

Andai di hari itu Erick tidak menghadiri balapan liar, tidak mungkin ia akan mendapatkan ejekan dimana-mana.
Erick hanya seorang tukang ojek biasa yang mempunyai hobi balapan di malam hari. Ketika ia kalah ia akan direndahkan serendah- rendahnya dan ketika ia menang bagi semua orang itu hanyalah sebuah keberuntungan.
Bagi Erick Jakarta memang indah, namun tidak pernah seindah kehidupan yang ia jalani sekarang. Langkah kakinya kini berjalan menuju warung kopi mbak Lastri. Disana sudah ada Dion yang menunggunya. Menjepit rokok di antara sela ibu jari dan jari tangan. Sambil meniup asap rokok yang sudah berhamburan di udara.
"Gimana? Lu mau terima tawaran waktu itu nggak?" lagi-lagi kali ini Dion masih menanyakan hal yang sama. Tangannya meraih sebuah ponsel menunjukan hadiah yang sudah disiapkan.
"Dua juta bro!"
Untuk kaum menengah kebawah seperti Erick, angka dua juta bukanlah nilai yang sedikit, bahkan dengan dua juta bisa untuk biaya hidup satu bulan. Kini ia menatap Dion dengan yakin, ia tahu malam ini ia pasti akan memenangkan balapan.
"Gua ambil balapan malam ini," ucap Erick.
Sebuah senyum simpul tercipta di pipi Dion, ia kemudian mendekat ke arah Erick.
"Nah, gini dong! Baru temen gua,dah ayo ke arena sekarang, disana udah ada tuh yang nantangin lu." Dion berjalan lebih dulu meninggalkan Erick.
Kini Erick sudah melajukan motor tuanya menuju arena balap, disana — sudah berjejer motor sport keluaran terbaru. Ia melirik motornya sesekali, memang sangat dikatakan tidak layak jika untuk mengikuti balapan, tapi jangan salah meskipun motornya terlihat hanya motor tua tapi mesin di dalamnya sudah erick rancang seperti milik motor sport keluaran terbaru.
Brandon datang dengan senyum meremehkan. "Siap kalah untuk yang kesekian kali?"
Tangan Erick mengepal di samping tubuhnya. "Kali ini gua gak akan kalah!" serunya.
Brandon hanya bertepuk tangan kecil, seakan meremehkan apa yang sedang Erick ucapkan saat ini. Langkahnya kemudian menjauh dari pandangan Erick. Kembali menuju tempatnya semula.
***
Ngengggg wush
Kini suara motor melaju di jalanan kota Jakarta, malam yang gelap dan suara tepukan memeriahkan arena balap malam ini.
Tidak ada teriakan yang terucap untuk Erick semua hanya tertuju pada Brandon.
"Brandon! Brandon! Bandon!"
Brandon saat ini sudah memimpin, di depan. Semua cara sudah ia lakukan untuk menyingkirkan Erick dari arena.
Tepat pada tikungan maut.
Erick memiringkan motor nyaris menyentuh aspal. Waktu terasa melambat. Ia keluar tikungan lebih cepat setengah detik—cukup untuk memutus jarak antara ia dengan Brandon.
Hingga pada detik-detik terakhir, Brandon kehilangan kendali. Motor yang ia gunakan terlalu cepat dalam berkendara membuatnya terpeleset di arena balapan.
Tidak ingin kehilangan kesempatan, Erick memutar gas motornya dengan kecepatan penuh. Garis finish sekarang sudah terlihat. Dua juta sudah di depan mata!
Brandon menghentikan motornya dengan cepat saat Erick sudah memasuki garis finish, Brandon mengepalkan tangannya. Tidak mungkin ini terjadi, pasti semua hanya salah lihat saja.
Namun kenyataan berbanding terbalik dengan keinginan Brandon, malam ini Erick seorang pembalap dengan motor butut berhasil mengalahkannya.
Erick melepas helmnya kemudian mengibaskan rambutnya yang basah oleh keringat. Sorot matanya tajam namun tenang. Ia melihat semua yang sedari tadi mengejeknya kini sudah terdiam.
Dion menghampiri Erick sambil membawa bendera kecil di tangannya. "Menang bersih. Nggak ada protes. Hadiahnya bisa lu ambil setelah ini," ucapnya.
Erick mengangguk pelan. "Siap bos!" serunya. Erick kemudian melirik ke arah Brandon, disana lawannya tersebut sudah menatap dengan pandangan berapi-api.
Motor sport milik Brandon kini berhenti tepat di depannya. Mesin meraung pelan, seperti mengejek dirinya. Brandon menatap motor usangnya dan mengucapkan kalimat yang paling tak ingin Erick dengar hari ini.
"Lo tuh cuma beruntung aja, lumayan noh dua juta buat beli motor baru kayak punya gua!" seru Brandon lantang.
Di belakangnya — anak buahnya ikut menyahuti. "Iya dua juta buat beli motor baru bagian rantai doang," ucapnya lagi.
Anak buah yang mengejeknya tersebut bernama Hendra. Ia kemudian menendang-nendang ban milik Erick yang sedikit kotor karena lumpur di arena balapan tersebut.
Dion yang melihat adanya keributan dengan segera berlari ketempat dimana suara berasal, ia dengan cepat mendorong tubuh Brandon yang sebentar lagi menyenggol bahu Erick.
"Bro jadi laki yang gentle, jangan mentang-mentang Erick orang nggak punya kalian seenaknya kayak gini, sekarang kata gua mending lu pada minggir!" seru Dion lantang.
Erick hanya diam, ia sebenarnya jago dalam bela diri. Namun jika ia gunakan sekarang mungkin akan menimbulkan bahaya lebih besar. Biarlah dia tertindas seperti ini dulu, nanti jika keadaan setara semua akan terbalaskan.
"Nggak usah belain gua Yon, gua nggak papa," ujar Erick akhirnya.
Brandon dan Hendra sudah pergi dari hadapan mereka berdua, Dion di sebelah Erick memasang wajah datar kearahnya.
"Lu kalau ditindas jangan diem aja!" geramnya, "gua kesel sendiri dari tadi liat lu."
Erick hanya menaikan sebelah alisnya, kemudian terkekeh pelan.
"Malah ketawa lu!" Dion menghembuskan napas kasarnya.
"Kejahatan jangan dibalas kejahatan, balas dengan pencapaian lebih baik, sebanyak apapun orang di luaran sana ngeremehin kita, gak selayaknya kita membalas dengan lebih kejam," ucapan Erick terputus.
Erick kemudian memutar gas motornya. "Gua bakal buktiin jadi lebih baik dari mereka, biar mereka semua nggak bisa ngerendahin gua lagi," ucapnya.
Dion tersenyum kecil, kemudian memberikan hadiah dari balapan motor malam ini. "Ya udah kalau gitu, nih hadiah lu gua kasih sekarang," ucapnya.
Erick menerima segepok uang tersebut, matanya berbinar. kini dua juta sudah ada di tangannya. "Sip thanks ya bro, gua balik dulu," pamitnya. Ia kemudian menutup kece helmya.
Ia memutar gas tanpa ragu. Motornya melesat membelah jalanan raya yang padat penduduk, meninggalkan debu, klakson, dan tatapan orang-orang yang tak sempat mengerti apa yang baru saja terjadi.
***
"Erick pulang Bu," ucap Erick ketika sudah sampai rumah. Ia memarkirkan motornya kemudian menjabat tangan ibunya yang sudah menunggu di ruang tamu.
"Lihat Erick bawa apa?" Senyum mengembang di pipi Erick. Ia menunjukan setumpuk uang hasil dari balapan barusan.
"Dari balapan?" Tanya ibunya memastikan.
Erick mengangguk kecil sedikit ragu — ada banyak kata yang tertahan di tenggorokannya.
"Iya bu, maaf Erick belum bisa keluar dari sana," ujarnya sambil menunduk.
Sri— ibunya hanya menggeleng kecil.
"Lebih baik kamu keluar sebelum banyak hal yang nggak diinginkan terjadi," tuturnya. Ia kemudian memberikan uang tersebut ke arah Erick.
"Ambil, lumayan buat perawatan si jago," ucap Sri dengan nada tegas penuh perhatian.
Jago— motor tua milik Erick yang sering diremehkan.
Erick menatap uang tersebut sekilas, ia mengangguk kecil.
"Buat ibu saja, jago cuma butuh dimandikan,"
Bohong. Sebenarnya Erick juga membutuhkan uang itu untuk kebutuhannya. Tapi keadaan ekonomi keluarganya yang mengharuskan uang tersebut untuk keperluan keluarganya.
Sri menghembuskan napas pelan, dengan terpaksa ia menyunggingkan senyum. Tapi bukan senyum ketulusan.
"Ya sudah, terimakasih... Lain kali jangan balapan lagi."
Erick hanya diam.
Kalau balapan adalah caranya untuk memperbaiki ekonomi keluarganya mungkin ia terpaksa harus balapan lagi. Toh dengan uang banyak hidupnya akan tertata dan ia juga bisa membela kaum lemah di bawah sana dengan uang yang dimilikinya, pikir Erick saat ini.
Meskipun di balik itu ia harus rela harga dirinya diinjak-injak.