
Sistem Pengorbanan
Sri Pulungan|Bersambung
- Jumlah kata
- 122.6K
- Popular
- 1.1K
- Subscribe
- 118
- Jumlah kata
- 122.6K
- Popular
- 1.1K
- Subscribe
- 118
Sinopsis
Galang kehilangan masa mudanya demi masa depan sang adik. Sayangnya, setelah adiknya berhasil meraih masa depan itu, Galang justru menjadi bagian dari masa lalu yang ingin dilupakan. Sejak ayahnya meninggalkan mereka demi menikahi wanita kaya, Galang menjadi satu-satunya sandaran bagi ibu dan adik perempuannya, Nisa. Menjelang ajal, sang ibu menggenggam tangan Galang dan memintanya menjaga Nisa hingga meraih pendidikan setinggi mungkin. Di saat janji itu terucap, sebuah suara misterius bergema di dalam kepalanya. [Selamat! Sistem Pengorbanan berhasil diaktifkan.] [Setiap pengorbanan tulus akan dibalas dengan hadiah yang setimpal.] Sejak hari itu, setiap pengorbanan yang dilakukan Galang demi adiknya dibalas oleh Sistem Pengorbanan dengan kemampuan, keterampilan, dan hadiah yang terus berkembang. Semakin besar pengorbanannya, semakin besar pula balasan yang ia terima. Namun ketika Nisa akhirnya berdiri di puncak kesuksesan, gadis yang dahulu ia besarkan justru malu mengakui Galang sebagai kakaknya. Demi menjaga gengsi dan status sosialnya, Nisa memilih menghapus pria yang telah mengorbankan seluruh hidupnya. Di saat kekuatan Galang terus berkembang, mampukah ia tetap mempertahankan ketulusannya? Dan ketika penyesalan akhirnya datang, masih adakah tempat bagi Nisa di hati kakaknya?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
"Galang! Sini, Nak," panggil suara lirih dari balik pintu kamar.
Galang yang sedang mengaduk bubur di atas tungku segera menoleh. Ia mematikan tungku, kemudian berjalan cepat menuju kamar ibunya.
"Iya, Bu," jawabnya lembut.
Begitu membuka pintu kamar, dadanya langsung terasa sesak saat melihat kondisi wanita yang melahirkannya itu. Tubuh wanita itu makin menyusut dan kurus kering, tulang pipinya menonjol, bahkan sekadar mengangkat tangan pun terlihat begitu berat.
Tanpa pikir panjang, Galang duduk di sisi ranjang dan menggenggam tangan ibunya. Bu Murni tersenyum saat melihatnya, namun senyum itu justru membuat dada Galang makin terasa perih.
"Nisa mana, Nak?" tanya Bu Murni, suaranya makin lemah.
"Dia masih di sekolah, Bu. Sebentar lagi jam pulang, pasti segera sampai ke sini," jawab Galang sambil tetap menggenggam erat tangan ibunya.
Mendengar ucapan putranya, Bu Murni hanya menganggukkan kepalanya.
"Buburnya sudah matang?" tanyanya lagi.
"Sebentar lagi, Bu." Galang tersenyum tipis, berusaha terlihat setenang mungkin.
"Jangan sampai gosong," pesan Bu Murni lembut.
"Iya, Bu," sahut Galang dengan sopan.
Tak lama kemudian, Bu Murni kembali bertanya, "Kamu?"
"Aku kenapa, Bu?"
"Kamu sudah makan?"
Sejak pagi Galang hanya minum air putih. Beras tinggal sedikit, dan ia sengaja menyisihkannya untuk ibu dan adik perempuannya, Nisa. Namun kenyataan itu tak mungkin ia sampaikan, takut menambah beban pikiran ibunya yang sedang sakit.
"Sudah, Bu," jawabnya cepat, berusaha terdengar meyakinkan.
Bu Murni menatapnya cukup lama, seolah matanya bisa menembus kebohongan putranya.
"Galang!" panggilnya lirih.
"Iya, Bu?"
"Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri."
Galang menundukkan kepalanya, tak sanggup menatap mata ibunya.
"Kalau sampai kamu jatuh sakit, siapa yang akan menjaga adikmu nanti?" lanjutnya dengan nada khawatir.
"Galang baik-baik saja, Bu. Jangan khawatir," jawab Galang pelan, menahan sekuat tenaga agar suaranya tidak bergetar.
Senyum tipis kembali terukir di bibir Bu Murni. Namun entah mengapa, senyum itu justru membuat dada Galang makin sesak. Ia tahu, ibunya hanya berusaha terlihat kuat agar ia tidak semakin sedih.
"Galang!" panggil Bu Murni lagi dengan sisa tenaganya.
"Aku di sini, Bu."
"Maafkan Ibu," ucap Bu Murni dengan suara yang nyaris berbisik.
"Jangan bicara begitu, Bu."
Galang tahu betul betapa besarnya pengorbanan sang ibu. Sejak kecil, hanya ibunya yang berjuang membesarkan mereka berdua setelah ayahnya pergi menikahi wanita lain.
Setiap hari beliau mencuci pakaian tetangga, menjadi buruh tani, bahkan menjajakan gorengan keliling desa demi membiayai makan dan sekolah mereka. Namun hari ini, wanita yang telah berkorban segalanya justru meminta maaf padanya.
"Nanti setelah Ibu tak ada, kalian hanya punya satu sama lain," lanjut Bu Murni dengan suara makin lemah.
Dada Galang terasa semakin sesak. Ia sengaja menggigit bibir bagian dalam agar isak tangisnya tidak lolos.
"Jangan bicara begitu, Bu. Ibu pasti sembuh. Kita masih bisa berobat. Pasti ada jalan," ucapnya berusaha tegar.
"Tidak, Nak. Ibu sadar, waktuku sudah tidak banyak lagi."
"Bu!" panggil Galang pelan.
"Janji sama Ibu," pinta Bu Murni lemah.
Galang mengangguk perlahan.
"Jaga adikmu," pesan Bu Murni.
"Nisa masih sangat kecil, Bu," gumam Galang pelan.
"Iya, Ibu tahu, Nak. Itu sebabnya jangan biarkan dia berhenti sekolah. Pastikan dia bisa mengejar cita-citanya," lanjut Bu Murni dengan nada memohon.
"Iya, Bu. Aku janji," kata Galang sambil menggenggam erat tangan ibunya.
Ia hanyalah anak laki-laki berusia enam belas tahun, yang bahkan belum tahu pasti bagaimana mengatur masa depannya sendiri. Namun saat melihat harapan yang masih tersisa di mata sang ibu, ia sadar ia tak punya pilihan.
"Galang janji. Apa pun yang terjadi, aku akan menjaga Nisa sebaik mungkin. Aku akan bekerja keras, menyekolahkannya setinggi mungkin, dan memastikan dia bisa berhasil."
Mendengar ucapan putranya, mata Bu Murni semakin berkaca-kaca.
"Terima kasih, Nak," ucapnya lembut.
Di saat yang bersamaan, pintu depan tiba-tiba terbuka.
"Assalamualaikum, aku pulang!" teriak suara ceria dari arah ruang tamu.
Nisa, adik Galang yang berusia sepuluh tahun, masuk sambil menggendong tas sekolahnya. Langkah kakinya terhenti begitu melihat Galang duduk di samping ranjang sang ibu.
"Bang?" panggilnya ragu.
Tatapannya segera beralih ke arah ranjang.
"Ibu kenapa?" tanya gadis kecil itu dengan suara bergetar.
Melihat putri bungsunya, Bu Murni mengulurkan tangannya.
"Nisa! Kemarilah, Nak," panggilnya lirih.
Tanpa pikir panjang, Nisa segera berlari mendekat dan memeluk lengan sang ibu.
"Ibu kenapa?" tanya Nisa, suaranya terdengar lirih.
Bu Murni berusaha mengangkat tangannya, mengusap puncak kepala Nisa dengan lembut.
"Nisa anak pintar, kan?" bisik Bu Murni, suaranya hanya terdengar seperti hembusan angin.
Nisa langsung mengangguk, air matanya mulai menetes.
"Iya, Bu. Aku pintar," jawabnya terisak.
"Kalau begitu, harus selalu dengar kata Abangmu, ya?" pesan Bu Murni lembut.
"Iya, Bu."
"Harus rajin sekolah, jangan malas belajar."
"Iya, Bu. Nisa janji! Nisa akan dengar kata Abang dan rajin belajar!" sahut Nisa sambil menahan tangis.
Bu Murni kembali tersenyum, matanya yang mulai sayu menatap Galang dan Nisa bergantian, seolah sedang berusaha menghafal setiap lekuk wajah mereka untuk terakhir kalinya.
"Nak! Kalian harus saling menjaga satu sama lain," ucapnya sebagai pesan terakhir.
Begitu kalimat itu terucap, napas Bu Murni terdengar menjadi semakin berat. Dadanya naik turun seolah sedang berjuang melawan sesuatu yang tak terlihat.
"Ibu?!" panggil Galang pelan. Namun tak ada jawaban lagi.
Satu butir air mata luruh di pipi Galang. Ia segera menghapusnya dengan punggung tangannya.
Napas sang ibu yang sejak tadi terdengar terputus-putus perlahan menghilang, hingga akhirnya benar-benar berhenti. Galang menatap wajah ibunya tanpa berkedip. Segalanya terasa begitu hening, seolah seluruh dunia kehilangan suara.
"Ibu?" panggil Nisa lagi, suaranya semakin lirih. Ia mengguncang tubuh sang ibu, namun tak ada gerakan. "Ibu kenapa? Bangun, Bu! Jangan tinggalkan kami."
Tangis Nisa meledak. Galang segera memeluk adiknya erat, membiarkannya menangis di dadanya sementara ia sendiri hanya mampu menggigit bibir menahan duka.
Di dalam hatinya, ia berjanji, 'Aku akan menjaga Nisa, Bu. Aku akan menyekolahkannya setinggi mungkin. Apapun yang terjadi, aku tidak akan mengingkari janjiku.'
****
Malam ketiga setelah Bu Murni dimakamkan.
Setelah selesai pengajian, Galang berdiri cukup lama di tengah ruang tamu. Matanya menatap setiap sudut ruangan. Biasanya, di jam-jam seperti ini, suara ibunya akan terdengar dari balik pintu kamar sebelah.
"Galang, sudah makan belum, Nak? Jangan lupa istirahat."
Atau pesan yang selalu diulang-ulang, "Jangan lupa periksa pintu dan jendela sebelum tidur ya."
Namun malam ini, tidak ada suara itu lagi.
Galang menarik napas panjang, berusaha menstabilkan degup jantungnya, lalu melangkah menuju kamar ibunya. Tangannya terlihat kokoh saat menyentuh gagang pintu, padahal di balik ketenangan itu, jari-jarinya bergetar.
Pintu kayu itu terbuka. Kamar itu masih tertata seperti saat ibunya masih hidup. Bahkan aroma balsemnya masih tertinggal samar.
Aroma balsem itu langsung membangkitkan kenangan saat ia menyuapi ibunya dan berjaga hampir setiap malam, memastikan napas beliau masih ada.
"Galang!"
Panggilan itu seolah terngiang lagi di telinganya. Ia refleks mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah ranjang. Namun disana tak ada apa-apa.
Dadanya terasa semakin sesak. Ia mendekat, lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya perlahan mengusap kain sprei yang masih menyimpan aroma ibunya.
"Bu..." bisiknya lirih.
Saat itulah ia benar-benar sadar. Ibunya telah pergi selamanya.
Kekuatan yang ia pasang di depan orang-orang seolah runtuh seketika. Bahunya bergetar menahan tangis yang tak lagi bisa dibendung.
Selama tiga hari ini, ia memaksakan diri menjadi sosok yang kuat, tak ingin membuat adiknya makin sedih. Namun saat sendirian di kamar ini, ia hanyalah anak yang kehilangan tempat bersandar.
Waktu terus berjalan hingga malam makin larut. Ia mengusap wajahnya, kembali memasang topeng ketenangannya. Kemudian berjalan menuju kamar adiknya.
Nisa sudah terlelap, kelelahan setelah menangis sepanjang hari. Galang duduk di sisi ranjang, menatap wajah adiknya yang terlihat damai namun masih menyisakan bekas air mata di pipinya. Sesekali bibir kecil Nisa bergerak, mengigau dalam tidurnya.
"Ibu!"
Satu kata itu kembali menusuk hati Galang. Ia mengusap lembut rambut adiknya, berusaha memberikan rasa aman meski hatinya sendiri sedang hancur.
"Tenang ya. Abang ada di sini bersamamu," bisiknya pelan.
Padahal ia belum tahu bagaimana caranya bertahan menghadapi hari esok tanpa sosok ibu. Ia hanya berusaha terlihat tegar demi Nisa.
Tiba-tiba, di hadapannya, muncul sebuah layar bening.
[Sistem Pengorbanan telah diaktifkan.]
Daftar bab
102 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
102 bab








