

Gludung ... gludung ... gludung ..., tiba-tiba sebuah batu besar meluncur dari atas tebing dengan sangat cepatnya, tapi beruntungnya Jagad segoro dengan secepat kilat berhasil menghindar dan melompat keatas dengan kedua kakinya berpijak pada sebuah pohon besar.
"Aku harus waspada, tempat ini sepertinya sangat berbahaya" ucapnya dalam hati sembari matanya yang tajam itu mengamati sekeliling.
Yang dirasakan oleh Jagad Segoro memang benar bahwa tempat yang dia lewati kali ini cukup berbahaya, walaupun sepertinya hanya sebuah gunung kecil namun dia merasakan aura yang tidak nyaman di tempat itu.
Jagad segoro terus melewati hutan di dalam gunung itu, yang dia sendiri pun tidak tahu nama tempat dan gunung apa itu. Siang itu meskipun matahari bersinar terang namun cahaya tak sempat masuk banyak di dalam hutan tersebut, hanya segaris lurus cahaya yang bisa masuk ke dalam hutan itu hingga membuat suasana menjadi sangat gelap.
Namun Jagad segoro terus berjalan melewati jalan setapak yang terlihat di depannya. Hari semakin gelap karena matahari makin berkurang cahayanya dan tak lama lagi mungkin agar segera terbenam dan menghilang.
perjalanan jauh yang dia lewati semakin jauh dan semakin dalam, namun aneh dia tidak menemukan perkampungan atau rumah penduduk yang bisa dia tumpangi untuk bermalam satu malam saja.
Jagad segoro terus berjalan dan tiba-tiba terdengar dari kejauhan suara air yang jatuh dari ketinggian, bak seperti mendapatkan setetes embun di Padang gurun, dia terus menyusuri dan berjalan menuju arah suara itu.
cuaca pun semakin gelap dan semakin dingin, Jagad Segoro pun terus berjalan hingga akhirnya dia menemukan sumber suara itu, dia melihat air terjun yang cukup tinggi dan sangat menawan, begitu indah dan dan sangat mencuri pandang bagi yang melihatnya.
Dibawah kaki air terjun itu, jagad Segoro melihat sebuah gubuk kecil yang entah siapa yang membuatnya, gubuk itu tidak bagus tapi setidaknya ada tempat buat dia berteduh malam itu.
Jagad segoro segera mengumpulkan beberapa kayu kering untuk dijadikan api unggun dan mencari beberapa buah yang bisa dia makan untuk malam itu.
Jagad segoro sejenak merebahkan tubuhnya di dalam gubuk kecil itu, untuk melepaskan penat yang seharian ini dia rasakan. Malam itu matanya serasa tidak mampu untuk ditahan, sangat berat dan ingin sekali di pejamkan.
dalam tidurnya dia bermimpi seperti melihat sebuah cahaya berwarna kuning keemasan yang ada di balik batu besar di bawah air terjun tersebut. sangat nyata dan begitu jelas di dalam mimpinya itu. Namun tiba-tiba dia terbangun dan melihat suasana di sekelilingnya gelap hanya cahaya api unggun yang ada dan mulai mengecil karena kayu bakar tersebut sudah mulai habis.
jagad segoro terus melihat ke sekelilingnya tapi lagi-lagi dia tidak melihat apa-apa, hanya suara gemuruh air terjun yang di dengarnya, namun kali ini dia sangat penasaran dengan mimpinya karena seperti sangat nyata sekali.
Jagad segoro segera bangkit dan berjalan menuju air terjun tersebut, kakinya perlahan maju dan terus mengamati batu besar berwarna hitam itu.
"Nampaknya tidak ada yang aneh, semua seperti tidak ada apa-apa." gumamnya pelan di bibirnya.
"Hap...!" Tiba-tiba jagad segoro melompat tepat di depan batu besar itu d bawah air terjun, tubuh tegapnya basah tertimpa air terjun di atasnya. jagad segoro berusaha untuk menggeser batu besar itu karena rasa penasaran, tapi sedikit pun batu itu tidak bergerak sama sekali. Jagad Segoro tetap gigih untuk berusaha menggeser batu itu, namun kali ini lagi-lagi tetap tidak bergeming.
Jagad Segoro menakupkan kedua telapak tangannya dan memutarnya tepat di depan dadanya, mulutnya komat-kamit seperti membaca mantra dan segeralah cahaya biru keluar dari telapak tangannya dan segera Jagad segoro mengarahkan cahaya biru itu ke batu besar itu dengan harapan agar batu itu bisa hancur dan dia bisa melihat cahaya kuning keemasan seperti yang ada di dalam mimpinya.
tapi kali ini jagad Segoro kecewa untuk yang kesekian kalinya, batu besar itu jangankan pecah seperti harapan, tapi bergerak saja tidak.
Jagad Segoro berteriak sangat keras untuk meluapkan emosinya dan dengan tenaga dan kekuatan yang dimiliki dia berusaha untuk menghancurkannya, jagad segoro memang sosok yang tangguh dan pantang bagi dia untuk menyerah.
Namun setelah beberapa kali dia menyerang batu besar itu tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras berada di dekatnya.
"percuma kamu berusaha untuk menghancurkannya, lawanlah aku dulu maka batu itu akan pecah dengan sendirinya."
"siapa kamu?" ucap jagad Segoro setengah berteriak gagah.
"aku adalah pemilik tombak yang ada di balik batu besar itu, siapapun yang bisa mengalahkan aku maka dialah pemilik tombak yang sejati."
Jagad Segoro masih bingung dengan ucapannya.
"Apa maksud dan tujuan semua ini"? sahut jahad Segoro.
"aku hanya berusaha mencari pemilik sejati dari tombak ini agar tombak ini tidak disalahgunakan oleh pemiliknya."
"Dan sampai saat ini aku masih belum menemukan pemilik yang sejati itu." sahut suara itu
"baiklah aku menantangmu dan tunjukkan wujudmu yang sebenarnya." ucap jagad Segoro menantang
tiba-tiba dari belakang tubuh tegap jagad Segoro muncullah seekor harimau yang meraung raung hendak menerkam jagad Segoro dari belakang, tapi dengan cepat jagad Segoro segera menghindar dan melompat ke samping.
"akulah pemilik tombak putuk Ijen dan jika kamu berhasil mencabut tombak itu maka kamulah pemilik sejati yang dicari selama ini, dan kalian memang berjodoh."
Jagad segoro merasa tertantang dengan ucapan harimau tadi segera setelah itu jagad Segoro segera menyerang dan badan jagad Segoro melayang di udara dengan kaki kanannya maju menendang tubuh harimau itu.
Harimau segera menghindar dan melompat balik menyerang tubuh jagad segara dengan cakarnya yang tajam.
"srag...!" dada jagad Segoro terluka terkena cakaran harimau dan segera darah segar keluar dari dadanya.
jagad Segoro melihat tubuhnya terluka, rasa perih dan sakit tertahan di tubuhnya.
dia segera duduk bersila, matanya terpejam dan kedua tangannya mengepal dan memutar cepat kedepan dibarengi kepulan asap putih dan dengan cepat jagad Segoro melesat tinggi ke udara dan berjalan cepat sambil mengarahkan kedua telapak kakinya tepat mengenai wajah dari harimau itu.
harimau pun terpelanting cukup jauh karena tendangan di udara jagad Segoro. pertarungan keduanya cukup lama dan mereka adalah lawan yang tangguh.
Dalam hati jagad segoro dia merasa bahwa kekuatan yang dimilikinya belumlah sempurna karena dia belum berhasil mengalahkan sang harimau, dia berpikir bahwa untuk mengalahkan harimau tidak hanya dengan kekuatan tapi dengan kecerdasan.
begitu dia melihat harimau sedikit lengah, mata tajam jagad Segoro tertuju pada ekor harimau, segera dia melompat dan menarik ekor harimau itu dan melemparnya ke dinding tebing yang tajam, harimau itu pun terluka cukup parah dan hampir tidak mampu untuk berdiri tegak lagi.
begitu melihat lawannya hampir tak bertenaga, jagad segoro segera menyerangnya dan menikamnya dengan sebuah batu hingga beberapa kali sampai harimau itupun tak bernyawa lagi, dan ternyata benar begitu harimau itu mati batu besar yang ada di bawah air terjun itu segera pecah berkeping-keping. Dan terlihatlah sebuah cahaya kuning keemasan sangat berkilau pada sebuah tombak yang tertancap di dasar air.
jagad segoro segera mendekati tombak tersebut dan berusaha untuk mencabutnya.
"Nampak luar biasa kekuatan dari tombak ini." ucapnya dalam hati.