Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Rahasia Tersembunyi Pecundang

Rahasia Tersembunyi Pecundang

Little Fox | Bersambung
Jumlah kata
100.9K
Popular
100
Subscribe
10
Novel / Rahasia Tersembunyi Pecundang
Rahasia Tersembunyi Pecundang

Rahasia Tersembunyi Pecundang

Little Fox| Bersambung
Jumlah Kata
100.9K
Popular
100
Subscribe
10
Sinopsis
PerkotaanSekolahBalas DendamIblisSupernatural
Elang, pecundang yang tak memiliki level di sekolah. dia sering dikucilkan, dibully, dan diremehkan. Berkat dukungan dari sahabatnya, Raiga, Elang mampu bertahan. Namun, suatu kejadian yang menimpa sahabatnya, membangkitkan sesuatu yang tertidur di dalam diri Elang. apakah itu? rahasia apa yang tersembunyi?
b1

Deting lonceng bergetar membelah udara, menggema ke setiap sudut lorong dan ruang kelas Akademi Nez. Pintu-pintu terbuka serentak, derap langkah kaki berpadu menjadi satu arus besar yang mengalir menuju lapangan pusat.

Semua orang begitu bersemangat untuk hari ini. Hari yang ditunggu, hari mengujian level. Bagi siswa yang berhasil naik ke level 7, akan dipindahkan dari kelas rendah ke kelas menengah. Semua siswa menunggu dengan perasaan cemas. Satu per satu nama dipanggil.

Di hadapan Batu Spiritual setinggi dua meter, siswa-siswa meletakkan telapak tangan mereka. Berbagai warna cahaya memancar dari permukaan batu itu abu-abu pudar, kuning terang, hingga hijau zamrud, diiringi sorak sorai dan decak kagum yang memenuhi lapangan. Suasana semakin meriah, sampai akhirnya sebuah nama yang sudah tidak asing lagi disebutkan.

Bayu melangkah maju dengan dada sedikit dibusungkan. Jari-jarinya menempel rapat di permukaan batu, dan senyum percaya diri terukir jelas di bibirnya. Perlahan, garis-garis ukiran di batu itu mulai menyala. Warnanya berganti satu per satu dari abu-abu, kuning, hijau, biru, hingga akhirnya memuncak menjadi ungu pekat yang menyilaukan mata. Desahan kagum menyapu seluruh lapangan.

“Wah, lihat itu cahayanya!” seru seorang siswa, jarinya menunjuk lurus ke arah Batu Spiritual.

“Dia naik level lagi! Bukannya kemarin baru saja mencapai Level 10, sekarang sudah melompat jauh ke Level 12!” tambah seorang siswi, matanya berbinar penuh kekaguman.

Tepuk tangan bergemuruh memekakkan telinga. Bayu mengangguk-anggukkan kepala, tatapannya melayang seolah menempatkan dirinya di atas yang lain.

“Benar-benar luar biasa.”

“Kalau terus begini, tidak lama lagi dia akan bisa menyaingi Sisi, kan?” bisik seseorang di antara kerumunan.

Seolah mendengar namanya disebut, seorang gadis berambut pirang panjang melangkah keluar dari barisan. Gerakannya lembut dan anggun, seolah setiap langkahnya diatur dengan sempurna. Seluruh mata berfokus padanya. Kekaguman terlihat jelas di setiap mata siswa, kecuali satu orang.

“Itu Sisi! Kira-kira sekarang levelnya sudah sampai mana ya?” tanya salah satu siswa.

“Siapa yang tahu? Mungkin sudah melewati batas yang kita bayangkan,” jawab temannya pelan.

Dugaan mereka tidak salah. Begitu telapak tangan Sisi menyentuh batu, cahaya yang muncul jauh lebih terang dan stabil dibandingkan milik Bayu. Warnanya naik melewati ungu, berubah menjadi nila yang berkilauan.

Setelah selesai, Sisi melangkah mundur dengan dagu sedikit terangkat, senyum tipis tergambar di wajahnya yang cantik. Percakapan dan pujian kembali memenuhi udara, membuat suasana semakin semarak.

Para guru ikut tersenyum bangga melihat kedua muridnya sudah mencapai level tinggi. Namun, riuh rendah itu perlahan mereda, sampai akhirnya lenyap total. Suasana berubah hening, hanya tersisa suara angin yang berhembus pelan.

Kepala akademi, memanggil nama salah satu siswanya dengan lantang dan jelas, “Elang Bastian.”

Nama itu disebutkan pelan, tapi terdengar jelas di tengah keheningan. Seorang pemuda melangkah keluar dari barisan.

Dalam sekejap saja, pandangan mata orang-orang berubah, tatapan mereka melengkungkan bibir, menundukkan kepala, atau membuang muka dengan ekspresi jijik dan meremehkan. Namun, Elang seolah buta dan tuli terhadap semua itu. Ia terus berjalan tenang menuju Batu Spiritual, langkahnya tidak tergesa sedikit pun.

“Kenapa dia masih berani muncul? Bukannya ini anak yang dijuluki sampah akademi?” gumam seorang siswa, suaranya sengaja dibuat keras agar didengar.

“Mau diapakan juga percuma. Dari dulu sampai sekarang, hasilnya pasti sama saja. Buang-buang waktu saja,” sahut yang lain disertai tawa sinis.

Elang enggan untuk peduli dengan suara-suara sumbang disekitarnya. Ia mengangkat tangannya, lalu menempelkan telapak tangannya ke permukaan batu yang dingin.

Satu detik. Dua detik. Tiga detik. Tidak ada perubahan sama sekali. Permukaan batu tetap gelap dan kusam, tidak memancarkan setitik cahaya pun. Suasana menjadi hening, tak ada suara apapun. Hanya tatapan sinis dan penuh kebencian dari semua orang.

"Kenapa? Kenapa tidak ada cahaya yang muncul? Jelas sekali, aku merasakannya!" Elang bertanya dalam hati, matanya menatap lekat-lekat batu di hadapannya.

"Kalau memang kekuatanku lemah, setidaknya seharusnya muncul cahaya abu-abu sebagai tanda Level 1. Tapi ini… sama sekali tidak ada apa-apa," sambungnya.

Keheningan yang melanda, seketika pecah oleh suara-suara ejek kan dari para siswa.

“Dasar pecundang! Tidak berubah sama sekali dari tahun lalu!” teriak seorang siswa berambut pirang, wajahnya dipenuhi senyum mengejek.

“Cepat pergi dari sana! Lihat saja kamu, merusak pemandangan yang indah ini!” seru yang lain.

Elang masih berdiri terpaku di tempat. Ia menurunkan tangannya, lalu menatap telapak tangannya sendiri dengan pandangan kosong dan tidak percaya.

Bayu mendekati Elang dengan senyum sinis. Dia berdiri di sampingnya sambil terus menyindir Elang.

"Hei, pecundang! Percuma saja kamu melakukan percobaan, sampah tetaplah sampah," ujarnya dengan nada mengejek.

Elang langsung meliriknya dengan tatapan tajam. Ia sudah lelah dengan semua ejekan teman-temannya. Namun, Elang masih belum bisa membalasnya.

Seorang siswa gendut berlari dari kerumunan dan menghampiri Elang. Siswa itu langsung menarik tangan elang untuk pergi.

"Elang, ayo ke kantin!" ajaknya dengan suara riang.

Sebelum sempat elang membalas, siswa itu membawanya pergi dari sana. Mereka berjalan menyusuri koridor sekolah yang cukup sepi.

"Elang, maaf. Tadi aku menarik mu, aku tahu kamu tidak suka ada seseorang yang mengganggu mu," kata siswa itu sambil menunduk menyesal.

Elang terkejut sesaat, lalu tersenyum tulus pada sahabatnya. Ia mengangkat tangan kanannya dan merangkul Raiga dengan hangat. "Bodoh. Tidak perlu meminta maaf, justru tindakkanmu itu sudah menyelamatkanku,” ucap Elang.

Raiga tersenyum tulus pada Elang. Ia merasa kedekatan emosional dengan Elang dan merasa hanya sahabatnya itulah yang mau menerima kondisi dirinya tanpa banyak mengeluh. Mereka melanjutkan langkah bersama menuju kantin, tanpa menghiraukan suara-suara sumbang di sekitarnya.

“Elang, setelah ini apa yang akan kamu lakukan?” tanya Raiga disela jalan mereka.

Elang menghela napas. “Aku tidak tahu. Mungkin berlatih lebih keras? Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa lebih baik,” jawabnya dengan tekad yang mulai tumbuh.

“Bagus! Aku yakin kamu bisa!” kata Raiga dengan semangat. “Kita bisa berlatih bersama. Aku bisa menjadi lawanmu,” kata Raiga.

Elang tersenyum tulus dan kembali merangkul sahabatnya. “Terima kasih, Raiga.”

Raiga pun tersenyum senang sambil menggosok hidungnya. Suasana menjadi hening, tidak ada lagi yang bicara. Namun, Elang tidak bisa sepenuhnya menikmati suasana itu. Ia masih teringat pada momen di depan Batu Spiritual, saat semua orang menertawakannya.

“Lihat, itu Elang si sampah!” seru seorang siswa dari meja lain. Tawa mereka kembali mengisi udara, membuat Elang merasa semakin terasing.

Raiga menatap Elang dengan serius. “Jangan dengarkan mereka. Mereka hanya takut pada apa yang tidak mereka mengerti. Kamu punya potensi, Elang. Suatu hari nanti, mereka semua akan melihatnya.”

Elang mengangguk, meski hatinya masih ragu. “Aku harap begitu, Rai. Tapi kadang-kadang aku merasa seperti tidak memiliki apa-apa.”

“Setiap orang memiliki jalan mereka sendiri. Mungkin jalanku berbeda, tapi aku akan selalu ada di sini untuk mendukungmu,” ujar Raiga dengan penuh keyakinan.

Lanjut membaca
Lanjut membaca