

"Lari, Freza! Jangan cuma bengong di situ, bego! Lo mau mati konyol apa?!" teriak Raka dengan suara parau yang nyaris pecah karena ketakutan luar biasa.
Freza tersentak, kelopak matanya bergetar hebat saat kesadarannya dipaksa kembali ke realitas yang memuakkan ini. Bau anyir darah yang menyengat dan aroma daging terbakar memenuhi indra penciumannya, membuatnya mual setengah mati.
"Gue... gue nggak bisa gerak, Ka! Kaki gue kayak dipaku ke lantai!" balas Freza dengan nada gemetar, keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya.
"Sialan! Paksain, bangsat! Itu si Jagal udah makin deket!" Raka menyumpah serapah sambil terus menyeret kakinya yang terluka, berusaha menjauh dari sosok raksasa di belakang mereka.
Rantai besi berkarat bergemerincing hebat di koridor gelap itu. Sosok setinggi tiga meter dengan kepala tertutup karung goni basah dan kapak raksasa yang berlumuran jeroan manusia berjalan pelan namun pasti. Setiap langkahnya menciptakan dentuman yang menggetarkan dada.
"Aduh, aduh, mati kita! Sumpah, gue nggak mau mati di tempat sampah kayak gini!" isak Sinta, pemain lain yang meringkuk di sudut ruangan sambil memegangi kepalanya.
"Sin, bangun! Jangan nyerah sekarang!" bentak Freza, mencoba menggerakkan otot-ototnya yang kaku. "Kita harus cari jalan keluar, pasti ada celah di sistem ini!"
"Celah apaan?! Ini Instance tingkat S, Fre! Kita cuma pion buat hiburan dewa-dewa sialan itu!" raung Raka frustrasi. "Liat tuh si Budi, kepalanya baru aja dipetik kayak buah jeruk! Mana ada logika di dunia gila ini?!"
Freza menatap mayat Budi yang tergeletak tak jauh darinya. Benar apa kata Raka. Tidak ada logika. Di Multiverse Infinite Flow ini, hukum fisika hanyalah saran, dan penderitaan adalah mata uang utama.
"Tunggu sebentar... lo denger nggak?" bisik Freza tiba-tiba, matanya menyipit menatap bayangan si Jagal yang membesar di dinding semen.
"Denger apaan? Yang gue denger cuma suara malaikat maut lagi asah arit!" semprot Raka sambil terbatuk darah.
"Bukan itu! Ada suara... kayak suara glitch di telinga gue," sahut Freza pelan. "Kayak radio rusak."
"Lo udah gila ya? Efek stres gara-gara mau mati?" Sinta tertawa histeris, air matanya bercampur debu di pipinya. "Bagus deh, mending gila duluan sebelum dipotong-potong!"
[Peringatan: Vitalitas Pemain di bawah 5%.]
[Mekanisme Kematian Terdeteksi.]
Suara mekanis sistem berdenging di kepala Freza, tapi kali ini terasa berbeda. Ada distorsi yang menyakitkan, seolah-olah ada dua frekuensi yang saling bertabrakan.
"Sakit... argh!" Freza memegangi kepalanya, berlutut di lantai yang dingin.
"Fre! Lo kenapa?! Jangan sekarang dong, kampret!" Raka mencoba mendekat, tapi langkahnya terhenti saat si Jagal mengangkat kapak raksasanya tinggi-tinggi tepat di depan Freza.
"Mati... semuanya harus mati..." suara berat dan parau keluar dari balik karung goni si Jagal.
"Woi, monster jelek! Sini lo, lawan gue!" teriak Raka mencoba mengalihkan perhatian, meskipun tangannya gemetar hebat memegang belati kecil yang tumpul.
Si Jagal tidak peduli. Matanya—atau apa pun yang ada di balik karung itu—terpaku pada Freza. Kapak itu mulai diayunkan turun dengan kecepatan yang seharusnya membelah tubuh manusia menjadi dua dalam sekejap.
"Gue... gue nggak mau mati..." gumam Freza. "Gue pengen sistem ini... terbalik!"
Tepat saat mata kapak itu menyentuh sehelai rambut di kepala Freza, dunia seakan berhenti. Warna-warna di sekitar mereka memudar menjadi negatif. Hitam menjadi putih, merah darah menjadi biru neon yang aneh.
[ANOMALI TERDETEKSI.]
[Menginisialisasi Protokol 'Logika Terbalik'...]
[Bug ditemukan pada Hukum Kematian: Nilai '0' dideteksi sebagai 'Infinity'.]
"Hah? Apaan nih?" Freza menatap tangan-tangannya yang kini memancarkan cahaya digital yang rusak. "Gue nggak ngerasa sakit?"
"Freza! Lo... lo kok masih utuh?!" teriak Raka dengan mata melotot hampir keluar dari kelopaknya. "Itu kapak nembus kepala lo, tapi lo nggak mati?!"
Kapak raksasa itu memang berada di tengah-tengah kepala Freza, tapi alih-alih membelahnya, kapak itu malah terlihat seperti menembus objek hologram. Tidak ada darah. Tidak ada luka.
"Eh, ini beneran?" Freza menyentuh mata kapak yang masih menempel di dahinya. "Rasanya... geli. Kayak disengat semut doang."
Si Jagal tampak bingung. Dia menarik kapaknya dan mencoba mengayunkannya lagi, kali ini dengan kekuatan penuh yang sanggup meruntuhkan tembok beton.
DUAK!
"Aduh!" teriak si Jagal—bukan Freza.
Kapak itu terpental balik dan menghantam bahu si monster itu sendiri, menciptakan luka menganga yang mengeluarkan cairan hitam pekat. Si Jagal meraung kesakitan, memegangi bahunya yang hampir putus.
"Kok bisa gitu?!" Sinta berhenti menangis, mulutnya menganga lebar. "Dia yang mukul, dia yang luka?"
"Gila... ini beneran gila," gumam Freza, sebuah seringai tipis mulai muncul di wajahnya yang pucat. "Sistemnya... beneran kebalik."
[Logika Terbalik Aktif: Serangan musuh adalah penyembuhan bagi Anda. Kerusakan yang Anda terima akan dipantulkan 200% kepada penyerang.]
"Woi, Jagal! Sini lagi lo! Pukul gue yang keras!" tantang Freza, sekarang dia berdiri tegak dengan penuh percaya diri. "Ayo, jangan manja! Katanya monster tingkat S!"
Si Jagal, yang didorong oleh insting membunuhnya, tidak bisa berpikir logis. Dia mengamuk, menghujani Freza dengan pukulan dan sabetan kapak bertubi-tubi.
"Gila, Fre! Lo gila!" teriak Raka sambil bersembunyi di balik pilar. "Tapi... keren banget, sialan! Liat tuh darah si monster muncrat kemana-mana!"
Setiap kali kapak itu menghantam tubuh Freza, luka-luka lama Freza justru menutup. Memar di wajahnya hilang, dan tenaganya pulih total. Sebaliknya, tubuh si Jagal mulai hancur berantakan. Kakinya patah sendiri, perutnya sobek seolah-olah ditebas oleh pedang tak terlihat.
"Enak banget rasanya dipukul," desah Freza dengan nada sarkastik. "Lagi dong! Masa cuma segini doang level horor kalian? Payah banget!"
"Tolong... berhenti..." rintih si Jagal. Monster yang tadinya menjadi mimpi buruk bagi jutaan pemain itu kini merangkak mundur, mencoba menjauh dari Freza yang berjalan santai ke arahnya.
"Lho, kok minta tolong? Bukannya lo tadi semangat banget mau denger suara maut asah arit?" Freza terkekeh dingin. "Sekarang gantian, gue yang pengen denger suara tulang lo remuk."
Freza memungut sepotong kayu kecil yang patah di lantai. Di mata sistem normal, itu hanyalah sampah. Tapi bagi Freza sekarang...
[Item: Kayu Patah (Sampah)]
[Efek Logika Terbalik: Senjata Penghancur Dimensi (Legendaris Sementara)]
"Cuma pake kayu ini?" tanya Sinta ragu. "Mana mempan buat bunuh monster sekelas itu?"
"Tonton aja, Sin. Di tangan Freza yang sekarang, mungkin kotoran kucing pun bisa jadi nuklir," sahut Raka, mulai merasa ada harapan untuk bertahan hidup.
Freza mengayunkan kayu patah itu dengan santai ke arah kaki si Jagal yang tersisa.
BOOM!
Ledakan energi biru menghantam ruangan itu, menciptakan lubang besar di lantai dan menerbangkan tubuh si Jagal hingga menghantam dinding ujung koridor dengan keras. Seluruh gedung penjara itu berguncang hebat, debu-debu berjatuhan dari langit-langit.
"Busyet! Itu kayu apa bazoka?!" Raka melompat kaget, hampir terjatuh ke dalam lubang hasil serangan Freza.
"Gue juga nggak nyangka bakal sekuat ini," ucap Freza sambil menimang-nimang kayu kecil di tangannya. "Kayaknya gue baru aja nemu mainan paling seru di Multiverse ini."
Si Jagal sudah tidak berbentuk lagi. Tubuhnya hancur menjadi serpihan digital hitam yang perlahan menguap. Sebuah kotak harta karun berwarna merah darah muncul di tempat monster itu tewas.
"Fre, liat! Itu drop item dari bos!" seru Sinta kegirangan. "Kita selamat! Kita beneran selamat!"
Freza berjalan mendekati kotak itu, tapi langkahnya terhenti ketika layar hologram merah besar muncul di depannya, menutupi seluruh pandangan.
[PERINGATAN KERAS!]
[Tingkat Kengerian Instance Menurun Drastis: 0.01%]
[Administrator Sistem Sedang Memeriksa Gangguan Logika...]
[Status: Ilegal! Ilegal! Ilegal!]
"Waduh, adminnya bangun," gumam Freza, tidak terlihat takut sedikit pun. "Biarin aja. Suruh mereka dateng ke sini biar gue kasih paham."
"Freza, jangan cari gara-gara sama Admin! Kita mending cabut sekarang!" seru Raka panik. "Kalau mereka ban akun nyawa kita, habis sudah!"
"Nggak akan bisa," sahut Freza dingin. "Gimana mau ban kalau sistem mereka sendiri nggak bisa ngenalin kode gue sebagai ancaman? Di mata sistem, gue ini cuma 'kesalahan yang benar'."
Tiba-tiba, udara di sekitar mereka menjadi sangat dingin. Jauh lebih dingin daripada saat si Jagal muncul. Dari kegelapan koridor yang belum terjamah, muncul sosok wanita dengan pakaian kuno yang compang-camping namun tetap terlihat megah. Wajahnya cantik namun matanya menyiratkan keputusasaan yang mendalam.
"Siapa lagi itu? Monster baru?" Sinta gemetar lagi, bersembunyi di belakang Freza.
Wanita itu jatuh berlutut, menatap Freza dengan tatapan tidak percaya. "Kau... kau yang mematahkan hukum dunia ini?"
Freza mengangkat alisnya. "Tergantung siapa yang nanya. Lo siapa? Korban atau cuma hantu pajangan?"
"Namaku Giyani... Putri dari Klan Langit Kuno yang telah runtuh," bisiknya dengan suara gemetar. "Tolong... bawa aku bersamamu. Aku melihat akhir dari segalanya di matamu."
"Gue nggak butuh beban, apalagi putri-putrian," tolak Freza ketus.
"Aku tahu cara mengakses inti server dunia ini! Aku tahu di mana para dewa menyembunyikan 'bug' mereka!" teriak Giyani cepat, takut ditinggalkan. "Aku bisa menjadi pelayanmu, senjatamu, apa pun! Hanya kau yang bisa membalaskan dendam klan kami!"
Freza terdiam sejenak. Dia menatap Giyani, lalu menatap layar sistemnya yang masih berkedip merah. "Inti server, ya? Menarik."
"Gimana, Fre? Mau kita bawa?" tanya Raka ragu-ragu. "Cakep sih, tapi kayaknya bermasalah banget."
"Gue butuh asisten buat ngurusin barang-barang rampasan gue nanti," ucap Freza akhirnya. "Oke, Giyani. Lo ikut gue. Tapi inget, satu kali lo khianatin gue, gue bakal bikin lo ngerasain logika terbalik yang paling menyakitkan."
"Terima kasih... Tuan," Giyani menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Tepat saat Freza hendak menyentuh kotak harta karun itu, alarm raksasa berbunyi di seluruh penjara. Langit-langit ruangan itu mendadak retak, menampakkan mata raksasa yang mengintip dari dimensi lain.
"Itu... Mata Administrator!" teriak Sinta histeris. "Mereka mau hapus instance ini bareng kita semua!"
"Hapus aja kalau bisa," tantang Freza, menatap langsung ke arah mata raksasa di langit-langit. "Gue pengen liat, apa yang terjadi kalau 'Penghapusan' gue balik jadi 'Penciptaan'."
Mata raksasa itu mulai memancarkan sinar laser hitam yang menghancurkan segala sesuatu yang disentuhnya. Sinar itu meluncur deras menuju Freza dengan kecepatan cahaya dan...