
Zean & Merlin : Freak Te World
Ronea Morteo|Bersambung
- Jumlah kata
- 24.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
- Jumlah kata
- 24.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
"Dua Orang Aneh Tidak Otomatis Cocok, Tapi Kadang Iya" ZEAN "Lelaki yang hafal rasi bintang tapi lupa nama tetangganya sendiri." MERLIN "Perempuan yang lebih mudah menjelaskan kuantum fisika daripada mengatakan 'aku suka kamu'." "Dua orang yang sama-sama pintar menyembunyikan perasaan akhirnya hanya perlu satu hal: seseorang yang pertama kali memilih untuk bodoh." — Yang itu adalah Zean. Selalu Zean.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Dua Orang Aneh
"Dua Orang Aneh Tidak Otomatis Cocok, Tapi Kadang Iya"
Zean tidak percaya cinta pada pandangan pertama. Tapi dia juga tidak percaya bumi datar, dan ternyata ada orang yang meyakini keduanya dengan semangat yang sama.
Nasi goreng di depannya sudah dingin tujuh menit yang lalu.
Zean tahu persis — karena dia memang menghitung. Bukan karena obsesif, tapi karena otaknya bekerja seperti jam dinding yang tidak bisa dimatikan: terus berputar bahkan ketika tidak ada yang perlu dihitung. Tujuh menit. Nasi goreng kehilangan suhu optimalnya pada menit kelima. Dia sudah terlambat dua menit untuk menjadi orang yang makan dengan benar.
Tapi dia tidak makan.
Dia sedang membaca — buku tentang kematian bintang, yang menurutnya jauh lebih menenangkan daripada judulnya. Bintang tidak mati dengan dramatis. Mereka hanya... habis. Perlahan. Dengan bermartabat. Zean rasa itu cara yang cukup baik untuk pergi.
Kantin kampus di jam makan siang adalah tempat yang secara akustik menyerupai pasar ikan dengan pencahayaan lebih buruk. Kursi bergeser, sendok beradu piring, tiga percakapan berbeda bertubrukan di udara dan tidak ada yang menang. Zean sudah lama berdamai dengan kebisingan — dia tinggal di frekuensi yang berbeda, dan frekuensinya jarang diganggu.
Sampai seseorang berdiri di depan mejanya.
Dia tidak langsung mendongak. Menyelesaikan kalimat yang sedang dibacanya dulu — "sebuah bintang yang sekarat tidak meledak karena amarah, melainkan karena gravitasinya sendiri akhirnya lebih kuat dari keinginannya untuk bersinar" — baru kemudian mengangkat kepala.
Perempuan itu berdiri dengan postur seperti orang yang sedang mengevaluasi properti. Matanya tidak berkedip. Memandang kursi kosong di depan Zean, lalu dua piring nasi goreng di atas meja, lalu wajah Zean, dalam urutan yang terasa seperti proses audit.
"Kamu lagi menunggu seseorang," katanya — bukan bertanya, "atau kamu memang makan untuk dua orang sebagai bentuk antisipasi eksistensial?"
Zean mempertimbangkan dua kemungkinan jawaban. Satu yang sopan, satu yang jujur.
Dia memilih jujur. "Berjaga-jaga kalau lapar dua kali."
Perempuan itu mengangguk pelan — seperti jawaban itu masuk ke dalam kolom di kepalanya dan mendapat tanda centang. Lalu dia menarik kursi dan duduk.
Bukan kursi di depan Zean.
Kursi di sebelahnya — yang secara konvensional bukan posisi yang dipilih orang asing ketika meja itu punya empat kursi dan tiga di antaranya kosong.
Zean memandangnya sebentar. Perempuan itu sudah mengeluarkan buku catatan dan membukanya ke halaman tengah, tanpa memesan makanan, tanpa memperkenalkan diri, tanpa merasa perlu menjelaskan keberadaannya.
Dia kembali membaca tentang kematian bintang.
Delapan menit berlalu.
Bukan delapan menit yang canggung — dan itu sendiri sudah aneh. Diam dengan orang asing biasanya punya tekstur tertentu: ada tekanan kecil yang mendorong seseorang untuk berkata sesuatu, apa saja, supaya udara di antara mereka tidak terasa seperti ruang vakum. Tapi diam ini tidak punya tekstur itu. Diam ini terasa seperti — Zean mencari padanan yang tepat — seperti perpustakaan. Fungsional. Tidak meminta apa-apa.
Dia hampir kembali ke bukunya ketika melihat perempuan itu menekan ujung penanya ke bibir bawah, menatap langit-langit dengan ekspresi seseorang yang sedang berdebat dengan dirinya sendiri dan hasilnya seri.
"Kursi ini namanya apa?"
Zean mengikuti arah pandangnya. Tidak ada kursi lain yang dia lihat selain yang mereka duduki.
"Kursi ini?"
"Yang di pojok sana." Perempuan itu mengangguk ke arah kursi plastik merah di sudut kantin — kursi yang lebih tua dari sebagian besar mahasiswa yang duduk di atasnya, kakinya sudah sedikit miring ke kiri tapi tidak pernah jatuh. "Saya panggil dia Soekarno. Karena tidak pernah goyah meski kondisinya sudah memprihatinkan."
Zean memandang kursi itu. Memandang kembali perempuan di sebelahnya.
"Kamu menamai kursi."
"Semua kursi di kantin ini punya nama."
"Kenapa?"
"Supaya saya tahu mana yang bisa dipercaya."
Zean tidak tahu harus menjawab apa. Jadi dia tidak menjawab. Dia melihat ke kursi Soekarno sekali lagi — dan entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia merasa ingin tahu tentang sesuatu yang tidak berhubungan dengan angka atau bintang.
Kenapa kursi itu yang dipercaya?
Tapi dia tidak bertanya.
Nasi goreng yang kedua tidak pernah dimakan.
Karena pada menit ke-sebelas, perempuan itu berdiri — memasukkan buku catatannya ke tas — dan berkata "permisi" dengan nada yang terdengar lebih seperti penutup presentasi daripada perpisahan, lalu pergi.
Zean memperhatikannya berjalan. Cara jalannya ganjil sedikit — dia berjalan seolah sedang mengukur lantai dengan langkahnya, terlalu teratur untuk disebut santai tapi terlalu lambat untuk disebut terburu-buru.
Di dekat pintu, sesuatu jatuh dari tasnya.
Sebuah buku catatan kecil. Bersampul cokelat. Terjatuh tanpa suara di atas lantai keramik yang penuh jejak sepatu.
Orang-orang di sekitarnya melihat, lalu tidak melihat — kebiasaan kantin: kalau tidak menyangkut piring atau antrian, bukan urusanmu.
Zean berdiri. Mengambil buku itu. Berjalan ke arah perempuan yang sudah hampir di luar pintu.
"Ini jatuh."
Perempuan itu berbalik. Memandang buku di tangan Zean. Memandang Zean. Ada sesuatu di matanya yang sulit dibaca — bukan kaget, bukan terima kasih juga. Lebih seperti seseorang yang baru saja melihat hasil eksperimen yang tidak sesuai prediksi dan belum memutuskan apakah itu kabar baik atau buruk.
Zean menyerahkan buku itu.
Perempuan itu menerimanya, dan tanpa berniat, Zean melihat tulisan di halaman pertama yang terbuka karena jatuh tadi —
"Orang yang mengambilkan barang jatuh milik orang asing menunjukkan tendensi empati tinggi atau sekadar refleks sosial yang dikondisikan lingkungan?"
Zean membaca kalimat itu dua kali.
Lalu dia berkata, tanpa terlalu memikirkannya: "Refleks sosial dan empati tinggi tidak harus eksklusif. Seseorang bisa dilatih untuk peduli dan akhirnya benar-benar peduli. Kondisi awal tidak membatalkan hasilnya."
Hening selama dua detik.
"Kamu baca tulisan saya."
"Halaman pertama terbuka."
"Dan kamu langsung komentar."
"Pertanyaannya terbuka. Saya rasa tidak ada salahnya."
Perempuan itu menutup buku catatannya. Memasukkannya ke dalam tas dengan gerakan yang terlalu hati-hati untuk sebuah buku catatan biasa.
"Merlin," katanya.
Zean tidak langsung mengerti.
"Nama saya," tambahnya. "Merlin."
"Zean."
Merlin mengangguk sekali — seperti konfirmasi data yang masuk ke sistem — lalu pergi tanpa kata lain.
Zean kembali ke mejanya.
Dua piring nasi goreng, keduanya sudah dingin total. Bukunya masih terbuka di halaman yang sama — bintang yang sekarat karena gravitasinya sendiri. Dia duduk, menatap halaman itu tanpa membaca, dan pikirannya pergi ke tempat yang tidak biasa dikunjunginya: ke seseorang.
Ke cara perempuan itu duduk di kursi yang salah.
Ke pertanyaan yang ditulisnya di buku catatan seperti seseorang yang memang hidup dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai teman.
Ke nama kursi tua di pojok kantin.
Zean mengeluarkan HP-nya. Membuka notes. Folder "Data Tidak Berguna Tapi Menarik" yang sudah terisi dua ratus tiga puluh tujuh entri sejak dua tahun lalu — berisi hal-hal seperti "suara hujan di atas kanopi plastik berbeda frekuensinya tergantung ketebalan plastik" dan "tukang parkir di gedung A selalu bersiul lagu yang sama tapi tidak pernah selesai".
Dia mengetik entri baru.
#238 — Hari ini ada orang yang memanggil kursi dengan nama presiden pertama Indonesia dengan alasan filosofis yang tidak bisa saya bantah. Nama orangnya Merlin. Data tidak berguna.
Dia berhenti.
Membaca ulang kalimat terakhir.
Menghapus dua kata terakhir.
Mengetik ulang:
Tapi entah kenapa saya simpan.
Di lantai dua gedung psikologi, Merlin duduk di depan meja kamarnya yang penuh dengan tumpukan jurnal dan sticky notes berwarna-warni yang tidak tertempel dengan benar. Dia membuka buku catatan cokelatnya — yang tadi "jatuh" — ke halaman baru.
Menuliskan tanggal di sudut kanan atas.
Lalu:
Subjek Z. Pertemuan pertama. Variabel: buku catatan yang dijatuhkan di area publik, diukur respons pengambilan dan kemungkinan membaca isi.
Prediksi: subjek mengambil, menyerahkan, selesai.
Hasil: subjek mengambil, menyerahkan, dan menjawab pertanyaan di halaman pertama dengan argumen yang tidak masuk dalam variabel manapun yang saya siapkan.
Catatan tambahan:
Merlin berhenti menulis.
Penanya ditekan ke bibir bawah — kebiasaan yang muncul hanya ketika ada sesuatu yang tidak bisa langsung dirumuskan.
Dia melanjutkan:
Subjek Z bereaksi di luar variabel yang diprediksi.
Eksperimen dilanjutkan.
Dia menutup buku.
Di luar jendela, langit Bandung mulai kelabu — bukan mendung yang mengancam, tapi mendung yang menunggu, seperti seseorang yang punya banyak hal untuk dikatakan tapi memilih diam dulu sampai waktunya tepat.
Merlin memandang langit itu sebentar.
Lalu mengambil penanya lagi, membuka buku di halaman yang sama, dan menambahkan satu baris kecil di bawah semua yang sudah ditulisnya — dengan huruf yang lebih kecil dari biasanya, seperti catatan kaki yang tidak ingin terlalu terlihat:
Dia tidak bilang pertanyaanku aneh.
Dia menutup buku untuk kedua kalinya.
Kali ini dengan lebih cepat.
Bersambung ke Bab 2 — di mana Merl in merancang eksperimen dengan melibatkan orang ketiga, dan Zean membuktikan bahwa "tidak peka" dan "tidak mau bergerak duluan" adalah dua hal yang terlihat persis sama dari luar.
Daftar bab
12 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








