

Malam selalu datang lebih cepat di rumah besar itu. Bukan karena matahari Surabaya tenggelam lebih awal. Melainkan karena rumah tangga Adnan dan Arini sudah lama kehilangan warna hangat yang dulu membuat setiap sudut terasa hidup.
Lampu-lampu kristal di ruang keluarga menyala lembut sejak pukul enam. Memantulkan cahaya ke lantai marmer yang licin dan bersih dan jua ke arah vas bunga segar yang selalu diganti setiap dua hari sekali.
Memantul jua ke dinding-dinding berwarna netral yang dirancang dengan selera mahal dan ketelitian seorang arsitek. Semuanya indah, semuanya sempurna dan semuanya terasa dingin.
Arini berdiri di depan meja makan panjang yang hanya terisi dua set piring. Jemarinya yang ramping merapikan letak sendok, lalu menggeser sedikit mangkuk sup agar sejajar dengan piring utama. Ia menatap hasilnya beberapa detik, lalu menghela napas pelan.
Bi Sum menatapnya dari pintu dapur dengan wajah ragu, “Ibu, sup krim jamurnya mau saya hangatkan lagi? Tadi katanya Bapak bilang OTW.”
Arini menoleh, lalu tersenyum tipis. Senyum yang begitu rapi sampai rasanya nyaris rapuh, “Iya, Bi, hangatkan lagi, ya. Mungkin sebentar lagi sampai.”
“Baik, Bu.” Jawab Bi Sumi seraya tersenyum.
Setelah perempuan paruh baya itu kembali ke dapur, Arini melirik layar ponselnya. Mengamati sekilas beku di ujung-ujungnya, ponsel yang sama yang dulu sering banyak notifikasi dari Adnan suaminya. Kini terasa ada kebekuan di sela-sela antara layar dan diagram jam di sana.
20.14
Tak ada pesan baru. Tak ada kabar. Tak ada balasan dari pesan terakhirnya satu jam lalu. Nan, pulang jam berapa? Aku tunggu makan malam. Pesan itu sudah centang dua, belum dibuka.
Arini meletakkan ponselnya di meja. Ia tahu, mungkin Adnan benar-benar sibuk, ia harus mengerti itu dan harus selalu memakluminya. Setidaknya seperti itulah kata Mama mertuanya dua bulan yang lalu. Saat kedua orang tua Adnan berkunjung, setelah sekian lama.
Adnan memang selalu sibuk. Rapat dengan klien, kunjungan proyek, revisi desain, makan malam bisnis, presentasi investor. Jadwal suaminya seperti tembok yang tinggi dan licin. Sulit dipanjat, mustahil ditembus dan di situ Arini mulai lelah, mulai bosan, ada rasa sepi merayap di sendi-sendi hatinya.
Tiga tahun pernikahan dan Arini masih belum tahu bagaimana caranya masuk ke dalam dunia laki-laki itu tanpa merasa seperti tamu. Pintu utama terbuka hampir setengah jam kemudian. Bayangan Adnan mulai terlihat dari siluet jendela kaca besar samping pintu.
Suara langkah kaki yang mantap terdengar melewati foyer, disusul aroma parfum maskulin yang ringan namun tegas. Arini refleks menegakkan tubuhnya, sedikit merapikan rambut dan gaunnya.
Ada jeda aneh antara lega dan kecewa yang selalu datang setiap Adnan pulang terlambat. Lega karena akhirnya pria itu benar-benar muncul. Kecewa karena ia tahu, kepulangan itu belum tentu berarti kehadiran.
Adnan masuk ke ruang makan sambil melonggarkan dasinya sedikit. Setelan abu-abunya masih rapi, rambutnya tetap tertata, dan sorot matanya terlihat lelah dalam cara yang tertahan. Lelaki itu berhenti sejenak ketika melihat meja makan yang sudah tersusun. Mencoba mengamati apa yang ada di depannya.
“Kamu belum makan?” tanyanya pada Arini yang masih saja menatapnya dengan tetap menampakkan senyum manis, layaknya seorang istri pada umumnya.
Arini menatap wajah suaminya beberapa detik sebelum menjawab, “Menunggu kamu.”
Adnan melirik jam tangannya singkat, “Harusnya enggak usah. Aku bilang ada meeting sore ini.”
“Meeting sampai malam?”
“Ada pembahasan tambahan.”
Jawaban itu meluncur datar, pendek, dan bersih, seperti pintu yang ditutup pelan dari arah dalam. Lalu menguncinya rapat-rapat dan kunci itu di masukkan pada brangkas besi. Begitu rapat untuk sekedar membukanya lagi.
Arini menarik kursi untuknya, “Ya sudah, makan dulu, ya sayang. Bu Sum masak sup krim jamur sama salmon panggang, kamu suka, kan?”
Adnan duduk, “Terima kasih.” Hanya itu, kata-kata yang sama terulang dan seakan hafal di luar kepala Arini. Terasa biasa tapi begitu dingin menusuk lubuk hati Arini.
Arini ikut duduk di seberangnya di bawah cahaya lampu gantung. Wajah suaminya tetap tampan dalam cara yang sulit dibantah. Garis rahangnya tegas, matanya tajam, gerak-geriknya tenang dan penuh kontrol. Banyak perempuan pernah diam-diam iri padanya.
Karena memiliki suami seperti Adnan Mahendra. Mapan, cerdas, tidak main perempuan, tidak kasar, tidak pernah mempermalukan istri di depan orang. Selalu mencukupi kebutuhan finansial istrinya. Terlihat sangat sempurna bagi orang-orang di luar sana.
Sayangnya, tak ada seorang pun yang tahu betapa heningnya hidup bersama pria seperti itu. Arini seakan tercekik dalam diam. Seakan terbelenggu jeruji besi tak terlihat.
Makan malam berlangsung dengan bunyi sendok dan garpu yang sesekali bersentuhan dengan piring. Arini menyobek kecil daging salmonnya. Meletakkan setengah di atas piring suaminya. Setengah lagi di atas piringnya sendiri. Lalu akhirnya membuka percakapan lebih dulu demi memecah sunyi yang kian menjalar.
“Tadi siang aku ketemu Kak Vina,” ujarnya pelan.
“Dia baru melahirkan dua minggu lalu. Bayinya lucu sekali.”
Adnan tidak langsung menjawab. Ia menelan makanannya lebih dulu, baru mengangguk singkat, “Hm.”
Arini tersenyum tipis, meski dadanya mendadak sesak, “Dia cerita sekarang tidur selalu kurang, tapi katanya capeknya hilang kalau lihat bayinya.”
“Kak Vina memang dari dulu ingin cepat punya anak.” Ucap Adnan masih berkutat dengan sendok dan garbu yang terus mengambil nasi dan lauk di depannya. Tanpa sedikit saja menoleh atau menatap Arini.
“Iya.” Arini menunduk, menusuk kentangnya perlahan, “Semua orang memang sepertinya sedang punya anak.”
Baru kali itu Adnan mengangkat pandangan dengan benar. Matanya jatuh ke wajah istrinya, menangkap nada yang sengaja ditahan di sana. Menatap kedalaman bola mata Arini dengan tetap menghadirkan rasa kebekuan.
“Arini.” suaranya tenang, terlalu tenang.
“Kita sudah pernah bahas soal ini.”
Arini menatap balik, “Aku tahu.”
“Kalau pemeriksaan dokter bilang belum ada masalah medis yang serius, berarti kita tinggal tunggu.” Ucap Adnan dan kembali menyendok sedikit nasi di atas piring.
“Tinggal tunggu?” Ada tawa kecil yang lolos dari bibir Arini, pendek dan nyaris getir, “Tiga tahun, Nan.”
Adnan meletakkan garpunya sedikit memaksa garbu, agak menekan pada meja, “Aku tahu sudah tiga tahun.”
“Kadang aku cuma capek dengar orang bilang sabar, sabar, sabar, ” Arini menelan ludah, berusaha menjaga suaranya tetap stabil.
“Aku juga capek pura-pura enggak apa-apa setiap ada yang tanya, kapan punya momongan.” Getar bibir Arini mulai kering selaras dengan kerongkongannya yang mulai agak tersedak. Bukan karena nasi atau daging yang kasar, melainkan oleh rasa sakit yang akhir-akhir ini terasa. Akibat ribuan hal tentang kehadiran buah hati yang belum ada.
“Lalu kamu maunya aku jawab apa?”
Arini terdiam sepersekian detik, “Aku maunya… kamu ada.”
Kerutan tipis muncul di antara alis Adnan. “Maksudnya?”
“Maksudnya kamu benar-benar ada,” Suara Arini melemah, tapi justru di situ letak kejujurannya.
“Bukan cuma pulang, mandi, makan, lalu sibuk lagi dengan laptop atau ponsel kantor. Aku ini istri kamu, Nan. Kadang aku ingin diajak ngomong. Ingin ditemani. Ingin merasakan kita berdua memang sedang menjalani ini sama-sama.”
Adnan menyandarkan punggungnya pelan. Napasnya tertahan sejenak, lalu keluar dalam hela pendek yang nyaris tak terdengar, “Aku kerja buat kita.”
“Aku enggak bilang kamu enggak kerja buat kita.” Jawab Arini mulai dengan agak menekan suara. Tapi tetap ia kontrol agar tak seolah ia melawan.
“Semua yang kamu mau ada, ”Tatapan Adnan beralih ke sekitar ruangan, seolah rumah itu sendiri bisa menjadi bukti.
“Rumah ini, mobil, kenyamanan, keamanan, semuanya” tegas Adnan kembali menatap Arini dengan mata yang mulai menekankan rasa penghakiman.
“Aku enggak sedang minta barang.” Nada suara Arini kali ini sedikit lebih tinggi. Tidak keras, tapi cukup untuk membuat udara di antara mereka berubah tegang.
“Aku enggak pernah menikah sama kamu karena rumah ini, Nan.” Kali ini suara Arini tampak rendah agak mengiba.
Adnan menatapnya lama. Sorot matanya tak marah, tapi membuat Arini selalu merasa sedang berdiri di depan dinding batu.
“Lalu karena apa?” tanya Adnan.
Pertanyaan itu semestinya sederhana, tapi entah kenapa terasa seperti pisau tipis. Arini membuka bibir, lalu menutupnya lagi. Karena apa? Karena dulu Adnan tidak sedingin ini. Karena dulu pria itu memandangnya seolah tak ada perempuan lain di ruangan. Karena dulu, di sela kesibukan dan ambisinya, Adnan masih punya waktu tertawa pelan saat Arini salah mengucapkan istilah arsitektur.
Karena dulu, tangan itu menggenggam jemarinya di bioskop, di mobil, di meja makan, seolah sentuhan kecil pun penting. Entah kapan semuanya berubah jadi jadwal. Jadi kewajiban. Jadi rutinitas yang rapi tapi tidak hangat.
“Karena aku mencintai kamu,” jawab Arini akhirnya, sangat pelan. Mencoba kembali menetralisir suasana yang sudah kadung tegang.
Ekspresi Adnan tak banyak berubah. Justru itu yang membuat dada Arini semakin tenggelam. Ia tak tahu apa yang lebih menyakitkan dari pada dibentak, atau dihadapi dengan wajah setenang itu saat ia sedang membuka isi hatinya.
“Aku juga mencintaimu,” kata Adnan.
Kalimat itu mestinya menenangkan. Namun di telinga Arini, kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang sudah dihafalkan terlalu sering sampai kehilangan isi.
Setelah makan malam, Adnan membawa laptopnya ke ruang kerja di lantai dua. Seperti biasa. Tanpa pertengkaran besar. Tanpa pintu dibanting. Tanpa suara tinggi. Hanya keheningan yang jauh lebih melelahkan daripada ribut mana pun.
Arini berdiri cukup lama di dapur kering, menatap pantulan dirinya pada pintu oven yang gelap. Wajahnya masih cantik. Kulitnya masih terawat. Tubuhnya masih ramping. Senyumnya masih manis saat dibutuhkan. Ia masih tahu cara berpakaian, bersikap, dan berbicara sebagai istri seorang pria terpandang.
Lalu kenapa ia tetap merasa gagal?
Bu Sum menghampiri dengan langkah hati-hati, “Ibu mau saya buatkan teh?”
Arini tersentak kecil, lalu buru-buru tersenyum, “Enggak usah, Bi. Aku mau ke atas saja.”
“Baik, Bu.”
Saat di kamar tidur utama, suasana terasa sama seperti ruang lain di rumah itu: mewah, bersih, dan terlalu sunyi. Arini duduk di tepi tempat tidur, lalu membuka laci nakas. Dalamnya ada map bening berisi hasil pemeriksaan dari dua rumah sakit berbeda, resep vitamin, jadwal masa subur yang pernah ia catat rapi, dan foto USG kosong yang entah kenapa masih ia simpan, padahal tak pernah ada janin di sana.
Ia mengusap ujung map itu pelan. Awalnya ia berpikir, ketiadaan anak hanya soal waktu. Lalu bulan berganti tahun, dan pertanyaan dari keluarga mulai terdengar seperti ketukan halus yang tak ada habisnya.
“Sudah isi belum?”
“Coba liburan, siapa tahu lebih rileks.”
“Atau jangan terlalu sibuk.”
Atau yang paling menyakitkan, disampaikan dengan senyum setengah iba.
“Adnan ingin anak, kan?”
Seolah semuanya selalu akan kembali ke sana. Kembali pada tubuhnya. Pada rahimnya. Pada kemampuannya memberi keturunan yang tak kunjung terealisasi.
Adnan tak pernah menyalahkannya. Tidak sekali pun. Ia justru bersikap rasional, menemaninya kontrol saat sempat senggang, membayar dokter terbaik, dan mengatakan mereka tidak perlu mendengar omongan orang.
Tapi ketenangan Adnan kadang terasa lebih dingin daripada tuduhan. Seakan bagi lelaki itu, semua bisa ditaruh rapi dalam kotak lalu disimpan baik-baik sampai waktunya tiba. Sementara Arini tidak hidup seperti itu. Ia merasakan semuanya terlalu penuh. Terlalu dekat dengan kulit. Terlalu bising di kepala.
Pintu kamar terbuka sekitar pukul sepuluh. Adnan masuk setelah mandi, mengenakan kaus gelap dan celana tidur panjang. Rambutnya sedikit lembap. Ia tampak lebih santai, tapi tetap membawa aura yang sama: tertata, tenang, sulit disentuh.
“Kamu belum tidur?” tanyanya.
Arini menggeleng, “Belum mengantuk.”
Adnan mengambil ponselnya dari meja, mengecek beberapa pesan, lalu menaruhnya lagi, “Besok aku ke Jakarta pagi.”
Arini mengangkat wajah, “Besok?”
“Iya. Meeting dengan investor. Mungkin pulang lusa.”
Ada jeda singkat sebelum Arini bertanya, “Baru tahu sekarang?”
“Finalnya baru sore tadi.” Jawab Adnan.
Arini mengangguk pelan. Tentu saja. Semua hal penting di hidup suaminya memang sering datang kepadanya paling akhir, seperti catatan tambahan yang diselipkan setelah semua keputusan dibuat.
“Kamu ikut?” tanya Adnan tiba-tiba.
Arini sedikit terkejut, “Ke Jakarta?”
“Kalau mau.”
Pertanyaan itu membuat dadanya bergerak tipis. Ada secuil harapan kecil yang bodoh, hangat, dan nyaris memalukan, “Kamu mau aku ikut?”
Adnan menatapnya, “Kalau kamu bosan di rumah.”
Harapan kecil itu padam secepat munculnya. Bukan aku ingin kamu ikut. Bukan aku akan senang kalau kamu ada di sana. Hanya karena bosan di rumah.
Arini tersenyum tipis untuk menutupi rasa perih yang mulai menjalar pelan, “Enggak usah. Kamu fokus kerja saja.”
Adnan mengangguk, “Baik.”
Ia mematikan lampu sisi tempat tidurnya, menyisakan cahaya temaram dari lampu sudut. Beberapa menit kemudian, napas lelaki itu mulai teratur. Tidur dengan mudah, seperti orang yang tidak memiliki suara berisik di kepalanya.
Arini berbaring membelakanginya. Matanya terbuka menatap gelap. Di antara mereka hanya ada jarak beberapa senti di atas ranjang king size itu, tapi rasanya lebih jauh daripada dua kota.