
- Jumlah kata
- 17.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Di tengah gemerlap Kota Dunia Entertainment, nama Larasati Purnama mulai bersinar sebagai aktris muda berbakat. Di saat kariernya sedang menanjak, ia bertemu dengan Ahmad Pratama, seorang pria sederhana yang bekerja di balik layar sebuah perusahaan hiburan besar.Laras tidak pernah tahu bahwa Ahmad menyimpan tiga rahasia besar yang mampu mengubah hidup mereka.Rahasia pertama, Ahmad bukanlah pria biasa. Ia adalah pewaris utama kerajaan bisnis entertainment terbesar di kota itu yang sengaja menyembunyikan identitasnya.Rahasia kedua, Ahmad mengidap penyakit serius yang perlahan menggerogoti tubuhnya.Rahasia ketiga, masa lalu kelam yang terus menghantuinya terkait seseorang yang pernah sangat ia cintai.Ketika cinta tumbuh di antara mereka, satu per satu rahasia itu mulai terungkap. Laras harus memilih antara mempercayai pria yang dicintainya atau meninggalkan semua kebohongan yang selama ini menyelimuti hubungan mereka.Namun saat kebenaran akhirnya berada di depan mata, Ahmad justru menghilang tanpa jejak, meninggalkan pertanyaan yang belum terjawab.Apakah cinta mereka cukup kuat untuk bertahan?Atau semua itu hanyalah kisah yang ditakdirkan menjadi kenangan?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Pertemuan dibalik lampu panggung
Gemerlap lampu memenuhi langit malam Kota Dunia Entertainment.
Kota itu tidak pernah benar-benar tidur. Ketika sebagian orang beristirahat, para aktor, penyanyi, sutradara, dan kru justru sibuk mengejar impian mereka.
Di salah satu studio terbesar kota itu, suasana syuting sedang berlangsung dengan sangat sibuk.
"Siap untuk pengambilan gambar berikutnya!"
teriak seorang asisten sutradara.
Di tengah keramaian itu berdiri seorang wanita muda berusia dua puluh lima tahun. Rambut hitam panjangnya tergerai rapi, sementara wajah cantiknya memancarkan pesona yang sulit diabaikan.
Dia adalah Larasati Purnama.
Nama Laras mulai dikenal publik berkat kemampuan aktingnya yang memukau. Meski popularitasnya terus meningkat, Laras tetap dikenal rendah hati.
Namun malam itu pikirannya sedang tidak tenang.
Jadwal syuting yang padat membuat tubuhnya kelelahan.
"Laras, kamu baik-baik saja?" tanya sahabat sekaligus manajernya, Dinda.
"Aku hanya sedikit pusing."
"Kamu harus istirahat."
"Nanti saja setelah adegan ini selesai."
Laras memaksakan senyum.
Beberapa menit kemudian proses syuting dimulai.
Kamera merekam.
Lampu sorot menyala.
Semua berjalan lancar hingga tiba-tiba pandangan Laras menjadi kabur.
Suara di sekitarnya terdengar semakin jauh.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
"Laras!"
Bruk!
Ia terjatuh tepat di tengah lokasi syuting.
Kepanikan langsung terjadi.
Beberapa kru berlari mendekat.
Dinda terlihat sangat khawatir.
Di tengah kerumunan, seorang pria melangkah cepat menuju Laras.
Pria itu mengenakan kemeja hitam sederhana dan ID card kru yang menggantung di lehernya.
Wajahnya tampan namun tenang.
Tatapannya menunjukkan kepedulian yang tulus.
"Berikan ruang," katanya tegas.
Orang-orang langsung menyingkir.
Pria itu membantu Laras duduk perlahan.
"Minum ini."
Ia menyerahkan botol air mineral.
Laras menerima dengan tangan gemetar.
"Terima kasih."
"Sepertinya kamu kelelahan."
Laras menatap pria itu.
Untuk beberapa saat, suara di sekitarnya seolah menghilang.
Ada sesuatu dalam sorot mata pria tersebut yang membuatnya merasa aman.
"Aku baik-baik saja," jawab Laras pelan.
Pria itu tersenyum tipis.
"Orang yang baik-baik saja biasanya tidak pingsan di tengah syuting."
Ucapan itu membuat Laras tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya malam itu, rasa pusingnya berkurang.
"Aku Ahmad."
"Laras."
"Aku tahu."
Laras mengangkat alis.
"Tentu saja kamu tahu. Semua orang di kota ini mengenalmu."
Mereka berdua tertawa.
Dinda yang melihat percakapan itu mulai merasa lega.
Beberapa kru memanggil Ahmad untuk kembali bekerja.
"Aku harus pergi."
"Terima kasih sudah membantu."
"Tidak masalah."
Ahmad berbalik meninggalkan lokasi syuting.
Namun sebelum pergi jauh, ia menoleh.
"Jangan terlalu memaksakan diri, Laras."
Kalimat sederhana itu entah mengapa terus terngiang di kepala Laras.
Malam semakin larut.
Syuting akhirnya selesai menjelang tengah malam.
Saat berjalan menuju area parkir, Laras kembali melihat sosok Ahmad.
Pria itu sedang duduk sendirian di sebuah bangku dekat taman studio.
Tangannya memegang secangkir kopi.
Tatapannya mengarah ke langit malam.
Seolah ada beban besar yang sedang dipikirkannya.
Tanpa sadar Laras memperhatikan cukup lama.
Sampai akhirnya Ahmad menyadari keberadaannya.
"Kamu belum pulang?"
Laras sedikit gugup.
"Harusnya aku yang bertanya begitu."
Ahmad tersenyum.
"Mungkin."
Laras duduk di bangku yang sama.
Suasana malam terasa tenang.
Jauh berbeda dari hiruk-pikuk studio beberapa jam sebelumnya.
"Kenapa kamu bekerja di sini?" tanya Laras.
"Karena aku suka melihat orang mengejar mimpi mereka."
"Jawaban yang aneh."
"Memang."
Mereka kembali tertawa.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Namun keheningan itu tidak terasa canggung.
Sebaliknya, terasa nyaman.
Laras tidak tahu mengapa.
Padahal baru beberapa jam mengenal Ahmad.
Tetapi ada sesuatu yang membuat pria itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemuinya.
Ia tidak berusaha mendekatinya karena popularitas.
Tidak berusaha mencari perhatian.
Tidak juga bersikap berlebihan.
Ahmad hanya menjadi dirinya sendiri.
Dan justru itulah yang membuat Laras penasaran.
Tanpa diketahui Laras, Ahmad menyimpan rahasia besar.
Rahasia yang suatu hari nanti akan mengubah kehidupan mereka berdua.
Rahasia tentang identitas yang disembunyikan.
Tentang penyakit yang perlahan menggerogoti hidupnya.
Dan tentang masa lalu yang belum pernah benar-benar ia tinggalkan.
Malam itu menjadi awal dari sebuah kisah cinta.
Kisah yang indah.
Sekaligus menyakitkan.
Dan tidak satu pun dari mereka tahu bahwa takdir telah mulai memainkan perannya.
Setelah keheningan berlalu laras pun pamit kepada ahmad untuk pulang terlebih dulu dikarenakan ia ingin segera tidur dan esok harinya harus melanjutkan syuting lagi yang cukup padat .
"Ahmad, aku duluan ya makasih udah nemenij aku ngobrol sebentar"
"Sama sama, ayo saya antar ke parkiran"
Tiba di tempat parkiran laras terdiam dan termenung memperhatikan ahmad entah apa yang menbuatnya begitu tenang ketika melihatnya.
Laras, laras, laras
Hallo laras. Larass pun terkejut mendengar panggilan itu.
Oh iya, sorry ya mad sempet bengong tadi hehe
Jangan melamun gak baik. Hati hati ya sampai jumpa lagi
Bye bye
Ahmad pun segera kembali ke tempat duduk dekat studio dan melanjutkan minum kopi dan mengobrol dengan teman teman nya.
Hi mad, denger denger lo lagi deket sama artis cantik itu ya. Ucap salah satu teman nya
Ah ngga, cuma kebetulan tadi bantu dia waktu pingsan di lokasi syuting dan markirin mobil aja.
Jangan di buat baper ya mad, dia artis lo kalau lo suka kita dukung ya.
Ahmad pun terdiam sambil meminum kopi nya dengan nikmat
Sruuuttt!!! Ah nikmat
Ahmad kembali ke dalam lokasi untuk berkemas dan merapikan alat alat yang sudah selesai di pakai.
Dengan hati hati perlahan ia membereskan nya.
Loh, ini kan tas nya laras kayanya ketinggalan deh.
Aku simpen dulu deh besok dia kesini aku kasih orang nya. Ucap ahmad dalam hati
"Dimas dimas sini bantuin gue"
"Kenapa mad"
"Angkat ini lampu tembak kita pindah kesana"
Ahmad dan dimas pun mengangkat lampu tembak dan menggulung kabel kabel agar terlihat rapih
Huft! Berat juga ya mad ini lampu
Ya udh ayo istirahat sebentar lagia tinggal dikit lagi udah selesai ko
15 menit kemudian. Ahmad dan dimas tergelatak di atas keramik demi membaringkan tubuhnya yang kelelahan.
"Akhirnya selesai juga"
"Ayo pulang"
Ahmad pun segera bergegas merapikan barang barang nya dan menuju tempat parkir
"Bye dim, gue duluan ya ketemu besok lagi"
"Hati hati mad jangan ngebut jalan licin"
"Yooo,, aman aman"
Ahmad pun mengendarai motornya dengan santai sambil bernyanyi bahagia.
"Syalala syalala syalala"
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan leleh ahmad segera masuk ke dalam rumah nya dan mengganti pakaian nya.
Ia segera merapikan tempat tidur dan menyimpan barang barang nya di dalam lemari
Ahmad pun segera meminum air dan berlari ke atas kasur dan melompat. Ia pun membaringkan badan nya dan terlelap tidur
Selesai
Daftar bab
16 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








