

Bumi Paralel, Gurun Sahara.
Bugh!
Gahk!
Tendangan orang itu menghantam dadaku dengan keras. Aku muntah darah lalu terpental sejauh sepuluh meter hingga menabrak tank rusak di belakangku.
Rasanya begitu menyakitkan hingga membuatku lupa berteriak. Aku terjatuh dengan tubuh gemetaran, kemudian orang itu mendekatiku dengan seringai sombong di wajahnya.
Aku menatapnya dengan penuh emosi, dorongan untuk bangkit dalam diriku menggebu - gebu namun apa daya tubuhku sudah mencapai batasnya.
Sekalipun aku berada dalam kondisi terbaik, aku tidak akan bisa menggores orang di depanku.
Sungguh lucu, aku yang disebut sebagai tentara terkuat dengan gelar Dewa Perang Sang Garuda sedang dipermainkan oleh orang asing tanpa nama.
Bukan cuma itu, aku juga dipaksa melihat sebelas bawahanku mati tepat di depan mataku. Mereka berteriak minta tolong namun aku tidak bisa berbuat apa - apa untuk menolong mereka.
Rasanya sangat menyakitkan, emosi dalam diriku campur aduk hingga membuatku hilang kendali. Aku mengamuk dengan kekuatan yang belum pernah aku gunakan sebelumnya.
Apakah aku bisa mengalahkan orang itu? Tidak, dia masih terlalu kuat bagiku. Saat melawanku dia mungkin belum mengerahkan satu persen dari kekuatan penuh.
Benar - benar membuat frustrasi, aku sangat ingin membunuhnya dengan tanganku sendiri. Jika iblis ada di dunia ini, aku tidak keberatan untuk menyerahkan nyawaku agar bisa membunuh orang itu.
"Kau manusia fana yang menarik, sayang jika membunuhmu sekarang. Baiklah, aku akan memberimu sedikit kemudahan."
Slash! Slash!
Orang itu menebas dadaku dua kali, darahku memuncrat ke mana - mana namun aku tidak sempat melihat karena rasa sakit yang menyerang tubuhku.
"Sampai jumpa. Kalau kau beruntung bisa selamat dan jadi lebih kuat, datanglah ke dunia tersembunyi kalau mau balas dendam, aku akan menunggumu di sana."
Orang itu menghilang tiba - tiba dari hadapanku.
'Balas dendam? Memangnya bisa? Lagipula aku akan segera mati di sini.' Kesadaranku mulai buyar dan aku merasa sangat dekat dengan kematian. Aku dengar suara helikopter dari kejauhan namun aku tidak yakin mereka bisa menyelamatkanku.
Potret bawahanku yang sedang tersenyum terlintas di benakku, aku merasa sangat bersalah telah membawa mereka menuju kematian. Kalau waktu bisa diulang, aku tidak akan menerima tugas ini atau kalau memang terpaksa, aku akan mengambil tugas ini sendiri.
Bruk!
Akhirnya aku tidak mampu lagi bertahan. Aku pingsan dengan tubuh bersimbah darah dan tubuh penuh luka.
...
Satu bulan kemudian, rumah sakit militer pusat Indonesia.
"Dokter, bagaimana kondisinya?" tanya jenderal besar pada dokter yang bertugas.
"Keadaan pasien sudah jauh lebih baik, sebentar lagi dia mungkin sadar."
"Syukurlah kalau begitu." Jenderal besar merasa lega sementara dokter yang bertugas penasaran tentang sesuatu.
"Jenderal, siapa sebenarnya sosok yang bisa mengalahkan Rangga?"
Jenderal besar diam dan menggelengkan kepala. "Aku tidak tahu, yang pasti dia adalah monster."
"Monster."
"Bukan monster asli, tapi manusia yang punya kekuatan seperti monster."
"Mengapa Jenderal berpikir begitu?"
"Mereka bergerak menggunakan tank dengan teknologi terbaru namun apa kamu tahu nasib tank yang mereka bawa?"
Dokter menggelengkan kepala. "Aku cuma dengar kendaraan mereka hancur lebur."
"Kurang tepat, yang benar dibelah jadi dua dengan pedang."
"Tidak mungkin! Mustahil manusia bisa membelah tank jadi dua dengan pedang?!"
Jenderal besar mengangkat bahu dan berkata, "Dokter, dunia yang kita kenal mungkin asing bagi kita."
Dokter langsung kehilangan kata - kata. Dia tidak perlu bertanya untuk memahami maksud jenderal besar. Dia jadi dokter militer bukan cuma modal kemampuan medis tapi juga akal yang cerdas.
"Dokter! Rangga sudah sadar!" Tiba - tiba perawat berlari sambil dengan panik memberi tahu dokter dan jenderal besar.
"Apa?! Sudah sadar?!" Dokter dan jenderal besar berteriak pada saat yang sama. Mereka saling memandang lalu bergegas menuju ruangan Rangga.
Bukan cuma sadar, Rangga bahkan sudah bisa duduk di kasur pasien meskipun dia terlihat sedang linglung.
Dokter yang baru saja tiba mulai mengecek kondisi Rangga. Beberapa detik kemudian, dokter tampak heran dengan apa yang dia temukan.
"Tidak mungkin, bagaimana bisa ini terjadi?"
"Dokter, ada apa? Katakan langsung, jangan menakutiku!" desak jenderal besar.
"Pa - Pasien Rangga, dia sudah pulih total dari lukanya."
"Apa?!" Jenderal besar dan perawat di ruangan berseru kaget.
...
Tiga hari kemudian, Rangga pamit kepada jenderal besar dan semua kenalannya di militer. Dia memutuskan berhenti dari militer dan kembali ke desa untuk menjalani hidup yang lebih baik.
Rangga pergi di bawah penghormatan ratusan tentara. Di sini banyak tentara yang mengidolakan Rangga, mereka menangis sedih saat melihat idola mereka berhenti dari militer.
Rangga juga merasa berat tapi dia tidak bisa bertahan di militer. Kejadian bulan lalu sudah benar - benar menghancurkan mental militernya, jadi dia terpaksa meninggalkan militer untuk melanjutkan hidup.
Dengan uang yang dikumpulkan selama beberapa tahun di militer, Rangga bisa hidup di desa tanpa perlu bekerja seumur hidup.
Gaji di militer memang tidak seberapa, tapi beda ceritanya kalau kita membahas bonus kinerja. Rangga sudah berulang kali memimpin operasi skala besar dengan persentase keberhasilan sembilan puluh sembilan persen. Satu persen adalah kejadian bulan lalu, jadi sebelumnya dia punya rekor penyelesaian operasi skala besar seratus persen.
Setiap kali operasi skala besar selesai, tentara yang ikut akan diberi bonus sesuai dengan kinerja mereka. Karena Rangga merupakan kapten tim sekaligus yang memegang peranan penting di setiap operasi, bonusnya paling banyak dibandingkan tentara lain.
Sekarang kalau ditotal, Rangga punya uang lebih dari dua puluh miliar di tabungan. Dengan uang sebanyak itu, dia bisa hidup di desa dengan hanya mengandalkan bunga bulanan yang diberikan bank.
Rangga adalah yatim piatu, sebelum bergabung di militer dia hidup di desa hingga SMA lalu bergabung ke militer atas saran dari guru bela dirinya.
Kalian tidak salah baca, Rangga memang punya guru bela diri. Guru bela diri Rangga sudah seperti orang tua asuh baginya, jadi dia tidak bisa menolak permintaan dari guru bela dirinya untuk bergabung dengan militer.
Dari delapan belas tahun hingga dua puluh dua tahun, Rangga sudah meniti karir di militer selama empat tahun. Selama empat tahun ini dia menorehkan prestasi gemilang hingga namanya dikenal sampai seluruh dunia.
Rangga ditakuti sebagai tentara paling kuat dari Indonesia. Saat tentara musuh mendengar namanya, mereka takut dan segan kepadanya. Sayangnya karir cemerlang ini harus pupus hari ini, Rangga mengakhiri karirnya sebagai tentara dengan pangkat kolonel.
Sebagai catatan, kolonel hanya satu tingkat di bawah jenderal. Dengan kata lain, sedikit lagi Rangga bisa mencapai puncak karir militer tapi dia memilih membuang semuanya dan kembali ke desa.
...
"Selamat datang," ujar pria tua sambil mengipasi api di depannya.
"Master, aku-."
"Aku tahu, kamu berhenti dari militer dan kembali ke desa."
Rangga terlihat syok. "Dari mana Master mengetahuinya?"
Pria tua itu menoleh dengan wajah serius. "Kamu duduk dulu, sebentar lagi aku ingin bicara serius denganmu."
"Master?"
Pria tua itu mengabaikan Rangga dan lanjut mengipasi api.
Rangga tidak berdaya dan segera duduk di kursi kayu yang ada di ruangan.
Tak butuh waktu lama, pria tua keluar dengan membawa makanan sederhana.
"Ayo makan dulu. Setelah makan baru kita bicara sesuatu yang serius."
Rangga mengangguk dengan senyum di wajahnya. "Baik."
...
..
.
Bersambung...