Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
​REGENERASI MILIARDER: MENGUASAI DUNIA DAN HATI DI TAHUN 1990

​REGENERASI MILIARDER: MENGUASAI DUNIA DAN HATI DI TAHUN 1990

Erchapram | Bersambung
Jumlah kata
65.8K
Popular
225
Subscribe
79
Novel / ​REGENERASI MILIARDER: MENGUASAI DUNIA DAN HATI DI TAHUN 1990
​REGENERASI MILIARDER: MENGUASAI DUNIA DAN HATI DI TAHUN 1990

​REGENERASI MILIARDER: MENGUASAI DUNIA DAN HATI DI TAHUN 1990

Erchapram| Bersambung
Jumlah Kata
65.8K
Popular
225
Subscribe
79
Sinopsis
18+FantasiSci-FiReinkarnasiMengubah NasibTime Travel
Arga Sutrisno mati di usia tiga puluh dua tahun. Tidak dramatis... Tapi mati karena tertabrak sebuah truk di Jakarta. Dompet kosong, dan satu pesan yang tidak sempat terkirim ke ibunya. Penyesalan jadi hal terakhir yang ia rasakan sebelum gelap.Mata berikutnya terbuka, ia berumur tujuh belas tahun. Tahun 2003. Kamar yang sama, dinding cat kuning yang sama, dan bau masakan ibu dari dapur yang masih sama persis.Tapi sesuatu sudah berbeda, di kepalanya tersimpan tiga puluh dua tahun ingatan yang tidak dimiliki siapapun di desa itu. Ia tahu kapan harga tanah akan melonjak. Ia tahu jalur proyek jalan kabupaten yang belum ada di peta manapun. Ia tahu siapa yang akan berkhianat, siapa yang akan jatuh, dan kesalahan apa yang akan membuat keluarganya kehilangan segalanya.Yang paling ia ingat adalah nama Pak Darmo, tengkulak desa yang terlihat ramah saat di warung kopi, tapi terlalu mematikan saat di belakang layar. Pria yang dalam dua tahun ke depan akan menjebak ayahnya dengan utang yang sudah disiapkan seperti perangkap, dan mengambil sawah keluarga yang digarap dua puluh tahun.Arga tidak datang kembali untuk jadi pahlawan. Ia datang karena tidak ingin mati untuk kedua kalinya dengan tangan kosong.Dari pematang sawah yang becek sampai lobi kantor pertanahan, dari lapak bibit kecil sampai tanah-tanah strategis yang tidak ada harganya hari ini. Arga membangun ulang satu hal yang tidak bisa dibeli di kehidupan pertamanya, posisi yang tidak bisa diinjak.
Bab 1 - Tanah yang Makan Tulang

Hal pertama yang Arga rasakan bukan sakit. Yang pertama adalah bau.

​Bau tanah basah setelah hujan sore, bercampur dengan bau besi berkarat yang amis. Itu bau darahnya sendiri yang sudah mulai mengering di bawah hidung. Dan satu lagi… bau keringat matahari dari orang asing yang berdiri terlalu dekat di atasnya.

​Arga mencoba menarik napas. Sial. Dadanya serasa ditusuk belati karatan. Tiga tulang rusuk kirinya patah, ia tahu rasanya karena pernah alami ini sebelumnya, di masa depan yang seharusnya tidak terjadi lagi.

​"Woy, bangun!" Suara itu datar, kasar, dan sangat familiar.

​Arga membuka mata kelopaknya terasa seberat batu bata. Pandangannya kabur, tapi ia bisa mengenali siluet tiga pria yang berdiri mengelilinginya.

Salah satunya, pria berkaus singlet luntur dengan tato naga murahan di lengan, memegang gagang cangkul. Ujung cangkul itu baru saja mampir ke perut Arga lima menit yang lalu.

​"Udah dibilang dari kemarin," si tato naga bicara lagi, nada suaranya bosan. "Sawah ini bukan hak keluargamu lagi. Bapakmu udah utang banyak ke Pak Darmo. Tanda tangani aja surat ini, beres. Kamu nggak perlu mati konyol di sini."

​Ia melempar selembar kertas lusuh dan sebuah pulpen ke tanah, tepat di depan muka Arga yang berlumuran lumpur dan darah.

​Arga tidak menjawab. Ia menatap kertas itu dengan pandangan benci. Ini tahun 2003. Ia ingat betul hari ini. Hari di mana kehancuran keluarganya dimulai secara resmi. Di kehidupan pertamanya, ia lari ketakutan. Ayahnya kemudian menandatangani surat itu karena putus asa, dan dua tahun kemudian, mereka terusir dari desa, jadi gembel di kota. Arga mati di Jakarta tahun 2035, tertabrak truk dengan dompet kosong dan penyesalan sedalam lautan.

​Tapi sekarang, ia kembali.

​Dengan sisa tenaga yang rasanya mustahil ada, Arga mencengkeram rumput basah. Ia batuk, menyemburkan darah kental ke tanah merah.

​"Heh! Malah diem! Budeg kamu?" Pria kedua, yang badannya kurus tinggi, menendang bahu Arga.

​Sakitnya luar biasa, tapi Arga justru tertawa. Suara tawa yang parau, basah, dan terdengar mengerikan di telinga mereka.

​"Kenapa kamu ketawa? Gila ya?"

​Arga berhenti tertawa. Ia menatap lurus ke mata pria bertato naga. Di kehidupan dulu, mata itu membuatnya kencing di celana. Sekarang? Mata itu cuma terlihat bodoh.

​"Aku nggak akan tanda tangani apa pun," kata Arga. Suaranya pelan, tapi jelas. "Dan bilang sama bosmu, Darmo licik itu... sawah ini nggak akan pernah jadi miliknya."

​Hening sebentar. Tiga preman itu saling pandang, tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar dari mulut anak ingusan yang biasanya gemetar kalau melihat bayangan mereka sendiri.

​"Nglunjak kamu ya!" Si tato naga mengangkat gagang cangkul tinggi-tinggi.

​BUK!

​Pukulan itu telak menghantam rahang kiri Arga sebelum kalimatnya selesai bergema di udara sore yang lembap. Tubuh Arga tersentak jatuh lagi ke pematang sawah. Pipinya menghantam batu kali kecil, terasa hangat sebentar sebelum rasa sakit yang melumpuhkan syaraf mulai menjalar.

​Di kejauhan, asap dapur rumahnya mengepul tipis ke langit yang mulai menggelap. Ibunya pasti sedang masak nasi, mungkin jengkol balado kesukaannya. Adiknya, Rini, mungkin baru pulang sekolah dan sedang mengerjakan PR di meja reyot mereka.

​Mereka nggak tahu. Nggak ada yang tahu kalau anak sulung kebanggaan mereka sedang sekarat di tepi sawah milik sendiri, dikeroyok tiga anjing buduk suruhan tengkulak desa.

​Amarah liar meledak di dada Arga, lebih panas dari rasa sakit di tulang rusuknya. Ia marah pada Pak Darmo, marah pada dunia yang tidak adil, dan paling marah pada dirinya sendiri yang dulu begitu lemah.

​Aku udah pernah mati sekali, batin Arga, giginya bergemeletuk menahan perih. Di trotoar Jakarta yang panas, sendirian, nggak punya apa-apa.

​Aku nggak akan mati lagi untuk hal yang sama. Nggak di tahun 2003 ini. Nggak di tanah ini.

​Dengan susah payah, Arga mengangkat wajahnya dari tanah. Lumpur bercampur darah mengotori seluruh mukanya. Pandangannya makin kabur, berputar-putar, bintik-bintik hitam mulai bermunculan. Tubuhnya Degradasi dengan cepat, tenaganya habis.

​Tapi mulutnya masih bisa bergerak. Ia meludah, darah dan liur mendarat di ujung sepatu boot si tato naga.

​Arga menyeringai, memperlihatkan gigi-giginya yang merah. "Cuma segitu kemampuan kalian? Kalian... sudah selesai?"

​Pria bertato naga itu mengepalkan tangan, wajahnya merah padam karena terhina. Ia mengangkat cangkulnya lagi, kali ini bukan gagangnya, tapi bagian besinya yang tajam yang diarahkan ke kepala Arga. Ia benar-benar ingin membunuh anak ini.

​"Mati kamu!"

​Namun, gerakan cangkul itu terhenti di udara. Pria kurus tinggi di sebelahnya menahan lengan si tato naga.

​"Sst, denger nggak?" bisik si kurus, wajahnya tiba-tiba pucat.

​Dari kejauhan, terdengar suara riuh rendah. Suara obor yang menyala dan teriakan beramai-ramai. Warga desa.

​Si tato naga melirik Arga, lalu melirik ke arah suara warga yang makin mendekat. Ia meludah kesal. "Sial! Ayo cabut! Urusan kita belum selesai, Bocah. Inget itu."

​Mereka bertiga berbalik dan lari tunggang langgang menembus semak-semak di pinggir sawah, meninggalkan surat palsu dan pulpen di tanah.

​Arga menghela napas lega, rasa sakitnya langsung menghantam bertubi-tubi begitu adrenalinnya turun. Dunianya menggelap dengan cepat. Ia tahu ia selamat untuk hari ini. Rencana pertama sudah berjalan di kepalanya, meski badannya remuk redam. Lawan belum selesai, Pak Darmo baru saja akan memulai permainan kotornya yang sesungguhnya.

​Tapi, saat Arga perlahan kehilangan kesadaran, ia merasakan sesuatu yang aneh di dalam benaknya.

​Sebuah fragmen ingatan asing, mimpi buruk yang bukan dari masa lalunya yang dulu, tiba-tiba muncul dengan sangat jelas. Ia melihat dirinya sendiri di masa depan, bukan di Jakarta, tapi di desa ini, berdiri di atas tumpukan mayat warga desa yang hangus terbakar, dan tangannya sendiri memegang obor.

​Apa... apa ini? Arga tersentak, mencoba membuka mata tapi tidak bisa.

​Ingatan itu menghilang secepat munculnya, meninggalkan rasa takut yang dingin di hatinya. Mengubah masa depan ternyata menciptakan monster yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Dan monster itu... mungkin adalah dirinya sendiri.

​Arga tersenyum pahit dalam kegelapan, sebelum kesadarannya benar-benar hilang. Cerita baru saja dimulai, dan harganya... ternyata jauh lebih mahal dari yang ia bayangkan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca