Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
CEO YANG TAK BISA DIBUNUH

CEO YANG TAK BISA DIBUNUH

Albanna | Bersambung
Jumlah kata
101.7K
Popular
211
Subscribe
73
Novel / CEO YANG TAK BISA DIBUNUH
CEO YANG TAK BISA DIBUNUH

CEO YANG TAK BISA DIBUNUH

Albanna| Bersambung
Jumlah Kata
101.7K
Popular
211
Subscribe
73
Sinopsis
PerkotaanAksiUrbanKekuatan SuperKonglomerat
23 Peluru. Itu jumlah timah panas yang menembus dada Leonardo Arkana di ruang rapat lantai 49. Menurut hukum medis, dia harusnya sudah jadi mayat. Tapi lima menit kemudian, Leonardo berjalan keluar dari ruangan itu, meninggalkan enam mayat pasukan komando elit dengan leher patah. Tanpa senjata. Tanpa bantuan. Selamat datang di hidup Leonardo Arkana. Dia bukan sekadar CEO. Dia adalah eksperimen gagal yang lepas kendali. Saat masa lalunya datang untuk "mengambilnya kembali", Leonardo tidak lari. Dia merekrut dokter psikopat, menggoda agen intelijen negara, dan menyatakan perang pada bayang-bayang. Siapa pun yang mengira bisa membunuhnya, belum tahu apa yang hidup di balik kulitnya. "Kau bisa menembakku, tapi pastikan kau tidak meleset. Karena aku tidak akan mati, dan aku pendendam."
Darah di Ruang Rapat

Gedung Arkanatech berdiri angkuh, sebuah monumen beton dan kaca yang membelah langit kota Nagara. Dinding kaca antipeluru yang membungkusnya bukan sekadar perisai; itu adalah pernyataan diam tentang kekuasaan penghuninya. Di lantai empat puluh sembilan, aroma kopi premium berbaur dengan ambisi usang yang menggantung di udara ruang rapat utama.

Seorang direktur yang mengenakan kacamata tebal terlihat sangat bergantung pada kacamata itu, seolah-olah itu satu-satunya benda yang menopang hidupnya.

Ia terus berbicara, "... dengan proyeksi kuartal keempat ini ... kita bisa memastikan dominasi pasar Arkanatech Corporation ..." Suara panjangnya terdengar seperti notifikasi chat yang tak pernah dimatikan.

Seorang manajer muda di ujung meja berusaha menyembunyikan kantuk dengan gerakan "mencatat" agar tidak terlihat tertidur. Sementara itu, dua direktur lain mengangguk-angguk secara teratur, bukan karena memahami, tapi itu satu-satunya aktivitas yang bisa mereka lakukan selama jam kerja.

Hologram grafik pertumbuhan melayang di tengah kebosanan besar itu. Garis-garisnya yang berwarna cerah justru lebih hidup dari para pejabat yang hadir. Rapat berlangsung, terasa panjang dan tidak manusiawi, mirip tradisi lama yang tidak seorang pun berani hentikan karena takut dicap tidak profesional.

Leonardo Arkana hampir tidak mendengarkan apa-apa. Sambil membelakangi meja besar itu, dia berdiri menatap kota yang seolah berada dalam genggamannya.

Baru berusia tiga puluh dua tahun, dia menjabat sebagai CEO raksasa teknologi dan senjata siber terbesar di Republik Laksara. Media menyebutnya sebagai "The Ghost CEO", seorang jenius misterius dengan kekayaan besar dan masa lalu yang tidak jelas.

Pena perak berputar di antara jari-jarinya.

Itu adalah pena khusus dari divisi desain Arkanatech, dirancang tahan panas, anti-gores, dan pasti bisa membuatnya terlihat sibuk. Setidaknya, gerakan yang teratur itu membantu menenangkan kegelisahannya, atau mungkin mencegahnya melempar direktur ke luar jendela.

Dua lelaki muda berjas biasa berdiri kaku di dekat pintu masuk, tampak seperti staf junior yang membawa kopi.

Namun, hanya mata yang terlatih yang mampu melihat bentuk samar di balik jas mereka, atau menyadari bahwa mereka memindai ruangan alih-alih berbicara. Mereka adalah pengawal pribadi Leonardo Arkana.

Tiba-tiba, perhatian Leonardo jadi tajam. Bukan karena presentasi, tetapi ada sesuatu yang berubah. Keheningan di luar pintu terasa tidak biasa.

Lift di koridor, yang biasanya berbunyi 'ding' setiap tiga puluh detik, kini sudah diam selama tiga menit. Suara pendingin udara juga terdengar dalam ritme yang tidak biasa, seolah dayanya terputus beberapa detik.

Leonardo menghentikan gerakan penanya.

Dia menatap dingin ke dua pengawal pribadinya. Keduanya juga merasakan ketegangan yang muncul tiba-tiba. Salah satu dari mereka perlahan menggerakkan tangan ke belakang jasnya, siap bertindak.

“Tuan Bima,” ujar Leonardo, memotong presentasi dengan suara lembut namun tengah. Keheningan langsung mengisi seluruh ruangan. “Saya kira kita per …”

BRAK!

Pintu besar di sisi ruangan meledak, hancur menjadi serpihan. Teriakan kacau langsung mengisi udara. Para petinggi perusahaan yang sebelumnya bersikap angkuh kini panik, berlari mencari tempat berlindung di bawah meja rapat sambil menjerit ketakutan.

Enam lelaki berpakaian hitam taktis penuh, helm dengan visor gelap, menerobos masuk.

Senapan berperedam ditembakkan dengan mantap. Gerakannya rapi, efisien, dan mematikan.

“TUAN, TIARAP!” teriak Rama. Dalam sekejap, dia dan Doni melepaskan penyamarannya sebagai staf. Kini keduanya bergerak seperti operator tempur yang berpengalaman.

Pft!

Pft! Pft!

Desingan peluru teredam mengisi ruangan.

Rama sempat menarik pistol dan menembak dua kali. Salah satunya menghantam visor komando terdepan, membuatnya goyah. Balasan datang segera, tiga peluru menancap di dadanya. Tubuh Rama terhempas ke dinding, menyisakan semburat darah di kayu mahal itu.

“LINDUNGI CEO!” teriak Doni, langsung melompat ke depan Leonardo, menjadikan tubuhnya sendiri sebagai penghalang.

Tindakan heroik, tetapi sekaligus sebuah aksi bunuh diri.

Pfff-pfff-pfff-pfff!

Serangkaian peluru menembus punggung Doni. Wajahnya sempat membeku, terkejut melihat darah menyembur dari dadanya, sebelum ia jatuh tepat di kaki bosnya. Darah hangat menggenangi sepatu kulit mahal Leonardo.

“Prioritas utama! Bunuh CEO!” teriak pemimpin komando.

Kini tidak ada lagi perisai di antara mereka dan targetnya. Leonardo Arkana tetap berdiri tegak. Dia tidak menunduk, tidak bersembunyi. Pandangannya turun sejenak pada tubuh pengawal yang tumbang, lalu kembali ke para penyerbu. Ekspresinya datar, namun sorot matanya tajam, tegang karena amarah yang membeku.

“Kalian …” gumamnya pelan, “telah mengotori karpet.”

Senjata para penyerang ditembakkan bersamaan.

PFFF!

PFFF! PFFF! PFFF! PFFF!

Lima peluru 5.56 mm merobek tubuh Leonardo. Dua di dada, satu di perut, satu di bahu, satu lagi di tulang selangka. Hantamannya keras; ia mundur dua langkah. Kemeja putihnya berlumur merah.

Para komando menghentikan tembakan.

Target seharusnya mati sebelum jatuh.

Namun Leonardo tidak tumbang.

Ia tetap berdiri.

Menghela napas dan tertawa pendek, suaranya nyaris sinis. Perlahan tubuhnya kembali tegak, seolah hanya tersenggol seseorang di antrean.

“Hanya begitu saja?” suaranya terdengar jelas di ruangan yang kini beku.

Di bawah meja, Bima memandang dengan rasa takut. Luka tembak ada di sana, darah ada di sana, tetapi bosnya belum mati.

Para komando terpaku. Rasa takut mulai menggerogoti mereka. Tidak mungkin ada rompi yang bisa menahan tembakan dalam jarak dekat itu.

“Dia … masih hidup! Cepat! Hancurkan kaki dan tangannya! Lumpuhkan dia sekarang!”

Pemimpin komando mengangkat senapan, tapi terlalu lambat. Leonardo sudah menghilang dari tempatnya. Tubuhnya melesat seperti bayangan yang terlepas. Ia menyerang lelaki terdekat sebelum dia itu sempat menekan pelatuk.

Dengan tangan kosong, Leonardo menebas ke atas, telapak tangannya menghantam keras bawah dagu sang komando.

KRAK!

Suara tulang leher yang patah terdengar mengerikan.

Dia merebut senapan dari tangan mayat itu, menggunakannya sebagai senjata tumpul.

Brutal, cepat, dan tak ragu.

Komando kedua mengayunkan popor senapan ke kepalanya. Leonardo merunduk, memutar tubuh, dan menghantamkan senapan rampasannya ke rusuk lelaki itu. Tulang rusuknya remuk. Sebelum lelaki itu bisa menjerit, Leonardo membalik senapan dan menusukkan larasnya yang masih panas ke tenggorokan komando ketiga.

Semua terjadi dalam empat detik. Sebuah gerakan maut yang efisien.

"Tembak dia!"

Dua komando tersisa menembak membabi buta.

PFFF!

PFFF! PFFF! PFFF!

Lusinan peluru baru menghantam punggung dan kaki Leonardo. Dia terhuyung, menggeram karena gangguan.

Dia melempar senapan di tangannya ke wajah satu komando, membuatnya buta sesaat. Lalu dia menerjang komando terakhir, Sang pemimpin. Pemimpin itu gemetar, menembakkan pistol sampingannya ke dada Leonardo.

Klik, klik, klik.

Magasinnya habis.

Leonardo kini berdiri tepat di depannya. Wajahnya pucat, kemejanya basah oleh darahnya sendiri, tapi matanya menyala.

"Mustahil ..." bisik pemimpin itu. "Kau ... Apa kau ini?"

Leonardo mencengkeram wajah lelaki itu. Cengkeraman yang meremukkan tulang pipi di balik helm.

"Aku adalah bos di gedung ini," jawab Leonardo.

Dia membenturkan kepala lelaki itu ke pilar beton di tengah ruangan.

Sekali, dua kali, tiga kali.

Sampai yang tersisa hanyalah keheningan, dan suara tetesan darah.

Ruang rapat itu hancur dengan lantai dipenuhi darah.

Asap mesiu bercampur dengan aroma logam dari darah yang menggenang. Sembilan mayat, satu eksekutif yang malang, dua pengawal pribadi, dan enam komando bayaran tersebar di antara puing-puing furnitur mewah.

Di tengah pembantaian itu, Leonardo Arkana berdiri sendirian. Dia merogoh sakunya, dan mengeluarkan ponsel satelitnya, lalu menekan satu nomor panggilan cepat.

"Rafi," katanya, suaranya tenang, seolah baru saja selesai bertamasya.

"Ya, Tuan Arkana?" suara asisten pribadinya terdengar sedikit cemas di sisi lain. "Kami mendengar ada ledakan! Rama dan Doni tidak menjawab!"

Leonardo menatap wajahnya sendiri yang terpantul di layar laptop yang berlumuran darah.

"Rama dan Doni gugur," katanya tanpa emosi. "Ada insiden kecil di lantai empat puluh sembilan."

Leonardo menjeda kalimatnya sejenak, matanya menatap nanar ke arah jendela.

"Aktifkan Protokol 'Silent Drill' sekarang juga," perintah Leonardo tegas. "Lakukan Override Sistem Level 5 sebelum alarm otomatis berbunyi. Pastikan tidak ada sirene polisi yang mendekat ke lobi. Bilang pada mereka ini hanya latihan anti-teror internal yang sedikit berlebihan. Suap kepala polisinya jika perlu. Aku mau lantai ini bersih dalam dua puluh menit tanpa ada satu pun berita bocor ke media."

"Dimengerti, Tuan. Tim Alpha dan Tim Pembersih sedang meluncur via lift kargo," jawab Rafi cepat.

Leonardo memutus sambungan. Dia melirik ke bawah meja.

Direktur Bima, yang sedari tadi menahan napas, akhirnya mencapai batas kewarasannya. Lelaki itu merangkak keluar dari persembunyiannya dengan wajah pucat. Dia mencoba berbicara, namun hanya suara tidak jelas yang keluar dari tenggorokannya.

"Tuan ...." Bima tergagap, matanya melotot menatap lubang-lubang peluru di tubuh bosnya yang tidak mengeluarkan darah secara wajar.

Detik berikutnya, Bima memuntahkan isi perutnya ke lantai yang sudah digenangi darah. Tubuhnya kejang sesaat karena syok yang teramat sangat, sebelum matanya terbalik dan ia ambruk pingsan di samping mayat salah satu komando.

"Panggil tim medis untuk Tuan Bima," gumam Leonardo pada ruangan kosong itu. "Dia terlalu lembek untuk bisnis ini."

Saat itu, sebuah legenda horor baru mulai merayap di kota Nagara, lahir dari kesaksian satu lelaki yang pingsan di lantai. Rumor tentang CEO Arkanatech, Leonardo Arkana, yang tak bisa mati.

Lanjut membaca
Lanjut membaca