Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Reinkarnasi Pangeran Ketiga: Aku Robek Takdir Tragis Sang Saintess!"

Reinkarnasi Pangeran Ketiga: Aku Robek Takdir Tragis Sang Saintess!"

Doish Yan | Bersambung
Jumlah kata
127.4K
Popular
285
Subscribe
56
Novel / Reinkarnasi Pangeran Ketiga: Aku Robek Takdir Tragis Sang Saintess!"
Reinkarnasi Pangeran Ketiga: Aku Robek Takdir Tragis Sang Saintess!"

Reinkarnasi Pangeran Ketiga: Aku Robek Takdir Tragis Sang Saintess!"

Doish Yan| Bersambung
Jumlah Kata
127.4K
Popular
285
Subscribe
56
Sinopsis
FantasiIsekaiIsekaiPertualanganReinkarnasi
Sejarah mencatatnya sebagai kutukan mematikan. Namun bagiku, ini adalah fondasi untuk menggulingkan langit.Terlahir sebagai Pangeran Ketiga, aku divonis mengidap Mana Overload Syndrome—sebuah anomali langka di mana energi sihir tumbuh liar tanpa batas dan menggerogoti tubuh dari dalam. Dalam catatan dunia, tidak ada satu pun pengidapnya yang berhasil bertahan hidup melewati usia lima belas tahun. Tubuh manusia hanyalah wadah rapuh yang ditakdirkan hancur dan meledak oleh energi mereka sendiri.Namun, di tengah siksaan energi yang bergejolak, hukum alam di sekitarku justru mulai menunjukkan gejala aneh. Realitas terkadang terasa bergeser secara tidak wajar, meninggalkan pecahan dejavu dan potongan ingatan asing tentang sebuah tragedi agung yang tak pernah kualami di kehidupan ini.Ketika dunia menanti kehancuranku sebagai korban dari takdir, aku memilih untuk membalikkan aturan semesta. Kutukan yang dianggap sebagai batas mati sejarah ini akan kujinakkan menjadi sebuah anugerah yang melampaui logika para Dewa. Aku akan mendaki ke puncak kekuatan tertinggi, merobek hukum alam, dan meremukkan tirani semesta yang mencoba mendikte akhir hidupku.
Bab 1: Akhir yang Tidak Adil

Suara beep monitor jantung adalah satu-satunya musik pengantar tidur Adrian selama tiga tahun terakhir. Suara itu monoton, dingin, dan terus-menerus mengingatkannya bahwa waktu miliknya semakin menipis, seperti pasir di jam pasir yang hampir habis.

Kanker stadium empat. Dokter sudah menyerah. Keluarga sudah berhenti berkunjung karena mereka tidak tahan melihat pria muda yang dulu penuh semangat kini hanya menjadi tumpukan tulang berbalut kulit pucat di atas kasur rumah sakit. Bau antiseptik yang menyengat telah menjadi aroma khas hidupnya, menggantikan wangi kopi pagi atau hujan sore yang pernah ia nikmati.

Adrian tidak marah. Dia hanya bosan. Sangat bosan. Dan sedikit kesal pada nasib yang terasa seperti lelucon buruk.

Untuk membunuh waktu, dia menghabiskan hari-harinya dengan membaca novel-novel fantasi di smartphone-nya. Layar ponsel itu adalah jendela satu-satunya ke dunia lain, tempat di mana orang-orang bisa terbang, menyembuhkan penyakit dengan sihir, dan hidup dengan tujuan yang jelas. Saat ini, matanya tertuju pada bab terakhir dari sebuah novel populer berjudul "The Saintess’s Silent Prayer".

Jari-jarinya yang kurus dan berbuku menonjol menggulir layar dengan lambat. Matanya yang cekung menyapu setiap kata, mencari harapan, mencari keadilan, mencari sesuatu yang masuk akal. Tapi yang dia temukan hanyalah... kepalsuan.

"Dan demikianlah, Saintes liya mengangkat tangannya ke langit. Tubuhnya berubah menjadi cahaya murni, menyegel retakan dimensi yang mengancam dunia. Rakyat bersorak. Raja tersenyum. Para ksatria mengangkat pedang mereka dalam perayaan. Dunia selamat. Tidak ada air mata. Hanya sorak-sorai kegembiraan."

Adrian terhenti. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena penyakit, tapi karena amarah yang tiba-tiba meledak di dadanya. Rasa sesak itu jauh lebih menyakitkan daripada tumor di paru-parunya.

"Bodoh," bisiknya, suaranya serak dan parau seperti kertas amplas. "Mereka semua bodoh."

Dia melempar smartphone-nya ke samping tempat tidur dengan sisa tenaga yang dimilikinya. Napasnya tersengal-sengal, dada kurusnya naik turun dengan cepat. Dia membayangkan gadis itu—liya—yang sepanjang cerita digambarkan sebagai sosok yang baik hati, yang takut mati, yang ingin mencintai, yang ingin melihat bunga mekar di musim semi. Dia ingat bagaimana liya menangis diam-diam di kamar tidurnya, takut pada takdir yang menantinya.

Dan bagaimana dunia membalas ketakutan dan kebaikan itu? Dengan pesta. Dengan tawa. Dengan menganggap kematian seorang gadis muda sebagai "kewajaran". Seolah-olah nyawanya hanyalah bahan bakar untuk kenyamanan orang banyak.

"Mengorbankan nyawamu untuk orang lain..." Adrian menatap langit-langit putih yang membosankan, air mata tanpa suara mengalir di pelipisnya, membasahi bantal yang sudah kusam. "Itu bukan kepahlawanan. Itu pembunuhan yang dibungkus kata-kata indah. Dan mereka bahkan tidak merasa bersalah."

Rasa sakit di dadanya semakin menjadi, menjalar ke seluruh tubuhnya seperti api yang membakar dari dalam. Tapi rasa sakit fisik itu kalah jauh dibandingkan rasa muak yang ia rasakan terhadap dunia fiksi tersebut. Jika dia memiliki kekuatan, jika dia berada di sana... dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Dia akan hidup. Demi dirinya sendiri. Karena hidup adalah hak, bukan alat bayar utang kepada dunia yang egois.

"Jika aku jadi dia... aku tidak akan sudi mengorbankan kehidupanku sendiri demi orang lain. Aku akan hidup. Hanya untuk diriku sendiri. Biarkan dunia itu hancur jika mereka tidak bisa menyelamatkan diri mereka sendiri tanpa mengorbankan anak kecil."

Tiba-tiba, smartphone yang tergeletak di sampingnya bergetar. Getaran itu terasa aneh, seolah-olah berasal dari dimensi lain. Layarnya menyala terang di kegelapan kamar, menerangi wajah pucat Adrian. Bukan notifikasi dari aplikasi novel, bukan juga pesan dari keluarga yang sudah lama absen. Itu adalah pesan teks dengan latar belakang hitam pekat dan tulisan putih yang sederhana, font yang terlihat kuno namun tajam.

[Pesan Masuk]: Apakah kamu tidak suka akhiran cerita seperti ini?

Adrian mengerutkan kening. Hallusinasi? Efek samping obat morfin? Dengan tangan gemetar, ia mengambil ponsel itu. Matanya menyipit, mencoba fokus pada tulisan yang tampak berdenyut itu.

[Pesan Masuk]: Dan apakah jika itu kamu, kamu bisa mengubah akhirnya?

Adrian menatap layar itu lama. Otaknya yang mulai kabur karena rasa sakit dan kelelahan mencoba memproses logika di balik pesan itu. Ini pasti lelucon. Atau mungkin hacker iseng yang meretas akun novelnya. Tapi ada sesuatu dalam kata-kata itu yang menyentuh bagian paling dalam dari jiwanya yang frustrasi. Sebuah tantangan. Sebuah tawaran.

Dengan sisa kesadaran dan jari yang hampir kaku, dia mengetik balasan. Bukan karena dia percaya, tapi karena itu adalah protes terakhirnya pada ketidakadilan semesta. Protes dari seorang pria yang dicuri hidupnya oleh penyakit, yang kini marah melihat kehidupan orang lain dicuri oleh takdir.

[Balasan]: Menurutku, mengorbankan hidup sendiri hanya untuk orang lain adalah tindakan bodoh. Kebodohan terbesar adalah ketika dunia memaksa korban untuk tersenyum saat pisau ditusukkan ke lehernya. Jika aku ada di sana, aku akan menolak. Aku akan hidup.

Dia menekan tombol kirim. Jemarinya lepas dari layar.

Detik berikutnya, dunia di sekitarnya berhenti berputar.

Layar ponselnya retak. Bukan retak fisik kaca, tapi retakan cahaya putih yang menyilaukan meledak dari dalam perangkat itu. Cahaya itu bukan panas, bukan dingin. Itu adalah ketiadaan. Itu adalah pintu yang terbuka lebar, menelan segala warna, suara, dan rasa sakit.

Rasa sakit kankernya hilang seketika. Rasa berat di tubuhnya lenyap. Adrian merasa seperti ditarik oleh pusaran angin yang kuat, menarik jiwanya keluar dari wadah daging yang rusak itu. Ia melihat tubuhnya sendiri terbaring di kasur, tenang untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun.

"Akhirnya..." gumamnya sebelum kesadarannya padam total, terseret ke dalam kekosongan yang tak bernama.

Asteria. Kekaisaran Heistaria.

Dunia kembali memiliki suara.

Tangisan.

Suara tangisan bayi yang keras, penuh vitalitas, dan mengejutkan memecah keheningan ruang persalinan istana yang megah. Udara di ruangan itu bergetar, bukan karena suara, tapi karena tekanan energi yang tiba-tiba muncul bersamaan dengan kelahiran tersebut.

"Itu Pangeran Ketiga! Yang Mulia Kaisar, Putra Anda telah lahir!" seru bidan tua dengan suara bergetar, mengangkat bungkusan kain sutra emas yang berkilauan. Tangannya gemetar, bukan karena beban bayi itu, tapi karena hawa dingin yang tiba-tiba menyelimuti ruangan.

Di luar jendela kamar yang luas dan tinggi, dua bulan berwarna ungu dan perak tergantung di langit malam Asteria. Mereka tampak saling mengunci, menciptakan gerhana parsial yang langka. Angin sihir berhembus lembut melalui celah jendela, membawa aroma bunga moonlily yang langka—bunga yang hanya mekar di hadapan jiwa-jiwa yang kuat.

Para pelayan dan penyihir istana saling berpandangan dengan cemas. Mereka merasakan itu. Mana di udara menjadi kacau, berpusat pada satu titik kecil di tangan bidan tersebut.

Namun, di dalam tubuh mungil yang baru saja lahir itu, jiwa Adrian—kini bernama Aster von Heist—membuka matanya.

Pandangannya masih buram, khas bayi baru lahir, tetapi kesadarannya sudah sepenuhnya bangkit. Dia menangkap bayangan wajah-wajah orang asing yang tersenyum lebar, merayakan kelahirannya. Ada seorang pria berjubah emas dengan tatapan tajam (ayahnya), dan wanita cantik yang tampak lelah namun lega (ibunya).

Aster ingin bertanya, "Di mana aku? Siapa kalian?", tetapi tenggorokannya hanya mampu mengeluarkan suara decitan bayi. Kelelahan luar biasa menyerangnya, bukan karena rasa sakit kanker, melainkan karena shock akibat perpindahan jiwa yang drastis dan kepadatan energi di dunia baru ini.

Dia merasakan sesuatu yang aneh di dalam dadanya. Bukan detak jantung, tapi aliran cairan panas yang bergerak cepat di seluruh pembuluh darahnya. Energi ini liar, padat, dan terus bertambah.

Apa ini? pikir Aster panik. Apakah ini... sihir?

Dia tidak tahu di mana dia berada. Dia tidak tahu bahwa dia telah masuk ke dalam dunia novel yang dulu dia baca. Dia hanya tahu bahwa dia masih hidup. Dan kali ini, tubuhnya terasa berbeda. Lebih kuat, namun juga lebih rapuh terhadap sesuatu yang tak terlihat.

Aster tidak menangis lagi. Dia hanya menatap mereka dengan mata bayi yang terlalu dalam, terlalu sadar, menyimpan ribuan pertanyaan dan insting bertahan hidup yang tajam di balik iris mata berwarna emas pucatnya.

Dunia ini asing. Menakutkan. Tapi bagi Aster, ini adalah kesempatan kedua. Dan dia tidak akan menyia-nyiakannya, apa pun harga yang harus dibayar..

Lanjut membaca
Lanjut membaca