Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
AGRERIS : MEREKA YANG DITANDAI OLEH VRAHA

AGRERIS : MEREKA YANG DITANDAI OLEH VRAHA

Tyan Dana | Bersambung
Jumlah kata
30.1K
Popular
100
Subscribe
7
Novel / AGRERIS : MEREKA YANG DITANDAI OLEH VRAHA
AGRERIS : MEREKA YANG DITANDAI OLEH VRAHA

AGRERIS : MEREKA YANG DITANDAI OLEH VRAHA

Tyan Dana| Bersambung
Jumlah Kata
30.1K
Popular
100
Subscribe
7
Sinopsis
FantasiIsekaiIsekaiMonsterMisteri
Di Benua Agreris, empat kerajaan terus terjebak dalam konflik yang tak berkesudahan. Ketegangan itu pada akhirnya memaksa para Bhasita—pihak yang selama ini dikenal paling netral—untuk turun tangan sebagai penengah. Dengan pengetahuan mereka tentang energi alam bernama Vraha, para Bhasita berhasil menyatukan keempat kerajaan dalam sebuah perjanjian damai. Namun di balik senyum para penguasa dan kesepakatan damai yang kokoh, perang dingin masih berkecamuk. Intrik, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan terus berjalan dalam bayangan. Bahkan lebih buruk lagi, beberapa di antara pihak yang seharusnya netral mulai mengambil bagian dalam permainan itu—seolah memaksa semesta berjalan sesuai kehendak mereka. Ini adalah kisah tentang mereka yang dipilih oleh semesta dalam memenuhi perannya sebagai penguak kebenaran. Takdir akan menyatukan mereka dalam satu tujuan, namun dengan jalan yang berbeda.
ZIRAH BESI DUA BELATI

Dalam kesunyian Hutan Galda yang begitu lebat, angin dingin bertiup melewati sela pepohonan. Temaram cahaya bulan menyelimuti dedaunan yang rimbun.

Di tengah keheningan malam itu, Agnar duduk membelakangi tenda—menghadap api unggun yang membantunya tetap hangat.

Sepotong daging rusa segar dikeluarkannya dari wadah anyaman rotan. Pisau tajam di tangannya memantulkan nyala api, kilauannya bergerak naik dan turun—mengiris daging itu menjadi beberapa bagian. Agnar berhenti sejenak, dan memperhatikan semak tinggi yang hanya beberapa meter di depannya.

Dengan tenang ia melemparkan sepotong daging ke arah semak tersebut, seperti sedang memancing sesuatu.

Sebilah kayu runcing menusuk empat potong daging yang telah dibumbui. Agnar menancapkannya ke tanah di dekat api, agar matang perlahan.

Api mulai menjilat permukaan daging, tetesan lemak yang meleleh, menghasilkan aroma gurih yang mengisi udara sekitarnya.

Agnar melihat ke arah daging yang ia lempar di dekat semak, namun ia tidak mendapatinya di sana.

Lelaki berperawakan tegap, namun tidak terlalu tinggi itu berdiri dengan tenang. Dua belati pendek dicabut perlahan dari sarungnya yang menggantung di kedua sisi pinggang.

Tatapannya terkunci ke arah semak. Perlahan, ia berjalan menjauh dari tenda—mencoba menciptakan cukup ruang agar tidak merusak perlengkapan berkemahnya.

“Baiklah,” ujarnya.

“Siapapun, atau apapun kau. Kita akan selesaikan ini tidak lebih dari lima menit. Aku tidak ingin dagingku gosong,” ucapnya sambil memasang kuda-kuda.

Bulu di tengkuknya meremang, aliran vraha yang berkobar mulai terlihat dari balik semak. Sosok hitam besar berdiri perlahan, diiringi suara menggeram yang berat, serta sorot mata yang tajam.

Empat cakar panjang yang tak kalah tajam meregang hebat—menimbulkan desingan yang cukup nyaring. Taring tajam berderat rapi seolah sedang mengintip dari dalam mulutnya.

Agnar menelan ludah. Ia memperhatikan makhluk yang berukuran dua atau bahkan tiga kali lipat ukuran tubuhnya itu, “Semoga saja tendaku tetap utuh.”

Udara mendesis saat Agnar menarik napas dalam—memenuhi paru-paru dan rongga perutnya dengan udara. Ia berkonsentrasi memusatkan vraha dalam tubuh—dan memperkuat anggota gerak bagian bawahnya.

Untuk sesaat, waktu terasa berhenti ketika pandangan mereka saling bertemu. Bagaikan ketenangan menjelang datangnya badai.

Agnar mengerahkan seluruh tenaganya dalam satu hentakan kaki. Pria berzirah besi itu meluncur rendah ke arah sosok besar di hadapannya. Belati di tangan kanannya mengayun lebar. Makhluk itu melompat tinggi ke udara, menghindari tebasan yang hampir menyayatnya.

Agnar yang masih melesat, mencoba mencari pijakan untuk berhenti. Dengan cepat ia memutar tubuhnya di udara.

Dentuman keras menggema ketika sepatu besinya beradu dengan batang pohon. Ia berhasil mendaratkan kakinya—menumpu kuat pada batang yang kokoh. Agnar menekuk lututnya dalam-dalam dan menunggu momentum yang tepat.

Koberian itu mulai terjun bebas di udara.

Agnar tidak menyiakan kesempatannya. Dalam waktu sepersekian detik, kakinya menghentak sekuat tenaga dan kembali melesat bagai anak panah, menuju lawannya yang belum sempat mendarat.

Sosok hitam itu meronta—mencoba menghindari serangan yang membidik tubuhnya. Namun, mengambang bebas di udara membuat makhluk itu kehilangan pijakan, hingga ia tidak mampu mengelak lagi.

Satu ayunan besar dari Agnar berhasil menyayat dada penuh bulu nan berkulit tebal itu. Darah segar menyembur dari lukanya yang menganga.

Agnar mendarat di atas tanah, hampir bersamaan dengan monster itu. Pandangan mereka saling mengunci, hanya ada kewaspadaan di antara keduanya.

Agnar memperhatikan luka tebasan yang ia buat, kepulan asap tipis muncul pada permukaan kulitnya yang dipenuhi bulu. Monster itu menggeram hebat ketika luka di dadanya perlahan menutup—tidak meninggalkan sedikitpun bekas goresan.

“Koberian tipe fisik ya? Merepotkan saja. Sepertinya harus mengerahkan tenaga lebih untuk membuat badanmu terpisah.”

Agnar menyatukan pangkal belatinya—menautkan pengait yang ada pada ujung gagang. Dua belati tersebut menyatu, membentuk pedang bermata dua. Agnar menyejajarkan kakinya dan mengatur jarak cukup lebar. Kuda-kuda yang dipasangnya lebih kokoh—menyerupai seorang pendekar pedang.

Lelaki itu mulai berkonsentrasi untuk memusatkan vraha—dan mengumpulkan energi untuk dialirkan ke senjatanya.

Koberian itu tidak berdiam diri. Guratan merah muda di sepanjang kakinya mengencang—urat-uratnya menonjol, memaksa otot pahanya mengeras seperti batu. Monster itu melompat, rumput berhamburan, dan tanah yang diinjaknya retak. Koberian itu melambung di udara, tubuhnya melengkung ke belakang, bagai busur yang ditarik talinya.

Cakar depannya terbuka lebar, bersiap menghantam dan merobek.

Namun Agnar telah selesai melapisi senjatanya dengan vraha. Kilau samar menyelubungi kedua bilahnya, memperpanjang jangkauan dan menajamkan tepian baja itu seperti selubung angin.

Pengalaman bertarung yang terasah puluhan tahun, membuat Agnar tak bereaksi terhadap teror di depannya. Dengan penuh perhitungan, ia telah memperkirakan titik jatuhnya Koberian tersebut.

Agnar berlari menyongsong dan menjatuhkan tubuhnya di atas tanah. Sepatu besinya menggesek permukaan tanah yang kasar—menghasilkan derak yang memekakkan telinga. Hanya dalam waktu beberapa detik, Agnar berada tepat di bawah Koberian yang melayang itu.

Ia mengencangkan pegangan pada senjatanya, dan melompat sekuat tenaga.

Sebuah tebasan vertikal mulai membelah pangkal paha hingga ke ujung kepala monster itu—memotong jaringan otot dan tulang dalam satu tarikan napas.

Kedua bagian itu jatuh terpisah—menghantam tanah dengan diiringi bunyi dentuman yang berat. Darah hitam menyembur dan membasahi permukaan tanah.

Agnar mendarat dengan ringan. Ia menghentakkan belatinya—mencipratkan sisa cairan hitam yang menempel pada bilahnya, kemudian menyarungkan kembali senjatanya itu.

Dirinya kembali menuju api unggun untuk memeriksa satai rusa yang sempat ia tinggal. Empat potong daging itu telah berubah sedikit kehitaman, lemaknya yang menetes di atas bara api itu menghasilkan desisan yang khas.

“Yah…aku jadi telat membaliknya. Yang ini terlalu kering, Sial sekali.”

Dengan perasaan gusar, Agnar menggigit potongan daging yang gosong itu. Mulutnya terus mengunyah—meski rasa hangus dan gurih bercampur tak karuan di lidahnya.

Bau anyir darah koberian mulai menguar, menyebar luas bersama embusan angin.

***

Angin yang sama pula, mulai bertiup kencang ke arah barat. Jauh meninggalkan Agnar dalam hutan sunyi yang dipenuhi pepohonan itu. Angin lembut itu menyusup melalui celah dinding batu sebuah menara tinggi nan megah—menara yang menjadi tempat berkumpul dan bernaung para Bhasita.

Mereka adalah kaum yang mengajar, mengawasi, dan menafsirkan kehendak alam semesta melalui vraha.

Di sebuah ruangan dalam menara, puluhan Bhasita berkumpul untuk menggelar sidang. Mereka membentuk lingkaran mengisi bangku bertingkat, mengelilingi seorang laki-laki berpakaian lusuh yang bersimpuh di atas lantai. Kedua tangannya dibelenggu dengan rantai besi yang menjuntai hingga membelit kakinya sendiri.

“Engkau, yang telah disebut sebagai pelanggar. Sebutkan namamu!”

Hakim mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya bergema di seluruh ruangan berdinding batu tersebut.

“Lurien,” jawabnya pelan.

“Baiklah Lurien, di sinilah kau akan mengakui dan mempertanggungjawabkan perbuatanmu.”

“Tapi aku tidak bersalah,” lelaki itu menyahut ucapan hakim.

Sang hakim merapatkan giginya menahan rasa geram.

“Itu bukanlah sesuatu yang bisa kau tentukan sendiri.”

Hakim melanjutkan, “Kau telah membunuh seorang Bhasita, kemudian kau ubah jasadnya menjadi koberian dengan batu kristal vraha.”

Untuk sesaat, tidak terdengar jawaban apapun dari bibir Lurien.

Tepat ketika hakim hendak berbicara, Lurien mulai tertawa dengan sinis. Tawa yang membuat para Bhasita saling memandang satu sama lain.

“Sepertinya seekor ular telah bersembunyi di antara kalian.”

Lurien menarik napas dalam-dalam.

“DASAR ORANG-ORANG LICIK, AKU DIJEBAK OLEH KAUM KALIAN SENDIRI!”

Lanjut membaca
Lanjut membaca