang.
Salah satu negara besar yang ikut terlibat dalam perang saat ini adalah Republik Valdoria. Mereka sedang dalam konflik panas dengan Otoritarian Dormont, yang juga merupakan salah satu negara besar di dunia saat ini. Konflik antara dua negara besar itu sudah memasuki tahun kelima, namun masih belum ada tanda-tanda pedamaian di antara keduanya. Justru semakin memanas. Pasukan arcanist Dormont semakin gencar menggempur, pasukan arcanist Valdoria semakin ganas memberikan perlawanan balik. Semakin banyak korban berjatuhan dari kedua belah pihak, terutama korban dari kalangan arcanist.
Alih-alih segera menghentikan perang, kedua negara tersebut justru semakin giat melatih para arcanist baru. Itu artinya, mereka membutuhkan persediaan arch-stone lebih banyak. Masalahnya arch-stone sendiri merupakan sumber daya yang terbatas, mengingat itu bukanlah material yang berasal dari bumi. Maka Valdoria, Dormont, maupun negara-negara lain kini saling berlomba-lomba mencari sumber daya arch-stone.
*****
“Walau disebut batu, arch-stone sebenarnya merupakan material yang lebih kompleks dan unik,” ujar seorang pengajar sambil membuat ilustrasi di papan tulis. Dia sedang mengajar di sebuah kelas di akademi arcanist paling terkenal di ibukota Republik Valdoria. “Berbeda dengan batu biasa, arch-stone dapat mencair pada kondisi suhu tertentu, lalu kembali mengkristal. Oleh karena itu, setelah ratusan tahun berlalu, banyak arch-stone yang ditemukan pada lapisan bumi yang cukup dalam dengan bentuk yang jauh berbeda dari bentuk awalnya.”
Tak ada suara. Semua orang di kelas itu memperhatikan penjelasan si pengajar dengan saksama. Meskipun usianya terbilang masih muda untuk profesinya, namun dia adalah salah satu pengajar paling terkenal di akademi itu. Dia adalah seorang cendekiawan ulung, pakar arch-stone sekaligus salah satu arcanist paling terkenal di Republik Valdoria. Tak heran bila banyak arcanist pemula yang ingin mengikuti kelasnya dan mendengarkan penjelasannya dengan khidmat tanpa memedulikan penampilannya yang agak mencolok. Alih-alih mengenakan kacamata, si pengajar justru mengenakan penutup mata pada mata sebelah kanannya.
“Karena karakteristik uniknya inilah,” si pengajar melanjutkan, “ketika ditempa, arch-stone akan bersifat unik satu sama lain. Baik rupa, nama, maupun kekuatan dari setiap arch-stone yang sudah ditempa akan berbeda-beda, tak mungkin sama, persis sidik jari pada manusia.”
Keheningan dalam kelas itu sedikit terganggu ketika salah satu murid mengangkat tangan, mengajukan pertanyaan. “Profesor, apakah semakin besar arch-stone yang dimiliki oleh seorang arcanist akan membuat kekuatannya semakin besar pula?”
Si pengajar menggeleng. “Tidak, karena sebetulnya itu merupakan hal mustahil. Semua arch-stone ditempa pada ukuran yang sama. Maka dari itu, seorang penempa harus teliti dalam mengukur, karena kalau sampai volume atau masa arch-stone tersebut berbeda dari standar, itu bisa membahayakan arcanist penggunanya.”
Semua murid mengangguk paham. Kemudian salah satu murid lain ikut angkat tangan. “Prof, apakah kita bisa menggunakan lebih dari satu arch-stone?”
Si pengajar mengangguk. “Bisa, tapi tidak mudah. Perlu keahlian tingkat tinggi untuk mengendalikan lebih dari satu arch-stone, karena kalau tidak, energi kehidupan kitalah yang justru terenggut oleh arch-stone tersebut. Seorang arcanist tingkat tinggi sekali pun hanya bisa menguasai dua sampai tiga arch-stone saja. Tapi kalian harus ingat, arcanist yang kuat bukan hanya tentang seberapa banyak ia bisa menguasai arch-stone, melainkan seberapa mahir dia mengoptimalkan potensi dari arch-stone yang dimilikinya. Aku kenal banyak arcanist tingkat tinggi yang hanya memiliki satu arch-stone.”
Sekali lagi, semua murid mengangguk paham. Dan sekali lagi, ada satu murid lain yang ikut mengangkat tangan. “Kalau boleh tahu, Profesor sendiri punya berapa arch-stone yang sudah dikuasai?”
Alih-alih langsung menjawab, si pengajar justru tersenyum simpul. Dari balik anak rambutnya yang berwarna perak terlihat bahwa mata kirinya sedikit menyipit, menandakan bahwa ia sedikit tergelitik oleh pertanyaan tersebut. Namun ketika hendak menjawab, tiba-tiba terdengar suara ketukan dan pintu kelas yang dibuka. Terlihat ada dua pria tinggi berseragam militer berdiri di ambang pintu.
Salah satu dari pria itu berucap dengan intonasi tegas namun tetap sopan, “Maaf telah mengganggu jam pembelajarannya, tapi sesuai peraturan, dalam kondisi berperang semua instruksi militer harus diprioritaskan.”
“Ya, aku mengerti,” jawab si pengajar. “Memangnya ada instruksi apa dari atasan kalian?”
“Profesor Hansel Rabenherz, Anda diminta menghadap oleh Mayor Jenderal Franz Hammer sekarang juga,” jawab pria berbadan tinggi tersebut.
*****