

Ratusan anak di atas usia dua belas tahun berkumpul di halaman Akademi Bunga Anggrek, tempat yang berdiri megah di pusat Kota Bulan Bintang. Tangan mereka menggenggam erat lembaran formulir pendaftaran.
Akademi ini adalah satu-satunya wadah lokal yang sanggup mewujudkan impian siapa pun yang ingin membangkitkan Roh Pelindung. Bukan hanya bagi anak-anak itu, pendaftaran ini juga menjadi tumpuan harapan para orang tua yang telah berdarah-darah mengumpulkan uang demi selembar kertas berharga puluhan keping emas.
Mereka berharap putra-putri mereka dikaruniai Roh Pelindung yang kuat, sehingga kelak dapat mengubah nasib keluarga sebagai seorang kesatria yang dihormati.
“Lanang Sorang, kenapa kau datang ke sini?!”
Ejekan itu membumbung saat seorang remaja bertubuh tinggi dengan pakaian serba biru menghampiri anak lusuh yang berdiri sendirian di barisan paling belakang.
Tak ada seorang pun di tempat itu yang mau berdiri di dekatnya.
“Apa gembel sepertimu berharap bisa jadi kesatria?” timpal remaja lain sembari tertawa keras.
“Saran dari aku, lupakan saja. Kau ini cuma anak penjaga kambing di keluargaku.” Remaja bernama Bramasta itu melangkah maju, lalu menepuk pundak Lanang Sorang dengan cukup keras hingga tubuh ringkih itu terdorong. “Rakyat jelata sepertimu mana mungkin punya takdir untuk jadi kesatria!”
Lanang Sorang hanya bungkam. Selain karena keluarganya bekerja menumpang di kandang kambing milik keluarga kaya tersebut, dia tahu membalas dengan kata-kata hanya akan memicu masalah.
“Keluargamu cuma sanggup membeli formulir Kelas Perak yang harganya lima puluh keping emas,” celetuk Bramasta lagi dengan nada menghina. “Kalau aku jadi kau, aku tidak akan membuang uang sebanyak itu demi impian konyol. Lebih baik uangnya dipakai untuk membangun rumah yang layak!”
Ucapan Bramasta ada benarnya. Lima puluh keping emas adalah angka yang terlampau mustahil bagi keluarga miskin seperti Lanang Sorang.
Orang tuanya harus menyisihkan uang hasil buruh harian selama lebih dari sepuluh tahun demi selembar kertas ini, semua agar Lanang Sorang memiliki kesempatan mengubah takdir.
“Kenapa diam saja!” Bramasta mendorong dada Lanang Sorang beberapa kali. “Kau tuli? Tidak punya mulut?!”
Tindakan berisik Bramasta mulai memancing perhatian calon murid lain. Tatapan jijik dan cibiran mengarah pada Lanang Sorang.
Meski ada beberapa anak yang menatap iba, tidak satu pun dari mereka yang berani membela. Status keluarga Bramasta terlalu tinggi dan tak tersentuh di kota ini.
“Kawan-kawan, dengarkan aku! Anak ini tempo hari menantangku untuk menjadi seorang kesatria di Akademi Bunga Angrek. Namun, aku khawatir bahkan dia tidak memiliki roh pelindung sama sekali, jadi bagaimana mungkin bisa bersaing denganku di Akademi nantinya.”
“Tidak tahu diri,” timpal remaja yang lain, “Menantang seorang jenius? Apa kepalmu baru saja di seruduk kambing?”
Cacian dan makian dari mulut anak-anak di sana mulai terdengar semakin memekakan telinga. Namun, Lanang Sorang tidak berani membela dirinya, bukan karena dia penakut, tapi karena ke dua orang tuanya bekerja di rumah Bramasta.
Selain itu, anak-anak lain merupakan putra dari orang-orang terpandang di Kota Bulan Bintang. Menyentuh mereka hanya bisa dilakukan jika cukup memiliki kekayaan dan status sosial, dan inilah yang sedang di perjuangkan oleh Lanang Sorang saat ini.
“Dengar anak penjaga kambing!” kata seorang pria berambut pirang yang tampak begitu akrab dengan Bramasta, “Tuan Muda Bramasta adalah anak jenius yang lahir dari keluarga terhormat di Kota ini, kau bahkan tidak bisa dibandingkan dengan jari kakinya. Sebaiknya, kau kembali ke kandang kambing, dan bekerja sebagai buruh sampai mati.”
Sebelum Bramasta dan teman-temannya berbuat lebih jauh, suara lantang bergema dari atas panggung batu Akademi Bunga Anggrek. Seorang pengawas berseragam megah meminta seluruh peserta segera berbaris rapi sesuai nomor urut di formulir masing-masing.
“Aku akan menjadi kesatria,” bisik Bramasta sembari menyunggingkan senyum sinisnya. “Kau akan melihatnya sendiri, dasar sampah!”
Lanang Sorang tetap menunduk, tak berani menatap mata Bramasta. Bukan sekadar takut secara fisik, tetapi dia memikirkan nasib pekerjaan orang tuanya jika dia sampai membuat ulah.
“Nomor urut satu, Bramasta! Silakan naik ke panggung!” panggil Pengawas Akademi.
Dengan langkah penuh percaya diri, Bramasta naik ke panggung batu berpola bunga anggrek.
Di tengah panggung itu, terdapat sebuah telaga kecil berair bening yang begitu tenang tanpa riak.
Itulah Telaga Kaca Benggala, wadah sakral yang mampu menstimulasi dan membangunkan energi spiritual Roh Pelindung yang tertidur di dalam jiwa seseorang.
Begitu ujung kaki Bramasta menyentuh permukaan air, telaga bening itu mendadak bergejolak. Cahaya kemerahan meledak menyala-nyala seperti kobaran bunga api.
Sorak-sorai penonton langsung pecah. Bahkan Sang Pengawas sendiri tampak terperanjat mengagumi respons tersebut.
Energi spiritual Bramasta telah bereaksi sebelum seluruh tubuhnya masuk ke air, membuktikan dominasi garis keturunannya. Ayah dan ibu Bramasta adalah kesatria tingkat tinggi yang sangat berpengaruh di Kota Bulan Bintang.
DUUUMMM!
Air telaga Kaca Benggala menyembur hebat saat tubuh Bramasta terbenam sepenuhnya. Aura merah membara membumbung tinggi ke udara, lalu berkumpul membentuk wujud raksasa di atas panggung.
Seekor harimau besar berselimut kobaran api meraung nyaring.
“Harimau Api?!” teriak para peserta terkejut.
Harimau adalah perlambang raja hutan, sedangkan api adalah salah satu elemen destruktif yang sangat kuat. Gabungan keduanya melahirkan sesosok Roh Pelindung yang begitu mendominasi.
Bramasta melangkah keluar dari telaga, sementara Harimau Apinya melayang mengintimidasi seluruh calon murid di bawah panggung.
“Luar biasa! Roh Pelindung milikmu berada di kasta Mistik Binatang dengan Elemen Api murni!” seru Pengawas dengan wajah berseri-seri penuh kekaguman. “Kau resmi diterima sebagai murid Akademi Bunga Anggrek, Bramasta! Bagus... sangat bagus!”
“Terima kasih, Senior,” sahut Bramasta sembari membungkuk hormat, sebelum melangkah ke sisi lain.
Waktu terus bergulir. Satu per satu anak maju bergantian. Sebagian besar dari mereka keluar dari telaga dengan wajah pucat dan tangisan histeris karena gagal membangunkan Roh Pelindung.
Lanang Sorang mulai didera kecemasan. Sebagian besar anak pemegang formulir Kelas Perak gurgur satu demi satu.
Dia mulai bertanya-tanya dalam hati, apakah tingkatan pendaftaran juga menentukan keberhasilan roh seseorang? Apakah rakyat miskin memang sudah dikutuk untuk tetap berada di dasar rantai makanan?
Matahari makin meninggi, dan area panggung perlahan mulai sepi.
“Baiklah, proses pendaftaran hari ini resmi ditutup!” seru Pengawas Akademi dengan suara nyaring. “Bagi yang tidak berhasil, jangan berkecil hati. Kalian bisa mencoba lagi tahun depan!”
"Apa?! Ditutup?!" Lanang Sorang tersentak. Dia melihat lembaran formulirnya yang belum tersentuh sama sekali. "Tuan Pengawas! Aku belum dipanggil! Namaku belum dipanggil, Tuan!"
Pengawas itu seolah mendadak tuli. Padahal jarak Lanang Sorang hanya beberapa meter darinya dan suaranya terdengar sangat jelas.
"Tuan! Aku masih di sini! Kenapa kau mengabaikanku?!" jerit Lanang Sorang sembari menerobos maju.