

Lima bus wisata berwarna putih bersih berjalan perlahan di jalan pegunungan yang berkabut. Suara mesin bus bercampur dengan suara tawa puluhan remaja yang duduk di dalamnya. Di luar jendela, terlihat pohon cemara hijau dan tebing-tebing curam. Di kejauhan, ada laut biru luas dengan sebuah pulau hitam yang belum punya nama.
"Lihat itu! Pulau yang kalian bicarakan!" teriak seorang gadis berambut pendek dari bus ketiga. Tangannya menunjuk ke arah laut.
Semua penumpang langsung melihat ke luar. Pulau itu dikelilingi karang hitam yang tinggi. Tidak ada yang tahu nama pulau itu. Para guru hanya menyebutnya "Pulau Belakang" di dokumen perjalanan.
Bus pertama dikemudikan oleh sopir yang sudah berpengalaman. Kepala Sekolah Rea duduk di kursi depan. Sesekali dia menoleh ke belakang untuk memastikan murid-muridnya baik-baik saja. Di sampingnya, Wali Kelas Octavia yang berusia sekitar 20 tahun sedang mengecek daftar hadir. Rambut panjangnya terurai.
"Lyra, Vanguar, Nyx, Darkmoor, Obsidia, Xylar, Jax-9... semua lengkap," kata Octavia sambil menggarisbawahi nama-nama.
Jax-9 adalah ketua kelas laki-laki yang bertubuh tegap. Ia duduk di dekat jendela dan menyipitkan mata ke arah pulau itu. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya, tapi dia tidak tahu apa itu. Vanguar dan Nyx asyik bermain game di ponsel. Sesekali mereka berteriak saat kalah.
Di bus kedua, suasananya juga ramai. Wali Kelas Tiberis, laki-laki berkacamata dengan suara berat, sedang bercerita tentang sejarah pegunungan. Di belakangnya, Wulan dan Sintya berbisik-bisik sambil tertawa. Jeki, Mikel, dan Gabriel membahas pertandingan basket kemarin. Royis, gadis pendiam, sedang menggambar pemandangan di buku sketsa. Ray, ketua kelas laki-laki yang juga kapten tim basket, duduk di kursi paling belakang bersama Rav, sahabatnya yang suka bercanda.
Bus ketiga adalah yang paling ramai. Wali Kelas Archi, perempuan yang super energik, berdiri di lorong sambil memimpin nyanyian meskipun suaranya fals. Di kursi tengah, Fay duduk dengan tenang. Cowok berusia 17 tahun itu berwajah tampan tapi sedikit pucat. Matanya kosong menatap jendela. Di sampingnya, Talon mencoba mengajaknya bicara, tapi Fay hanya tersenyum tipis.
"Fay, kenapa sih lo? Dari tadi diem aja," kata Talon, gadis berambut panjang yang diikat kuda.
"Enggak apa-apa. Lagi mikirin sesuatu," jawab Fay pelan.
Di belakang mereka, Sola, gadis tomboi yang sangat cantik, sedang berebut camilan dengan Juno. Vance dan Celesti asyik berdebat soal film terbaru. Cassandra, ketua kelas perempuan dengan rambut pendek sebahu, duduk di depan bersama Bellatrix dan Peregrin. Sesekali Cassandra menoleh ke belakang untuk memastikan teman-temannya baik-baik saja.
Fay kembali menatap ke luar jendela. Pikirannya melayang ke kakaknya, Seraphina, yang berada di bus kelima. Mereka terpisah bus karena pembagian berdasarkan urutan absen. Sejak kecil, hanya kakaknya itu yang menjadi keluarganya. Ayah tiri, Eridanus, adalah sosok yang dibenci Fay. Fay mencurigai ayah tirinya sebagai pembunuh ibu mereka.
"Pokoknya kali ini harus ketemu kakak," gumam Fay dalam hati.
Bus keempat melaju di belakang bus ketiga. Wali Kelas Elle, perempuan berambut keriting, sedang memberi pengarahan tentang tata tertib di tempat wisata. Elara, Astron, Draken, Soleil, Kai, Circi, Dante, Morgu, dan Kaelix sebagai ketua kelas laki-laki semuanya tampak antusias. Kai, gadis cantik, manis, dan tomboy, sedang bercanda dengan Soleil sampai tertawa keras.
Bus kelima adalah yang paling tenang. Wali Kelas Vesper, laki-laki berwajah datar, hanya diam sambil membaca buku. Di kursi tengah, Seraphina duduk dengan anggun. Wajahnya cantik dan rambut panjangnya terurai. Beberapa cowok tidak berani menatapnya langsung. Di sampingnya, Ziva asyik mendengarkan musik. Xypos dan Nix sibuk dengan laptop. Arief, ketua kelas laki-laki, sesekali melirik Seraphina lalu cepat-cepat membuang muka. Pixel, Nova, Cryo, dan Leo duduk di barisan belakang dan sesekali berbisik.
Semua siswa berusia 17 atau 18 tahun. Akademi Stellaris hanya menerima siswa terbaik. Tingkat 3 adalah tahun terakhir sebelum lulus. Perjalanan ini adalah acara perpisahan yang sudah direncanakan berbulan-bulan. Mereka akan menghabiskan dua hari satu malam di pegunungan Sentinel, lalu menginap di pulau misterius itu sebelum pulang.