Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Semua Wanita Cantik Menginginkanku, Padahal Aku Hanya Seorang Dukun

Semua Wanita Cantik Menginginkanku, Padahal Aku Hanya Seorang Dukun

Coffe Candy | Bersambung
Jumlah kata
30.2K
Popular
156
Subscribe
25
Novel / Semua Wanita Cantik Menginginkanku, Padahal Aku Hanya Seorang Dukun
Semua Wanita Cantik Menginginkanku, Padahal Aku Hanya Seorang Dukun

Semua Wanita Cantik Menginginkanku, Padahal Aku Hanya Seorang Dukun

Coffe Candy| Bersambung
Jumlah Kata
30.2K
Popular
156
Subscribe
25
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalDukunTransmigrasiTime Travel
Satu langkah lagi menuju keabadian. Damar Buwana sang Pemburu Roh sudah sangat dekat. Ribuan tahun kultivasi, ratusan pertarungan mematikan, semuanya demi momen ini. Tapi takdir berkata lain. Sekarang? Terjebak di tubuh lemah dan penuh hutang. Diceraikan istri konglomerat tanpa kompensasi. Terdampar di pelosok desa tanpa tahu cara kembali. Petapa Agung yang nyaris menyentuh keabadian, kini harus bertahan hidup di Negeri Kalem Perkasa dengan tubuh lemah dan dompet kosong. Satu-satunya modal? Ilmu mantra yang masih melekat di ingatannya. Dari dukun kampung yang viral dari mulut ke mulut, hingga pindah ke kota dan membuka praktik di rumah angker bersama Jono, arwah muridnya yang nyasar duluan dan lebih hafal goyang Ayu Ting Ting daripada mantra. Kliennya? Pelakor kelas sultanah, model terobsesi awet muda, mahasiswi anti skripsi, sampai janda kembang yang ketagihan "konsultasi" pribadi. Tujuannya cuma satu, bertahan hidup sambil mencari jalan pulang. Masalahnya? Dunia modern ini terlalu absurd. Dan para klien wanitanya terlalu ... agresif.
Bab 1

Kepalanya berdenyut hebat.

Damar membuka mata dengan susah payah. Pandangannya kabur, seperti tertutup kabut tebal. Setiap denyutan terasa seperti ribuan jarum menusuk otaknya. Dia mencoba bangkit, tetapi tubuhnya terasa berat dan asing. Tangannya gemetar saat menyentuh lantai.

Perlahan, dia memaksakan diri untuk terduduk di atas lantai yang dingin dan berdebu. Matanya memicing, menyesuaikan dengan cahaya samar yang menerobos dari celah dinding kayu yang sudah lapuk.

"Di mana ini?" gumamnya parau. Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya.

Ruangan ini asing. Bangunannya aneh. Dindingnya terbuat dari material yang tidak dikenalnya. Aroma di udara bercampur bau apak dan lembap. Perabotan sederhana berserakan di sudut ruangan. Sebuah kasur tipis tergeletak di pojok, seprai kusutnya menandakan tempat tidur yang sering dipakai. Dan yang paling mengganggunya, tubuh ini jelas bukan miliknya.

Damar mengangkat tangannya. Kurus. Lemah. Kulitnya kusam dan dipenuhi bekas luka kecil. Otot-ototnya nyaris tidak ada. Jauh berbeda dengan tubuhnya yang kuat hasil pertapaan ribuan tahun.

Sekilas, ingatan terakhirnya menyeruak.

Puncak tertinggi Nirwana Puncak Semu. Dia duduk bersila di sana selama tiga bulan. Energi murni menyelimutinya, membentuk pusaran cahaya keemasan. Segel pelindung tingkat tinggi terbentang kokoh. Ribuan tahun pertapaan, memburu roh jahat, memberantas iblis. Semua demi satu tujuan. Keabadian sejati. Dan saat itu, dia begitu dekat. Tinggal selangkah lagi.

Lalu suara itu datang. Bisikan putus asa yang menerobos keheningan.

"Leluhur Tua! Aku memanggilmu! Sebenarnya aku tidak mau! Tetapi aku terpaksa!"

Getaran aneh menjalar di dadanya. Suara itu menembus segel pelindung yang seharusnya tidak bisa ditembus oleh apa pun.

"Mereka terlalu jahat! Ingkar janji dan serakah!"

Segel pelindungnya retak. Mantra yang dirapalnya terputus. Energi murni mengamuk tak terkendali. Darah segar muncrat dari mulutnya. Kemudian sebuah kekuatan menariknya, melemparnya ke dalam pusaran kegelapan tanpa dasar.

Dia jatuh. Terus jatuh. Hingga kesadarannya lenyap sepenuhnya.

Dan sekarang dia terbangun di sini. Di tubuh orang asing.

Damar mengedarkan pandangan ke sekelilingnya dengan waspada. Matanya menangkap garis merah dan serangkaian simbol yang tergambar di lantai. Pola itu membentuk lingkaran sempurna dengan aksara kuno di setiap sisinya. Bekas darah yang sudah mengering menjadi pengikat formasi.

Damar mengenali simbol-simbol itu. Sangat mengenalnya. Terlalu mengenalnya.

Karena dialah yang menciptakannya ribuan tahun lalu. Mantra yang bahkan para tetua sekte tidak berani menyentuhnya. Bahkan murid terhebatnya pun gagal menggunakan mantra ini dan berakibat fatal.

"Mantra pemanggil roh?" gumamnya tak percaya.

Tenggorokannya tercekat. Mantra ini terlalu rumit dan berbahaya untuk dikuasai manusia biasa. Tak satu pun muridnya yang mampu menguasainya dengan benar.

Lalu siapa yang memanggilnya kemari? Dan mengapa?

Ketukan kasar di pintu memecah lamunannya.

Damar menoleh. Jantungnya berdetak lebih cepat. Instingnya sebagai pemburu roh meneriakkan bahaya. Dia mengambil napas dalam, berusaha menenangkan diri. Tetapi sebelum sempat melakukan apa pun, ketukan itu berubah menjadi gedoran brutal yang mengguncang seluruh ruangan.

"Damar! Keluar!" Suara kasar dari luar terdengar penuh ancaman.

"Kami tahu kamu di dalam!" Suara lain menyusul, sama garangnya. "Jangan coba-coba kabur!"

Meski kebingungan, Damar memahami satu hal. Dirinya sedang dalam masalah. Atau lebih tepatnya, seseorang bernama sama dengan dirinya, pemilik asli tubuh ini, sedang dalam masalah besar.

BRAK!

Pintu terbuka dengan kasar setelah ditendang dari luar. Engselnya nyaris copot. Debu beterbangan. Dua pria bertubuh tinggi besar menerobos masuk dengan tampang garang. Tato menghiasi lengan kekar mereka. Mata mereka menyala penuh intimidasi. Bau rokok dan keringat menguar dari tubuh mereka.

Damar mencoba berdiri, tetapi tubuhnya tidak menurut. Kakinya gemetar. Tidak ada tenaga sama sekali. Tubuh ini benar-benar menyedihkan.

Salah satu pria itu menyeringai sambil melangkah mendekat. "Wah, wah. Masih berani sembunyi rupanya."

Dia mencengkeram kerah baju Damar dengan kasar, mengangkatnya seperti mengangkat karung beras. "Lu pikir bisa kabur dari hutang, hah?!"

Damar tidak mengerti sepenuhnya apa yang dikatakan pria itu. Bahasa yang mereka gunakan terdengar asing. Tetapi satu kata berhasil ditangkapnya.

Hutang.

Pria satunya ikut mendekat, memukul telapak tangannya sendiri dengan gerakan mengancam. "Mana setoran bulan ini?! Sudah nunggak tiga bulan!"

Sebelum Damar sempat bereaksi, tubuhnya sudah diseret keluar. Kakinya tersandung ambang pintu. Lalu dengan satu hentakan kuat, dia dilemparkan ke halaman rumah yang gersang dan berdebu.

BRUK!

Punggungnya menghantam tanah keras. Damar meringis kesakitan. Rasa ngilu menjalar dari pinggang hingga tulang belakangnya. Tubuh ini benar-benar lemah. Tidak ada energi murni. Tidak ada kekuatan. Berbeda jauh dengan tubuh aslinya yang mampu menahan serangan iblis tingkat tinggi tanpa terluka.

Dia yang dulu bisa menghancurkan gunung dengan satu tinju, kini tidak mampu melawan dua manusia biasa.

Pria bertato itu menendang perutnya tanpa ampun. "Jawab! Mana uangnya?!"

Damar terbatuk keras. Rasa sakit meledak di perutnya. Rasanya seperti organ dalamnya diremas. Dia mencoba bangkit dengan sisa tenaganya, tetapi tendangan lain menghantam rusuknya. Tubuhnya terguling di tanah berdebu.

Pikirannya berkecamuk di tengah rasa sakit. Seribu pertanyaan memenuhi kepalanya. Di mana dia? Kenapa dia ada di tubuh orang lain? Siapa yang memanggilnya dengan mantra kuno itu? Dan apa yang terjadi dengan pertapaannya yang tinggal selangkah lagi mencapai keabadian?

Tetapi tidak ada waktu untuk mencari jawaban. Tidak di saat kedua penagih hutang ini masih menghajarnya.

Pria kedua maju dan menjambak rambutnya, memaksa Damar mendongak. Napas berbau rokok menerpa wajahnya. "Lu dengar nggak?! Kalau minggu depan nggak lunas, rumah ini kita sita!"

Dia meludah ke tanah dengan jijik. "Dan lu bakal kita buat jadi contoh buat yang lain. Biar orang-orang tahu akibatnya kalau berani macam-macam sama kita."

Mereka melepaskannya dengan kasar. Kepala Damar membentur tanah. Pandangannya berkunang-kunang.

Kedua pria itu berbalik pergi, meninggalkan Damar tergeletak di halaman. Langkah kaki mereka menjauh, diikuti suara tawa mengejek yang perlahan menghilang.

Dia terbaring di sana. Tidak mampu bergerak. Menatap langit asing yang terbentang di atasnya. Langit yang berbeda dari langit di Nirwana Puncak Semu. Langit yang tidak dikenalnya. Awan berarak lambat, tidak peduli pada penderitaannya.

Damar Buwana, sang Satria Pemburu Roh legendaris yang ditakuti di seluruh penjuru negeri, kini terbaring tak berdaya di halaman rumah reyot milik orang asing.

Dihajar oleh dua penagih hutang biasa.

Di tubuh yang bahkan tidak mampu melawan seekor ayam.

Ironis sekali.

Tapi di balik rasa sakit yang mendera seluruh tubuhnya, satu tekad mulai terbentuk di benaknya. Siapa pun yang memanggilnya dengan mantra terlarang itu, siapa pun pemilik asli tubuh ini, Damar akan mencari tahu kebenarannya.

Dan ketika dia sudah menemukan jawabannya, seseorang harus bertanggung jawab atas semua ini.

Lanjut membaca
Lanjut membaca