

"Hari ini juga kamu harus keluar dari kontrakan kalau belum bisa bayar."
Kalimat itu masih terngiang di telinga Dimas bahkan setelah telepon dari pemilik kontrakan diputus.
Dimas menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum menghela napas panjang.
Saldo rekeningnya hanya tersisa Rp173.000.
Sedangkan tunggakan kontrakan sudah dua bulan.
Di luar, matahari Jakarta terasa menyengat. Keringat membasahi seragam kurir yang dikenakannya sejak pagi. Sejak pukul tujuh tadi, ia sudah mengantar lebih dari dua puluh paket, namun penghasilannya hari itu bahkan belum mencapai seratus ribu rupiah.
"Permisi Mbak, paket atas nama Jasmine"
Dimas menyerahkan sebuah kardus kecil kepada seorang wanita muda di depan rumah mewah kawasan elite.
Wanita itu menerima paket tanpa menatap wajahnya.
"Taruh aja di situ."
"Iya, Mbak."
Dimas mengangguk lalu berbalik pergi.
Hal seperti itu sudah biasa.
Bagi kebanyakan orang, kurir hanyalah orang asing yang datang sebentar lalu menghilang.
Tidak penting, tidak menarik, dan tentu saja tidak layak untuk diperhatikan.
Tak lama kemudian, ponselnya bergetar lagi. Kali ini dari rumah sakit.
Jantung Dimas langsung berdebar.
"Halo?"
"Selamat siang, Pak Dimas. Kami dari Rumah Sakit Harapan Sehat."
"Iya, Bu."
"Untuk biaya perawatan Ibu Ratna, kami ingin mengingatkan bahwa masih ada tunggakan sebesar delapan juta rupiah."
Dimas memejamkan mata.
Lagi.
Tagihan lagi.
Selalu tagihan.
"Kapan saya harus melunasinya, Bu?"
"Kami harap secepatnya, Pak. Paling lambat lusa"
"Baik."
Setelah telepon berakhir, Dimas berdiri diam cukup lama di pinggir jalan.
Ibunya sudah dirawat hampir dua minggu karena komplikasi penyakit ginjal.
Selama itu pula ia terus berutang ke sana kemari. Teman, saudara, tetangga, bahkan aplikasi pinjaman online. Namun tetap saja tidak cukup.
Kadang Dimas merasa hidup sedang mempermainkannya.
Setiap kali berhasil menyelesaikan satu masalah, dua masalah baru muncul menggantikannya.
Dulu waktu ayahnya sakit, Dimas merelakan mimpinya untuk bisa kuliah. Karena sebagai anak satu-satunya, hanya dia yang bisa diharapkan untuk bisa mencari nafkah menggantikan peran sang ayah.
Bertahun-tahun Dimas bekerja untuk membiayai keluarga dan untuk pengobatan ayahnya yang menderita penyakit kanker paru-paru. Ibunya bahkan sampai berhutang kesana kemari demi karena penghasilan Dimas sebagai kurir paket tak mencukupi.
Hingga akhirnya Ayahnya meninggal, Ibunya terlilit hutang, dan belakangan baru diketahui kalau ibunya menderita penyakit komplikasi ginjal.
Tiba-tiba bunyi klakson membuatnya tersadar. Dia segera menaiki motor tuanya dan melanjutkan pekerjaan.
Karena apa lagi yang bisa ia lakukan?
Kalau berhenti bekerja sehari saja, ia bahkan mungkin tidak bisa membeli makan malam.
Menjelang sore, hujan turun deras.
Dimas berteduh di bawah kanopi sebuah minimarket sambil memeriksa daftar pengiriman terakhir.
Tinggal satu paket lagi, setelah itu ia bisa pulang. Atau lebih tepatnya, kembali ke kontrakan yang sebentar lagi mungkin bukan lagi miliknya.
Saat itu, ponselnya kembali bergetar. Senyum tipis muncul ketika melihat nama yang tertera di layar.
Nadia.
Pacarnya.
Satu-satunya orang yang selama ini membuat hidup terasa sedikit lebih ringan.
"Halo, Sayang."
Namun suara yang terdengar di seberang membuat senyumnya perlahan menghilang.
"Dimas, aku mau ngomong sesuatu."
Nada bicara Nadia terasa berbeda dari biasanya. Nadia yang biasanya selalu bicara dengan nada yang manja, kali ini terdengar dingin.
"Oh, boleh. Mau ngomong apa?"
"Kita ketemu sekarang bisa?"
Dimas mengernyit.
"Sekarang?"
"Aku lagi di Cafe Magnolia."
"Oke. Aku ke sana."
Empat puluh menit kemudian, Dimas tiba di sebuah kafe yang jauh lebih mewah daripada tempat yang biasa mereka kunjungi.
Ia masuk sambil membawa helm. Matanya langsung menemukan Nadia yang duduk di dekat jendela.
Namun ada seseorang di sebelahnya. Seorang pria berpakaian rapi dengan jam tangan mahal di pergelangan tangan.
Mobil sport merah terlihat terparkir tepat di depan kafe.
Entah kenapa, perasaan tidak enak mulai muncul.
"Dimas."
Nadia berdiri.
Sementara pria disebelahnya hanya melirik sekilas. Tidak ada senyum, apalagi sapaan. Seolah Dimas tidak layak mendapatkan keduanya.
"Siapa dia?" tanya Dimas.
Nadia terlihat ragu.
"Namanya Kevin."
Pria itu akhirnya ikut berdiri sambil mengulurkan tangan dengan santai.
"Kevin Wijaya."
Dimas menjabatnya. Pegangan tangan yang terlalu percaya diri. Atau mungkin terlalu meremehkan.
"Aku pacarnya Nadia." Kata Dimas.
Kevin tersenyum tipis.
"Belum tentu."
Kalimat itu menghantam seperti pukulan.
Dimas menatap Nadia.
"Apa maksudnya?"
Nadia menunduk beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan.
"Dimas... aku capek."
Dimas membeku.
Capek. Satu kata yang sering menjadi awal dari sesuatu yang buruk.
"Aku capek hidup kayak gini."
"Nadia..."
"Aku udah lima tahun sama kamu." Suara Nadia mulai bergetar. "Tapi hidup kita gak ke mana-mana."
Dimas ingin membela diri. Ingin menjelaskan. Ingin mengatakan bahwa ia sudah berusaha sekuat tenaga.
Namun kata-kata itu tertahan di tenggorokan. Karena jauh di dalam hatinya, ia tahu Nadia tidak sepenuhnya salah. Ia memang gagal memberikan kehidupan yang lebih baik.
"Aku masih sayang sama kamu."
Kalimat itu justru terasa lebih menyakitkan.
"Kalau masih sayang, kenapa ngomong kayak gini?"
Air mata mulai muncul di sudut mata Nadia.
"Karena sayang aja gak cukup"
Sunyi. Hanya suara hujan yang terdengar di luar.
"Aku mau nikah, Dimas."
Mendengar itu, Jantung Dimas terasa diremas.
"Aku mau punya masa depan."
"Aku juga berusaha..." Balas Dimas.
"Tapi sampai kapan?"
Pertanyaan itu membuat Dimas tidak mampu menjawab.
Sampai kapan? DIa sendiri tidak tahu.
Kevin yang sejak tadi diam akhirnya bersandar santai.
"Nadia pantas dapat kehidupan yang lebih baik."
Dimas menatap pria itu, memperhatikan segala yang melekat di dirinya. Setelan mahal, mobil sport, jam tangan yang mungkin lebih mahal dari motor yang ia kendarai.
Dan tiba-tiba ia mengerti. Ia kalah.
Bukan karena kurang mencintai. Tetapi karena tidak memiliki apa-apa.
"Aku minta maaf."
Air mata Nadia akhirnya jatuh.
"Kita selesai."
Hanya dua kalimat. Namun cukup untuk menghancurkan lima tahun hubungan mereka.
Dimas tertawa kecil, bukan karena lucu. Melainkan karena terlalu sakit.
"Oke." Jawab Dimas.
Nadia terlihat terkejut.
"Kamu setuju?"
"Kalau itu yang kamu mau, aku bisa apa?"
Dimas berdiri, mengambil helmnya, lalu pergi tanpa menoleh lagi. Karena kalau ia menoleh, mungkin harga dirinya yang tersisa akan ikut hancur.
***
Malam beranjak turun, hujanpun semakin deras. Dimas mengendarai motornya tanpa tujuan. Dadanya terasa kosong.
Ia meratapi ujian demi ujian yang menimpa hidupnya beberapa tahun belakangan ini.
Ayahnya sakit, gagal kuliah karena harus menggantikan ayah, kemudian ayahnya meninggal, Ibunya sakit, utang menumpuk, terancam diusir dari kontrakan, dan sekarang Nadia pergi.
Sempurna.Benar-benar sempurna.
"Hahaha..." Ia tertawa sendiri. Suara tawanya tenggelam oleh hujan.
Lama kelamaan, lampu kota terlihat buram. Entah karena air hujan atau karena matanya yang mulai basah.
Tiba-tiba ponselnya bergetar lagi. Kali ini dari rumah sakit. Dan entah kenapa perasaan buruk langsung muncul.
"Mas Dimas?"
Suara dokter terdengar serius.
"Iya, Dok?"
"Kondisi ibu Anda menurun."
Jantung Dimas serasa berhenti.
"Apa?"
"Kami sarankan Anda segera datang."
Tanpa berpikir panjang, Dimas memutar gas. Motor tuanya melaju membelah hujan dengan kecepatan tinggi.
Dia tidak peduli dengan jalan licin, dia tidak peduli dengan kendaraan lain. Yang ada di pikirannya hanya satu.
Ibunya.
“Tolong jangan sekarang, Tuhan.... Jangan ambil satu-satunya orang yang masih ku miliki” Batinnya memohon.
Lampu merah di persimpangan yang tadinya hijau berubah merah. Dimas menerobos.
Dan pada saat itulah semuanya terjadi.
Cahaya terang muncul dari sisi kanan.
Suara klakson memekakkan telinga.
BRAAAKKK!
Tubuh Dimas terpental.
Dunia langsung terasa berputar. Aspal, lampu, hujan, darah, semuanya bercampur jadi satu.
Suara orang-orang terdengar samar.
"Ya Allah!"
"Ada kecelakaan!"
"Cepat panggil ambulans!"
Pandangan Dimas mulai mengabur. Tubuhnya mendadak terasa dingin. Apakah ini akhir?
Apakah hidupnya benar-benar berakhir seperti ini?
Miskin.
Gagal.
Ditinggalkan.
Dan mati sendirian di tengah jalan.
Kesadaran Dimas perlahan tenggelam. Namun tepat sebelum semuanya berubah gelap...
Sebuah suara asing tiba-tiba terdengar. Bukan suara manusia. Bukan suara mesin.
Melainkan kombinasi antara keduanya.
[Kecocokan pengguna terdeteksi.]
[Memulai proses sinkronisasi.]
[1%...]
Mata Dimas yang hampir tertutup kembali terbuka sedikit.
Apa itu?
[10%...]
[35%...]
[67%...]
Suara itu terus terdengar di dalam kepalanya.
[Sinkronisasi berhasil.]
Lalu sebuah layar biru transparan muncul di hadapannya.
Ini mustahil, tapi ia bisa melihatnya dengan jelas.
Setelah loading mencapai 100%, sebuah tulisan kembali muncul di layar transparan itu.
SISTEM KEMAKMURAN TANPA BATAS
Pemilik : Dimas Pratama
Level : 1
Saldo Sistem : Rp0
MISI PERTAMA
Bertahan hidup.
Hadiah: Rp100.000.000
Kegagalan: Kematian.
Mata Dimas membelalak. Namun sebelum sempat memahami apa yang terjadi, kesadarannya akhirnya benar-benar menghilang.
Dan jauh di suatu tempat yang tidak diketahui siapa pun...
Sepasang mata misterius sedang memperhatikan layar yang sama.
"Menarik."
Senyuman tipis muncul di wajah sosok itu.
"Player baru akhirnya muncul."