
Diantara Benci Dan Rindu
Chikaalja|Bersambung
- Jumlah kata
- 2.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
- Jumlah kata
- 2.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1

Chikaalja|Bersambung
Arka Pradipta adalah mahasiswa ambisius yang selalu hidup dengan prinsip: harus menang dan tidak boleh terlihat lemah. Sebagai sosok yang dikenal cerdas, tegas, dan perfeksionis di kampusnya, Arka terbiasa menjadi yang paling unggul—hingga kehadiran seorang mahasiswi baru mulai mengusik dunianya yang teratur. Nayla Maharani. Ceria, berani, dan terlalu blak-blakan menurut Arka. Sejak pertemuan pertama di organisasi kampus, Nayla tidak pernah ragu membantah, mengkritik, bahkan menantang setiap keputusan Arka. Perdebatan demi perdebatan membuat keduanya sering terlibat konflik. Mereka berbeda dalam banyak hal—cara berpikir, cara memimpin, bahkan cara memandang hidup. Namun di balik pertengkaran dan persaingan yang memanas, perlahan muncul sesuatu yang tidak mereka duga. Nayla adalah satu-satunya orang yang berani melihat sisi rapuh Arka yang selama ini tersembunyi di balik sikap dingin dan ambisinya. Sementara bagi Nayla, Arka bukan sekadar pria menyebalkan yang keras kepala—melainkan seseorang yang sebenarnya sedang berjuang sendirian. Ketika sebuah kesalahpahaman besar dan masa lalu Arka yang kelam mulai terungkap, hubungan mereka berada di ujung batas antara benci dan rindu. Ego, luka lama, dan pilihan hidup memaksa mereka untuk menentukan: tetap menjadi musuh yang saling menantang… atau mengakui bahwa perasaan yang tumbuh di antara mereka bukan lagi sekadar persaingan. Karena terkadang, cinta tidak datang dari kenyamanan. Ia tumbuh dari perdebatan. Dari perbedaan. Dari dua hati yang awalnya saling menolak— lalu tanpa sadar, saling membutuhkan.
Namaku Arka Pradipta.
Di kampus, orang-orang mengenalku sebagai mahasiswa paling ambisius di Fakultas Manajemen. IPK tinggi, organisasi banyak, dan—kata mereka—terlalu serius untuk ukuran anak usia dua puluh satu tahun.
Aku tidak peduli.
Bagiku, hidup bukan soal terlihat menyenangkan. Hidup adalah tentang menang.
Dan sejak semester ini, aku punya satu musuh yang entah kenapa selalu berhasil mengganggu fokusku.
Namanya Nayla Maharani.
Pertama kali aku melihatnya di ruang rapat Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Nusantara. Rambutnya panjang tergerai, matanya tajam, dan senyumnya—terlalu percaya diri.
Dia mahasiswa baru yang langsung mencalonkan diri sebagai koordinator divisi acara. Berani sekali.
“Program kerja kamu terlalu kaku, Kak Arka,” katanya waktu itu, tanpa ragu. “Mahasiswa butuh sesuatu yang fresh, bukan cuma seminar motivasi tiap bulan.”
Ruangan mendadak hening.
Belum pernah ada yang berani mengkritik konsepku secara langsung.
Aku menatapnya datar. “Fresh tanpa konsep yang matang cuma akan jadi acara gagal.”
Dia tersenyum tipis. “Atau mungkin konsep matang tanpa kreativitas cuma akan jadi acara membosankan.”
Sejak hari itu, aku tahu satu hal.
Perempuan ini masalah.
Dua bulan berlalu, dan entah kenapa setiap rapat selalu berubah jadi ajang debat antara aku dan Nayla.
“Aku rasa tema festival kampus kali ini harus lebih dekat dengan mahasiswa,” ucapnya sore itu.
“Tema bisnis digital sudah relevan,” balasku singkat.
“Relevan untuk kamu, mungkin.”
Aku menghela napas panjang. “Kalau kamu punya ide lebih baik, silakan jelaskan dengan data.”
Dia berdiri, membuka slide presentasi, dan mulai memaparkan analisisnya dengan percaya diri.
Sialnya, dia pintar.
Argumennya logis. Data yang dia bawa lengkap. Bahkan beberapa anggota mulai mengangguk setuju.
Aku tidak suka kalah.
Tapi yang lebih tidak kusukai adalah kenyataan bahwa dia memang kompeten.
Rapat berakhir dengan keputusan menggabungkan idenya dan ideku.
Saat semua orang keluar ruangan, dia masih berdiri di dekat meja.
“Kak Arka,” panggilnya.
“Apa lagi?”
Dia mendekat, menatapku tanpa rasa takut. “Aku nggak benci sama Kakak.”
Aku mengernyit. “Siapa bilang aku peduli?”
Dia tertawa kecil. “Aku cuma nggak suka kalau dianggap remeh.”
“Aku tidak pernah meremehkanmu.”
“Cara Kakak bicara selalu seperti itu.”
Aku menatapnya lebih lama dari seharusnya.
Untuk pertama kalinya, aku melihat sesuatu di matanya. Bukan sekadar percaya diri. Tapi tekad.
Dan itu… menggangguku.
“Kalau mau dihargai,” kataku pelan, “buktikan kamu layak.”
Dia tersenyum. “Tunggu saja.”
Festival kampus semakin dekat.
Aku dan Nayla terpaksa sering bekerja bersama. Survey lokasi, mencari sponsor, hingga lembur menyusun rundown acara.
Suatu malam, hujan turun deras saat kami masih berada di kampus.
“Sepertinya kita harus tunggu reda,” ucapnya sambil melihat ke luar jendela.
Aku menutup laptop. “Aku bisa pulang sekarang.”
“Hujannya deras banget.”
“Aku biasa.”
Dia menghela napas. “Ya sudah. Terserah Kak Arka saja.”
Aku melangkah keluar gedung.
Dan lima menit kemudian, aku menyesal.
Hujan itu seperti tumpahan langit. Dalam hitungan detik, bajuku basah kuyup.
Dari balik teras, terdengar suara tawa.
Nayla berdiri di sana sambil memegang payung.
“Keras kepala,” katanya.
Aku menatapnya kesal. “Jangan ikut campur.”
Dia mendekat dan tanpa izin memayungkan payungnya di atasku.
“Kita pulang bareng saja. Rumahku searah.”
“Aku bisa sendiri.”
“Ego Kakak gede banget ya?”
Aku terdiam.
Kami berjalan berdampingan di bawah payung kecil itu. Bahu kami beberapa kali bersentuhan. Entah kenapa jantungku berdetak lebih cepat.
Mungkin karena dingin.
Atau mungkin bukan.
“Kenapa Kakak selalu ingin jadi yang paling benar?” tanyanya tiba-tiba.
Aku menatap jalanan basah di depan. “Karena kalau bukan aku, siapa lagi?”
Dia terdiam beberapa detik.
“Kak Arka kelihatan kuat banget,” ucapnya pelan. “Tapi sebenarnya capek nggak sih?”
Pertanyaan itu membuat langkahku berhenti.
Tak banyak orang yang pernah bertanya seperti itu padaku.
“Aku tidak perlu dikasihani,” jawabku tegas.
“Aku nggak kasihan.”
“Lalu?”
“Aku cuma penasaran.”
Aku menatap wajahnya.
Hujan masih turun, tapi dunia terasa lebih sunyi dari biasanya.
Perempuan ini selalu membantahku. Selalu menentangku.
Tapi kenapa justru dia satu-satunya yang melihat sesuatu yang orang lain tidak lihat?
Aku mengalihkan pandangan lebih dulu.
“Kamu terlalu banyak bicara.”
Dia tersenyum kecil. “Dan Kakak terlalu banyak memendam.”
Aku tidak menjawab.
Kami sampai di persimpangan jalan tempat rumahnya berada.
“Terima kasih sudah mau pulang bareng,” katanya.
“Aku tidak punya pilihan.”
Dia memutar mata. “Sombong banget.”
Aku hampir tersenyum. Hampir.
“Besok jangan telat rapat,” kataku.
“Kalau Kakak jangan galak.”
Dia berbalik, berjalan menjauh.
Dan untuk pertama kalinya sejak mengenalnya, aku menyadari sesuatu yang membuatku tidak nyaman.
Aku menunggu sampai dia benar-benar masuk ke dalam rumahnya.
Kenapa aku peduli?
Malam itu, aku sulit tidur.
Bayangan wajahnya terus muncul di pikiranku.
Cara dia tersenyum. Cara dia menatapku tanpa takut. Cara dia bertanya apakah aku lelah.
Aku membalik badan di tempat tidur.
Ini konyol.
Dia cuma rekan kerja organisasi. Dan jelas, kami tidak cocok.
Terlalu sering berbeda pendapat.
Terlalu sering bertengkar.
Terlalu…
Aku berhenti berpikir.
Ponselku bergetar.
Pesan masuk dari Nayla.
“Besok jangan lupa bawa proposal sponsor tambahan ya, Kak Arka. Jangan sampai kalah sama aku 😉”
Aku menatap layar cukup lama.
Jari-jariku mengetik balasan singkat.
“Kamu yang jangan sampai mempermalukan tim.”
Tak lama, balasan muncul.
“Tenang saja. Aku nggak akan kalah dari Kakak.”
Aku tersenyum tipis tanpa sadar.
Mungkin benar.
Dia memang tidak pernah kalah.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak keberatan memiliki seseorang yang bisa menandingiku.
Tapi tentu saja—
Ini bukan perasaan apa-apa.
Ini hanya… persaingan.
Kan?
3 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.