
Langit Di Atas Nusa Arcapala
Bangden16|Bersambung
- Jumlah kata
- 133.7K
- Popular
- 188
- Subscribe
- 26
- Jumlah kata
- 133.7K

Bangden16|Bersambung
Di balik cakrawala terbentang Nusa Arcapala, dunia kepulauan yang dipenuhi kerajaan kuno, perguruan kultivasi, gunung sakral, hutan gaib, makhluk roh, pusaka leluhur, dan lautan yang menyimpan misteri. Di dunia ini, kekuatan seseorang ditentukan oleh Napas Jagat, energi kehidupan yang memungkinkan manusia menapaki jalan kultivasi hingga mampu mengguncangkan langit dan bumi. Namun Raka Ardhana, pemuda enam belas tahun dari Desa Wanasari, justru dianggap tidak memiliki masa depan. Dalam Upacara Pengukuran Napas Jagat, Batu Pengukur menyatakan bahwa tubuhnya tidak memiliki resonansi sedikit pun. Raka dianggap gagal dan tidak akan pernah menjadi kultivator. Malam itu, dalam keterpurukannya, Raka memasuki hutan dan menemukan sebuah keris kuno yang tersembunyi di dalam pohon tua. Ketika menyentuh pusaka tersebut, segel misterius di tubuhnya mulai retak. Ia melihat bayangan seorang perempuan yang memanggilnya, "Anakku." Sejak saat itu, kehidupan Raka berubah. Desanya diserang oleh pasukan berjubah hitam dari Istana Sembilan Langit, organisasi kultivator yang selama bertahun-tahun memburu dirinya. Di tengah pertempuran, kekuatan tersegel dalam tubuh Raka bangkit. Matanya berubah keemasan dan bayangan naga raksasa muncul di langit. Raka kemudian mengetahui kebenaran yang selama ini disembunyikan darinya. Ia bukan pemuda tanpa bakat. Napas Jagat dalam tubuhnya telah disegel sejak bayi. Di dalam darahnya mengalir Darah Naga Langit, warisan dari garis keturunan kuno yang berkaitan dengan kerajaan Arcapala yang telah dihapus dari sejarah. Bahkan ayah yang membesarkannya ternyata bukan orang biasa. Jaya Wisesa memiliki identitas lain dan menyimpan hubungan dengan sebuah perguruan kuno yang dihancurkan dalam tragedi Perang Sembilan Langit. Sementara ibunya, Larasati Arunika, yang selama ini dianggap telah meninggal, ternyata masih hidup. Sebuah surat peninggalan sang ibu membawa Raka menuju Gunung Mahameru, tempat terdapat jalan menuju Lembah Para Leluhur. Namun untuk mencapai tempat tersebut, Raka harus menemukan tiga pusaka kuno: Keris Banyu Jagat, Mahkota Surya Arcapala, dan Tombak Naga Samudra. Bersama sahabat masa kecilnya, Sekar, dan seorang guru misterius bernama Mpu Rakai, Raka memulai perjalanan melintasi kerajaan, hutan terlarang, gunung sakral, lautan gaib, serta alam para leluhur. Dalam perjalanan, ia belajar bahwa menjadi kuat bukan hanya tentang menghancurkan musuh. Ia harus mengendalikan darah naga dalam tubuhnya, karena setiap segel yang terbuka membuat kekuatannya meningkat sekaligus mendekatkannya pada kehilangan kendali dan kemanusiaannya. Semakin jauh Raka melangkah, semakin banyak rahasia terungkap. Istana Sembilan Langit ternyata menyembunyikan kebenaran tentang Perang Sembilan Langit, sementara tiga pusaka yang dicarinya bukan sekadar senjata, melainkan bagian dari segel yang menjaga kekuatan kuno tetap tertidur.
1 ulasan
Ivan Morris
14/8/26 15:37
Baru bab 1 aja udah seru bacanya, ceritanya buat penasaran lumayan enak bacany buat ngisi waktu luang
Hujan turun sejak sebelum matahari terbit.
Di lereng Gunung Aruna, sebuah desa kecil bernama Wanasari tenggelam dalam kabut putih. Atap-atap rumah kayu basah oleh hujan, jalan tanah berubah menjadi lumpur, sementara suara gemuruh dari puncak gunung terdengar seperti raungan makhluk raksasa yang sedang tidur.
Penduduk desa tidak keluar rumah.
Hari itu adalah hari yang mereka tunggu selama tiga tahun.
Hari ketika anak-anak yang telah menginjak usia enam belas tahun akan mengikuti Upacara Pengukuran Napas Jagat.
Bagi kebanyakan orang, upacara itu adalah awal kehidupan.
Bagi sebagian yang lain, mungkin juga menjadi akhir dari sebuah impian.
Seorang pemuda berdiri sendirian di halaman sebuah rumah sederhana.
Namanya Raka Ardhana.
Usianya enam belas tahun.
Rambutnya hitam, sedikit panjang dan berantakan karena hujan. Tubuhnya tidak terlalu besar, tetapi cukup kuat karena sejak kecil terbiasa membantu ayah angkatnya menebang kayu di hutan.
Di tangannya terdapat sebuah gelang kayu tua.
Gelang itu adalah satu-satunya benda yang tersisa dari ibunya.
Raka tidak pernah mengenal perempuan yang melahirkannya.
Menurut ayahnya, ibunya meninggal ketika Raka masih bayi.
Namun ada sesuatu yang selalu mengganggunya.
Setiap kali ia bertanya tentang kematian ibunya, ayahnya selalu terdiam.
Bukan sedih.
Melainkan takut.
"Raka."
Suara berat terdengar dari belakang.
Raka menoleh.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun berdiri di ambang pintu. Tubuhnya besar dan salah satu kakinya sedikit pincang.
Namanya Jaya Wisesa.
Ayah yang membesarkan Raka.
"Masuklah. Hujan semakin deras."
Raka tidak bergerak.
"Ayah."
"Hm?"
"Menurut Ayah... aku bisa menjadi kultivator?"
Jaya terdiam.
Pertanyaan itu sederhana.
Namun jawabannya tidak.
"Semua orang bisa mencoba."
"Itu bukan jawaban."
Jaya menghela napas.
"Raka, dengarkan aku."
Raka akhirnya menatapnya.
"Jangan terlalu berharap."
Kalimat itu membuat dada Raka terasa sesak.
Sejak kecil ia mendengar kisah tentang para kultivator.
Mereka yang mampu menghirup Napas Jagat.
Mereka yang dapat berlari lebih cepat daripada kuda, menghancurkan batu dengan tangan kosong, mengendalikan api, memanggil angin, bahkan terbang menembus awan setelah mencapai tingkatan tertentu.
Di seluruh Nusa Arcapala, kultivator adalah orang-orang yang dihormati.
Kerajaan merekrut mereka.
Perguruan tinggi mencari mereka.
Bahkan desa kecil seperti Wanasari memiliki harapan besar apabila melahirkan seorang kultivator berbakat.
Dan hari ini adalah kesempatan Raka.
Kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya bukan sekadar anak miskin yang hidup dari menebang kayu.
"Aku akan mencoba."
Jaya menatapnya lama.
"Aku tahu."
"Kalau aku gagal?"
Jaya berjalan mendekat.
Tangannya yang kasar menyentuh kepala Raka.
"Kalau kau gagal, kau tetap anakku."
Raka tersenyum kecil.
"Tapi Ayah terlihat seperti orang yang tahu aku akan gagal."
Jaya tidak menjawab.
Sebab jauh di dalam dirinya, ia memang mengetahui sesuatu.
Sesuatu yang tidak pernah ia ceritakan kepada Raka.
Sesuatu tentang malam enam belas tahun lalu.
Tentang seorang perempuan yang datang ke desa membawa bayi.
Tentang luka di tubuhnya.
Tentang orang-orang berjubah hitam yang mengejarnya.
Dan tentang satu kalimat terakhir sebelum perempuan itu menyerahkan bayi tersebut kepadanya.
"Jangan biarkan mereka menemukan anak ini sebelum ia menemukan langitnya sendiri."
Jaya masih mengingatnya.
Setiap malam.
Selama enam belas tahun.
Alun-alun Wanasari dipenuhi penduduk.
Di tengahnya berdiri sebuah batu hitam setinggi dua meter.
Batu itu disebut Batu Pengukur Napas.
Konon batu tersebut berasal dari Gunung Aruna dan mampu membaca hubungan seseorang dengan Napas Jagat.
Di sekelilingnya berdiri tujuh tiang bambu yang dihiasi kain putih.
Para tetua desa berdiri di depan batu.
Salah satunya adalah Ki Sagara, kepala desa Wanasari.
"Upacara akan dimulai."
Suara Ki Sagara menggema.
Satu per satu anak maju.
Anak pertama meletakkan telapak tangan pada batu.
Cahaya merah muncul.
"Napas Jagat tingkat satu. Unsur api."
Orang tua anak itu bersorak.
Anak kedua.
Cahaya biru.
"Unsur air."
Anak ketiga.
Hijau.
"Unsur kayu."
Setiap hasil disambut tepuk tangan.
Kemudian seorang gadis bernama Sekar maju.
Ia adalah anak kepala desa.
Rambutnya panjang dan hitam, wajahnya tenang.
Ketika telapak tangannya menyentuh batu, cahaya keemasan menyala.
Bahkan hujan seakan berhenti sesaat.
Ki Sagara membelalak.
"Napas Jagat tingkat tiga!"
Penduduk gempar.
"Jenius!"
"Usia enam belas tahun dan langsung tingkat tiga!"
"Dia pasti diterima Perguruan Mandala Langit!"
Sekar menarik tangannya.
Matanya justru mencari seseorang di tengah kerumunan.
Raka.
Ketika mata mereka bertemu, Sekar tersenyum.
Raka membalasnya.
Mereka sudah berteman sejak kecil.
Namun hari ini berbeda.
Sekar telah membuktikan dirinya.
Sekarang giliran Raka.
"Raka Ardhana."
Suara Ki Sagara terdengar.
Kerumunan perlahan sunyi.
Raka berjalan maju.
Langkahnya terasa berat.
Ia berdiri di depan batu.
Menatap permukaannya yang hitam.
Untuk sesaat ia teringat perkataan ayahnya.
Jangan terlalu berharap.
Raka mengulurkan tangan.
Telapak tangannya menyentuh batu.
Tidak terjadi apa-apa.
Satu detik.
Dua detik.
Lima detik.
Batu tetap hitam.
Tidak ada cahaya.
Tidak ada perubahan.
Tidak ada reaksi.
Kerumunan mulai berbisik.
"Mungkin dia gugup."
"Berikan waktu."
Sepuluh detik.
Tetap tidak ada apa-apa.
Ki Sagara mendekat.
Ia memeriksa batu.
Kemudian menatap Raka.
"Tarik tanganmu."
Raka menurut.
Ki Sagara mengulang pemeriksaan.
Kemudian wajahnya berubah.
"Anak ini..."
Seseorang bertanya.
"Bagaimana hasilnya?"
Ki Sagara terdiam cukup lama.
Akhirnya ia berkata,
"Dia tidak memiliki resonansi Napas Jagat."
Suasana langsung hening.
Raka membeku.
"Apa maksudnya?"
Ki Sagara menghela napas.
"Artinya kau tidak bisa mengolah Napas Jagat."
Bisikan pecah di antara penduduk.
"Mustahil."
"Dia tidak punya bakat?"
"Bukan sekadar tidak berbakat."
"Dia benar-benar kosong."
Raka berdiri tanpa bergerak.
Kata-kata itu terdengar seperti suara yang datang dari tempat yang sangat jauh.
Kosong.
Tidak memiliki Napas Jagat.
Tidak bisa menjadi kultivator.
Tidak bisa pergi ke perguruan.
Tidak bisa melihat dunia luar.
Semua impiannya runtuh dalam satu kalimat.
Sekar maju.
"Ki, mungkin batunya rusak."
Beberapa orang tertawa.
"Jangan membelanya."
"Sudah jelas hasilnya."
"Anak itu memang aneh sejak kecil."
Raka menundukkan kepala.
Tangannya mengepal.
Ia ingin marah.
Ingin berteriak.
Tetapi tidak ada suara keluar.
Lalu terdengar suara seseorang dari belakang.
"Raka."
Jaya.
Raka menoleh.
Ayahnya berdiri di antara kerumunan.
Wajah Jaya tidak menunjukkan keterkejutan.
Seolah ia sudah mengetahui hasil itu sejak awal.
Dan justru itulah yang paling menyakitkan.
Raka berjalan meninggalkan alun-alun.
Ia tidak peduli pada hujan.
Tidak peduli pada tatapan orang.
Tidak peduli pada suara Sekar yang memanggil namanya.
Ia terus berjalan menuju hutan.
Menjelang sore, Raka duduk di tepi sebuah tebing.
Di bawahnya mengalir Sungai Wening.
Hujan telah berhenti.
Langit mulai berwarna jingga.
Raka memandangi tangannya.
Tangannya sama seperti milik orang lain.
Lima jari.
Darah.
Kulit.
Namun mengapa tubuhnya berbeda?
Mengapa ia tidak bisa merasakan Napas Jagat?
Ia mengambil batu kecil.
Melemparkannya ke sungai.
Pluk.
"Kenapa aku?"
Pertanyaan itu tidak memiliki jawaban.
Raka berbaring di atas rerumputan.
Ia memejamkan mata.
Saat itulah ia mendengar suara.
Bukan suara manusia.
Bukan suara burung.
Melainkan bisikan.
Raka...
Matanya terbuka.
Ia duduk.
"Siapa?"
Tidak ada siapa-siapa.
Angin bergerak di antara pepohonan.
Raka Ardhana...
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Suara itu berasal dari dalam hutan.
Raka berdiri.
Ia seharusnya pulang.
Tetapi rasa ingin tahu mengalahkan ketakutannya.
Ia masuk ke dalam hutan.
Semakin jauh ia berjalan, semakin sunyi suasananya.
Burung-burung berhenti bernyanyi.
Serangga menghilang.
Bahkan suara angin lenyap.
Kemudian ia menemukan sebuah pohon tua.
Batangnya begitu besar sehingga diperlukan belasan orang untuk memeluknya.
Akar-akarnya menjulur seperti ular.
Di tengah batang terdapat sebuah ukiran.
Sebuah lambang matahari.
Raka menyentuhnya.
Tiba-tiba gelang kayu di pergelangan tangannya bersinar.
Cahaya keemasan keluar dari celah gelang.
Raka mundur.
"Apa ini?"
Tanah bergetar.
Pohon tua itu mengeluarkan suara retakan.
Kemudian sebuah celah terbuka pada batangnya.
Di balik celah terdapat ruang kecil.
Dan di dalam ruang itu...
terdapat sebuah keris tua.
Bilahnya hitam.
Gagangnya berbentuk kepala burung.
Pada permukaannya terdapat pola yang menyerupai akar dan ombak.
Raka menatapnya.
Entah mengapa, ia merasa benda itu memanggilnya.
Tangannya bergerak tanpa sadar.
Ketika jarinya menyentuh gagang keris—
BOOM!
Ledakan cahaya memenuhi hutan.
Raka terjatuh.
Langit berubah gelap.
Awan berputar di atas Gunung Aruna.
Sebuah suara menggema dari kejauhan.
Bukan suara manusia.
Suara sesuatu yang jauh lebih tua.
"Akhirnya..."
Raka menatap langit.
Di antara awan, ia melihat sesuatu.
Sepasang mata emas.
Sangat besar.
Seekor makhluk raksasa bergerak di balik awan.
Naga.
Namun bukan naga biasa.
Tubuhnya panjang seperti ular raksasa, bersisik hitam, dengan tanduk bercabang dan cahaya keemasan mengalir di sepanjang tubuhnya.
Makhluk itu menatap langsung kepada Raka.
Kemudian berkata:
"Darah Arcapala telah terbangun."
Raka membeku.
Keris di tangannya bergetar.
Sebuah simbol muncul di telapak tangannya.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya...
Raka merasakan sesuatu mengalir di dalam tubuhnya.
Bukan Napas Jagat.
Sesuatu yang jauh lebih tua.
Jauh lebih liar.
Jauh lebih berbahaya.
Sebuah bisikan terakhir terdengar di kepalanya.
"Mereka mengira kau tidak memiliki napas."
Mata naga itu menyipit.
"Mereka salah."
Langit terbelah oleh kilat.
Dan pada saat yang sama, jauh di kerajaan lain, seorang pria berjubah hitam membuka matanya.
Di hadapannya terdapat sebuah cermin batu.
Permukaannya menampilkan gambar Raka.
Pria itu tersenyum.
"Jadi... anak itu akhirnya terbangun."
Di belakangnya, sembilan sosok berjubah hitam berlutut.
"Perintahkan seluruh penjaga."
Pria itu berdiri.
"Temukan dia."
Salah satu sosok bertanya,
"Jika dia melawan?"
Pria itu menatap gambar Raka.
"Jangan bunuh."
Ia tersenyum.
"Untuk pertama kalinya setelah enam belas tahun, darah Naga Langit telah kembali."
Sementara itu, Raka masih berdiri di tengah hutan.
Ia belum mengetahui bahwa kehidupan yang selama ini ia kenal telah berakhir.
Dan perjalanan yang akan membawanya menyeberangi gunung, lautan, kerajaan, alam roh, serta dunia para leluhur...
baru saja dimulai.
86 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.