Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Reinkarnasi Kaisar dan Selir Legendaris

Reinkarnasi Kaisar dan Selir Legendaris

Jejak Timur | Bersambung
Jumlah kata
45.7K
Popular
225
Subscribe
58
Novel / Reinkarnasi Kaisar dan Selir Legendaris
Reinkarnasi Kaisar dan Selir Legendaris

Reinkarnasi Kaisar dan Selir Legendaris

Jejak Timur| Bersambung
Jumlah Kata
45.7K
Popular
225
Subscribe
58
Sinopsis
PerkotaanAksiKultivatorReinkarnasiUrban
Di kehidupan masa lalunya, Cakrawala adalah seorang Kaisar yang ditakuti; tangannya terbiasa menggenggam mahkota raja-raja yang takluk dan menyeberangi lautan mayat demi kejayaan. Namun, takdir memaksanya membuka mata di sebuah gang sempit di dunia modern yang miskin energi spiritual. Tidak ada singgasana. Tidak ada pelayan. Ia terbangun di dalam tubuh seorang pemuda jalanan lemah yang baru saja dipukuli habis-habisan oleh preman kelas teri. Namun, arogansi seorang kaisar tidak akan pernah luntur. Dengan sisa-sisa ingatan bela diri kuno dan teknik mematikan, Cakrawala mulai menapaki jalan darah untuk membangun kembali kekuatannya dari nol. Langkahnya semakin tak terbendung ketika ia menyadari bahwa dunia modern ini diam-diam dikendalikan oleh para kultivator tersembunyi dan organisasi bayangan yang mematikan. Lebih mengejutkan lagi, ketujuh selir kesayangannya dari masa lalu ternyata ikut bereinkarnasi dan kini menjelma menjadi sosok-sosok paling berpengaruh di dunia fana. Mulai dari Ratu Bisnis berhati dingin penguasa menara kaca, Dewi Hiburan pujaan ribuan orang, hingga seorang jenius pedang tak terkalahkan. Sayangnya, mereka semua telah kehilangan ingatan tentang Sang Kaisar. Di tengah incaran para pembunuh bayaran elit, komandan pengendali elemen, dan para Penguasa Dunia Gelap, Cakrawala mendeklarasikan perang terbuka. Ia bukan sekadar ingin bertahan hidup. Ia akan memanjat tatanan dunia modern yang sombong ini, menghancurkan musuh-musuhnya, dan memaksa dunia serta ketujuh wanitanya untuk kembali berlutut di bawah kakinya. Ketika Sang Penakluk Benua menampakkan diri, tatanan dunia gelap harus bersiap untuk runtuh!
Penakluk Empat Benua

Ujung sepatu bot menghantam tulang rusuk kiri Cakrawala. Tubuh kurusnya terpental, bergesekan dengan permukaan jalan yang basah.

"Bangun, Asu!"

Suara berat itu menggema di lorong gang sempit. Cakrawala mencoba menekan telapak tangannya ke tanah.

Sebuah tendangan lain mendarat tepat di punggungnya. Ia kembali terjerembap. Rasa asin seketika memenuhi rongga mulutnya.

"Udah. Tinggalin aja. Dia udah nggak napas." Lelaki kedua berdiri sambil menyeka percikan air kotor dari jaket kulitnya.

"Orang ini kudu belajar tata krama." Lelaki pertama menarik kerah kemeja lusuh Cakrawala. Kepala pemuda itu terangkat paksa. "Di wilayah ini, lu nunduk kalau ada kita."

Lelaki itu melepaskan cengkeramannya. Kepala Cakrawala kembali membentur tanah basah. Pandangannya gelap total. Kesadaran pemuda kuli panggul itu hancur.

Namun, tepat di detik nadir itu, udara di sekitar gang mendadak terasa membeku. Genangan air kotor di bawah wajah Cakrawala bergetar pelan.

Cakrawala membuka matanya.

Pandangannya buram. Ingatan dari kehidupan lampau membanjiri kepalanya seperti air bah. Takhta emas, barisan jutaan prajurit berbaju zirah yang bersujud menyentuh bumi, dan panji perangnya yang berkibar di atas puing-puing ratusan negara.

Ia adalah Kaisar Surgawi. Penakluk terhebat yang pernah menyatukan empat benua besar di bawah satu kekuasaan mutlak, meruntuhkan kerajaan demi kerajaan bagai badai yang menyapu daratan.

Hal terakhir yang ia ingat adalah langit yang terbelah, dan ketujuh perempuan yang menjadi selirnya mengorbankan nyawa demi membuka gerbang dimensi agar jiwanya selamat dari kepungan pasukan musuh.

Ia mengangkat kepalanya perlahan.

"Di mana kerajaanku?" bisiknya parau.

Ia menatap telapak tangannya. Terlihat kecil, kurus dan lemah. Tidak ada bekas luka kapalan dari pedang naga miliknya. Kain kasar membalut tubuhnya.

Bersamaan dengan itu, kepingan memori asing menyusup tajam. Sebuah nama yang persis dengannya: Cakrawala. Namun kehidupan ini sangat jauh dari kata agung. Ia hanyalah seorang kuli panggul pasar yang miskin.

Malam ini, saat berjalan pulang, ia tidak sengaja menabrak sekelompok preman yang sedang menagih utang. Hanya karena tatapannya dianggap menantang, nyawanya melayang.

"Rakyat jelata," desis Cakrawala pelan. Penakluk empat benua ini kini terjebak di dalam wadah fana yang menyedihkan.

Ia mendongak. Matanya menyipit tajam menatap sekeliling. Di atasnya, sebuah bola kaca menempel pada tiang besi tinggi, memancarkan cahaya kuning terang.

"Mutiara malam jenis apa itu?" Ia bergumam pelan. Kepalanya miring ke kiri. "Menyala tanpa kayu bakar. Tidak ada segel formasi sihir di tiang."

Ia lalu mengusap permukaan jalan di bawahnya. Sangat keras, rata, dan berbau busuk. "Batu hitam apa ini? Bahkan lantai penjara bawah tanah kerajaanku lebih layak dari ini."

"Cepat bawa perempuan itu ke mobil! Bos Garda udah nunggu!"

Sebuah bentakan kasar menarik perhatian Cakrawala. Tiga orang lelaki sedang mengelilingi seorang perempuan yang tersudut di dinding bata. Mereka yang tadi menghajarnya.

"Tolong, beri aku waktu!" Perempuan itu merintih. Wajahnya pucat pasi. Air mata membasahi pipinya. "Ayahku baru meninggal kemarin. Aku sama sekali tidak tahu menahu soal utang lima puluh juta itu!"

"Bukan urusan gua." Lelaki berjaket kulit mencengkeram lengan perempuan itu secara paksa. "Bapak lu pinjam duit ke Bos Garda. Sekarang dia mati. Lu yang jadi bayarannya."

"Aku tidak punya uang sebanyak itu!" Perempuan itu meronta, mencoba melepaskan cengkeraman tangan kotor lelaki tersebut dari lengannya.

"Makanya lu ikut. Bos Garda tahu cara menghasilkan duit dari cewek kayak lu."

Cakrawala menekan telapak tangannya ke aspal. Setiap tarikan napas membuat tulang rusuknya terasa seperti ditusuk. Saluran energi spiritualnya kosong. Ia mencoba memanggil kekuatan sekecil apa pun, namun tubuh yang menjadi wadahnya menolak.

Meski begitu, arogansi sang Kaisar menolak berdiam diri. Menindas pihak yang lemah bukanlah sebuah pertunjukan yang pantas terjadi di depan matanya.

Ia bangkit berdiri. Tangannya berpegangan pada dinding bata untuk menahan tubuhnya yang gemetar.

"Lepaskan perempuan itu."

Suaranya pelan. Namun tekanan absolut dari nada bicaranya membuat ketiga lelaki itu menoleh serentak.

"Tikus ini belum mati rupanya." Lelaki berjaket kulit mendengus. Ia memberi isyarat dengan dagunya. "Beresin dia."

Seorang lelaki bertubuh gempal melangkah maju. Ia menarik sebuah pisau lipat kecil dari sakunya, lalu memutar pisau itu dengan gaya mengancam.

Cakrawala menatap pisau lipat itu. Keningnya berkerut dalam. Ia menatap senjata itu dengan raut penuh penilaian, lalu menggeleng pelan.

"Senjata macam apa itu?" tanya Cakrawala datar. "Bilahnya terlalu pendek untuk menembus kulit prajurit rendahan sekalipun." Ia beralih menatap celana berbahan kasar biru robek-robek yang dikenakan lelaki itu. "Dan kain biru lusuh itu, kelompok pengemis dari negeri mana kalian berasal?"

Lelaki gempal itu saling berpandangan dengan temannya, tampak kebingungan. "Lu ngomong apaan, Asu? Mabuk lu?!"

"Aku bertanya." Cakrawala melangkah maju. Langkahnya pelan, namun posturnya tegak sempurna. Tatapan matanya sedingin es abadi. "Siapa kalian berani berdiri di hadapanku tanpa bersujud?"

"Mati lu!" Lelaki gempal itu menerjang maju karena terpancing emosi. Pisau lipatnya diarahkan lurus ke perut Cakrawala.

Bagi sang penakluk benua, gerakan membunuh jalanan itu lambat seperti siput. Cakrawala tidak memasang kuda-kuda perkelahian apa pun.

Ia hanya bergeser setengah langkah ke samping dengan sangat anggun. Saat tubuh lelaki itu melewatinya, dua jari Cakrawala mengetuk ringan tepat di pangkal leher si penyerang.

Sebuah ketukan taktis yang memblokir aliran darah ke otak secara instan.

Lelaki gempal itu mematung. Pisaunya terlepas dari genggaman. Tubuhnya langsung ambruk menabrak aspal, pingsan total tanpa suara rintihan sedikit pun.

Lelaki berjaket kulit dan satu temannya mundur selangkah. Mata mereka melebar ngeri. Mereka tidak melihat pukulan atau tendangan. Teman mereka hanya disentuh dua jari dan langsung tumbang seperti mayat.

"Heh! Lu apain dia?!" Lelaki berjaket kulit itu menunjuk Cakrawala dengan tangan gemetar.

"Aku hanya menutup jalan darahnya." Cakrawala menatap telapak tangannya sendiri dengan raut kecewa.

Ia menyadari napasnya terengah hanya karena satu gerakan sederhana itu. Fisik ini benar-benar tidak berguna.

Ia mengangkat wajahnya, menatap kedua preman yang tersisa. "Kalian memiliki waktu lima tarikan napas untuk membawa teman kalian dan menyingkir dari pandanganku."

Aura penindasan menguar dari sorot mata Cakrawala.

"Sialan!" Lelaki berjaket kulit itu menelan ludah. Wajahnya pucat pasi. Tanpa aba-aba, ia dan temannya langsung mengangkat tubuh lelaki gempal yang terkapar, lalu berlari terbirit-birit meninggalkan gang. "Lu tunggu pembalasan Bos Garda! Lu nggak bakal selamat di kota ini!"

Gang itu kembali hening. Cakrawala menyandarkan punggungnya ke dinding bata. Ia terbatuk, memuntahkan sedikit darah segar.

Perempuan tadi berdiri mematung. Ia memeluk tasnya erat-erat, lalu melangkah ragu mendekati Cakrawala.

"Kamu terluka parah." Suara perempuan itu masih bergetar. "Biar aku bantu mencari dokter."

Cakrawala menepis tangan perempuan itu tanpa menoleh. "Singkirkan tanganmu. Pergi."

Perempuan itu tersentak pelan, menarik tangannya. Ia menunduk sedikit, sebuah gestur rasa syukur yang terlihat canggung namun tulus.

"Aku berutang nyawa padamu. Namaku Rengganis ..."

"Aku tidak peduli siapa namamu," potong Cakrawala datar, matanya terpejam menahan nyeri di tulang rusuknya. "Pergi dari hadapanku sebelum binatang-binatang itu kembali."

Rengganis terdiam, meremas tali tasnya dengan tangan gemetar. Ia tahu pemuda di depannya ini tidak ingin dibantu.

"Terima kasih. Setidaknya, beri tahu aku siapa namamu?"

Cakrawala membuka matanya sesaat. Ia memikirkan nama kebesarannya di masa lalu, dan nama wadah fana rendahan yang kini ia tempati. Keduanya sama.

"Cakrawala."

"Aku akan mengingatnya. Terima kasih, Cakrawala."

Perempuan itu lalu berbalik, berlari menuju jalan raya yang terang di ujung gang.

Cakrawala membiarkan tubuhnya merosot ke bawah. Paru-parunya terasa panas. Ia memejamkan mata, mencoba memutar teknik pernapasan kekaisaran. Namun usahanya terhenti ketika sebuah raungan panjang yang mengerikan terdengar dari arah jalan raya.

Cakrawala membuka matanya lebar-lebar.

Cahaya putih yang amat terang menyorot tajam menembus kegelapan gang. Dua mata bercahaya raksasa melesat kencang ke arahnya. Raungan suaranya terdengar memekakkan telinga, menggetarkan jalan di bawah kakinya.

"Monster macam apa lagi ini?!" Cakrawala mengepalkan tangannya bersiap dengan apa yang akan terjadi selanjutnya.

Urat-urat di lehernya menonjol. Ratusan negara yang ia taklukkan tidak pernah memiliki binatang buas bermata cahaya terang dengan tubuh terbuat dari logam kelabu.

"Kamu pikir aku takut dengan raunganmu?!"

Sang Kaisar yang dulunya terbiasa menghancurkan benteng musuh, kini berdiri terhuyung-huyung dengan kaki gemetar, memasang kuda-kuda untuk menantang sebuah mobil sedan tua yang sedang melintas pelan di depan gang.

Namun, sebelum mobil itu bergerak lebih dekat, batas fisik wadah fananya telah habis sepenuhnya. Pandangan Cakrawala memudar. Bumi seolah ditarik dari bawah kakinya, dan ia pun jatuh pingsan tak sadarkan diri.

Lanjut membaca
Lanjut membaca