Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Reinkarnasi Sang Pewaris Old Money

Reinkarnasi Sang Pewaris Old Money

Christ Mar | Bersambung
Jumlah kata
23.6K
Popular
100
Subscribe
0
Novel / Reinkarnasi Sang Pewaris Old Money
Reinkarnasi Sang Pewaris Old Money

Reinkarnasi Sang Pewaris Old Money

Christ Mar| Bersambung
Jumlah Kata
23.6K
Popular
100
Subscribe
0
Sinopsis
18+PerkotaanAksiMiliarderDunia Masa DepanMisteri
Erlando Wijaya hidup di puncak kekayaan keluarganya yang old money sejak buyutnya. Sayangnya ia terbiasa mempermainkan hati, termasuk Diandra, satu-satunya perempuan yang mencintainya tanpa syarat.Di hari pertunangan mereka, Erland justru memilih bersenang-senang dengan wanita lain hingga kecelakaan merenggut nyawanya. Sebelum menghembuskan napas terakhir, ia mendengar kabar yang menghancurkan dimana Diandra hampir mengakhiri hidupnya karena malu, sementara orang tuanya dipenjara akibat utang besar demi pesta pertunangan itu. Saat ia terbangun kembali dalam tubuh seorang pemuda miskin, takdir mempermainkannya, ia justru berada di sisi Diandra yang kini penuh luka dan kebencian. Ia punya tekat menebus semua kesalahannya sebelum dia mati untuk yang kedua kalinya.
Kehidupan Kedua

"Lannn, cemen!! Ngebut lagi dong. Apaan cuma segini,"

"Iya nih, kayak naik becak,"

Breeemmmmmm.....

Jalanan kota masih ramai, lampu-lampu memantul di kaca mobil yang melaju dengan kecepayan tinggi. Di dalamnya, Erland duduk di kursi kemudi dengan kesadaran yang setengah hilang, akibat sisa alkohol masih menguasai jiwanya.

Tawa teman-temannya bersahut-sahutan, tapi semuanya terdengar semakin mengecil, seperti teredam sesuatu yang tak kasat mata.

Setir di tangannya terasa mudah dikendalikan, terlalu ringan tak seperti biasanya sampai ia lupa sadar di depannya ada truk menyebrang. Dirinya baru sadar menerobos lampu merah usai melirik spion bahwa kendaraan di belakangnya berhenti. Namun truk yang hendak melaju lurus terus menghadangnya. Kakinya menginjak pedal gas sesegera mungkin.

Di sudut matanya, lampu kendaraan lain melintas cepat, tapi ia tak benar-benar memperhatikannya. Sampai akhirnya suara itu datang.

Benturan keras yang memekakkan telinga. Truk menabrak body mobinya dari samling sehingga terjadilah tabrakan yang cukup parah., Kaca pecah, dan tubuhnya terdorong ke depan tanpa ampun. Segalanya terjadi dalam satu detik yang terasa sangat panjang, cukup lama untuk membuatnya sadar bahwa ini bukan lagi mimpi.

*

Kesadarannya kembali seperti seseorang yang ditarik paksa dari dasar air. Berat, sesak, dan linglung. Bau obat langsung menyeruak masuk ke hidungnya, menyengat khas antiseptik. Kelopak matanya terbuka perlahan, memperlihatkan langit-langit putih yang terlalu terang untuk dilihat lama-lama.

Tubuhnya tidak bergerak dengan bebas. Kaku sekali. Ada Alat yang menempel di mana-mana, . Selang di hidung, jarum di tangan, dan alat-alat yang berbunyi pelan di sekelilingnya membuatnya sadar bahwa ia tidak lagi berada di tempat yang sama seperti sebelumnya.

Suara tangisan mulai terdengar. Awalnya samar, lalu semakin jelas, memenuhi ruang yang sempit itu. Wajah-wajah yang ia kenal muncul satu per satu di pinggir pandangannya, semuanya terlihat berbeda dari biasanya.

Ibunya menangis sampai kehilangan cara untuk menahan diri, menggenggam tangannya yang tak mampu ia balas. Ayahnya berdiri di samping, berusaha tetap kuat, tapi matanya tidak bisa berbohong. Untuk pertama kalinya, Erland melihat ketakutan di sana.

Keluarganya yang old money hanya bisa diam melihat pertarungan antara alat medis dengan takdir Tuhan.

Erland ingin mengatakan sesuatu. Tapi mulutnya menolak bekerja sama. Bahkan sekadar menggerakkan jari pun terasa mustahil.

Kelelahan datang lagi, lebih berat dari sebelumnya. Perlahan, matanya kembali tertutup, dan suara-suara di sekitarnya mulai menjauh.

"Benarkah aku harus mati sekarang?"

*

Ketika ia membuka mata lagi, segalanya sudah berbeda.

Tidak ada suara mesin medis. Tidak ada tangisan. Tidak ada lampu putih yang menyilaukan. Yang ada hanyalah keheningan yang asing, ditemani langit-langit kayu yang kusam dan retak di beberapa bagian.

Kemana perginya keluarganya yang old money itu?

Udara terasa pengap. Dindingnya sempit bahkan lebih sempit dari kamar mandi di rumah mewahnya. Bau tanah dan kayu lapuk menggantikan bau obat yang tadi begitu asam. Tubuhnya masih terasa lemah, tapi kali ini bukan karena alat-alat medis, melainkan karena sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

Ia berusaha bangkit sedikit, menatap sekeliling dengan kebingungan yang semakin dalam. Ini bukan rumah sakit. Pikirannya mencoba menyusun logika. Mungkin ini mimpi. Mungkin ia hanya belum benar-benar sadar. Tapi kalau ini mimpi, kenapa terasa terlalu nyata? Kenapa tubuhnya tetap lemah, dan kenapa rasa bingung itu tidak hilang?

"Bukankah aku sudah mati? Tapi kenapa aku disini? Surga macam apa ini?"

Ingatan terakhirnya kembali pelan-pelan.

"Tukang ndugem seperti aku apakah pantas masuk surga?" ujarnya lagi.

Ia sadar masih di dunia. Tapi ingatannya membawanya tepat pada kejadian kelam malam itu.

Ia seharusnya datang ke pertunangannya. Seharusnya ia berdiri di sana, di depan Diandra, gadis yang sudah ia janjikan masa depan sebagai istri sah. Tapi ia memilih hal lain. Memilih kesenangan sesaat, meninggalkan seseorang yang mempercayainya sepenuhnya.

Lebih parah lagi, ia tahu apa yang telah dilakukan keluarga gadis itu. Utang besar yang dipaksakan demi sebuah acara yang bahkan tidak ia hargai. Delapan ratus juta, hanya untuk kebanggaan yang sekarang terasa seperti lelucon kejam.

Dada Erland terasa sesak. Bukan karena luka fisik, tapi karena penyesalan yang datang terlambat. Semua yang ia abaikan, semua yang ia anggap sepele, kini kembali menghantamnya tanpa ampun.

Pintu kayu itu terbuka dengan suara berderit berisik sekali, seolah enggan dipaksa terbuka. Cahaya dari luar masuk tipis dan menyorot sosok perempuan yang berdiri di ambangnya. Erland yang masih duduk lemah langsung menegang saat mengenali wajah itu tanpa raga, siapa lagi kalau bukan Diandra.

Tubuhnya refleks bangkit meski goyah, langkahnya dipaksa mendekat seakan takut sosok itu hilang kalau ia terlambat mendekat

Namun sebelum ia sempat mendekat, sebuah baju kotor melayang dan menghantam wajahnya.

“Gara-gara kamu tinggal di sini, semua orang mengutukku perawan pembawa sial,” suara Diandra pecah begitu saja. Tangisnya langsung tumpah, bahunya bergetar, semua luka yang selama ini ia tahan keluar tanpa sisa.

Erland diam di tempat, tangannya menggantung, tidak tahu harus berbuat apa selain menatapnya dengan napas tertahan.

“Maafkan aku, Diandra… aku—” suaranya serak dan nyaris tidak terdengar.

Namun kalimat itu bahkan belum selesai saat Diandra langsung memotong dengan nada sinis, “Maaf saja tidak cukup!” Tatapannya menusuk.

“Maaf saja tidak akan melunasi utang ayahku! Maaf juga tidak akan mengeluarkan ayahku dari penjara!” lanjutnya dengan suara membengak.

Kata-kata itu jatuh seperti palu di kepala Erland, membuatnya terpaku beberapa detik tanpa reaksi.

Lututnya langsung lemas, tubuhnya jatuh begitu saja ke tanah tanpa ia sadari. Tangannya refleks meraih kaki Diandra, kepalanya tertunduk dalam, harga dirinya runtuh tanpa sisa. “Maaf… aku salah… aku bener-bener salah…” ucapnya pelan.

Namun Diandra menarik kakinya dengan kasar, menjauh seolah sentuhan itu menyakitkan. “Jangan sentuh aku!” teriaknya, tangisnya semakin menjadi saat ia mundur beberapa langkah. Tanpa menunggu lebih lama, ia berbalik dan berjalan pergi meninggalkan Erland yang masih berlutut di tanah.

Erland tersentak, buru-buru bangkit meski tubuhnya belum kuat. Ia melangkah keluar gubuk untuk mengejar, napasnya terengah dan pikirannya dipenuhi penyesalan. “Diandra, tunggu!” panggilnya, tapi langkahnya langsung terhenti saat seseorang menarik kerah bajunya dengan kasar dari belakang.

Sebuah pukulan keras mendarat di wajahnya membuat pandangannya langsung berkunang. Belum sempat ia membalas, pukulan kedua dan tendangan datang bertubi-tubi hingga tubuhnya jatuh ke tanah. “Ini dia calon mantunya Pak Andre, hajar aja!” ujar salah satu pria kekar.

Erland tidak mampu melawan, tubuhnya terlalu lemah untuk sekadar bangun. Ia hanya bisa meringkuk, menahan setiap pukulan yang datang tanpa ampun.

“Berhenti!” suara Diandra kembali terdengar lebih panik. Ia berlari mendekat dan berdiri di antara mereka, tangannya terangkat mencoba menghalangi. “Tolong, jangan pukul dia lagi… aku yang akan tanggung semuanya,” ucapnya.

Para pria itu tertawa kecil, jelas tidak percaya dengan apa yang ia katakan. Salah satu dari mereka melangkah maju, menatap Diandra dengan tatapan meremehkan. “Kami tidak butuh janji kosong, Hutang ayahmu delapan ratus juta, lunasi dalam dua minggu,” katanya.

Diandra terdiam, bibirnya terbuka sedikit tapi tidak ada suara yang keluar. Ia tahu itu mustahil, bahkan untuk membayangkannya saja terasa tidak masuk akal.

Di saat itulah Erland mengangkat kepalanya perlahan dari tanah. “Saya yang akan melunasi semuanya,” ucapnya lantang.

Semua orang terdiam sesaat sebelum akhirnya para preman itu tertawa lebih keras.

“Oke, kami tunggu dua minggu, awas kalau kamu tidak menepati janji!” ancam mereka sebelum akhirnya pergi begitu saja.

Diandra hanya bisa menatap Erland dengan bingung, antara tidak percaya dan terlalu lelah untuk berharap, sementara Erland sendiri belum tahu bagaimana cara menepati janji yang baru saja ia ucapkan.

800 juta dalam 2 mingggu?

Lanjut membaca
Lanjut membaca