Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Carcinosis Obscura

Carcinosis Obscura

DaoisttjmlCe | Bersambung
Jumlah kata
40.6K
Popular
100
Subscribe
0
Novel / Carcinosis Obscura
Carcinosis Obscura

Carcinosis Obscura

DaoisttjmlCe| Bersambung
Jumlah Kata
40.6K
Popular
100
Subscribe
0
Sinopsis
FantasiSci-FiMonsterPertualanganSupernatural
Di dunia yang tercekik oleh kabut kelabu Carcinosis Obscura, matahari hanyalah kenangan yang memudar. Tiga tahun setelah wabah mengubah manusia menjadi Carcimorph, Dorian kini berdiri sendirian. Di antara hutan mutasi yang menyimpan banyak misteri dan jalanan beton yang tak berujung, dia harus memilih: mati sebagai mangsa, atau bertahan hidup dengan tangan yang berlumuran darah. Ini adalah kisah Dorian di dunia yang terasa seperti neraka, bertahan hidup di dunia yang menghirup udara saja sudah seperti bertarung dengan nyawa.
Dorian

VOLUME 1 - AKHIR DUNIA (END OF THE WORLD)

.

.

.

Kabut kelabu menggantung rendah di antara batang-batang pohon raksasa, seolah atmosfer itu sendiri sedang berduka. Udara dingin dan lembap, begitu pekat hingga setiap helaan napas terasa seperti menyerap uap racun.

Di balik sebuah pohon yang batangnya dipenuhi jamur-jamur gelap, Dorian bersembunyi. Tubuh bocah lima belas tahun itu menempel sempurna pada kulit kayu yang kasar, mencoba menyatu, mencoba menghilang. Pupil matanya yang hitam legam melebar karena horor.

Di depannya, hanya sekitar dua puluh meter tertutup kabut, dunia miliknya runtuh.

Monster itu, Carcimorph, sedang melumat kedua orang tuanya. Tubuhnya adalah sebuah kutukan daging yang berwujud, benjolan-benjolan tak simetris tumbuh liar di punggungnya, satu lengan terpelintir ke belakang dengan siku yang menekuk ke arah salah, tiga mata muncul tanpa kelopak di pelipisnya, basah dan berputar liar, dan rahangnya yang terbelah hingga ke telinga bekerja seperti mesin pencacah. Suara yang keluar bukan hanya geraman, tapi juga suara basah dan remuk yang menghantam gendang telinga Dorian seperti palu godam.

Di balik respirator usang yang menutupi wajahnya, rahang Dorian mengeras. Dia ingin berteriak, ingin berlari, ingin melakukan sesuatu. Namun tubuhnya seperti sebuah benteng yang terkunci. Dia tak bisa bergerak, tak bisa mengalihkan pandangan. Dia hanya bisa menatap, menjadi sebuah patung daging yang menyaksikan api kehidupannya padam satu per satu.

Beberapa detik kemudian, sebuah suara memecahkan kebisuan. Napasnya sendiri yang tiba-tiba keluar begitu berat hingga terdengar jelas, seperti embusan angin dalam lorong kosong. Carcimorph itu langsung berhenti. Kepalanya yang tak berbentuk itu menoleh perlahan, tiga matanya yang liar berhenti bergerak dan serempak menatap ke arah Dorian.

Jarak antara mereka cukup jauh, namun Dorian tahu, di dunia yang telah runtuh ini, jarak tak lagi berarti bagi monster.

Tubuhnya akhirnya bergerak, tetapi bukan karena keberanian, melainkan naluri bertahan hidup. Dengan gerakan yang amat sangat pelan, dia menyusut, menarik seluruh tubuhnya hingga benar-benar tersembunyi di balik pohon mutan. Dia bersandar dengan kedua tangannya terangkat, menekan keras respirator di wajahnya, seolah menahan jiwanya agar tidak meledak keluar. Tubuhnya bergetar hebat menahan isak tangis.

Namun matanya tak bisa diajak kerja sama. Cairan bening mulai menggumpal di sudut matanya, membuat pandangannya seperti kaca pecah berkabut, sebelum akhirnya air mata itu panas membasahi pipinya yang kotor.

Dari balik pohon, Carcimorph yang sedari tadi mencari sumber suara, kembali teralihkan. Pandangannya jatuh pada tumpukan tubuh yang telah kehilangan bentuk, dengan rongga perut yang menganga lebar, menampilkan isinya yang mengerikan dalam genangan darah merah pekat. Panggilan perut kembali mengalahkan segalanya. Monster itu melupakan sumber suara tadi dan kembali menikmati santapannya. Suara basah, suara tulang dicabut dan diremukkan, kembali menggema di hutan.

Perlahan, dari balik kelopak matanya yang basah, dia melirik. Dia tahu dia tidak seharusnya melakukannya, tetapi keinginan untuk melihat mereka sekali lagi begitu kuat, walaupun dia sendiri tahu bahwa dia tidak akan bisa mengenali mereka ketika melihatnya.

Mereka bertahan hidup bersama selama tiga tahun di bumi yang telah berubah menjadi neraka ini. Bertahan dari kelaparan, kehausan, dan kejaran Carcimorph. Mereka adalah satu tim, satu keluarga. Namun malam ini, tim itu bubar. Mereka tidak lagi bertahan bersama, mereka memilih untuk mati agar dia bisa bertahan hidup.

Di dalam hatinya yang hancur, sebuah suara menjerit untuk menolong, untuk menghancurkan monster itu. Namun kakinya gemetar, tanpa sadar mulai melangkah menjauh. Tubuhnya telah mengambil alih kendali dari jiwanya yang lumpuh. Dia melangkah pelan, menghindari dedaunan kering, menghindari ranting patah. Tatapannya kosong, terpaku pada titik tak terlihat di depan. Air matanya masih mengalir, tetapi raut wajahnya datar seperti topeng kematian.

Dia telah berjalan sejauh lima ratus meter, namun jiwanya masih tertinggal di tempat kejadian perkara. Hingga akhirnya, cahaya.

Cahaya bulan yang redup, nyaris tak terlihat, muncul di sela-sela pepohonan di kejauhan. Matanya yang kosong itu berkedip. Satu kedipan, lalu kedipan lainnya. Seolah-olah lampu jiwanya yang hampir padam, kembali menyala samar. Kakinya mulai melangkah lebih cepat, setengah berlari tersandung akar-akar pohon.

Dan ketika kabut kelabu mulai menipis dengan langit tanpa bintang menggantung di atasnya yang tentu saja tidak bisa dia lihat karena tertutup kabut kelabu, Dorian tahu dia sudah keluar dari hutan.

Kakinya yang tanpa alas menyentuh jalanan beton yang kasar dan dingin.

Pupil matanya yang hitam bergerak cepat ke kiri dan kanan, mengamati sekeliling. Dia berdiri di pinggir jalan beton yang retak-retak, ditumbuhi lumut dan tanaman perintis.

Dari balik respirator, sesuatu yang aneh terjadi. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Sebuah senyuman aneh yang berkelahi dengan air mata yang masih mengalir. Tubuhnya goyah, lalu lututnya menghantam keras jalan yang dingin.

Di belakangnya, hutan yang baru saja ditinggalkannya tampak seperti lukisan gelap, penuh pohon-pohon bermutasi dengan bentuk-bentuk mengerikan, semua terbungkus rapat dalam selimut kabut kelabu yang mencekik.

Napasnya tersengal di balik respirator, lalu sebuah suara serak, nyaris seperti bisikan pecah, keluar dari tenggorokannya yang kering.

"Haha... Ibu... Ayah... Kenapa kalian melakukannya?" Dia tertawa pahit, getir, seperti empedu yang naik ke kerongkongan. "Jika tidak menyelamatkanku, kalian pasti bisa keluar dari hutan ini. Pasti bisa. Haha... hahahaha... Maafkan aku, Ibu... Ayah..."

Tangannya yang bergetar naik ke rambutnya yang kusut, penuh tanah dan debu. Jari-jarinya mencengkeram helaian hitam itu, lalu menariknya dengan sekuat tenaga. Rasa sakit di kulit kepala menyatu dengan rasa sakit di jiwanya yang hancur.

Di balik respirator, dia tersenyum, alis mengkerut, mata menangis. Dia menarik rambutnya lagi, dan lagi, hingga beberapa helai tercabut dari akarnya. Dia tertawa dan menangis dalam frekuensi yang sama.

Akhirnya, tenaganya habis. Tubuhnya lunglai, bersujud, dan dahinya yang basah oleh keringat menghantam keras beton jalan. Sekali. Dua kali. Dia menekankan dahinya ke beton, seolah ingin menanamkan penyesalannya ke dalam batu.

"Lihatlah, Ibu, Ayah," Suara berbisik dengan suara serak tertahan mulai terdengar, "anak yang kalian selamatkan telah berhasil keluar dari hutan setelah tiga bulan tersesat... telapak kaki Dorian akhirnya menginjak jalan... Dorian kini bersujud, menyalahkan dirinya sendiri karena bertindak bodoh, membahayakan nyawa kalian..."

Dia bersujud lagi, lagi, dan lagi. Setelah beberapa detik yang terasa abadi, dia berhenti. Tubuhnya yang lemas perlahan bangkit. Dia memalingkan wajah dari hutan terkutuk itu, dan melangkah ke kanan, menyusuri jalan beton yang sepi.

Sekitar dua ratus meter kemudian, di tengah kabut kelabu yang juga menyelimuti jalan, sebuah siluet besar muncul. Sebuah campervan putih dengan empat roda, masih tampak cukup utuh.

Dorian mendekatinya dengan langkah gontai, seperti zombie yang kehilangan tujuan. Dia mencoba membuka pintu sampingnya. Beruntung, pintu itu tidak terkunci. Dengan bunyi derit yang memecah kesunyian malam, pintu terbuka. Dia menaiki tangga kecil dan masuk ke dalam, lalu menutup pintu di belakangnya.

Di dalam, dia tak punya tenaga untuk mengamati apa pun. Tubuhnya, yang telah dipaksa bekerja melampaui batas fisik dan mental, secara otomatis membawanya ke sebuah sofa kecil. Dia merebahkan diri, tubuhnya tenggelam dalam busa yang tak terlalu empuk. Belum sampai satu menit, dengan air mata membekas di pipinya, Dorian jatuh dalam pelukan tidur yang gelap.

.....

Dorian membuka mata, namun yang dia lihat hanyalah kabut kelabu yang pekat. Lagi-lagi kabut. Kali ini berbeda, Dorian tidak bersembunyi di balik pohon, melainkan berdiri tegak di tengah-tengahnya, dikelilingi oleh dinding tebal uap dingin yang berbau anyir seperti daging busuk bercampur bahan kimia yang menusuk hidung.

Dengan gerakan patah-patah, tangannya meraba wajah. Jari-jarinya menyentuh kulit kosong, tanpa lapisan pelindung. Panik mendadak mengalir deras di nadinya seperti sengatan listrik. Dorian segera menutup mulut dan hidungnya rapat-rapat dengan kedua telapak tangan, menahan napas. Matanya terpejam kuat-kuat, berharap spora-spora mematikan yang pasti bercampur dalam kabut ini tidak masuk ke dalam tubuhnya.

Detik-detik berlalu dalam keheningan yang mencekik. Napas yang dia tahan mulai membakar paru-parunya.

Dan kemudian, sebuah suara muncul.

Awalnya samar, namun perlahan, suara itu mulai terbentuk---sebuah gumaman. Suara itu bergema, seolah memantul dari segala arah sekaligus. Suara itu tidak terdengar tidak asing di telinganya. Pupil matanya yang hitam membelalak, bola matanya bergerak cepat ke kanan dan kiri, tubuhnya berputar panik mencoba mencari sumber suara di tengah kabut yang membutakan.

"Ibu...?" Dia bergumam tanpa sadar saat mendengar suara aneh itu.

Panggilan itu datang lagi dan lebih jelas. Dan kali ini disusul oleh suara lain, suara berat yang selalu dia dengar saat ayahnya berbicara tentang masa depan.

Saat suara itu mencapai kejelasan puncaknya, mencapai titik di mana tidak mungkin lagi salah dengar, Dorian berteriak. Kedua tangannya terlepas dari mulut dan hidungnya, jatuh lemas di samping tubuh.

"IBU! AYAH!"

Suaranya bergema liar, memantul di antara dinding kabut yang seolah hidup. Dia tak lagi peduli pada spora, tak lagi peduli pada bau busuk yang semakin kuat menusuk hidungnya. Yang dia pedulikan hanyalah dua suara yang selama ini menjadi rumahnya.

Dorian berlari. Tangannya mengibas-ngibas di depan wajah, mencoba membelah kabut tebal yang seolah sengaja menutupi pemandangan darinya. Napasnya terengah, jantungnya berdebar kencang.

Suara itu semakin dekat. Samar-samar, di kejauhan, mulai tampak dua siluet. Bentuknya samar, terdistorsi oleh kabut, namun cukup familiar untuk membuat hatinya melompat. Siluet yang satu lebih kecil, terlihat lembut---ibunya. Siluet satunya lagi tegap dan kokoh---ayahnya.

"Ibu! Ayah!" Dorian berteriak lagi, kali ini dengan nada lega bercampur isak tangis. Kakinya berlari lebih kencang, mengabaikan segala naluri bertahan hidup yang selama tiga tahun ini dia pelajari.

Lima meter. Jarak yang cukup untuk mulai melihat detail.

Dan di jarak lima meter itulah dunia kembali runtuh untuk kedua kalinya.

Kabut seolah tersingkap, memperlihatkan dengan kejam apa yang selama ini bersembunyi di balik siluet familiar itu. Kedua sosok itu masih berdiri di sana, tetapi mereka bukan lagi manusia. Tubuh ibu dan ayahnya telah menyatu dalam satu entitas yang mengerikan---daging mereka meleleh dan bergabung menjadi satu massa tak berbentuk, dengan dua kepala yang masih bisa dikenali menempel di sisi yang salah, mulut mereka terbuka dalam jeritan diam. Dan dari balik mereka, sesuatu melompat.

Makhluk itu kemudian melompat dan menerkamnya dengan rahang terbelah.

.....

"TIDAK!"

Dorian menjerit saat terbangun, tubuhnya tersentak keras hingga hampir jatuh dari sofa. Jeritannya teredam oleh respirator yang masih setia menempel di wajahnya. Entah bagaimana, di tengah kelelahan ekstrem semalam, dia masih memiliki kesadaran untuk tidak melepasnya, atau mungkin dia sudah terlalu lelah untuk memperdulkannya. Jika tidak, jeritan liar itu akan bergema keluar dari campervan, menembus kabut tipis di luar, dan mengundang kematian mendekat.

Dadanya naik turun dengan sangat cepat, namun setiap napas terasa berat, sesak, seolah ada beban puluhan kilogram yang bertengger di dadanya. Keringat dingin mengalir deras di pelipisnya, membasahi rambutnya yang kusut, bercampur dengan debu di dahinya. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga dia bisa merasakan detaknya di ubun-ubun kepala.

Pupil matanya yang hitam masih melebar, menangkap langit-langit campervan yang asing. Butuh beberapa detik bagi otaknya untuk memproses. Dia mengangkat tangannya yang bergetar hebat ke depan wajahnya, menatap jari-jarinya yang kotor dan gemetar, sebelum perlahan mengepalkannya dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih dan urat-urat biru tampak menonjol di punggung tangannya.

Dengan susah payah, dia mendorong tubuhnya untuk duduk. Punggungnya bersandar di sofa, kepalanya menunduk sesaat. Napasnya mulai teratur sedikit, meski masih tersengal. Lalu dia menatap sekeliling, mengamati interior campervan yang sebelumnya tak sempat dia perhatikan.

Campervan ini cukup terawat untuk ukuran pasca-kiamat. Ada dua kursi sopir di depan, sebuah dapur mini dengan kompor kecil dan wastafel kering, beberapa lemari tertutup, kulkas kecil, serta sofa tempat dia duduk yang bisa diubah menjadi tempat tidur. Di sudut ruangan, tergeletak sebuah ransel besar yang sudah berdebu.

Namun Dorian tak memiliki kekuatan untuk memeriksa semua itu. Matanya melihat, tapi otaknya tak memproses. Karena pikirannya masih terjebak di dua tempat: di hutan semalam, dan di kabut mimpi tadi.

Dia masih syok. Itu adalah kata yang terlalu lembut untuk menggambarkan apa yang dia rasakan. Seorang anak berusia lima belas tahun, yang tiga tahun terakhir hidupnya hanya berputar pada satu misi---bertahan hidup bersama orang tuanya---kini harus menyaksikan kedua orang itu dilahap hidup-hidup di depannya. Bukan sekadar mati, tapi dimakan. Dikunyah. Dihancurkan perlahan oleh monster yang dagingnya sendiri adalah kutukan.

Dan yang lebih mengerikan, itu terjadi karena kesalahannya. Jika saja dia bisa mengendalikan diri untuk tidak mencari makanan sendirian, mungkin orang tuanya masih hidup. Mungkin mereka semua bisa keluar dari hutan itu bersama-sama.

Pikiran itu seperti racun yang mengalir di pembuluh darahnya.

Orang dewasa pun bisa hancur dengan pemikiran seperti itu. Lalu bagaimana dengan Dorian? Seorang remaja yang baru saja kehilangan segalanya? Dia mungkin membutuhkan psikiater, namun itu mustahil. Di dunia yang bagaikan neraka ini, para psikiater mungkin sudah menjadi makanan Carcimorph atau bunuh diri karena tak tahan melihat realitas.

Duduk di sofa usang itu, Dorian kembali menunduk. Perlahan, dia menarik kedua kakinya, menekuknya, dan memeluknya erat ke dada. Dahinya dia benamkan di antara kedua lutut, bersembunyi dari dunia. Tubuhnya yang kecil tampak semakin kecil dalam posisi itu, seperti bayi yang ingin kembali ke rahim ibunya.

Dan di balik respirator, dia menangis.

Bukan tangisan histeris seperti di jalan beton semalam. Tangisan ini lebih dalam dan sunyi, seperti tangisan seseorang yang sudah terlalu lelah untuk berteriak, namun terlalu terluka untuk berhenti. Air mata mengalir tanpa bisa dia bendung, membasahi pipinya yang kotor, merembes ke sela-sela respirator, meninggalkan rasa asin di bibirnya. Bahunya terangkat dan turun dalam isakan-isakan pendek yang tertahan, berusaha sepelan mungkin agar suaranya tak sampai ke luar.

Di dalam campervan yang sunyi, hanya ada suara isak tangis yang tertahan dan detak jantung seorang anak laki-laki yang hancur.

Dia menangis untuk ibu yang tak akan pernah lagi memasak makanan untuknya.

Dia menangis untuk ayah yang tak akan pernah lagi mengajarinya cara membedakan jamur beracun.

Dia menangis untuk dirinya sendiri, yang kini benar-benar sendirian di dunia yang penuh monster.

Di luar, kabut kelabu perlahan menebal, menutupi dunia dari sinar matahari yang pucat. Dunia berjalan seperti biasa, tak peduli pada satu jiwa yang hancur di dalam sebuah campervan putih di pinggir jalan beton.

Lanjut membaca
Lanjut membaca