

Hujan badai mengguyur aspal Kota Tokyo malam itu, menghapus segala jejak debu di jalanan. Lampu-lampu neon berkedip memantulkan cahaya di genangan air, menciptakan suasana kota yang tampak hidup namun menyembunyikan sisi gelap peradaban. Bagi sebagian orang, Tokyo adalah pusat ekonomi yang sibuk, aman, dan gemerlap. Namun bagi mereka yang bernapas di dunia bawah, kota ini adalah wilayah perburuan mutlak milik satu orang: Kenji.
Di dunia pergaulan gelap, nama itu tidak pernah diucapkan sembarangan. Mengucapkannya di tempat yang salah sama saja dengan mengundang malaikat pencabut nyawa. Ia dijuluki Sang Serigala Tokyo. Bukan karena ia liar atau tidak terkendali, melainkan karena ia adalah predator puncak yang dingin, elegan, dan tidak pernah membiarkan mangsanya lolos.
Kenji adalah anomali di tatanan dunia kriminal. Ia bukan keturunan keluarga Yakuza, bukan pula mantan pasukan khusus militer. Ia membangun kekaisarannya dari jalanan murni dengan kepalan tangannya sendiri. Ia menguasai setiap metode seni bela diri yang pernah diciptakan manusia. Mulai dari efisiensi mematikan Krav Maga, kebrutalan tulang dari Muay Thai, hingga teknik-teknik aliran bela diri kuno dari daratan Tiongkok yang sudah lama dianggap punah. Tubuhnya ditempa melalui ribuan pertarungan hidup dan mati, menciptakan refleks yang melampaui batas akal sehat.
Mitos yang beredar di antara para penjahat mengatakan bahwa jika Kenji dibandingkan dengan manusia biasa, rasionya adalah satu banding seribu. Angka itu bukanlah kiasan semata. Lima tahun yang lalu, dalam sebuah insiden perebutan Dermaga Yokohama, Kenji pernah membuktikan kebenaran mitos tersebut.
Saat itu, aliansi tiga geng besar yang berjumlah seribu orang bersenjata lengkap mencoba menjatuhkan wilayah kekuasaannya. Alih-alih membawa pasukannya, Kenji datang ke sana sendirian. Ia menolak membawa senjata api, hanya mengenakan setelan jas hitam mahal dan sepasang sarung tangan kulit.
Malam itu, Dermaga Yokohama berubah menjadi ladang pembantaian satu arah. Kenji bergerak seperti hantu di bawah hujan. Setiap serangannya memiliki presisi absolut; mematahkan tulang, menghentikan aliran darah, dan menghancurkan organ vital lawan hanya dalam satu gerakan yang efisien. Tidak ada gerakan yang sia-sia, tidak ada emosi yang terpancar, hanya eksekusi murni layaknya sebuah mesin. Saat fajar menyingsing di ufuk timur, seribu orang itu terkapar tak bernyawa atau lumpuh permanen di atas beton dingin dermaga.
Sementara itu, Kenji berjalan keluar dari area tersebut sambil menyalakan rokok dengan tenang. Hebatnya, tidak ada satu pun noda darah—baik darahnya sendiri maupun darah musuh—yang menempel di kemeja putih atau jas mahalnya. Tidak ada luka gores sekecil apa pun di kulitnya. Sejak hari itu, ia bukan lagi dianggap manusia di mata musuh-musuhnya; ia adalah fenomena alam yang berwujud manusia.
Kini, bertahun-tahun setelah insiden berdarah itu, Kenji telah menyatukan seluruh dunia bawah Jepang di bawah panjinya. Untuk mengelola kekaisarannya, ia membentuk divisi eksekutif elite yang disebut Tujuh Bayangan, memastikan kekuasaannya berdiri kokoh dan tidak tergoyahkan.
Malam ini, Kenji berjalan santai menyusuri trotoar yang sepi, didampingi oleh Ryuji. Ryuji bukan sekadar bawahan; ia adalah tangan kanan Kenji, pemimpin dari Tujuh Bayangan, dan satu-satunya orang di dunia ini yang Kenji anggap sebagai saudaranya sendiri. Mereka baru saja menyelesaikan makan malam mewah di sebuah restoran privat untuk merayakan hancurnya kartel terakhir yang menentang mereka.
"Kau terlihat terlalu santai malam ini, Kenji," ucap Ryuji sambil menyalakan sebatang rokok. Langkahnya mengimbangi sang bos saat mereka berbelok ke sebuah gang sempit yang remang-remang, yang merupakan jalan pintas menuju tempat mobil antipeluru mereka diparkir.
"Dunia ini sudah terlalu membosankan, Ryuji," jawab Kenji dengan nada yang sangat tenang dan elegan. Kedua tangannya dimasukkan santai ke dalam saku mantel hitamnya. Tatapannya lurus ke depan, menembus rintik hujan. "Tidak ada lagi tantangan yang tersisa. Tidak ada lagi musuh yang bisa membuat darahku berdesir atau memaksaku menggunakan seluruh kemampuanku. Semua orang terlalu mudah dibaca, terlalu lemah."
"Mungkin karena kau sudah melampaui batas wajar manusia," kekeh Ryuji pelan, mengembuskan asap rokoknya ke udara malam. "Kau berdiri terlalu tinggi di atas puncak, sampai-sampai tidak ada orang lain yang bisa mencapai tempatmu."
Kenji hanya tersenyum tipis. "Sebuah kutukan dari kekuatan absolut. Jika terus seperti ini, aku mungkin akan mati kebosanan sebelum ada peluru yang bisa menembus kulitku."
Di antara miliaran manusia di bumi, hanya di dekat Ryuji ia bisa menurunkan kewaspadaannya. Selama belasan tahun, mereka saling melindungi punggung satu sama lain. Namun, kepercayaan buta itu adalah sebuah kesalahan fatal. Sebuah kesalahan yang akan mengubah takdir sang Serigala selamanya.
Tepat saat Kenji melangkah melewati bayangan sebuah lampu jalan yang berkedip mati, udara di sekitarnya berubah. Tidak ada niat membunuh yang bocor. Tidak ada perubahan suara napas atau derap langkah. Ryuji adalah pembunuh bayaran kelas atas, dan ia mengeksekusi niatnya dengan kesempurnaan seorang ahli yang sangat mengenal titik buta targetnya.
Jleb!!
Langkah Kenji terhenti mendadak. Matanya sedikit melebar.
Bukan hantaman benda tumpul, bukan pula tembakan peluru tajam. Sebuah belati beracun berlapis titanium telah menembus punggungnya. Bilah itu menyelinap masuk tepat di antara celah tulang rusuk, memotong jaringan otot, dan menembus jantungnya secara presisi. Itu adalah titik fatal yang dihitung dengan keakuratan milimeter yang hanya diketahui oleh orang yang merawat dan mengobati luka Kenji di masa lalu.
Kenji tidak berteriak. Keangkuhan dan ketenangannya sebagai seorang raja tidak membiarkannya terlihat menyedihkan atau memelas. Ototnya menegang sesaat, menahan rasa sakit yang luar biasa. Ia perlahan menolehkan kepalanya ke belakang, mengintip dari balik bahunya.
Ryuji berdiri di sana. Wajahnya sama sekali tidak menunjukkan penyesalan, kemarahan, atau emosi apa pun. Tangannya masih menggenggam erat gagang belati yang menancap dalam di punggung sahabatnya.
"Ryuji...?" Suara Kenji terdengar parau, namun masih menyiratkan otoritas yang absolut. Tidak ada kepanikan dalam nada suaranya, hanya pertanyaan dingin yang menuntut jawaban.
Bukannya menarik belati itu, Ryuji justru memajukan langkahnya. Ia mencengkeram gagang belati itu dengan kedua tangannya dan memutarnya dengan tenaga penuh di dalam rongga dada Kenji.
Kraakk. Suara robekan daging dan otot terdengar mengerikan, meredam di bawah rintik hujan. Jantung Kenji terputus dari pembuluh utamanya.
Darah segar menyembur keluar dari mulut Kenji, menetes dan mewarnai genangan air di aspal menjadi merah gelap. Tubuh Kenji akhirnya kehilangan tenaganya, namun harga dirinya menolak untuk membiarkannya jatuh berlutut. Ia memutar tubuhnya perlahan, menyandarkan punggungnya pada dinding bata yang dingin di gang sempit itu. Tangannya menyentuh dadanya sendiri, menatap darahnya dengan tatapan yang sulit diartikan—bukan kemarahan yang meluap-luap, melainkan rasa penasaran yang sedingin es.
"Kenapa?" tanya Kenji pelan. Napasnya mulai tersengal, namun ia berusaha mempertahankan posisi berdirinya dengan elegan.
Ryuji menatap mata tajam sahabatnya yang perlahan mulai kehilangan cahaya. Ia akhirnya melepaskan gagang belati itu dan mundur satu langkah.
"Kau adalah monster yang sempurna, Kenji," ucap Ryuji dengan nada datar, seolah sedang membacakan vonis mati. "Tapi di dunia ini, kekuatan bela diri tidak bisa mengalahkan kekuasaan. Bahkan monster sepertimu pun ada harganya. Sebuah organisasi global... sebuah kultus rahasia yang mengendalikan ekonomi dari balik layar, menginginkan kematianmu. Keberadaanmu, dan ketidakmampuan mereka untuk mengontrolmu, sudah mengancam tatanan dunia mereka."
Ryuji menunduk sedikit, menatap ujung sepatunya yang terciprat darah. "Mereka menawariku uang yang cukup untuk membeli sebuah negara, Kenji. Kekayaan yang bisa menjamin tujuh turunan. Maafkan aku, sahabatku. Kau pernah mengajariku bahwa di dunia bawah ini, kesetiaan selalu memiliki harga. Dan harga kepalamu... terlalu mahal untuk aku lewatkan."
Mendengar pengakuan itu, Kenji justru tertawa pelan. Sebuah tawa yang sangat lirih, sinis, dan penuh ironi. Darah segar kembali menetes dari sudut bibirnya, membasahi kemejanya.
Uang? batin Kenji. Hanya demi setumpuk kertas bernilai yang bisa terbakar, dia membuang kebanggaan Tujuh Bayangan? Membuang persaudaraan kita yang telah dibangun di atas darah musuh-musuh kita? Sungguh alasan yang sangat... manusiawi dan menyedihkan.
Pandangan Kenji mulai menggelap. Suara rintik hujan terdengar semakin meredam dan menjauh. Rasa sakit yang membakar di dadanya perlahan memudar, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar ke seluruh sarafnya. Anehnya, ia tidak membenci Ryuji. Ia hanya merasa muak dengan dunia manusia yang begitu dangkal, dipenuhi oleh pengkhianatan murahan demi materi semata.
"Kau benar, Ryuji..." bisik Kenji dengan sisa napas terakhirnya. Sebuah senyum angkuh, senyum khas sang Serigala, masih terukir sempurna di wajahnya yang pucat. "Dunia ini... memang terlalu... membosankan."
Mata sang Serigala akhirnya tertutup rapat. Tubuhnya perlahan merosot ke tanah aspal yang basah. Penguasa dunia bawah Jepang, pria yang ditakuti karena tidak pernah terluka dalam ribuan pertarungan, telah gugur di gang yang sunyi. Mati bukan karena dikalahkan oleh musuh yang setara, melainkan karena dikhianati dari punggungnya sendiri.
Namun, saat kesadarannya seharusnya lenyap ditelan kehampaan abadi, Kenji justru merasakan sesuatu yang ganjil. Dunia di sekitarnya gelap, namun tidak kosong. Ia merasa dingin, namun di saat yang sama ia merasa dikelilingi oleh lautan energi tak kasat mata yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Lalu, di tengah keheningan mutlak itu, sebuah suara yang sangat datar, tanpa emosi, dan mekanis menggema keras di dalam inti kesadarannya.
[Peringatan Sistem: Detak jantung terhenti. Fungsi vital tubuh di Dunia Asal telah mati. Protokol Reinkarnasi Kosmik Diaktifkan.]
[Menganalisis Jiwa... Tingkat anomali terdeteksi. Kekuatan jiwa dan naluri bertarung melebihi batas ras manusia normal. Kualifikasi Kelas Predator Terpenuhi.]
[Memulai proses transfer jiwa ke Dimensi Aethelgard. Menyiapkan wadah fisik baru. Wujud yang direkomendasikan dan dipilih: 'Unique Variant - Black Slime'.]
Kenji tidak memiliki mulut untuk merespons suara aneh itu. Namun, jika ia bisa, ia pasti sedang tersenyum sinis saat ini. Ternyata, kematian bukanlah akhir yang membosankan seperti yang ia kira. Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai.