

Waktu menunjukkan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Jakarta mulai agak lengang di waktu selarut ini. Udara malam terasa menusuk kulit dan cahaya rembulan tipis-tipis menerangi langit malam, komplementer dengan cahaya dari lampu penerangan jalan yang menguning di pantulan sisa air hujan yang menggenang di jalanan. Namun demikian, kondisi malam di komplek apartemen vertikal rendah Viscount Manor di bilangan selatan Jakarta justru sebaliknya.
Ada beberapa mobil polisi dengan lampu sirine yang menyala terang di pelataran parkir apartemen itu, lengkap dengan beberapa petugas polisi yang siaga. Selain mobil polisi, ada juga ambulans bertuliskan “forensik” yang hadir dengan lampu sirine yang juga menyala. Beberapa petugas medis beratribut lengkap terlihat mondar-mandir masuk ke dalam salah satu unit apartemen.
Unit apartemen yang jadi perhatian utama malam itu adalah unit paling kiri dari deretan komplek apartemen vertikal rendah tersebut. Ada total enam tower di komplek Viscount Manor, dengan setiap tower-nya terdiri dari lima lantai. Masing-masing lantainya biasanya dimiliki oleh orang yang berbeda, tetapi unit apartemen paling kiri ini hanya dimiliki oleh satu orang: Subroto Wardoyo, mantan Dirjen Bea Cukai.
Di unit itu, pusat perhatian ada di kamar utama yang terletak di lantai dua apartemen. Hawa dingin dari pendingin ruangan masih terasa menusuk, meski ada beberapa petugas polisi dan petugas forensik yang hadir disana. Seorang perwira muda polisi nampak berdiri di depan sebuah ranjang king-size dengan sprei sutra berwarna krem muda. di atas ranjang tersebut, ada jasad seorang pria yang sudah terbujur kaku tanpa busana. Dua petugas forensik duduk di sisi jasad tersebut, sibuk mengambil sampel dari tubuh yang sudah kaku dan membiru tersebut. Petugas forensik lainnya sedang berkolaborasi dengan petugas polisi untuk melihat kondisi sekeliling kamar.
Perwira polisi muda itu mengenakan seragam polisi dengan papan nama bertuliskan “Asa” di dada kanannya, kependekan dari nama lengkapnya, Angkasa Raya Simarmata. Di sisinya, ada seorang petugas polisi lain yang nampak lebih muda darinya. Asa tahu bahwa rasa menggigil di tengkuknya bukan berasal dari sana.
"Gagal jantung lagi, Dan," celetuk Briptu Rio, petugas polisi yang kini berdiri di samping Angkasa. Ia masih memegang kamera, baru saja selesai memotret jasad itu dari berbagai sisi. "Laporan sementara dari tim medis bilang begitu. Nggak ada tanda-tanda perlawanan. Pintu terkunci dari dalam. CCTV koridor bersih."
Angkasa tidak menyahut. Ia berjongkok di samping tempat tidur, mengabaikan bau anyir yang mulai samar. Matanya yang tajam menyisir setiap jengkel lantai marmer Italia itu. Di bawah kolong tempat tidur, ia menemukan sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.
Butiran tanah.
Ia menoleh ke arah petugas forensik terdekat, dan menunjuk mengarahkan agar mereka mengambil tanah itu sebagai salah satu sampel. Si petugas forensik mengambil pinset dari kantongnya, memungut sebutir kecil tanah hitam itu, dan mendekatkannya ke hidung. Petugas forensik itu mengernyit. Bau tanahnya bukan tanah pot bunga. Baunya lebih mirip dengan tanah kuburan yang basah. Di sela-sela bau tanah itu, si petugas forensik juga mencium ada aroma melati yang sangat pekat, seolah-olah seseorang baru saja menumpahkan satu botol minyak srimpi tepat di bawah hidung mereka.
Si petugas forensik bangkit dan mendekatkan pinsetnya ke arah Angkasa. “Baunya lebih mirip tanah kuburan deh, Dan,” ujarnya melaporkan.
"Jangan ngaco ah, kamu," perintah Angkasa datar. Namun demikian, ia menoleh ke arah Rio. “Rio, coba matikan AC-nya sebentar.”
"Loh, kenapa Dan?” tanya Rio bingung. “Gerah, nanti."
Angkasa bersikeras. "Matikan saja."
Begitu dengung mesin kipas AC berhenti, kesunyian mendadak jatuh menyelimuti ruangan. Di tengah-tengah bunyi kuas para petugas forensik yang masih tetap bekerja, Angkasa mulai mendengar bunyi halus yang membuatnya membeku.
Srak... srak...
Angkasa menganggap suara itu seperti suara ketika sesuatu diseret di atas lantai. Ia menelengkan kepalanya, berusaha menangkap arah datangnya suara. Ia kemudian menyadari kalau suara itu berasal dari sudut ruangan yang gelap, dekat jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu Jakarta. Angkasa merebut sebuah senter maglite dari salah satu petugas forensik, dan mengarahkan cahayanya ke sana. Kosong. Ia tak melihat apa-apa, kecuali bayangan tirai yang bergoyang sedikit.
Namun, di kaca jendela yang berembun karena perbedaan suhu, Angkasa melihat sebuah tulisan yang tampak seperti digores oleh ujung jari yang sangat kurus. Angkasa mendekat ke arah jendela agar ia bisa mengamati tulisan itu dengan lebih jelas. Tulisan itu bukan kata-kata, melainkan sebuah simbol yang ia kenali dari buku-buku lama kakeknya di Medan.
Aksara Jawa.
"Sebelas," desis Angkasa pelan.
"Maksudnya, Dan?" Rio mendekat, tampak bingung.
"Pak Broto ini korban kesebelas, Rio,” ujar Angkasa menjelaskan. Ia tak peduli Rio mengerti apa yang ia ucapkan atau tidak. “Semuanya mati dengan cara yang sama."
Angkasa mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi kalender yang ada weton jawa di dalamnya. Jarinya gemetar saat melihat penanggalan yang tertera di sana, terlebih ketika ia memastikan malam apa ini.
Selasa Kliwon.
Angkasa mengangkat kepalanya dan menatap Rio. "Cari semua catatan kematian pejabat dalam setahun terakhir yang terjadi di malam Selasa Kliwon," perintah Angkasa, suaranya kini serak. Napasnya memburu karena adrenalinnya mendadak meningkat. "Cari tahu juga siapa saja orang yang terlihat berada di sekitar mereka dalam waktu empat puluh delapan jam sebelum mereka meninggal."
"Siap, tapi... Dan, tim medis tadi bilang kalau ini adalah serangan jantung biasa,” ujar Rio takut-takut. “Bukannya kita juga harus menganggapnya serangan jantung karena stres pasca pensiun seperti yang dikatakan tim medis? Kita nggak boleh bikin segalanya makin rumit."
Angkasa berdiri, menatap Rio dengan mata yang memancarkan kemarahan sekaligus ketakutan yang disembunyikannya rapat-rapat. "Ini bukan serangan jantung, Rio,” ujarnya. “Kamu bahkan lihat sendiri kondisi TKP. Seseorang sedang melakukan pembersihan, dan dia tidak menggunakan peluru."
Rio tertunduk. Ia tak berani melawan ucapan Angkasa.
Angkasa berjalan menuju balkon, membiarkan angin malam Jakarta menerpa wajahnya. Jauh di bawah sana, di antara hiruk-pikuk mobil yang merayap seperti semut, ia melihat sebuah mobil sedan hitam yang terparkir di bahu jalan yang gelap.
Di samping mobil itu, seorang perempuan muda berambut coklat terang berdiri dengan gaun merah yang mencolok, memegang ponsel seolah sedang melakukan live streaming di aplikasi media sosial. Perempuan itu menoleh ke atas, tepat ke arah balkon apartemen Subroto. Ia tersenyum ke arah Angkasa, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobilnya.
Mobil itu pun melesat hilang ditelan kegelapan kota.
Angkasa mencengkeram pagar balkon. Ia tahu, ia hanya punya waktu tiga puluh lima hari sebelum Selasa Kliwon berikutnya tiba. Satu hal yang ia tak tahu adalah, siapa yang akan jadi korban selanjutnya.
***