Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
PACAR SEWAAN

PACAR SEWAAN

Rie Fierly | Bersambung
Jumlah kata
53.4K
Popular
100
Subscribe
5
Novel / PACAR SEWAAN
PACAR SEWAAN

PACAR SEWAAN

Rie Fierly| Bersambung
Jumlah Kata
53.4K
Popular
100
Subscribe
5
Sinopsis
18+PerkotaanSekolahHaremDarah Muda21+
“Bayangin, pacar yang lo rental… ternyata teman se-kampus lo sendiri?!... Tiba-tiba kost di gedung yang sama?!!?" Bima Sakti, cuma mahasiswa santai, ber-otak daging lembek, yang galau berat karna baru putus dari Mantannya Selly. Dia nggak pernah serius—sampai dia ketemu Dinda Mahesha Larasati, Talent profesional dari aplikasi (PMI). Persona Match Indo, Pacar Mes** Indo, Partnership Management Indonesia, atau apapun pelesetan yang lo suka bisa dipake buat singkatan aplikasi ini.. Intinya dating apps! (asal jangan Pela*or MIch**t aja) eh wkwkwk Kontrak mereka sederhana: rahasia, dan profesional. Tapi dunia kampus nggak pernah mau nurut. Dan deretan cewe-cewe populer yang tiba-tiba ngumpul sekitar dia seakan Bima Sakti jadi pusat tata surya? Ditambah Adegan-adegan panas yang bikin gregetan!.. Apa jadinya kalau rahasia hubungan ini yang bisa bocor kapan aja tiba-tiba terungkap? Bisa jadi deg-degan… bisa juga ngakak guling-guling! 🤣 Kalau kamu suka romcom 21++ penuh absurd, deg-degan tipis, dan komedi nyeleneh gaya Tongkrongan kampus, ini novel wajib banget dibaca loh ges! Peringatan!! : Anak dibawah umur jangan baca ya!
BAB 1 - PMI? Proyek Move-on Instan

Chapter 1.1 – Galau & Kesasar

Kenalin, gue akrab dipanggil Bima... nama gue Bima Sakti, emang mirip nama galaksi sih ye? tapi percaya deh, Kehidupan gue nggak seluas nama gue kok.

apalagi dikondisi kaya sekarang...

Hari ini hari pertama gue pindah kost.

Dan hari pertama resmi jadi jomblo.

Bima berdiri di tengah kamar ukuran tiga kali tiga, koper belum dibuka, kasur masih bau plastik, dan hatinya… ya ampun, hatinya lebih berantakan dari kabel charger di tasnya.

“Gue diputusin. Di hari gue niat pindahan biar bisa bareng ama pacar gue yang sekarang udah jadi mantan. Itu timing atau takdir lagi iseng sih?”

Dia rebahan. Plafon putih. Kosong. Hampa. Persis kayak chat terakhir dari mantannya: “Kita cukup sampai sini ya.”

“Cukup apanya? Ini baru mulai semester, anjir…”

Belum sempat dia lanjut drama internalnya, terdengar ketukan pelan.

Tok tok.

“Mas… boleh bentar?”

Suara cewek.

Bima langsung bangun refleks. Rambut berantakan, kaos kusut, celana training agak miring. Dia cepat merapikan diri seolah-olah ada kamera CCTV moral di atas pintu.

Pintu kebuka sedikit.

Masuklah Lyra.

Anaknya pemilik kost.

Rambutnya diikat santai, pakai kaos oversized dan celana rumah. Polos. Natural. Tipe cewek yang nggak niat menggoda tapi entah kenapa bikin jantung orang nggak stabil.

“Ibu minta fotokopi KTP, Mas. Buat laporan penghuni baru.”

Oh. KTP.

Aman.

Bima mengangguk sok tenang. “Oh iya, iya. Ada kok. Nih.”

Dia ambil dompet, tapi sialnya dompetnya jatuh. Isinya tumpah. Termasuk satu foto lama dia dan mantannya.

Lyra refleks jongkok bantuin.

Dan di situlah masalahnya.

Jarak mereka terlalu dekat.

Terlalu.

Dekat.

Bima bisa mencium aroma sabun mandi Lyra. Fresh. Bersih. Bukan aroma menggoda, tapi justru itu yang bikin bahaya.

“Otak lo jangan ngaco… jangan ngaco…” batinnya.

Lyra mengambil KTP-nya dan berdiri. “Makasih ya, Mas Bima.”

Dia senyum.

Senyum polos.

Senyum yang nggak tahu kalau Bima lagi perang dunia ketiga di dalam kepala.

“Eh, Mas baru pindah ya… sendirian?”

Pertanyaan biasa.

Tapi di otak Bima berubah jadi film 4D.

“Eh— iya! Sendiri. Maksudnya ya jelas sendiri. Emang keliatan nggak sendiri ya? Bukan, maksud gue— ya sendirian!”

Kenapa setiap ngomong sama cewek polos dia jadi kayak CPU overheat?

Lyra menahan tawa kecil. “Santai aja, Mas. Nggak ada yang interogasi kok.”

Belum sempat Bima balas, tiba-tiba—

BRAAAK!

Pintu kebuka lebar.

“TONO SAYANG AKU CAPEK BANGET NYANYI LAGU GALAUUUU—”

Sepasang manusia masuk sambil nyengir dan setengah goyah.

Tono dan Siska.

Baru pulang karaoke.

Dan mereka salah kamar.

Tono langsung freeze. Siska juga.

Semua freeze.

Posisi saat itu: Lyra berdiri dekat banget sama Bima. Bima masih pegang dompet. Pintu kamar kebuka. Dan dua saksi hidup berdiri di ambang pintu.

Hening tiga detik.

Lalu Siska menyipitkan mata.

“Oooooh…”

Bima panik total.

“EH BUKAN! BUKAN GITU! INI CUMA KTP! LAPORAN! ADMINISTRASI NEGARA!”

Kenapa dia jadi kayak tersangka korupsi dadakan?

Tono garuk kepala. “Lah ini bukan kamar gue ya?”

“YA JELAS BUKAN, TON!”

Siska senyum jahil. “Kita nggak ganggu kan? Lanjut aja, kita pura-pura nggak lihat…”

“NGGAK ADA YANG DILANJUTIN!”

Lyra yang tadi cuma diam akhirnya ketawa pelan. “Kak Siska, ini cuma minta KTP kok.”

Siska masih nyengir. “Oh gituuu… kirain udah langsung adaptasi lingkungan.”

Bima merasa harga dirinya rontok hari pertama.

Lyra jalan ke pintu, masih senyum.

“Saya ke bawah dulu ya, Mas.”

Saat pintu hampir tertutup, dia menoleh sedikit.

“Mas Bima… santai aja. Mukanya merah banget.”

Pintu tertutup.

Tono dan Siska masih berdiri.

Siska tepuk bahu Bima. “Anak pemilik kost, loh. Hati-hati mainnya.”

“GUE NGGAK MAIN APA-APA!”

Tono tertawa. “Hari pertama udah bikin gosip, keren juga.”

Pintu akhirnya ditutup.

Hening.

Bima rebahan lagi ke kasur.

Baru pindah. Baru putus. Udah hampir dituduh mesum sama anak pemilik kost.

“Hidup gue kok langsung mode absurd sih…”

Dan entah kenapa, di antara galau dan malu barusan…

yang keinget di kepalanya masih satu:

Kata-kata putus dari Selly..

“Anjir… bisa-bisanya” Mau move-on?

Sepertinya malah mulai ribet.

---

Chapter 1.2 – Temen Genk & Ide Gila

Belum genap dua jam setelah insiden “KTP Nasional dan Tuduhan Mesum”, kamar Bima sudah berubah jadi basecamp darurat Genk.

Rafli selonjoran di lantai. Danu duduk serius kayak lagi rapat BUMN. Vina berdiri sambil ngomentarin kamar baru Bima yang masih berantakan.

“Ini kamar atau gudang trauma?” Vina melipat tangan.

“Gue baru pindah, Vin. Trauma ikut pindahan,” jawab Bima lemas.

Rafli melirik. “Masih kepikiran mantan?”

“Enggak.”

“Tadi lo ngelamun sambil liat tembok dan bilang ‘kenapa kamu gitu sih’.”

“…Itu refleks.”

Danu menyesap kopi. “Oke. Kita butuh solusi move-on yang strategis.”

Rafli langsung angkat tangan kayak lagi pitching startup.

“Gue punya. Lo daftar PMI.”

Bima menatap kosong. “PMI? Palang Merah Indonesia?”

Vina langsung nyeletuk, “Atau Persatuan Mantan Indonesia?”

Danu batuk kecil. “Atau… Perkumpulan Mantan Iri?”

Rafli senyum lebar. “Bukan. Ini PMI yang beda.”

Bima menyipit. “Apa? Perempuan Menggoda Internasional?”

Vina ngakak. “Pemuas Mental Instan?”

Danu ikut nimbrung dengan muka paling serius.

“Program Move-on Intensif.”

Rafli pura-pura bisik rahasia, “Paket Mesra Intens.”

“WOI!” Bima lempar bantal.

Danu ketawa, “Ah masa, Bro. Gue yakin ini…” Dia nunjuk layar. “PMI itu… Pacar Mesum Indonesia!”

“Goblok,” Bima nyengir kaku. “Kok bisa sih lo pikirnya langsung porno gitu.”

Rafli nggak kalah konyol. “Ah, nggak, nggak. Gue yakin singkatannya… Pelanggan Membayar Istri.”

“Eh tunggu, tunggu, tunggu,” Vina muncul dari belakang meja, sambil pegang tas. “Gue punya yang lebih bagus: Pancing Mantan Iri!”

Vina tepuk tangan. “Atau… Proyek Meningkatkan Iman.”

“IMAN APANYA?!” Bima makin stres.

Vina senyum jahil. “Ah, tapi kalau Bima mau, kita bisa bikin 'Personal Masturbation Instruction' versi kita sendiri, bro. enak kan?”

Bima melempar sendok ke udara, cuma nyasar di piring. “Goblok semua.!!!"

Rafli akhirnya buka laptop.

“Udah.. udah. Singkatan aslinya: Personal Match Indonesia.”

Hening dua detik.

Bima berkedip. “Oh.”

Vina kecewa. “Garing banget ternyata.”

Danu mengangguk bijak. “Konsepnya jelas. Sewa pacar profesional. Legal. Elegan. Ada kontrak. No drama. No posesif.”

Rafli menunjuk Bima.

“Lo baru putus. Lo butuh ditemenin. Bukan dimiliki. Paham bedanya?”

Kalimat itu kena.

Bima diam.

“Kalau lo cuma kesepian,” lanjut Danu, “PMI bisa jadi terapi. Tapi kalau lo masih pengen balikan, ya percuma.”

Vina menyeringai. “Anggap aja latihan interaksi sama cewek tanpa drama mantan.”

Bima menghela napas. “Ini nggak salah arah kan hidup gue?”

Rafli sudah buka website-nya.

Dan di situlah semuanya mulai berbahaya.

Tampilan aplikasinya clean. Elegan. Minimalis. Bukan vibe murahan. Justru makin bikin deg-degan.

Scroll.

Scroll lagi.

Lalu—

Bima berhenti.

Profil pertama yang muncul:

Dinda Mahesha Larasati

Rating: 4.9

Tagline: Professional. Discreet. Elegant.

Foto profilnya bukan pose heboh. Justru simpel. Dress hitam, tatapan tenang, senyum tipis yang nggak lebay tapi… entah kenapa bikin jantung Bima salah ritme.

“Ini kenapa cuma liat foto doang gue udah merasa dihakimi ya…” gumam Bima.

Vina mendekat. “Buset. Ini aura ‘gue nggak butuh lo tapi lo bakal butuh gue’ banget.”

Rafli manggut-manggut. “High class.”

Danu membaca detailnya. “Available: Dinner, Formal Event, Private Conversation Session.”

Bima menelan ludah.

“Private conversation itu maksudnya ngobrol kan?”

Rafli langsung jawab, “Ya ngobrol lah, masa main catur.”

Vina melirik Bima. “Lo udah keringetan padahal baru baca bio.”

Bima cepat-cepat scroll lagi, panik entah kenapa. Tangannya agak gemetar.

“Gue cuma lihat-lihat. Nggak daftar kok. Cuma riset pasar.”

Rafli senyum iblis. “Riset hati maksud lo.”

Tanpa sadar, Bima klik tombol pilihan paket.

Basic – 1 meeting

Classic – 2 meeting

Premium Partner – 1 month (4 meetings)

Bima cuma niat lihat detail.

Cuma lihat.

Serius.

Lalu jarinya kepeleset.

Klik.

Loading.

“Eh.”

Loading selesai.

Order Confirmed. Premium Partner – 1 Month.

Hening.

Semua melihat layar.

Bima membeku.

“…Kenapa ada tulisan confirmed?”

Rafli mendekat. “Lo pilih apa?”

Danu membaca dengan suara datar,

“Premium Partner. Empat kali pertemuan dalam satu bulan.”

Vina menatap Bima pelan-pelan.

“Move-on-nya langsung paket hemat.”

“GUE CUMA MAU LIHAT DETAILNYA!”

Rafli tertawa paling keras.

“Bro. Lo nggak cuma move-on. Lo langsung langganan.”

Bima menatap foto Dinda lagi.

Empat kali pertemuan.

Satu bulan.

Dengan wanita setenang itu.

Jantungnya berdebar aneh.

Ini ide gila.

Ini impulsif.

Ini mungkin salah.

Tapi untuk pertama kalinya sejak putus…

dia nggak kepikiran mantan.

Dia malah kepikiran:

“Gue barusan daftar apa sih…”

Dan di pojok layar, notifikasi muncul:

Your Partner Will Contact You Within 24 Hours.

Bima menelan ludah.

Rafli tepuk bahunya.

“Selamat datang di dunia move-on modern.”

Danu menambahkan tenang,

“Ingat. Ditemenin. Bukan dimiliki.”

Vina tersenyum jahil.

“Semoga lo kuat mental.”

Bima melihat layar lagi.

Dinda.

Empat kali pertemuan.

Satu bulan.

Dan, hidupnya yang tadinya cuma galau…

sekarang terasa jauh lebih berbahaya.

---

Lanjut membaca
Lanjut membaca