

Hai, nama gue Heri Baskara. Gue mahasiswa baru jurusan psikologi di sebuah kampus negeri yang gedungnya lebih banyak lumutnya daripada prestasinya. Hari ini Senin pagi, tanggal 1 September. Hari pertama kuliah yang seharusnya penuh semangat, tapi bagi gue, ini cuma perpanjangan dari rasa bosan yang tak berujung.
Gue duduk di barisan paling belakang kelas "Pengantar Psikologi Umum". Kenapa paling belakang? Karena gue lebih suka mengamati daripada diamati. Sebagai mahasiswa psikologi, gue punya kebiasaan buruk: gue selalu mencoba membedah motif di balik gerak-gerik orang lain. Bagi gue, setiap manusia adalah subjek eksperimen yang berjalan.
Sebelum dosen masuk, ponsel gue bergetar di saku celana. Satu pesan dari Vina Aurelia.
“Her, gue udah di kampus. Ospeknya parah banget, senior-senior di Kedokteran galak-galak. Tapi pemandangan di sini bagus. Lo jangan telat masuk kelas ya, awas kalau bolos.”
Gue menatap layar itu cukup lama. Vina. Cewek yang dulu menjabat sebagai Ketua OSIS saat kami di SMA, juara sains nasional, dan satu-satunya orang yang pernah membuat gue merasa bodoh di depannya. Kami sekarang resmi menjalani hubungan jarak jauh, alias LDR. Sebenarnya, status kami itu abu-abu. Kami nggak pernah jadian secara resmi. Gue nggak pernah menyatakan cinta langsung ke dia karena, ya, gue terlalu pengecut dan terlalu cuek untuk merusak persahabatan kami. Kami diterima di kampus yang berbeda di kota yang jaraknya enam jam perjalanan kereta api.
Gue cuma membalas: “Hm, semangat. Gue udah di kelas.”
Sangat dingin, kan? Padahal di dalam hati, gue pengen nulis seribu kata tentang betapa gue kangen sama debat-debat nggak penting kami di laboratorium kimia dulu. Tapi itulah gue, Heri si "datar".
Pandangan gue teralihkan dari ponsel saat seorang cewek masuk ke kelas dengan terburu-buru. Dia duduk di barisan paling depan, tepat di bawah hidung dosen nantinya. Namanya Dira—setidaknya itu yang tertulis di buku catatan tebal yang dia taruh di meja. Penampilannya sangat rapi, tipe mahasiswi ambisius yang mengejar IPK 4,0 sejak semester satu.
Namun, mata psikologi gue menangkap sesuatu yang tidak beres. Bahu Dira naik-turun dengan ritme yang kacau. Jari-jarinya meremas pulpen dengan sangat kencang sampai buku jarinya memutih. Dia mengalami panic attack. Napasnya pendek-pendek—apa yang dalam istilah teknis disebut hiperventilasi. Ruangan kelas yang bising ini sepertinya menjadi beban sensorik yang luar biasa buat dia.
Entah kenapa, insting gue bergerak. Gue berdiri dan berjalan ke depan, mengabaikan tatapan beberapa mahasiswa lain. Gue berdiri di samping mejanya. Dira menatap gue dengan mata yang melebar, penuh ketakutan, seolah gue adalah pemangsa.
“Pergi…” bisiknya gemetar.
Gue nggak pergi. Gue menarik napas panjang, memastikan kondisi mental gue sendiri berada dalam keadaan tenang dan stabil—syarat utama sebelum melakukan intervensi psikologis. Gue tahu hipnoterapi membutuhkan persetujuan, tapi dalam kondisi darurat seperti ini, gue menggunakan teknik pacing and leading.
“Dira, fokus ke suara gue,” kata gue dengan nada rendah dan mantap. Gue mengatur frekuensi suara gue agar terdengar berat dan berwibawa, teknik Deepening yang pernah gue pelajari secara otodidak. “Abaikan semua suara lain di ruangan ini. Fokus hanya pada suara gue.”
Gue menyamakan ritme napas gue dengan napasnya yang memburu. Pelan-pelan, gue mulai memperlambat napas gue sendiri, memaksa otaknya secara tidak sadar untuk mengikuti ritme gue. Ini adalah proses komunikasi bawah sadar. Hipnotis bukan sihir, ini adalah kondisi kesadaran yang berubah, ditandai dengan fokus intens pada sugesti tertentu.
“Tarik napas… tahan… buang pelan,” perintah gue. Gue menggunakan imajinasi untuk memandu dia. “Bayangkan lo lagi ada di tempat paling tenang yang pernah lo kunjungi. Suara-suara teman sekelas lo sekarang cuma suara angin sepoi-sepoi di kejauhan.”
Ajaib. Tubuh Dira yang tadinya kaku perlahan mulai rileks. Genggamannya pada pulpen melonggar. Pupil matanya yang tadinya melebar mulai mengecil, tanda bahwa sistem saraf parasimpatisnya mulai mengambil alih. Dia masuk ke dalam kondisi relaksasi yang dalam.
“Bagus, Dira. Lo aman di sini. Lo memegang kendali penuh atas pikiran lo sendiri,” gue memberikan sugesti positif. Ini adalah inti dari mengapa hipnotis itu baik dan bermanfaat—membantu seseorang membuat perubahan positif dan mengelola kecemasan.
Gue melihat perubahan drastis pada dirinya. Wajahnya yang pucat mulai kembali merona. Dia menatap gue, tapi kali ini bukan dengan ketakutan. Ada pancaran kekaguman dan rasa ingin tahu yang besar di matanya. Perasaan intim yang aneh mulai menyelimuti atmosfer di antara kami berdua di tengah kelas yang mulai sepi karena dosen akan segera masuk.
“Gue… gue ngerasa jauh lebih baik. Lo tadi ngapain gue?” tanya Dira dengan suara yang jauh lebih tenang, meskipun matanya masih terpaku pada mata gue, tidak mau lepas.
“Gue cuma bantu lo fokus,” jawab gue cuek sambil berbalik untuk kembali ke kursi gue di belakang.
“Tunggu! Siapa nama lo?”
“Heri.”
Sepanjang jam kuliah, gue bisa merasakan punggung gue ditatap oleh Dira. Dia nggak lagi memperhatikan penjelasan dosen tentang sejarah psikologi, dia terus-menerus menoleh ke arah gue. Sugesti yang gue berikan tadi sepertinya meninggalkan jejak yang lebih dalam dari yang gue duga.
Saat kelas usai, ponsel gue kembali bergetar. Foto profil Vina muncul di layar. Dia mengirim foto selfie di depan gedung fakultasnya, tersenyum lebar.
“Her, kok nggak dibalas lagi? Lo lagi apa sih?”
Gue menghela napas. Di sini gue baru saja membantu seorang cewek yang sekarang menatap gue seolah-olah gue adalah pusat semestanya, sementara cewek yang gue taksir sejak SMA berada di kota lain, tidak tahu apa-apa.
Gue menyadari satu hal: kemampuan hipnosis gue ini benar-benar ibarat pisau. Gue baru saja menggunakannya untuk hal baik—sebagai terapi untuk menyembuhkan penyakit yang terkait pikiran—dan hasilnya membuat gue jadi dikagumi. Tapi, melihat bagaimana Dira terus mengikuti langkah gue saat keluar kelas, gue mulai merasa bahwa kekuatan ini bakal membawa gue ke dalam masalah yang lebih kompleks daripada sekadar tugas kuliah.
Dira mengejar gue di koridor, dia memegang lengan jaket gue. “Her, boleh nggak… kita bicara lebih lama? Gue butuh bantuan lo lagi. Maksud gue, gue pengen belajar cara tenang kayak tadi.”
Gue menatap tangan Dira di lengan gue, lalu teringat pesan Vina yang belum gue balas. Gue cowok yang cuek, tapi gue nggak buta. Dira jelas punya ketertarikan yang muncul seketika karena 'sentuhan' mental yang gue berikan tadi.
“Nanti ya, Dira. Gue ada urusan,” kata gue singkat.
Gue berjalan menjauh, meninggalkan Dira yang terpaku dengan wajah kecewa namun tetap menatap punggung gue dengan penuh damba. Di hari pertama ini, gue belajar bahwa menjadi mahasiswa psikologi dengan kemampuan hipnosis bakal bikin hidup gue nggak akan pernah tenang. Gue punya misi untuk membuktikan bahwa hipnotis itu keren dan bermanfaat, tapi gue nggak siap kalau itu harus melibatkan banyak wanita yang menaruh harapan pada gue.
Apalagi dengan Vina yang masih menghantui pikiran gue setiap waktu.