

"Adoowww!"
Tubuh kurus itu jatuh terguling karena tersandung sebatang kayu tua rubuh melintang di Hutan Larangan Karang Awu.
Wisesa bocah yatim piatu dari desa di lereng Gunung Lawang, sepagi ini sudah mengalami kesialan berulang.
Tubuhnya sudah memar di sana-sini, tapi dengan tekad dan keberaniannya meski ia tidak mempunyai keahlian berburu, ia masih berusaha mengikuti gerak kawan-kawan se desanya yang mengejar buruannya.
Sayang, kali ini larinya terpaksa terhenti karena tubuhnya sudah terpelanting masuk ke dalam semak dengan muka berdebunya "nyusuruk" lebih dulu, tak ayal mukanya sebenarnya tampan itu luka oleh bilah rumput tajam dan onak duri.
"Adoww!"
Sekali lagi teriaknya kesakitan, sambil berusaha bangkit keluar dari semak sambil mengusap mukanya yang terasa perih karena luka.
Hutan Larangan Karang Awu yang bersambung dengan lereng gunung itu,
sebenarnya hutan wingit terlarang, tidak boleh dimasuki oleh siapa pun. Konon katanya, ada makhluk penunggu hutan, yang biasa memangsa siapa saja yang berani memasuki hutan itu.
Yang lebih mengerikan, adalah cerita Kakek Mangut, tetua desa yang berumur seratus tahun lebih. Entah sebuah legenda, atau hanya cerita karangan saja, katanya ada Naga Raksasa yang menghuni di salah satu gua yang berada di Gunung Lawang yang selalu ditutupi kabut kalau dilihat dari desa mereka. Naga Raksasa itu, suka makan siapa saja yang berani masuk ke wilayah kekuasaannya.
Tapi yang namanya anak-anak desa mana ada yang takut dan percaya dengan cerita itu, tidak terkecuali Wisesa malang ini.
Asal, mereka berburu tidak masuk terlalu jauh sampai ke lereng gunung, seperti biasa dilakukan oleh para pemburu di desa, mereka akan aman. Selama ini, para pemburu mengikuti aturan tidak tertulis ini, terbukti mereka pulang selamat dengan membawa hasil buruan yang cukup banyak. Hasil buruan itu, dimakan secukupnya untuk memenuhi kebutuhan keluarga, lebihnya bisa dijual ke kota.
Wisesa yang tidak mempunyai kemampuan berburu, kurus lemah tubuhnya, yang sering menjadi bahan olokan dan hinaan teman se desanya itu, tetap nekat ikut. Karena ia berharap mendapat binatang buruan juga yang bisa dijual ke kota untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Tapi, kesialan selalu mengikuti ke mana ia pergi. Kali ini juga sama, nasibnya seperti sekarang ini.
Badannya sudah babak belur, tapi tak satupun binatang buruan berhasil ia dapatkan.
Sebuah keajaiban jika ia bisa mendapatkan binatang buruan, sedang membidik buruan dengan panahnya saja pasti meleset.
Tapi, ya itu Wisesa, meski sadar akan kekurangannya, tapi ia pantang menyerah dan tetap bersemangat.
"Ah ... aku selalu ceroboh, kurang hati-hati," batinnya menyesal sambil mengambil ludah dari langit-langit mulutnya untuk mengolesi lukanya. Ia percaya ludah itu, berkhasiat untuk menjaga luka tidak menjadi lebih parah. Kalau tidak cepat mengolesinya, takutnya luka itu berubah menjadi borok dan bernanah.
"Nah ... adem rasanya, tidak perih lagi," batinnya senang, sambil tangannya mengambil busurnya yang jatuh di semak tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Beberapa saat Wisesa masih membersihkan bekas luka sayatan atau goresan yang lain, sambil mengulangi apa yang dilakukan sebelumnya, sampai akhirnya ia sadar bahwa suara-suara teriakan temannya sudah tidak terdengar lagi, yang ada hanya suara alam, angin berdesir, suara beburungan, dan sesekali suara hewan liar yang lari bersembunyi karena mencium bau manusia, bau Wisesa.
"Gawat. Mereka sudah jauh." gumamnya sendiri.
Wisesa berusaha melihat ke sekitar, bagian hutan itu seperti belum pernah ia masuki, karena terlihat rapat, tanpa jalan setapak atau bekas jejak para pemburu. Hutan terlihat gelap karena, pepohonan besar berbaris rapat dengan daun-daun rimbun memayunginya. Pohon itu tinggi besar dengan cabang menyebar, seperti lengan-lengan raksasa yang siap menangkap korban yang kesasar.
Berpikir seperti itu, Wisesa memastikan sekali lagi di mana sekarang ia berada.
Tiba-tiba ia mendengar suara aneh dari balik hutan itu, seperti suara gerengan bercampur suara raungan yang seolah-olah menggetarkan pepohonan dan dedaunan hutan.
Wisesa bukan penakut, tapi berada sendiri di hutan larangan, firasatnya menjadi tidak enak, jangan-jangan ia kesasar dan sudah memasuki hutan terlalu jauh karena ia melihat permukaan tanah itu sudah tidak rata dan menanjak. Udara pun lebih dingin di banding sebelumnya dan kabut putih muncul turun menyelimuti hutan.
Wisesa terkejut melihat itu, sekarang pandangnya menjadi terbatas, ia hanya mampu melihat ke depan lima depa saja jaraknya. Setelah itu, kabut seperti turun tanpa jeda, membuat siang hari berubah gelap tidak tertembusi oleh pandangan mata.
"Aku, harus cepat pulang. Kalau, tidak aku bisa terjebak di sini!" pikir Wisesa.
Maka, Wisesa memutuskan untuk segera pulang, ia berjalan hati-hati dengan kemampuan pandang terbatas. Menerabas semak, menghindari pepohonan tanpa tahu bahwa arah yang diambilnya salah. Ia bukan berjalan ke arah desanya, tapi malah berjalan menuju ke arah lereng gunung.
Ketika, ia menyadari langkah kakinya terasa menanjak naik, tapi semua sudah terlambat, karena ...
Langkah kaki yang semula menginjak rumput dan semak, sekarang menginjak udara kosong ...
"Aaaaaaaa ...!"
Tubuh Wisesa terperosok jatuh ke bawah, menerabas ranting, menghantam dinding berbatu, terpental dan terbentur dan ...
"BRUKKK!"
Tubuhnya menghantam dasar gua bawah tanah yang dalam, kepalanya terbentur dan hilang kesadarannya seketika.
***
Siang berganti sore. Sore berganti malam. Malam berganti pagi. Pergantian waktu tidak disadari oleh Wisesa yang terbaring pingsan. Sudah semalaman lebih, ketika akhirnya ia tersadar karena badan dan perutnya sakit karena luka sekaligus kelaparan.
"Uhhh!" keluhnya kesakitan.
"Aku di mana?" suaranya memantul balik, karena gema.
Wisesa berusaha bangun sambil menahan rasa sakit yang menyerangnya. Pandangnya semula samar, akhirnya bisa melihat sedikit jelas. Karena ada sedikit cahaya matahari yang masuk dari atas tempatnya duduk bersandar.
Wisesa terkejut karena menemukan dirinya berada di sebuah gua tersembunyi di bawah tanah. Ia mengingat-ingat beberapa saat, kemudian ia menyadari apa yang terjadi dengan dirinya.
"Oh ... aku terjatuh dan masuk ke gua ini, untung saja aku tidak terluka parah," gumamnya sambil memandang ke atas. Ia menaksir bahwa tinggi gua bawah tanah ini sekitar seratus tombak lebih.
Gua bawah tanah itu lumayan lebar di dasarnya, meski kalau dari atas, mulut gua itu seperti sebuah sumur.
Sekarang yang menjadi masalah, bagaimana Wisesa bisa keluar dari gua itu, selain seluruh badannya luka, memar dan bengkak, ada luka yang lebar dengan bekas darah mengering, perutnya pun kelaparan, sedangkan mulut gua itu tinggi sekali. Tidak mungkin ia bisa memanjat ke atas.
"Aduh ... badanku demam."
Wisesa panik, lukanya meradang dan membuatnya demam. Karena, panik ia buru-buru bangun, tapi malang kakinya tergelincir dan tubuhnya ambruk ke belakang. Dan ...
"BROLLL!"
Dinding tempatnya semula bersandar, ambrol terkena beban tubuhnya. Tubuhnya kembali jatuh berguling sejauh sepuluh tombak berhenti karena membentur batu. Lagi-lagi kepalanya terbentur lebih dulu, membuat pandangannya berkunang-kunang. Pusing sakitnya alang kepalang. Untung saja ia tidak pingsan lagi.
Setelah rasa pusing itu berkurang, ia melihat lagi ke sekelilingnya. Telinganya menangkap suara air, ketika ia berguling ia melihat di sebelah kanan dari tempatnya berbaring ia menemukan sebuah sungai kecil bawah tanah yang airnya aneh berwarna merah darah. Anehnya ada cahaya lebih banyak di tempat itu. Udaranya pun lebih segar dari dasar gua sebelumnya.
Wisesa beringsut bangun dan menyandar di batu besar yang menjorok, batu yang menahan tubuhnya berguling lebih jauh ketika terjatuh menjebol dinding.
Kepalanya masih sakit, badannya sakit, dan perutnya tidak mau kompromi menuntut diisi. Ia kelaparan berat.
Ia hampir putus asa, tapi ketika ia berpaling dari batu yang disandarinya, sepasang matanya terbelalak.
Sebuah keajaiban muncul, ia menemukan sebuah kitab kuno bercahaya kemerahan persis seperti warna air sungai di depannya dan tiga buah apel berwarna putih, seperti sengaja disiapkan untuknya.