Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
The Death App

The Death App

Bluemoon81 | Tamat
Jumlah kata
84.6K
Popular
100
Subscribe
2
Novel / The Death App
The Death App

The Death App

Bluemoon81| Tamat
Jumlah Kata
84.6K
Popular
100
Subscribe
2
Sinopsis
PerkotaanAksiPertualangan
Tiba tiba dia mendapatkan sebuah hp yang berisi aplikasi permainan, di mana game tersebut tahu di mana orang akan mati, tugasnya adalah menyelamatkan dan mengungkap misteri dan pembunuhnya.
Bab 1Aplikasi Pemberitahuan Kematian The Death App

Kasus 1: Pohon di Awal Musim Semi

Pagi hari di Plaza Internasional J masih sama seperti biasanya, menyambut para pekerja kantoran yang tampak lelah dan kusam. Di antara mereka, Arvin Wira membawa tas kerjanya, bersiap menuju klinik konsultasi psikologi miliknya.

Ia berjalan melewati parkiran bawah tanah yang rumit. Lantai B3 terasa sangat sunyi. Di sudut-sudut gelap, sesekali tampak bayangan orang melintas, dan lampu belakang mobil yang tiba-tiba menyala membuat jantung berdebar.

Setelah masuk ke dalam lift, Arvin menguap. Lingkar hitam di bawah matanya—akibat kurang tidur berkepanjangan—terpantul jelas di dinding lift. Masih pagi sekali. Ia menekan tombol lantai 20, bersandar pada pegangan, mencoba menenangkan diri.

Namun saat ia mendongak… tiba-tiba ia melihat wajah seorang pria yang familiar muncul di langit-langit lift.

Sudut bibir pria itu yang kaku perlahan membentuk senyuman.

Tanpa peringatan, tubuh pria itu jatuh seperti potongan daging dari atas, menghantam atap lift dengan keras. Dalam sekejap, Arvin merasa seolah-olah isi otak korban merembes keluar dari celah, menetes ke matanya. Darah dan daging terciprat ke segala arah.

Leher pria itu terpelintir. Bola matanya pecah. Rongga matanya dipenuhi darah. Setengah lidah yang tergigit tergeletak di lantai, sesekali masih bergerak karena sisa refleks otot.

Arvin langsung berjongkok sambil menutup kepala.

“A-aku minta maaf… aku tidak sengaja…”

Suara gemetarnya menggema di dalam lift.

Namun di ruang keamanan, kamera pengawas tidak menunjukkan apa pun yang berhubungan dengan darah atau kejadian itu.

Ini adalah mimpi buruk Arvin.

Bayangan yang terus menghantui klinik psikologinya.

Lima tahun lalu, tepat tengah hari, seorang pasien pria melompat dari lantai sepuluh sebuah apartemen. Sejak saat itu, Arvin menganggap dirinya sebagai pembunuh tidak langsung.

Karena salah diagnosis, penyakit gangguan mental pasien itu kambuh. Pada puncaknya, pasien tersebut memilih bunuh diri. Benturan kepalanya saat jatuh… tak akan pernah Arvin lupakan.

Lima tahun berlalu.

Rasa bersalah itu membuatnya menderita halusinasi tingkat sedang. Ia sering melihat hal-hal berdarah. Hal itu juga membuatnya menjadi sensitif sekaligus mati rasa.

Walaupun anak korban tidak menyalahkannya, luka di hatinya tak pernah benar-benar sembuh.

---

Akhirnya, Arvin membuka pintu kantornya. Begitu masuk, lonceng angin Jepang di pintu berbunyi pelan.

Karena pencahayaan ruangan kurang, ia menyalakan lampu dinding. Saat itulah ia melihat sebuah paket hitam di dekat pintu.

“Siapa yang kirim? Aku tidak pernah belanja online…”

Ia menenangkan diri, menarik kerah bajunya, lalu meletakkan paket itu di meja. Setelah mengganti sepatu dengan sandal dalam ruangan, ia mulai membuka paket tersebut.

Kotaknya dilapisi plastik hitam berlapis-lapis, seolah takut isinya dicuri.

Di dalamnya, ada sebuah ponsel lama tanpa merek.

Jenis yang biasa didapat gratis saat isi ulang pulsa.

Saat dinyalakan, layar menampilkan deretan kode acak, lalu masuk ke halaman utama—yang hanya memiliki satu aplikasi.

Tidak ada sistem lain.

Arvin mengerutkan kening, lalu membuka aplikasi itu karena penasaran.

Ikonnya berupa tengkorak tersenyum.

Setelah memberikan izin, layar menampilkan tulisan besar:

“Pemberitahuan Kematian”

“Apa ini? Kenapa dikirim ke klinikku? Iseng saja?”

Berbagai pertanyaan muncul di kepalanya.

Ia bahkan sempat berpikir ini hanya halusinasi lagi.

Namun tak lama kemudian, layar berubah.

Teks aneh bermunculan dari kedua sisi layar:

“Neraka kosong, iblis ada di dunia manusia!”

“Benar juga… orang yang sering berjalan di malam hari pasti suatu saat akan bertemu ‘hantu’. Dan hantu itu sebenarnya adalah iblis dalam diri manusia, yang diberi makan oleh ketakutan, keserakahan, dan nafsu.”

Sebagai seorang psikolog, Arvin telah melihat banyak sisi gelap manusia.

Kemarahan. Kejahatan. Dorongan membunuh.

Semua itu, pada akhirnya, mendorong seseorang menuju jalan kriminal.

---

“Selamat datang di Aplikasi Pemberitahuan Kematian.”

“Mulai sekarang, aku akan berjalan bersamamu.”

“Sebagai orang yang terpilih, harap perhatikan segala hal di sekitarmu.”

“Begitu pilihan dimulai, tidak bisa dibatalkan.”

“Tugas harian dapat diambil sesuai kondisi.”

“Hadiah misterius menunggumu.”

---

Layar kembali berubah.

Alamat: Klinik Psikologi 2021, Plaza J

Pemilik: Arvin Wira

Status: Halusinasi ringan

Pasien hari ini: Tidak ada

Anggota klinik: Tidak ada

Skill terbuka: Tidak ada

Data pribadi:

Ayah: penderita bipolar sekaligus kriminal

Ibu: meninggal bunuh diri sebelum ia lulus kuliah

Lima tahun lalu salah diagnosis menyebabkan pasien bunuh diri

Mengadopsi anak korban: Tio Saputra

Status: lajang

Memiliki gangguan psikologis

Skill aktif:

Hipnosis medis (dapat membuat pasien tertidur dan mengungkap rahasia)

Skill yang bisa dibuka:

Kartu Rekonstruksi Memori (sekali pakai, berlaku 3 hari)

Tiket Pemberitahuan Kematian (memberi info 24 jam sebelum korban dibunuh)

Reward:

Menyelesaikan misi akan membuka skill baru dan anggota AI psikolog.

Bintang (Star):

1 bintang = menunda kematian target 1 jam

Maksimal 3 bintang per hari

Kemampuan lain:

Segala sesuatu mungkin terjadi. Tindakan kecil bisa memicu krisis.

---

“Mainan membosankan… cuma cocok buat anak kecil.”

Namun Arvin mulai merasa tidak tenang.

Informasi tentang dirinya di aplikasi itu… sangat detail.

Padahal ia tidak pernah menceritakan masa lalunya kepada siapa pun.

Saat ia hendak mematikan layar—

Tanpa sengaja, jarinya menekan tombol “Mulai”.

Lampu merah berkedip.

Layar seperti tersambar kilat.

Dan permainan… dimulai.

---

Penghitung Mundur Kematian

Level 1

Nama pemain: Arvin Wira

Level: Pemula

Skill: Belum ada

Target kematian: Perempuan

(terdapat foto hitam putih)

Sisa waktu hidup: 2 jam

Hitungan dimulai

---

Aturan permainan:

1. Semua pilihan bersifat permanen

2. Tidak bisa dibatalkan

3. Cerita bersifat fiksi

---

Arvin menatap layar dengan bingung.

Sebagai orang yang tidak tertarik dengan game, ia tidak tahu harus berbuat apa.

Hiburan hariannya hanya membaca buku dan koran.

Kalau bukan karena Tio yang sering mengurusnya, mungkin ia sudah mati kelaparan di kantor.

Saat ia masih termenung—

Terdengar suara dari luar.

Pasien yang membuat janji semalam telah datang.

Setelah sesi hipnosis selesai, kondisi pasien terlihat lebih baik.

Namun tak lama setelah pasien pergi—

Ponsel itu tiba-tiba bergetar.

Layar menunjukkan:

Sisa waktu: 0

Permainan… telah berakhir.

Lanjut membaca
Lanjut membaca