

Gemuruh bass memompa denyut jantung klub malam eksklusif itu, seolah mencoba menenggelamkan setiap rahasia yang bersembunyi di sudut-sudut gelapnya. Di tengah lautan cahaya ungu dan merah, Lorenzo duduk—sosok yang menarik sekaligus berbahaya. Ia menyandarkan tubuh atletisnya di sofa kulit hitam yang mewah, menikmati wiski kristal yang dingin. Matanya yang tajam mengamati keramaian, namun ekspresinya tak terbaca, seolah ia adalah pengamat di panggung yang ia miliki.
Di sebelahnya, seorang wanita berambut coklat panjang bergelombang dengan pakaian seksi merahnya , Kira, tersenyum manis sambil menuangkan sisa mixer ke dalam gelas Lorenzo. Itu adalah senyum yang terlalu lebar. Tepat saat botol itu ditarik, gerakan kecil, hampir tak terlihat, terjadi: Kira menjepit sesuatu dari balik kukunya dan menjatuhkannya ke cairan emas Lorenzo ketika pria itu menikmati pemandangan di lantai dansa.
Namun, di meja bar yang berjarak beberapa langkah, sepasang mata secerdas batu safir telah menangkap seluruh adegan itu. Itu adalah Alanta. tamu biasa bahkan tak dianggap karena ia bukan bagian dari keramaian mewah itu sebab wanita itu bukan siapa-siapa. dia datang ke klub ini hanya ingin merasakan berada di dalam klub malam sebelum ia pindah ke luar kota, sebab satu-satunya yang belum pernah dikunjungi di kota ini adalah klub terkenal ini, jadi sebelum benar-benar pergi merantau, ia ingin merasakan bagaimana berada di klub malam terkenal ini. dengan gaun hitam sederhana dan tatapan lurusnya membuatnya terlihat seperti anomali yang tak begitu diperhatikan oleh siapapun. Hanya saja mata yang sedang menyebarkan pandangannya, mengamati setiap detail tempat sambil menikmati alunan musik, tak sengaja melihat serbuk kecil itu larut dalam minuman mahal, instingnya menjerit.
Alanta bergerak. Tanpa peduli pada protokol sosial atau bahaya, ia menerobos kerumunan dan membanting tangan Kira sebelum wanita itu sempat menyajikan gelas beracun itu kepada Lorenzo.
"Jangan sentuh gelas itu!" bentak Alanta, suaranya sedikit serak tapi jelas terdengar di tengah kebisingan.
Kira berbalik, tatapan manisnya kini berubah menjadi cakar tajam. "Siapa kau? Berani sekali kamu meletakkan kakimu disini! Apa kamu bosan hidup, bitch?
"Aku melihatnya." balas Alanta, menunjuk gelas itu. "Apa yang kau masukkan ke sana, Serbuk apa itu?"
Kira tertawa, tawa yang dibuat-buat dan keras, berusaha menenggelamkan tuduhan itu. Ia meletakkan minuman tersebut lalu mendekati Alanta, suaranya merendah tapi penuh ancaman. "Kau mabuk, Sayang. Itu hanya booster mahal untuk klien VIP. Kau pikir kau siapa, malaikat pelindung? Kembali ke pojokmu sebelum kau mendapat masalah besar."
"Aku tidak mabuk," desis Alanta, menahan dorongan untuk menampar wajah palsu Kira. "Aku melihatnya. Serbuk kecil di balik kukumu."
Sementara kedua wanita itu saling melontarkan ancaman di dekat sofa, Lorenzo adalah pusat ketenangan yang menipu. Ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda terkejut, panik, atau bahkan tertarik pada fakta bahwa salah satu wanita itu mungkin baru saja mencoba membunuhnya.
Ia tetap bersandar di sofa empuknya, kepalanya sedikit dimiringkan, seolah sedang menonton episode final dari serial favoritnya. Sebuah cerutu mahal terselip santai di antara jari-jarinya. Lorenzo tidak mengeluarkan suara. Ia hanya membiarkan asap tebal dari cerutunya mengepul perlahan ke udara, menciptakan tirai kabut yang memisahkan dirinya dari kekacauan di depannya.
Matanya, berwarna gelap dan setajam pisau, bergerak lambat mengikuti gerakan Kira dan Alanta. Alih-alih mencari kebenaran atau mengamankan diri, ia justru terlihat sedang melakukan analisis dingin. Siapa yang paling meyakinkan? Siapa yang memiliki motivasi terkuat untuk berbohong?
Senyum tipis yang tak terbaca terukir di sudut bibirnya. Itu bukan senyum lega karena diselamatkan, melainkan senyum seorang ahli strategi yang merasa terhibur karena umpan kecilnya telah dimakan oleh dua ikan yang tak terduga. Bagi Lorenzo, pertikaian mereka adalah pertunjukan yang paling jujur dan menghibur di klub itu—sebuah ujian spontan untuk menilai loyalitas dan keberanian dalam keadaan darurat. Nyawanya mungkin menjadi taruhan, tetapi bagi pria seperti dia, hidup di antara ancaman adalah statusnya sebagai pemain di dunia gelap.
Ia mengangkat gelas wiski beracun yang menjadi sumber perdebatan itu, mengocoknya pelan, menikmati gemerincing es dan racun yang kini bercampur.
Siapa pun yang benar, pikirnya santai, malam ini akan menjadi menarik.
Ia menunggu. Ia menunggu siapa yang akan menyerah atau melakukan kesalahan fatal berikutnya, menikmati setiap detik pertunjukan di mana ia, sang target, adalah satu-satunya juri.
Kira mendengus, merangkul lengan Lorenzo dengan genit, seolah mencari perlindungan sekaligus menunjuk kekuasaannya. "Bos, wanita ini gila. Dia mengganggu layanan saya. Saya membawa minuman kesukaan Anda. Dia cemburu, itu saja."
Lorenzo hanya menyeringai tipis di balik asap cerutunya, matanya bergantian dari Alanta ke Kira, menikmati tontonan itu. Ia tidak bergerak.
Alanta merasa darahnya mendidih melihat sikap acuh tak acuh Lorenzo dan kebohongan Kira. "Cemburu? Aku bahkan tidak mengenal pria ini! Tapi mataku tidak buta saat aku tak sengaja melihat kamu memasukkan bubuk itu diam-diam!" Alanta mencondongkan tubuh ke arah Lorenzo, nadanya penuh peringatan, "Wanita ini... dia berusaha mencelakai Anda dengan senyum. Tanyakan padanya!"
"Kau yang patut dipertanyakan!" sergah Kira, bangkit lalu mendorong bahu Alanta dengan kasar. "Kau datang entah dari mana, menuduh tanpa bukti! Apa motivasimu? Mau perhatian dari Bos? dasar penjilat wanita murahan."
"Aku tidak menjual diri sepertimu. Jika benar minuman itu tidak beracun, ayo, minum!" tantang Alanta, menunjuk gelas wiski beracun di meja.
Kira menampar kasar pipi alanta tanpa peringatan lalu berkata dengan amarah. "Aku tidak perlu membuktikan apa-apa pada wanita murahan sepertimu! Aku hanya melayani Tuan Lorenzo!"
Pada saat ketegangan mencapai puncaknya, tepat ketika Alanta hendak membalas tamparan kira, musik tiba-tiba terhenti. Suara dentuman bass yang tadinya dominan seketika lenyap, digantikan oleh keheningan klub yang mencekam. Semua mata kini tertuju pada sofa mewah tempat dua wanita itu bertikai di hadapan Lorenzo.
Entah siapa yang mematikan musiknya, tetapi keheningan yang mematikan itu segera menarik semua perhatian. Sorot lampu sorot jatuh tepat ke arah sofa, menjadikan pertikaian dua wanita itu sebagai pertunjukan utama.
Lorenzo, sang target, sama sekali tidak terlihat panik. Ia menyilangkan kaki, mengambil cerutu lagi dari saku jasnya, dan menyalakan api dengan tenang, sambil menyaksikan drama itu dengan senyum kecil yang sama sekali tidak memiliki rasa terima kasih.
"Lanjutkan, lanjutkan," ucap Lorenzo santai, mengembuskan asap tipis. "Satu bilang aku diracun, yang lain bilang itu adalah sajian terbaik. Menarik."
Kira berusaha menjelaskan dengan nada mendesak, "Bos, dia hanya pengacau. Itu hanya suplemen vitamin mahal!"
"Tapi kamu terlihat diam-diam menyembunyikannya!" potong Alanta dengan napas terengah. "Saya melihatnya! Dia pasti mencoba berbuat buruk!"
Lorenzo hanya tersenyum lebih lebar, senyum yang terasa dingin dan kejam. Ia mengambil gelas itu, mengocoknya pelan, lalu mengarahkannya ke Alanta.
"Baiklah, Nona Pahlawan," kata Lorenzo, matanya memancarkan tantangan maut. "Jika kau yakin itu racun, dan karena kau yang menyelamatkanku ...," Lorenzo diam sejenak, lalu melanjutkan perintahnya yang menohok, "minumlah."
Wajah Alanta memucat karena penghinaan dan kemarahan. Pria yang baru saja ia selamatkan ini meminta bukti pengorbanan nyawanya sendiri! sama sekali tidak menyangka dirinya justru diperlakukan seperti ini. Lalu tanpa berpikir panjang Ia meraih gelas itu, matanya berkilat marah.
"Seharusnya aku biarkan saja dia meracunimu!" desis Alanta. Dengan sentakan cepat, Alanta tidak meminumnya, melainkan menyiramkan seluruh isi gelas beracun itu ke dada jas mahal Lorenzo, meninggalkan noda gelap yang perlahan menyebar.
"Kau pantas mati!" umpat Alanta, sebelum berbalik dalam hitungan detik masing-masing lengannya di cekal kasar oleh pria berbadan besar berotot yang muncul dalam sekejab mata sehingga membuat Alanta terkejut setengah mati. Kepala bergantian menoleh ke kanan kiri melihat pria-pria mengerikan yang mencekalnya ini. Niatnya berbuat baik justru malah membahayakan dirinya sendiri. Bodoh. Sedangkan Lorenzo yang tadinya tersenyum pada akhirnya menghilang dari wajahnya. Tamatlah sudah wanita bernama Alanta itu.