Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Kurir Paket: Pewaris Kitab Iblis Surgawi

Kurir Paket: Pewaris Kitab Iblis Surgawi

mahendreas | Bersambung
Jumlah kata
89.1K
Popular
686
Subscribe
256
Novel / Kurir Paket: Pewaris Kitab Iblis Surgawi
Kurir Paket: Pewaris Kitab Iblis Surgawi

Kurir Paket: Pewaris Kitab Iblis Surgawi

mahendreas| Bersambung
Jumlah Kata
89.1K
Popular
686
Subscribe
256
Sinopsis
PerkotaanAksiMafiaKekuatan SuperUrban
Bayu hanyalah seorang kurir miskin yang menghabiskan hidupnya membelah kemacetan Jakarta demi recehan. Namun, sebuah paket misterius yang salah alamat mengubah darahnya menjadi sirkuit energi purba. Kini, ia bukan lagi sekadar pengantar barang, melainkan kunci kiamat yang diburu oleh tuhan-tuhan digital dari luar angkasa. Saat seluruh dunia ingin memilikinya, Bayu harus memilih: menjadi senjata pemusnah atau menjadi pelindung terakhir yang tidak pernah dianggap ada.
BAB 1: SISA HUJAN DI JAKARTA

Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, ia hanya beristirahat sejenak dalam kebisingan yang diredam hujan. Di bawah lampu jalanan kawasan Slipi yang berkedip-kedip, Bayu Reksa menepikan motor bebeknya. Mesin tua itu terbatuk, mengeluarkan asap tipis sebelum akhirnya mati total. Bayu menghela napas, uap dingin keluar dari mulutnya saat ia membuka kaca helm yang sudah baret di sana-sini.

Ia merogoh saku jaket kurir hijaunya yang sudah memudar, mengambil sebuah ponsel dengan layar yang retak seribu.

“Pesanan Selesai. Pendapatan: Rp12.000.”

Bayu menyandarkan kepalanya di stang motor. Angka itu bahkan tidak cukup untuk membeli seporsi nasi padang dengan lauk ayam. Di kota ini, Bayu adalah sosok yang transparan. Ia adalah satu dari ribuan kurir yang membelah kemacetan, pengantar paket yang kehadirannya hanya dianggap penting saat bel pintu berbunyi, dan dilupakan sedetik setelah barang berpindah tangan.

"Satu lagi, Bay. Satu lagi buat bayar kontrakan," gumamnya menyemangati diri sendiri.

Di lehernya, tergantung sebuah kalung sederhana dengan liontin cincin kayu hitam (Galih Kelor). Itu adalah satu-satunya peninggalan ibunya, seorang wanita lembut yang menghabiskan hidupnya sebagai pelayan di rumah megah keluarga Mahardika sebelum akhirnya meninggal karena sakit yang tak terobati. Bayu tidak pernah tahu siapa ayahnya, dan ia tidak pernah bertanya. Baginya, bertahan hidup di Jakarta sudah cukup menyita seluruh energinya.

Pertemuan yang Menghina

Lampu merah di persimpangan Senayan terasa lebih lama dari biasanya. Di samping motor bebek Bayu yang bergetar, sebuah mobil sport mewah berwarna merah menyala berhenti. Kaca mobil yang gelap turun perlahan, menampakkan hawa sejuk dari AC mobil yang sangat kontras dengan udara lembap di luar.

Di balik kemudi, duduk seorang pemuda seusianya dengan kemeja sutra yang rapi. Raden Arya. Bayu mengenali wajah itu; ia adalah putra mahkota Keluarga Mahardika. Arya adalah definisi dari "puncak rantai makanan" di Jakarta.

Arya melirik motor Bayu dengan pandangan seolah melihat tumpukan sampah. Ia menutup hidungnya dengan sapu tangan kecil.

"Hei, Kurir," panggil Arya, suaranya halus namun penuh racun. "Bisa kau geser rongsokanmu itu? Asap knalpotmu bisa mengotori lapisan keramik mobilku. Lagipula, baumu merusak udara malam ini."

Teman wanita di samping Arya tertawa kecil, menatap Bayu dengan tatapan kasihan yang lebih menyakitkan daripada makian.

Bayu tidak menjawab. Ia hanya menunduk, mencengkeram stang motornya hingga buku-juru jarinya memutih. Di dalam hatinya, sebuah api kecil mulai menyala. Amarah yang sudah ia pendam bertahun-tahun sejak ibunya diusir dari rumah Mahardika tanpa pesangon saat jatuh sakit. Namun, Bayu tahu posisinya. Melawan Arya di tengah jalan sama saja dengan menyerahkan nyawanya pada polisi yang disuap atau preman bayaran keluarga itu.

Lampu berubah hijau. Mobil merah itu melesat, sengaja melindas genangan air di samping Bayu hingga air keruh itu menciprat dan membasahi jaket serta wajahnya.

Bayu mengusap wajahnya perlahan. "Sabar, Bay... Sabar."

Paket Misterius

Pukul 22.30 WIB, sebuah notifikasi aneh muncul di ponsel Bayu. Itu bukan dari aplikasi resminya. Pesan itu muncul dari nomor tersembunyi.

“Ambil paket di Loker Nomor 13, Stasiun Jakarta Kota. Antar ke Gudang Tua Pelabuhan Tanjung Priok sebelum tengah malam. Bayaran: Rp50 Juta. Tunai.”

Bayu tertegun. Matanya membelalak menatap angka nol di belakang angka lima itu. Lima puluh juta? Itu cukup untuk mengubah hidupnya. Logikanya berteriak bahwa ini adalah urusan gelap, narkoba, senjata, atau barang curian. Namun, saat ia melihat pesan singkat dari bapak kontrakannya yang mengancam akan membuang barang-barangnya besok pagi, Bayu tidak punya pilihan.

Ia memacu motornya menuju utara. Stasiun Kota sudah sepi saat ia sampai. Di dalam loker nomor 13, ia menemukan sebuah kotak kayu yang dibungkus kain beludru hitam. Kotak itu tidak berat, tapi terasa sangat dingin, seolah-olah suhu di dalamnya jauh di bawah titik beku.

Tanpa berani membukanya, Bayu memasukkan kotak itu ke dalam tas kurirnya dan bergegas menuju Tanjung Priok.

Perangkap di Ujung Dermaga

Kawasan pelabuhan di malam hari adalah labirin kontainer besi dan bayangan yang mengancam. Bayu menyusuri koordinat yang diberikan hingga sampai di sebuah area gudang terbengkalai yang menghadap ke laut lepas.

Tiba-tiba, mesin motornya mati secara mendadak. Sunyi. Hanya ada suara deburan ombak yang menghantam beton dermaga.

KLIK.

Tiga lampu sorot mobil high-beam menyala sekaligus dari arah kegelapan, membutakan pandangan Bayu. Tiga mobil SUV hitam besar mengepungnya.

"Sesuai jadwal. Kurir yang sangat tepat waktu," sebuah suara berat terdengar dari balik cahaya lampu.

Sekelompok pria berjas hitam turun dari mobil. Di dada kiri jas mereka, terdapat lencana kecil berbentuk garuda emas, simbol Keluarga Mahardika. Bayu gemetar. Apakah ini jebakan?

"Serahkan kotaknya, Nak," ucap pria pemimpin rombongan itu sambil mengeluarkan sebatang rokok mahal. "Dan mungkin kami akan membiarkanmu pulang dengan kaki yang masih utuh."

"Saya... saya hanya kurir. Saya ambil paket ini karena pesanan di aplikasi..."

"Aplikasi?" Pria itu tertawa dingin. "Kami yang meretas ponselmu, Bayu Reksa. Kami butuh 'tangan bersih' untuk membawa kunci ini dari brankas rahasia musuh kami. Dan sekarang, setelah kunci ini sampai di tangan kami, keberadaanmu hanya akan menjadi saksi yang merepotkan."

Bayu mencoba memutar motornya, namun salah satu pria itu bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal. Sebuah tendangan mendarat di bahu Bayu, membuatnya terpental jatuh dari motor. Tas kurirnya terlepas, kotak beludru hitam itu menggelinding di atas lantai semen yang kasar.

Pria itu menginjak tangan Bayu yang mencoba meraih kotak tersebut. KREK. Suara tulang jari yang patah memecah kesunyian malam. Bayu menjerit kesakitan, wajahnya ditekan ke lantai yang berbau oli dan air laut.

"Buang dia ke laut setelah kita ambil kotaknya," perintah sang pemimpin tanpa emosi.

Dua pria menyeret Bayu ke pinggir dermaga. Bayu meronta, darah mengalir dari luka di kepalanya dan jari-jarinya yang hancur. Darah itu menetes, membasahi lantai dermaga dan... sebagian mengenai kotak kayu yang kini berada di tangan sang pemimpin Mafia.

Bayu melihat kotak itu mulai bergetar. Sebuah cahaya ungu gelap yang sangat tipis mulai merembes dari celah-celah kayu. Langit Jakarta yang tadinya gerimis tiba-tiba berhenti. Udara di sekitar mereka seolah tersedot masuk ke dalam kotak tersebut.

"Apa-apaan ini? Kenapa kotaknya panas?!" teriak sang pemimpin Mafia, mencoba melempar kotak itu karena tangannya melepuh.

Kotak itu melayang di udara, berputar dengan kecepatan tinggi sebelum akhirnya meledak, mengeluarkan gelombang kejut yang membuat semua orang di dermaga itu jatuh terjungkal.

Di tengah-tengah ledakan itu, sebuah benda muncul. Bukan emas, bukan narkoba. Sebuah tablet logam hitam legam yang permukaannya tampak hidup, seperti cairan merkuri yang bergerak membentuk pola-pola kuno.

Bayu, yang terbaring lemah di tepi dermaga, melihat tablet itu melayang ke arahnya. Di layar tablet itu, muncul sebuah tulisan menyala yang hanya bisa dilihat oleh mata Bayu:

[ OTENTIKASI DARAH BERHASIL... ]

[ PEMILIK SAH: BAYU REKSA ]

[ MENYINKRONKAN PROTOKOL IBLIS SURGAWI... ]

"Jangan... jangan dekati aku..." bisik Bayu dengan kesadaran yang mulai menipis.

Namun tablet itu tidak berhenti. Benda itu menyentuh dahi Bayu, dan seketika, dunia di sekitar Bayu berubah menjadi kegelapan total.

Lanjut membaca
Lanjut membaca