
Terjebak Bersama Musuh
Rina Norhayati|Bersambung
- Jumlah kata
- 957
- Popular
- 100
- Subscribe
- 6
- Jumlah kata
- 957
- Popular
- 100
- Subscribe
- 6
Sinopsis
Rasa dendam dan persaingan yang mendarah daging merubah takdir baru mereka, saat tanpa mereka sadari dan inginkan membuat keduanya terjebak bersama.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB SATU
Belenggu di Antara Gelap dan Dendam
Dingin yang menggigit adalah hal pertama yang merayap masuk ke dalam kesadaran Rafa. Pria berusia 29 tahun itu mengerang kecil, kepalanya terasa seberat beton. Bau apek, debu, dan karat besi menyerbu indra penciumannya. Saat ia mencoba menggerakkan tangan untuk memijat pelipisnya yang berdenyut, ia menyadari sesuatu yang salah.
Kedua tangannya terangkat ke atas, terikat kuat oleh rantai dingin yang menggantung dari langit-langit kayu yang rapuh. Kemeja putih bersihnya yang tadi siang masih tersetrika rapi kini kusut dan ternoda debu lantai. Rambut coklat tuanya yang biasanya tertata sempurna kini jatuh berantakan di dahi, namun sinar matanya yang coklat keemasan tetap memancarkan ketenangan yang luar biasa, ketenangan seorang pria yang jiwanya jauh lebih dewasa dari usianya.
"Sial..." desisnya rendah. Suaranya bergema di ruangan luas yang tampak seperti gudang tua yang terisolasi.
"Rafa? Itu kau?" sebuah suara tajam, dingin, namun terselip getaran ketakutan terdengar dari kegelapan di sampingnya.
Rafa menoleh, di sana hanya berjarak dua meter darinya, Rania tergantung dengan posisi yang sama. Gaun hitam pendek selututnya kontras dengan kulitnya yang pucat. Rambut hitam pekat yang diikat tinggi itu masih mencerminkan jati dirinya yang keras kepala, namun napasnya yang memburu mengkhianati topeng angkuhnya.
"Kau pikir siapa lagi yang cukup sial untuk terjebak di tempat sampah ini bersamamu, Nona Rania yang sombong" jawab Rafa dengan nada datar dan berwibawa, meski situasi mereka sedang di ujung tanduk.
"Jangan berlagak bijaksana di depanku! Ini pasti ulahmu kan? Kau kalah dalam tender proyek pagi tadi dan sekarang kau menculikku untuk membalas dendam" Rania mendesis, matanya yang tajam menatap Rafa dengan kebencian murni. Di usia 31 tahun, Rania adalah predator di dunia bisnis, wanita yang membangun tembok tinggi karena trauma masa lalu pada ayahnya. Baginya semua laki-laki adalah ancaman.
Rafa terkekeh sinis, anting kecil di telinga kirinya berkilau tertimpa sedikit cahaya bulan yang menerobos celah atap. "Gunakan otakmu, Nona Rania yang terhormat. Tanganku juga terikat, jika aku ingin menyingkirkanmu, aku akan melakukannya di meja rapat, bukan di gudang berhantu yang jauh dari peradaban ini"
Pertengkaran di Balik Trauma
Suasana hening sejenak, hanya menyisakan suara derit rantai yang bergesekan dengan besi penyangga. Kegelapan di gudang itu semakin pekat. Rania mulai gemetar, ia membenci kegelapan. Baginya gelap adalah ruang hampa yang siap menelannya bulat-bulat, mengingatkannya pada lemari kecil tempat ayahnya dulu sering mengurungnya sebagai hukuman.
"Lepaskan, lepaskan aku" Rania mulai meronta histeris. Sepatu hitam senadanya menendang-nendang udara kosong. "Rafa, lakukan sesuatu! Jangan diam saja seperti patung"
"Diam, Rania! Kau hanya akan melukai pergelangan tanganmu sendiri" bentak Rafa tegas. Suaranya yang berat dan berwibawa seketika membungkam teriakan Rania. "Kita harus menghemat energi. Kita tidak tahu siapa yang membawa kita ke sini atau apa motifnya"
"Aku tidak peduli! Aku benci tempat ini! Aku benci kau! Kau sama saja dengan mereka, hanya diam melihatku menderita" Rania mulai terisak, namun ia segera menelan kembali tangisnya. Keangkuhannya melarangnya terlihat lemah di depan rival terbesarnya.
Rafa memperhatikan wanita di sampingnya. Di balik sikap dingin dan lidahnya yang tajam, ia melihat seorang gadis kecil yang ketakutan. Rasa iba mulai menyusup di sela-sela rasa kesalnya.
"Rania, lihat aku" perintah Rafa lembut namun tak terbantahkan.
Rania membuang muka, "Tidak mau"
"Lihat aku! Fokus pada suaraku, jangan lihat kegelapannya" perintah Rafa lagi untuk yang kedua kalinya.
Rania perlahan menoleh. Di tengah kegelapan, mata coklat Rafa tampak seperti lentera yang tenang. Ada kedewasaan yang aneh di sana, sesuatu yang selalu membuat Rania kesal sekaligus merasa aman secara tidak sadar.
"Aku ada di sini, meskipun kita saling membenci di luar sana, di sini hanya ada kau dan aku. Aku tidak akan membiarkan apa pun menyentuhmu" ucap Rafa tenang.
Rahasia yang Terkuak
Jam berlalu seperti siksaan. Rasa haus dan nyeri di bahu mulai terasa tak tertahankan. Rania sudah hampir menyerah, tubuhnya lemas, kepalanya tertunduk.
"Kenapa kau begitu membenci laki-laki, Rania? Sampai-sampai kau memperlakukan rekan bisnismu seperti musuh di medan perang" tanya Rafa memecah kesunyian, berusaha menjaga Rania agar tetap sadar.
Rania tertawa getir. "Karena laki-laki hanya tahu cara mengendalikan dan menyakiti. Ayahku, kau, kalian semua sama saja. Kalian hanya ingin melihatku tunduk"
"Aku tidak ingin kau tunduk" potong Rafa cepat. "Aku ingin kau menjadi rival yang tangguh, karena hanya dengan begitu aku bisa menghormatimu. Kau pikir aku bersikap dewasa karena aku ingin pamer? Tidak Rania, aku harus menjadi dewasa karena tidak ada orang lain yang bisa diandalkan dalam hidupku sejak kecil"
Rania terdiam, ia baru menyadari bahwa pria berusia 29 tahun di sampingnya ini memikul beban yang mungkin sama beratnya dengan miliknya. Di bawah kemeja putih yang kini kotor itu, ada tanggung jawab besar yang membuatnya harus bersikap seperti pria berusia 40 tahun.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki berat di luar gudang. Pintu besi berderit terbuka, membiarkan cahaya lampu senter yang menyilaukan masuk. Sosok bayangan hitam berdiri di ambang pintu, memegang sesuatu yang tampak seperti senjata.
Rania memekik kecil, mencoba bersembunyi di balik bayangannya sendiri. Namun dalam posisi terikat, ia tidak bisa ke mana-mana.
Secara naluriah, Rafa menggeser posisinya sejauh yang diizinkan rantai, mencoba menghalangi pandangan orang asing itu dari Rania. Meskipun tangannya mati rasa dan tubuhnya lelah, tatapan matanya tetap tajam dan siap menerjang.
"Jangan sentuh dia" desis Rafa dengan nada mengancam yang sangat dalam. "Urusan kalian denganku, bukan dengan wanita ini"
Di detik itu, di tengah rasa takut dan benci yang selama ini mereka pupuk, Rania merasakan sesuatu yang asing. Sebuah rasa peduli yang hangat menjalar di hatinya. Untuk pertama kalinya ia melihat seorang laki-laki yang tidak menggunakan kekuatannya untuk menguasai, melainkan untuk melindungi.
Misteri tentang siapa yang membawa mereka ke sana masih belum terpecahkan, namun di dalam gudang dingin itu, dinding keangkuhan antara Rafa dan Rania mulai retak, menyisakan rahasia baru yang mungkin jauh lebih berbahaya, sebuah rasa yang seharusnya tidak ada di antara dua rival. Gudang itu tetap gelap, tapi bagi Rania, cahaya di mata Rafa sudah cukup untuk sementara.
Daftar bab
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Volume 1 · Volume 1
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.








