
Pendekar Dunia Game dan Tujuh Istri Legendaris
A. Hofferson|Bersambung
- Jumlah kata
- 70.3K
- Popular
- 486
- Subscribe
- 57
- Jumlah kata
- 70.3K
- Popular
- 486
- Subscribe
- 57
Sinopsis
Tombol log out telah dihancurkan. Tidak ada jalan kembali menuju dunia nyata, karena mati di dalam game berarti mati di dunia nyata! Sistem Aethelgard kini memanggilmu. Login ke arena death game ini sekarang juga! Cari tahu sendiri bagaimana sang dewa perang meremukkan musuh-musuhnya dalam dunia game tanpa jalan keluar ini. Tentukan pilihanmu: dari ketujuh Final Boss berwujud wanita-wanita cantik mematikan ini, siapa yang akan menjadi favoritmu? Apakah Seraphina sang Ksatria Suci, Ignis sang Ratu Naga, Lilith sang Penguasa Ilusi, Lyrith sang Gadis Penyembuh, Kuroka sang Pembunuh Bayaran, Elara sang Ratu Peri, atau Eve sang Ahli Mesin? Bergabunglah dalam perburuan!
Ulasan
3 ulasan
Lanang Satya
30/9/26 22:52
Lagi seru-serunya baca malah abis, mudah-mudahan hari ini posting banyak. Jangan ragu2 Thor, post seharinya biar banyak 10 bab juga gaskeun
PILIHANMarry Anne
3/10/26 10:33
Ini penulisnya gamer kali ya? atau real ngehalu, Thor??? Suka sih plotnya, walau kadang ada istilah yang gua nggak ngerti
Kematian Tombol Log Out
"Kembalikan koin emas gua, Penipu Anjing!" teriak seorang pria bertubuh kekar seraya mengayunkan gada besinya tepat ke arah wajah seorang pedagang di tengah alun-alun Kota Pemula.
Senjata tumpul berukuran besar itu menghantam udara kosong. Sang pedagang melompat ke belakang, menghindari serangan mematikan tersebut dengan gerakan canggung.
Kios tendanya hancur berantakan akibat terjangan gada, menyebarkan puluhan botol ramuan pemulih yang pecah dan membasahi jalanan berbatu putih dengan cairan berwarna merah cerah.
"Lu yang salah baca deskripsi barang, Goblok! Gua nggak pernah bilang pedang itu punya atribut api!" balas sang pedagang dengan nada tinggi.
Dia mencabut belati pendek dari pinggangnya, bersiap mempertahankan diri dari serangan lanjutan.
Pertarungan kecil di dalam batas kota seperti ini selalu menjadi hiburan gratis bagi ribuan pemain yang berlalu-lalang. Namun, bagi Aldric yang duduk bersandar di dinding batu tidak jauh dari sana, keributan ini hanyalah gangguan visual yang sangat tidak berguna.
Dia menyembunyikan sebagian besar wajahnya di balik tudung jubah cokelat kusam yang dia kenakan. Penampilannya sama persis seperti mayoritas pemain tingkat menengah ke bawah yang selalu kehabisan uang.
Pedang besi berkarat yang tersarung di pinggangnya memperkuat kesan bahwa dia memang tidak layak diperhatikan oleh siapa pun.
"Gua bakal robek avatar lu!" ancam pria kekar itu lagi, kembali mengangkat gadanya tinggi-tinggi.
"Coba saja kalau lu berani! Penjaga kota pasti bakal melempar lu ke penjara sebelum lu bisa menyentuh gua!" tantang sang pedagang sambil mundur perlahan.
Aldric menggeser posisi duduknya sedikit ke kiri saat sebuah pecahan botol kaca melayang ke arahnya. Dia menghindari serpihan material virtual itu dengan gerakan biasa tanpa perlu menoleh.
Dia menghela napas panjang, menatap langit buatan Aethelgard yang menampilkan simulasi matahari sore yang hangat.
Menghabiskan waktu dua puluh jam tanpa henti untuk sekadar berburu monster recehan dan mengumpulkan material tingkat rendah di pinggiran kota benar-benar menguras kewarasannya.
"Gua cuman butuh ketenangan selama sepuluh menit sebelum kembali ke dunia nyata," gumam Aldric pelan pada dirinya sendiri.
Tubuh aslinya sudah berbaring di dalam kapsul realitas virtual selama dua puluh jam penuh. Realitas buatan ini memang dirancang untuk menipu saraf agar tidak merasakan sakit fisik, tetapi rasa lelah di otaknya sama sekali tidak bisa dibohongi oleh sebaris kode program.
Perutnya di dunia nyata pasti sudah menuntut asupan makanan sejak beberapa jam yang lalu.
"Mati lu!"
Pertarungan di depannya semakin memanas, menarik lebih banyak penonton yang bersorak kegirangan.
Aldric mengabaikan kerumunan itu sepenuhnya. Dia mengangkat tangan kanannya, memanggil antarmuka sistem dengan gerakan jari yang telah terprogram di dalam memori ototnya.
Sebuah layar transparan berwarna biru terang muncul melayang tepat di depan matanya. Dia menekan opsi pengaturan, lalu mengarahkan telunjuknya ke arah tombol keluar yang terletak di sudut bawah layar.
Tidak ada reaksi apa pun dari sistem.
"Apa koneksi lagi jelek?" keluh Aldric sambil mengerutkan kening.
Biasanya, pandangannya akan meredup selama tiga detik sebelum layar putih membawanya kembali ke ruang tunggu kapsul di dunia nyata. Namun, kali ini layar antarmukanya tetap diam.
Dia menekan tombol itu lagi. Sekali, dua kali, hingga empat kali secara beruntun dengan ketukan jari yang jauh lebih keras.
Warna antarmukanya mendadak berubah menjadi merah pekat. Pesan peringatan muncul di tengah layar, menyatakan bahwa fungsi keluar telah dinonaktifkan dari sistem utama.
"Ini nggak lucu sama sekali," desis Aldric pelan, merasa ada yang salah dengan protokol permainan.
Sebelum Aldric sempat memproses anomali tersebut, langit yang menampilkan simulasi matahari sore itu mendadak kehilangan seluruh cahayanya. Awan putih bersih perlahan membusuk menjadi gumpalan warna merah pekat yang mendidih.
Alun-alun utama yang tadinya dipenuhi oleh suara tawar-menawar dan pertengkaran antarpemain, kini perlahan ditelan oleh keheningan yang sangat meresahkan.
Musik latar yang selalu mengalun ceria dari sistem dunia terpotong secara paksa, menyisakan kekosongan yang membuat bulu kuduk berdiri.
Pria kekar dan pedagang yang tadinya saling mengancam nyawa kini menurunkan senjata mereka. Ribuan pemain di alun-alun mendongak, terpaku menatap langit yang kini memancarkan aura ancaman yang sangat kental.
Kilatan tanpa suara menyambar di balik awan darah tersebut.
Suara berat tanpa emosi tiba-tiba bergema dari angkasa, menembus gendang telinga dan langsung berbicara ke dalam pikiran setiap orang yang terhubung dengan server.
"Perhatian kepada seluruh pemain Aethelgard. Ini bukanlah pengumuman pemeliharaan darurat."
Aldric mengepalkan tangannya kuat-kuat. Firasat buruk langsung merayap naik ke tengkuknya. Sebagai seseorang yang telah bermain cukup lama, dia tahu bahwa pengumuman global bersuara manusia tidak pernah ada di dalam standar perusahaan pengembang.
"Mulai detik ini, fungsi untuk keluar dari dunia ini telah dihapus secara permanen. Kalian tidak lagi bisa kembali ke dunia fisik kalian atas kemauan sendiri."
Gumam kebingungan mulai terdengar dari kerumunan pemain di sekitar alun-alun.
"Ini acara khusus, kan? Event dari admin?" tanya seorang pemain dengan suara bergetar.
"Coba cek tombol sistem lu! Tombol gua mati!" seru pemain lainnya dengan nada panik.
Sebagian besar orang langsung memanggil antarmuka sistem mereka dan menekan tombol keluar secara berulang kali. Keringat dingin mulai mengalir membasahi wajah mereka saat menyadari bahwa tombol itu tidak lagi berfungsi sama sekali.
Suara dari langit itu berlanjut, tanpa mempedulikan kepanikan yang mulai tumbuh liar.
"Sebagai tambahan, ada satu perubahan kecil pada aturan dunia. Hukum kebangkitan kembali telah dicabut. Jika health point kalian mencapai angka nol, avatar kalian akan terhapus selamanya.”
“Ketika itu terjadi, kapsul realitas virtual kalian di dunia nyata akan mengalirkan energi yang akan menghancurkan otak kalian secara instan.”
“Selamat menikmati kehidupan baru kalian di Aethelgard."
Keheningan yang mengikat alun-alun pecah dalam sepersekian detik. Teriakan histeris meledak dari segala arah. Ratusan pemain berlarian tanpa tujuan, menabrak kios-kios dagangan yang tersisa hingga hancur berantakan.
Beberapa pemain jatuh berlutut, memukuli kepala mereka sendiri dengan putus asa, sementara yang lain berteriak memanggil keluarga mereka yang ada di dunia nyata.
Kematian di dalam permainan kini menjelma menjadi eksekusi mati absolut.
Di tengah lautan manusia yang kehilangan akal sehatnya, Aldric tetap berdiri tenang. Otaknya berputar mencari logika untuk bertahan hidup.
Seseorang di dunia nyata pasti telah meretas sistem inti.
Sebuah notifikasi panggilan suara berkedip di sudut pandangannya. Nama Tharik tertera di sana. Aldric segera menerima panggilan tersebut.
"Halo? Dric! Lu dengar suara dari langit tadi?!" jerit Tharik dari seberang sambungan.
Tharik adalah sahabat Aldric di dunia nyata yang bermain Aethelgard hanya untuk mengisi waktu luang. Pria gempal itu memilih kelas pedagang yang berfokus pada ekonomi dan nyaris tidak memiliki kemampuan tempur sama sekali.
"Gua dengar semuanya," jawab Aldric cepat.
"Ini pasti lelucon perusahaan game, kan, Dric? Mereka nggak mungkin ngebunuh kita secara massal! Ini tindak kriminal!"
"Tenang, Rik!" tegas Aldric, suaranya sedingin es batu, memotong kepanikan temannya.
"Jangan panik. Tombol keluar memang udah nggak ada. Kalau kebangkitan lagi dihapus, lu nggak boleh berada di wilayah luar zona aman. Di mana posisi lu sekarang?"
"Gua lagi di Hutan Kelabu! Niatnya cuman mau cari bahan ramuan sisa di dekat tebing," jawab Tharik dengan suara gemetar yang tidak bisa disembunyikan.
Mata Aldric membelalak tipis.
Hutan Kelabu adalah wilayah luar yang tidak memiliki pelindung sistem keamanan. Tempat itu adalah sarang monster liar tingkat tinggi yang sangat agresif.
"Berapa jarak lu dari gerbang kota?" tanya Aldric seraya melangkah maju. Dia membelah kerumunan pemain yang menangis histeris dengan paksa.
"Sekitar dua kilometer! Gua lagi sembunyi di balik pohon sekarang," jawab Tharik. "Dric, monster di sini bertingkah sangat aneh. Serigala hitam di sekitar gua punya mata merah bersinar terang. Mereka banyak banget, Dric!"
"Dengar gua, Rik. Lari secepat yang lu bisa ke arah gerbang sekarang juga. Jangan lihat ke belakang dan jangan coba melawan," perintah Aldric.
Aldric mulai berlari menyusuri gang sempit di antara deretan toko senjata. Dia mengandalkan pengetahuan rute jalan pintas yang dia pelajari selama berbulan-bulan bermain untuk mencapai gerbang kota secepat mungkin.
"Nggak bisa, Dric! Jalan gua udah ketutup total!" teriak Tharik, suaranya dipenuhi teror murni. Suara patahan dahan kayu besar terdengar mengerikan dari latar belakang panggilan itu. "Salah satunya barusan ngehancurin batu besar cuma pakai sekali tabrakan!"
"Share titik koordinat lu ke sistem gua sekarang!" bentak Aldric, menambah kecepatan larinya.
"Tolong gua, Dric! Gua nggak mau mati di tempat kotor ini!"
Jeritan Tharik disusul oleh suara geraman monster buas, sebelum akhirnya sambungan suara terputus, menyisakan keheningan di telinga Aldric.
Titik koordinat Tharik muncul di radar petanya dalam wujud titik merah yang berkedip sangat lemah, menandakan posisinya berada di ambang bahaya mutlak.
Aldric menatap gerbang raksasa Kota Pemula yang terbuka lebar menuju kegelapan Hutan Kelabu.
Di luar sana, ancaman kematian kini benar-benar nyata. Satu kesalahan kecil akan membakar otaknya di dunia nyata.
Aldric mempererat tudung jubahnya. Dia merogoh kantong sabuknya, memastikan dia membawa cukup banyak kristal asap untuk melarikan diri, lalu melompat melewati garis batas aman pelindung kota.
Dia berlari menembus bayangan hutan malam, bersiap menyambut neraka yang telah menunggunya, sementara batas waktu kehidupan sahabatnya perlahan menghitung mundur menuju angka nol.
Daftar bab
59 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








