Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Dicampakkan Dunia, Aku Menjadi Pengendali Api

Dicampakkan Dunia, Aku Menjadi Pengendali Api

Daozhun | Bersambung
Jumlah kata
96.5K
Popular
1.5K
Subscribe
173
Novel / Dicampakkan Dunia, Aku Menjadi Pengendali Api
Dicampakkan Dunia, Aku Menjadi Pengendali Api

Dicampakkan Dunia, Aku Menjadi Pengendali Api

Daozhun| Bersambung
Jumlah Kata
96.5K
Popular
1.5K
Subscribe
173
Sinopsis
18+FantasiIsekaiMonsterPertualanganBalas Dendam
Mengandung unsur +21. Di Kota Tadure, setiap malam dibasahi arak, parfum murahan, dan desahan yang dibeli dengan koin. Ray tumbuh di balik tirai rumah bordil Teratai Malam, tempat manusia menjual tubuh dan harga diri demi bertahan hidup. Di Benua Halmahera, hidup seseorang ditentukan oleh satu hal. Inti mutiara. Ray memilikinya. Dan seseorang merampasnya. Ia menghilang. Dianggap mati. Lalu kembali dengan sesuatu yang tidak seharusnya ada. Api. Dari lorong bordil hingga jalanan kota pelabuhan, Ray melangkah tanpa nama dan tanpa belas kasihan. Karena di dunia ini, hanya ada dua takdir. Tenggelam selamanya. Atau naik hingga puncak, untuk disebut Sage Benua Halmahera.
Inti yang Dicabut

Hutan Bambu Ravindra menelan cahaya bulan. Rumpun bambu tumbuh rapat, batang-batangnya berdesakan seperti tembok hidup yang menjulang tinggi. Angin malam bergerak di antara daun-daun kering, menghasilkan desir yang terdengar seperti bisikan tanpa kata.

Ray berdiri di tengah celah sempit yang terbentuk dari bambu-bambu tua. Napasnya terengah-engah. Jantungnya berdebar cepat, bukan karena ketakutan, melainkan karena gelombang panas yang naik dari dalam perutnya.

"Kenapa dia membawaku ke sini?" pikir Ray sambil menatap Maya yang berdiri sangat dekat dengannya. "Kenapa gadis bangsawan sepertinya mau bertemu denganku di tempat segelap ini?"

Maya melangkah lebih dekat. Jarak di antara mereka menyusut hingga Ray bisa mencium aroma bunga melati yang melekat pada rambut hitam panjangnya. Tangannya terangkat perlahan, ujung jari menyentuh pipi Ray dengan gerakan yang begitu ringan.

"Kamu gemetar," bisik Maya. Suaranya lembut seperti sutra.

Ray menelan ludah. "Aku... aku tidak..."

Kata-katanya terpotong saat Maya menciumnya. Bibir gadis itu lembut dan hangat. Ray merasakan dunia di sekelilingnya menghilang. Lidah Maya menyelinap masuk perlahan, menyentuh lidahnya dengan gerakan yang penuh kelembutan namun pasti.

"Ini nyata," pikir Ray dengan dada berdebar. "Untuk pertama kalinya, aku dipilih."

Tangan Maya bergerak, menyusuri leher Ray, turun ke dadanya. Gerakan itu penuh kepastian, tidak ragu. Telapak tangannya menekan dada Ray, merasakan detak jantung yang semakin liar.

Ray melingkari pinggang Maya, menarik gadis itu lebih dekat hingga tubuh mereka menempel rapat. Ia bisa merasakan kelembutan payudara Maya menekan dadanya. Panas dari tubuh gadis itu merembes ke kulitnya.

"Jangan takut," bisik Maya di telinganya.

"Aku tidak takut," jawab Ray pelan. Tangannya gemetar saat membuka gesper celananya sendiri.

Maya mundur sedikit, menatapnya dari atas ke bawah. Matanya menyusuri tubuh Ray dengan tatapan yang penuh hasrat. Tangannya turun, menyentuh perut Ray, menelusuri garis otot yang tegang.

"Kamu sudah siap," bisik Maya sambil tersenyum kecil.

Ray hanya bisa mengangguk lemah. "Ya... aku..."

Rasa sakit tiba-tiba menusuk perutnya seperti besi panas yang ditancapkan. Ray tersentak. Tubuhnya kehilangan kendali seketika. Lututnya melemas.

Tangan Maya mencengkeram bahunya dengan kuat, membuatnya tetap berdiri.

Ray menatap Maya dengan mata terbelalak. Gadis itu tersenyum. Senyuman yang dingin. Tajam.

"Kakak Maya," kata Ray dengan suara parau. "Apa yang kamu lakukan? Kamu mau membunuhku?"

Maya tidak menjawab. Ia hanya tertawa. Tawa itu ringan, hampir seperti kekehan. Maya mundur selangkah, lalu bertepuk tangan perlahan.

Dari balik rumpun bambu, dua sosok muncul. Mereka berjalan keluar dengan santai. Tawa mereka meledak keras, bergema di antara bambu-bambu.

Rex dan Ian.

"Tidak," bisik Ray. "Tidak mungkin."

"Kamu pikir Maya mencintaimu?" kata Rex sambil tertawa keras. Ia melangkah lebih dekat, menatap Ray dengan pandangan penuh penghinaan. "Sebaiknya berkaca dahulu!"

Ian menyeringai lebar. "Maya hanya menginginkan inti mutiaramu, untuk meningkatkan level keterampilan beladirinya. Kamu jangan mimpi."

Ray merasakan tubuhnya semakin lemas. Kakinya tidak bisa menahan beratnya lagi. Ia jatuh berlutut, tangan menekan perut yang terasa panas dan nyeri.

"Kenapa?" Ray memaksakan suaranya keluar. "Aku tidak pernah..."

Duk!

Kaki Rex menghantam dadanya dengan kekuatan penuh. Ray terhempas ke belakang. Punggungnya membentur batang bambu.

"Ugh!" Ray merintih, napasnya tercekat.

Ian mendekat dengan langkah santai. Ia mengangkat kaki kanannya, lalu menginjak dada Ray dengan tekanan yang membuat tulang rusuk Ray berbunyi.

"Diam," kata Ian dengan nada muak. "Aku muak mendengar suara orang rendahan."

Rex ikut menekan kakinya di dada Ray, tepat di samping kaki Ian. Tekanan bertambah dua kali lipat.

"Rasakan itu," kata Rex sambil menyeringai. Ia menekan lebih keras. "Itulah batas hidupmu."

Ray berusaha bernapas. Setiap tarikan napas terasa seperti pisau yang menyayat tenggorokannya dari dalam.

"Aku tidak melakukan apa-apa pada kalian," kata Ray dengan suara lemah dan putus-putus.

Rex tertawa pendek. "Justru itu masalahnya." Ia menatap Ray dengan tatapan yang penuh kebencian murni. "Kamu berani hidup."

"Berani berdiri sejajar," tambah Ian sambil mengangguk. "Berani bermimpi."

Maya melangkah mendekat. Langkahnya tenang, tidak terburu-buru. Ekspresi wajahnya dingin seperti es.

"Hentikan bicara," katanya datar. "Pegang dia."

Rex dan Ian langsung menurut. Mereka menarik Ray ke posisi duduk bersandar pada batang bambu. Tangan Rex mencengkeram bahu kiri Ray, sementara Ian memegang bahu kanan. Cengkeraman mereka kuat dan kasar.

Ray mencoba melawan. "Lepaskan... aku..."

"Diam saja," kata Ian sambil menekan lebih keras.

Maya berjongkok di depan Ray. Tangannya yang putih dan halus bergerak ke perut Ray. Dengan gerakan cepat, Maya menyobek kain bajunya.

Srett!

Udara dingin langsung menerpa kulit telanjang Ray. Ia merasakan sesuatu yang hangat dan lengket mengalir di perutnya.

"Aaaargh!" Ray menjerit saat Maya menyentuh luka di perutnya.

Maya berbicara tanpa mengangkat pandangan. "Jangan bergerak. Ini hanya sebentar."

"Kakak... tolong..." Ray mencoba memohon dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Maya menjawab tanpa mengangkat pandangan. "Kamu memanggil orang yang salah."

Ian tertawa kecil. "Lihat matanya, Rex. Dia masih berharap."

Rex menyeringai lebih lebar. "Harapan itu yang paling nikmat untuk dihancurkan."

Ray merasakan sesuatu ditarik keluar dari tubuhnya. Seperti jantung kedua yang dicabut paksa.

"Ini seperti napasku ikut tercabut," pikir Ray dalam kesadarannya yang semakin kabur.

Srtt!

"Aaarh!" Ray menjerit lagi, namun kali ini suaranya hampir tidak keluar.

Maya bangkit. Ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Di telapak tangannya yang putih, ada sebuah bola kecil berwarna putih keperakan. Bola itu bersinar redup.

Inti mutiara. Inti mutiaranya.

"Ini dia," kata Maya sambil menatap benda itu dengan mata yang bersinar puas.

Rex melangkah mendekat. Matanya menyala dengan keserakahan. "Cantik."

Ian tertawa. "Jadi selama ini benda ini yang membuatmu sok berharga?"

Ray tidak mendengar mereka dengan jelas. Yang ia rasakan adalah dingin. Dingin yang menyebar dari perutnya ke seluruh tubuh.

"Kosong," pikir Ray. "Tidak ada apa-apa lagi."

Maya mengamati Ray dengan tatapan tanpa perasaan. "Dia sudah selesai."

Rex menyeringai. "Lihat wajahnya. Seperti bangkai hidup."

"Tanpa inti mutiara, dia bahkan tidak pantas dipanggil petarung," kata Ian dengan nada senang.

"Tidak pantas dipanggil manusia," tambah Rex sambil mengangguk.

Maya mengambil sebuah sapu tangan sutra dari sakunya. Dengan gerakan yang sangat tenang, ia membersihkan tangannya yang berlumuran darah Ray.

Setelah selesai, Maya menatap Rex dan Ian. "Bawa dia pergi."

Ray mencoba bicara. "Kenapa... aku..."

Ian menjawab dengan nada santai. "Karena kamu salah lahir."

"Dan salah berharap," tambah Rex sambil tersenyum.

Pandangan Ray mulai mengabur. Ia merasakan tubuhnya diguncang, ditarik dengan kasar, dipindahkan entah ke mana.

Derak roda kayu. Kuda meringkik pelan di kejauhan.

Dalam kesadarannya yang hampir hilang, Ray mendengar potongan-potongan kalimat.

"Laut Naga Selatan."

"Lempar saja."

"Kalau tenggelam, beres. Kalau hidup, juga beres."

Lalu suara Maya terdengar samar.

"Dia sudah tidak bernilai."

Ray tidak merasakan apa-apa lagi. Hanya kehampaan yang terus menyebar dan menelan segalanya.

"Mungkin ini kematian," pikirnya.

Lalu gelap.

Bersambung

Lanjut membaca
Lanjut membaca