Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Pertualangan Raja Jin, Di Dunia Manusia.

Pertualangan Raja Jin, Di Dunia Manusia.

Ainur Rahman 765 | Bersambung
Jumlah kata
33.6K
Popular
100
Subscribe
0
Novel / Pertualangan Raja Jin, Di Dunia Manusia.
Pertualangan Raja Jin, Di Dunia Manusia.

Pertualangan Raja Jin, Di Dunia Manusia.

Ainur Rahman 765| Bersambung
Jumlah Kata
33.6K
Popular
100
Subscribe
0
Sinopsis
FantasiFantasi TimurDunia GaibRajaPertualangan
”Aku jatuhkan titah padamu, untuk menjaga salah satu bayi — yang ibunya meninggal karena menjadi korban pesugihan. Kamu akan bersemayam dalam tubuhnya, menjalani hidupnya, dan melalui semua rintangan hidupnya bersama. Kehidupan dari bayi itu tidak boleh di renggut, mau bagaimanapun ceritanya.” satu titah yang jatuh pada hari itu membuat seorang Raja di suatu kerajaan Jin tersentak bukan main. * Ini bukan hanya perintah semata, ini adalah cobaan dan ujian bagi dirinya untuk menjadi Raja Bijak, dan juga Rajadiraja (Raja di atas segala raja). * Namun semua tentu tidak akan mudah, bagaimanakah Sang Raja menghadapi dunia yang watak manusianya makin hari makin kejam? Apa dia mampu? Apa dia sanggup? Sedangkan di titah yang jatuh ia harus sanggup..
1

Di malam Jum'at Kliwon jam depapan malam — terlahirlah bayi mungil berjenis kel4min perempuan. Tangisan bayi terdengar begitu lantang, dukun bayi yang entah mengapa begitu gugup di malam hari itu — akhirnya tak sengaja memotong tali pusar tanpa memberikan pemberat di tali pusar.

Putusan dari tali pusar menghantam rahim sang ibu. Semua bukan tanpa sebab, semua sudah suratan. Seorang Pria tak kasat mata hanya bisa memandangi sembari fokus menjaga bayi. Dia adalah — Wisnu Wijaya Kusuma — makhluk astral yang di tugaskan menjaga bayi itu agar terlahir ke dunia.

Kali ini titah yang di jatuhkan untuknya cukup berat untuk ia pikul. Memandang bayi itu, membuatnya sadar akan ada banyak rintangan kehidupan manusia yang mulai menakutinya.

"Minggir!" Suara berat nan lantang mulai terdengar.

Wisnu yang masih menjaga bayi akhirnya menoleh ke arah sumber suara. Disana ia melihat ada seorang pria bertubuh tinggi tegap berpakaian serba hitam datang menghampirinya.

"Ada apa gerangan sehingga dikau memintaku untuk minggir?" Tanya Wisnu pada orang itu. Tatapan mata datar di antara mereka berdua akhirnya dapat menggambarkan suatu hal yang terjadi.

"Bayi itu milik kami juga, kami harus membawanya pergi!" Tekannya.

"Tidak bisa, Bayi ini milikku!" Tekan Wisnu. Ia bersikeras bahwa bayi yang baru lahir itu adalah miliknya. Adu kekuatan dan kesaktian akhirnya terjadi.

Pria bertubuh tinggi nan hitam itu kini mulai maju dan hendak menyerang, 'wush, wush!' suara gerakan tangannya bak suara angin yang berhembus sangat kencang. Wisnu dapat mengelak dan menghindar — hanya menggeserkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan. Baginya pria di hadapannya memang bukan lah apa-apa, namun semua terasa begitu mengganggunya. 'buaaakkkkkk! buaaaaakkkkkk!' suara pukulan demi pukulan menghantam tubuh pria itu.

Wisnu yang tadi hanya menerima serangan kini akhirnya mulai maju dan mencoba menyerang. Dua pukulan melayang dalam waktu hitungan detik.

'buaaaaakkkkk!' suara dagu yang di tendang bersuara sangat keras. 'uhuk! uhuk!' suara batuk terdengar lumayan keras.. pria bertubuh tinggi berwarna hitam itu terlihat memuntahkan cairan berwarna hitam yang cukup pekat.

"Kau sudah merenggut nyawa Ibu dari bayi itu bukan? Kenapa kamu lakukan, aku tanya padamu?" Ujar Wisnu penuh penekanan. Ia terus menunduk untuk memandang pria yang sudah berani mengusik tugasnya.

"Wanita itu adalah tumbal pesugihan untuk junjungan kami, jadi anak yang dia lahirkan juga merupakan tumbal!" Jawab Pria itu dengan suara yang menggeram.

"Tidak bisa, kau harus berurusan dengan aku bila ingin mengambil bayi itu." Balas Wisnu.

'sriiiiiiiing!' suara sesuatu terdengar nyaring. Di tangan sebelah kanannya tampak sebuah pedang yang tiba-tiba ada dan menyala terang. Wisnu mencabut pedang itu dari tempatnya dan..

'wuuuuuuussshhhh!' suara angin begitu kencang tiba-tiba menerpa sekitaran tempat mereka tengah berkelahi. Kelebatan bayangan berwarna hitam mulai berkelebat dan menyelimuti tubuh pria yang tergeletak di lantai.

Wisnu dapat melihat bayangan itu seolah menerpa tubuh pria itu dan.. seketika mereka berdiri, melompat dan menghilang dari sana.

"Bedebah!" Teriak Wisnu.

Wisnu kecolongan disaat ada sosok lain yang ternyata datang untuk menyelamatkan rekannya. Pada akhirnya ancam yang ada — kini dapat melepaskan diri dengan mudah.

"Lancang!" Teriak Wisnu lagi. Ia memang kurang cepat sehingga ia bisa kecolongan, namun ia tak bisa mengejar mereka untuk saat ini. Ada bayi yang harus ia selamatkan pada saat itu.

Setelah kembali ke dunia manusia — Wisnu mendapati wanita yang melahirkan bayi mungil itu sudah tak bernyawa. Penyesalan datang untuk yang kedua kalinya. Meski ia tahu wanita itu akan tewas, namun ia tak dapat menghalang-halangi takdir dari seseorang.

Wisnu tak akan bisa menunda kematian seseorang, namun bila mempercepatnya, ia bisa membun*h orang lain, namun tak bisa menggagalkan kematian orang lain.

Suara dari gurunya yang menjatuhkan titah agar ia menjaga bayi itu adalah suatu tantangan besar untuknya agar ia menjadi raja bijak yang sakti mandraguna.

Meskipun apa yang ia lalui nantinya tidak akan mudah, namun ia sungguh harus melakukannya.

.

Di dunia manusia..

Suara tangisan dari 4 anak yang di tinggalkan terdengar nyaring. Suara tangisan dari seorang suami — juga terdengar sangat memilukan.. para warga hanya mampu menenangkan, tak ada yang mengetahui mengapa wanita itu meninggal, hanya dukun bayi yang yahu mengapa semua itu terjadi, namun ia bungkam dan tak mengatakannya pada siapapun karena takut di salahkan.

Wisnu hanya dapat menatap mereka tanpa bisa melakukan apa-apa. Ia akhirnya mencoba terus menenangkan bayi yang akan ia jaga.

Sukma dari bayi itu terbawa oleh sang ibu — meninggalkan jasad yang masih bisa hidup. Wisnu berusaha memasukan jiwa dari bayi jin yang mungkin bisa bersemayam di sana —  sampai ia bisa meraga (memakai) tubuh itu.

Wisnu tak dapat meraga yubuhbitu bila usia dari bayi itu belum 7 tahun.

Wisnu yang tak bisa ikut campur terlalu dalam pada urusan pertumbalan yang ada — akhirnya kini hanya dapat menghela nafas. Apa yang terjadi pada gadis kecil malang itu memang sangat menyedihkan dan memikirkan, namun semuanya sudah menjadi takdir yang tak lagi dapat di elakkan.

Pada hari itu para warga berdatangan untuk mengurus jasad sang ibu yang tak lagi bernyawa.

Para warga tak menunggu hari esok untuk menguburkan jenazah. Ketakutan mereka akan lebih parah bila sampai jasad itu menginap di rumah.

Wisnu mulai mendapatkan tugas untuk menjaga bayi itu, dan perjuangan dan petualangannya di dunia manusia akan di mulai.

Ia harus mulai beradaptasi dari dini, segala sikap dan sifat manusia, segala ambisi dan ketamakan manusia — hal yang sangat memuaskan itu harus bisa ia terima mengingat dan membungkus mereka dengan satu nama — yaitu — manusia.

"Ada apa Baginda Raja?" Tanya satu-satunya Panglima kerajaan Wisnu.

"Aku hanya ingin kamu mencari tahu siapa yang menjadikan wanita itu tumbal, dan kamu juga harus mencari tahu pesugihan mana yang di pegang penganut pesugihan. Bayi kecil itu tak mungkin bisa aku tinggalkan, aku harus tetap menjaganya selagi aku belum punya pekerjaan mendesak. Kita harus mencari tahu untuk bernegosiasi, bayi ini sudah menjadi titahku, dan tak bisa aku lepaskan begitu saja." Ujar Wisnu.

"Apa mereka masih menjadi ancaman?" Tanya sang panglimanya.

"Masih, mereka pasti akan mengintai bayi ini terus menerus." Balas Wisnu.

"Kalau begitu akan Saya cari. Saya permisi, Baginda." Ujarnya sembari membungkukkan tubuhnya. Pria tak kasat mata itu langsung pamit undur diri dari sana.

Wisnu hanya mengangguk dan ia menatap kepergian panglimanya hingga nyaris tak terlihat. Setelahnya dia kembali duduk dan menjaga bayi yang harus ia jaga sampai tubuh dari bayi itu tumbuh dan tutup usia.

Lanjut membaca
Lanjut membaca