

"Lepaskan tanganku, Jaka! Tolong, demi aku, selamatkan dirimu sendiri!" teriak wanita itu di tengah deru badai salju yang memekakkan telinga.
Jaka tersentak dari tidurnya, napasnya memburu dan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Matanya membelalak menatap langit-langit gubuk kayu yang suram. "Maya?" panggilnya dengan suara serak, berharap keajaiban akan membawa rekannya itu kembali dari kegelapan masa lalu.
Tentu saja, tidak ada jawaban. Hanya suara derit kayu gubuk yang dihantam angin malam dari balik dinding tipis. Jaka duduk di tepi tempat tidur, menyandarkan kepala di kedua tangannya yang gemetar. "Kenapa kau selalu muncul dalam mimpi itu?" bisiknya pada keheningan yang menyesakkan.
Ia menoleh ke meja kayu kecil di sudut ruangan. Di sana, sebuah kristal hitam kusam tergeletak tak berdaya. Benda itu adalah satu-satunya kenangan fisik yang tersisa dari ekspedisi tragis di Himalaya tiga tahun lalu. Benda yang ia anggap sebagai kutukan sekaligus satu-satunya alasan ia masih bertahan hidup di pengasingan ini.
Jaka meraih kristal itu, merasakannya di telapak tangan. "Kau tahu, Maya selalu bilang kita akan mengubah dunia dengan penemuan ini," katanya pada benda mati itu. "Tapi nyatanya, benda ini hanya menghancurkan hidup kita."
Tiba-tiba, sebuah getaran halus terasa dari permukaan kristal. Jaka mengerutkan kening, mengira itu hanya imajinasinya yang mulai kacau akibat kurang tidur. "Apa ini?" gumamnya.
Getaran itu berubah menjadi denyutan yang kuat, seirama dengan detak jantungnya sendiri. Jaka terkejut dan mencoba melepaskan kristal tersebut, namun benda itu seolah menempel di kulitnya. "Eh? Apa yang terjadi? Lepas!" perintahnya dengan nada panik.
Kristal hitam itu tidak hanya berdenyut, ia mulai memancarkan cahaya biru elektrik yang menyilaukan. Jaka mencoba menepisnya dengan tangan kiri, namun kristal itu justru mulai melayang perlahan di depan dadanya. "Kau bercanda, kan? Benda apa kau sebenarnya?" teriak Jaka, mundur hingga punggungnya menabrak dinding kayu.
Cahaya biru itu semakin terang, menerangi setiap sudut gubuk yang selama ini gelap. Di tengah cahaya itu, Jaka seolah melihat kilasan bayangan Maya yang sedang tersenyum. "Maya? Kau di sana?" tanya Jaka dengan air mata yang mulai menggenang.
"Jaka, terimalah warisan ini," suara itu seolah berbisik langsung di dalam otaknya, sangat mirip dengan suara Maya yang lembut namun tegas.
"Apa maksudmu? Warisan apa?" Jaka bertanya dengan suara gemetar.
Tanpa peringatan, kristal itu meluncur cepat ke arah dada Jaka. Ia berteriak dan mencoba melindungi dirinya, namun kristal itu menembus kulitnya seolah-olah tubuhnya terbuat dari air. Rasa sakit yang luar biasa segera menjalar ke seluruh sarafnya.
"Argh! Hentikan! Ini sakit sekali!" raung Jaka. Ia jatuh berlutut di lantai, mencengkeram dadanya yang terasa seperti dibakar oleh api dingin.
Saraf-sarafnya terasa seperti dialiri listrik ribuan volt. Jaka bisa merasakan sesuatu yang asing sedang merangkak di dalam pembuluh darahnya, menjalar ke otak, dan menyatu dengan setiap serat ototnya. Ia merasa seolah-olah identitasnya sedang dihapus dan ditulis ulang oleh kekuatan yang tidak ia pahami.
"Cukup! Tolong, siapa pun, hentikan ini!" teriaknya lagi, namun suaranya hanya bergema di dalam ruangan kosong itu.
Di tengah rasa sakit yang memabukkan itu, sebuah antarmuka transparan muncul di depan matanya. Tulisan-tulisan aneh dalam bahasa yang tidak ia kenali berubah menjadi bahasa manusia secara otomatis.
*Integrasi Sistem Warisan Ekspedisi: 45 persen... 60 persen... 85 persen...*
"Sistem? Apa maksudnya ini?" Jaka bergumam di sela napasnya yang terputus-putus. Tubuhnya kini kejang-kejang di lantai.
*Integrasi Selesai.*
Rasa sakit yang tadi menghujam tiba-tiba lenyap, digantikan oleh gelombang energi yang luar biasa sejuk dan menenangkan. Jaka terengah-engah, mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya. Ia melihat tangannya, merasakan ada kekuatan yang belum pernah ia miliki sebelumnya.
"Terima kasih telah bertahan, Jaka," suara mekanis namun memiliki nada emosional yang halus bergema di kepalanya.
Jaka bangkit berdiri dengan gerakan yang jauh lebih ringan dari biasanya. Ia merasa seolah-olah gravitasi tidak lagi memiliki kuasa penuh atas dirinya. "Siapa kau? Di mana kau bersembunyi?" tuntut Jaka sambil menatap sekeliling dengan waspada.
"Aku adalah Sistem Warisan Ekspedisi. Aku adalah janji yang ditinggalkan untukmu," jawab suara itu.
Jaka mendengkus, mencoba mencerna kegilaan ini. "Janji? Maya yang melakukan ini? Bagaimana mungkin?"
"Data menunjukkan bahwa subjek Maya melakukan inisiasi awal sebelum kematiannya. Aku adalah hasil dari apa yang kalian temukan di kuil es itu," jelas suara tersebut.
Jaka terdiam sejenak. Ingatannya kembali ke saat-saat terakhir Maya. Ia ingat bagaimana Maya bersikeras membawa kristal itu meski keadaan sudah sangat berbahaya. *Apakah dia sudah tahu?* batinnya.
"Namun, kenapa sekarang? Kenapa setelah tiga tahun aku membusuk di sini?" tanya Jaka dengan nada pahit.
"Karena ancaman itu telah bergerak, Jaka. Ordo Eclipse telah menemukan fragmen kedua. Jika mereka berhasil mengumpulkan semuanya, apa yang Maya lindungi akan hancur selamanya," jawab Sistem.
Mendengar nama Maya disebut lagi, kemarahan yang selama ini ia tekan mulai membara. "Ordo Eclipse? Siapa mereka? Apakah mereka yang menyebabkan longsor itu?"
"Identitas mereka tersembunyi dalam konspirasi global. Tugasmu sekarang adalah mengumpulkan fragmen yang tersisa sebelum mereka melakukannya. Ini adalah jalan penebusanmu," suara itu kini terdengar lebih berwibawa.
Jaka mengepalkan tangannya. Ia merasakan otot-ototnya menegang, siap untuk melakukan apa pun. Selama tiga tahun ia hanya hidup sebagai mayat berjalan, namun kini ia memiliki tujuan. "Penebusan? Kau pikir dengan kekuatan ini aku bisa menghidupkannya kembali?"
"Sistem tidak dapat menghidupkan kembali subjek yang telah tiada. Namun, kau bisa menyelamatkan masa depan yang ia inginkan," balas Sistem.
Jaka mengembuskan napas panjang. Ia menatap ke luar jendela, ke arah puncak gunung yang diselimuti salju abadi. "Katakan padaku apa yang harus kulakukan."
"Langkah pertama adalah meninggalkan tempat ini. Aku telah mendeteksi sinyal fragmen pertama di koordinat yang telah ditentukan," sebuah peta holografik muncul di depannya, menunjukkan lokasi di tengah hutan Amazon.
Jaka mengambil ransel lamanya yang sudah berdebu. Ia tidak butuh banyak waktu untuk berkemas. Apa pun yang ada di gubuk ini hanyalah tumpukan kenangan pahit yang ingin ia tinggalkan. Namun, tepat saat ia hendak melangkah keluar, ia berhenti di depan sebuah foto kecil Maya yang ia tempel di dekat pintu.
"Aku tidak akan gagal kali ini, Maya. Aku janji," bisiknya lembut.
"Waktu kita terbatas, Jaka. Sensor mendeteksi ada pergerakan asing di sekitar area ini," Sistem memperingatkan.
Jaka mengerutkan kening. "Pergerakan asing? Di tempat terpencil seperti ini?"
Ia mengintip dari celah jendela. Di kejauhan, di antara pepohonan yang tertutup salju, ia melihat beberapa titik merah dari laser pembidik. Beberapa sosok berarmor hitam tampak bergerak dengan taktis mendekati gubuknya.
"Mereka sudah di sini?" tanya Jaka, jantungnya berdegup kencang namun bukan karena takut, melainkan adrenalin.
"Ordo Eclipse telah melacak aktivasi Sistem. Kau adalah target mereka sekarang," jawab Sistem dengan tenang.
Jaka tersenyum tipis, sebuah senyum yang sudah lama tidak muncul di wajahnya. "Baguslah. Jadi aku tidak perlu mencari mereka."
Ia meraba dadanya, tempat kristal itu menyatu. Ia bisa merasakan energi itu siap dilepaskan. "Bagaimana cara menggunakan kekuatan ini?"
"Hanya perlu niatmu, Jaka. Biarkan aku yang mengatur aliran energinya," instruksi Sistem.
Jaka menendang pintu gubuknya hingga hancur berkeping-keping. Udara dingin langsung menerjang masuk, namun ia tidak merasakannya. Ia melangkah keluar dengan tatapan mata yang tajam seperti elang.
"Tunjukkan dirimu!" teriak Jaka menantang kegelapan malam.
Satu per satu, para Pemburu Ordo Eclipse muncul dari balik bayang-bayang pohon. Mereka mengarahkan senjata teknologi tinggi ke arahnya. Salah satu dari mereka, yang tampaknya adalah pemimpin, maju selangkah.
"Serahkan Sistem itu secara sukarela, Jaka, dan mungkin kami akan membiarkanmu mati dengan tenang di sini," suara dingin pria itu terdengar dari balik helm taktisnya.
Jaka tertawa rendah. "Kalian pikir aku akan menyerah setelah apa yang kalian lakukan pada Maya?"
"Maya hanyalah korban kecil untuk tujuan yang lebih besar. Jangan buat pengorbanannya sia-sia karena kebodohanmu," balas pria itu.
"Bodoh katamu?" Jaka melesat maju dengan kecepatan yang bahkan tidak bisa diikuti oleh mata manusia biasa. Dalam sekejap, ia sudah berada di depan sang pemimpin.
Ia melayangkan pukulan yang diperkuat oleh energi biru. Ledakan udara tercipta saat tinjunya menghantam armor pria itu, melontarkannya hingga menabrak pohon besar di belakangnya hingga tumbang.
"Ternyata kau benar," gumam Jaka sambil menatap kepalan tangannya yang masih berpendar biru. "Ini memang kekuatan yang berbeda."
Para Pemburu lainnya segera melepaskan tembakan plasma. Jaka melompat tinggi, melewati atap gubuknya dengan satu lompatan ringan. Ia mendarat di atas dahan pohon dan menatap mereka dari ketinggian.
"Sistem Warisan Ekspedisi: Aktif. Pencarian Fragmen Dimulai," suara mekanis itu kembali berbisik, namun kali ini diikuti dengan deretan data taktis yang memenuhi pandangan Jaka.
Tiba-tiba, sebuah proyektil misterius meluncur dari arah yang tidak terduga, meledak tepat di bawah kaki Jaka dan menyelimutinya dalam gas hitam yang aneh.
"Apa ini?" Jaka terbatuk, indranya mulai kacau.
"Waspada, Jaka! Ini adalah pengganggu sinyal Sistem!" teriak suara itu dalam kepalanya sebelum sinyalnya mulai terputus-putus.
Jaka terjatuh dari dahan pohon, pandangannya mengabur. Di tengah kabut hitam itu, ia melihat sesosok wanita berdiri dengan tenang, memegang perangkat aneh yang memancarkan gelombang sonik.
"Siapa kau?" tanya Jaka dengan suara lemah.
Wanita itu tersenyum misterius, matanya berkilat di bawah cahaya bulan. "Aku adalah alasan kenapa kau akan gagal, Jaka."
Jaka berusaha bangkit, namun tubuhnya terasa seberat timah. Kegelapan mulai menyelimuti kesadarannya. Saat matanya perlahan tertutup, ia hanya bisa melihat wanita itu berjalan mendekatinya dengan langkah yang anggun namun mematikan.