

Malam adalah kerajaan Fariz.
Di siang hari, kota terlihat biasa—macet, panas, penuh orang-orang yang berpura-pura jujur. Tapi ketika matahari tenggelam dan lampu-lampu mulai menyala, dunia lain muncul dari balik bayang-bayang. Dunia yang dipimpin Fariz.
Ia berdiri di lantai dua gudang pelabuhan, menatap ke bawah. Kontainer-kontainer berjajar seperti kuburan besi. Lampu kuning redup memantul di genangan air hujan. Di bawah sana, beberapa truk berhenti, pintunya dibuka perlahan.
“Barang datang tepat waktu?” suara Fariz tenang, tapi dingin.
Raka, tangan kanannya, mengangguk. “Dari timur. Pil dan serbuk. Aman.”
Ilham, pria kurus bermata tajam, membuka salah satu peti kayu. Di dalamnya, bungkusan-bungkusan kecil tersusun rapi. Bau kimia menusuk hidung.
Fariz mengeluarkan rokok. Ia menyalakannya, menghisap dalam-dalam. Asap keluar dari hidungnya perlahan. “Besok kita sebar ke wilayah barat.”
“Kalau polisi masuk?” tanya Ilham.
Fariz tertawa pendek. “Polisi masuk kalau ada yang bicara.”
Bima, bendahara kelompok, berdiri di samping meja lipat sambil menghitung uang. Tas-tas hitam penuh lembaran merah dan biru. “Tiga ratus juta malam ini.”
“Kurang,” kata Fariz.
Bima terdiam. “Itu hasil bersih.”
“Berarti masih ada yang maling.”
Bima menunduk. “Tidak, Bos. Semua tercatat.”
Fariz menatapnya lama. Tatapan itu cukup membuat orang dewasa gemetar. “Besok gue mau lihat laporan lebih detail.”
“Siap, Bos.”
Fariz turun dari lantai dua. Sepatu botnya menghantam lantai beton dengan suara keras. Di ruangan itu, semua orang tahu satu hal: tidak ada yang lebih tinggi dari Fariz.
Ia bukan pemimpin yang suka berteriak. Ia tidak banyak bicara. Tapi jika ia berbicara, itu perintah.
Di luar gudang, mobil hitam menunggu. Fariz masuk ke kursi belakang. Raka menyetir, Ilham di depan.
“Ke mana, Bos?” tanya Raka.
“Bar pelabuhan.”
Mobil melaju menyusuri jalanan sepi. Di kiri kanan, lampu jalan redup, warung tutup, hanya sesekali terlihat orang mabuk berjalan sempoyongan.
Bar itu berada di ujung dermaga. Musik berdentum keras. Lampu warna-warni berkedip. Bau alkohol bercampur keringat.
Begitu Fariz masuk, beberapa orang langsung berdiri.
“Bos Fariz…”
Ia mengangguk singkat dan duduk di sofa tengah. Seorang pelayan datang membawa botol tanpa diminta.
“Seperti biasa?”
“Tuang.”
Gelas pertama langsung kosong. Fariz menyandarkan punggung. Kepalanya panas, tapi pikirannya tetap dingin.
Raka tertawa kecil. “Kota ini milik kita sekarang.”
Fariz tidak menjawab. Ia menyalakan rokok. Asap menari di udara.
Sekelompok pria mendekat. Mereka mengenakan jaket lusuh, wajah penuh bekas luka.
“Kami mau masuk wilayah timur, Bos,” kata salah satu dari mereka.
Fariz menatapnya. “Wilayah timur siapa?”
“Wilayah… Bos Fariz.”
“Bayar.”
Pria itu menyerahkan amplop.
Fariz membukanya, menghitung cepat. “Kurang.”
“Bos, kami sudah—”
Fariz berdiri. “Kalau mau hidup di kota ini, jangan belajar bohong.”
Raka maju setengah langkah. Pria itu langsung mundur.
“Besok tambah,” kata Fariz. “Kalau tidak, jangan lewat wilayah gue lagi.”
Mereka pergi dengan wajah pucat.
Ilham terkekeh. “Mereka takut.”
Fariz meneguk minuman lagi. Tenggorokannya panas. Kepalanya sedikit berputar.
“Takut itu lebih baik daripada mati,” katanya.
Jam hampir dua pagi ketika mereka keluar dari bar. Angin laut menyapu wajah Fariz. Ia masuk ke mobil tanpa bicara.
Markas mereka adalah gedung pabrik tua. Besi-besinya berkarat, tapi di dalamnya penuh aktivitas. Anak buah berjaga di pintu, membawa tongkat besi dan pisau.
Fariz langsung menuju ruangan belakang. Ruangan itu kecil dan gelap. Ada lemari kayu tua di sudut.
Ia membukanya.
Di dalamnya, sebuah sajadah terlipat rapi.
Warnanya sudah pudar. Pinggirannya robek. Kainnya tipis.
Raka berdiri di pintu. “Kenapa Bos simpan itu?”
“Bukan urusan lo.”
Fariz menutup lemari keras.
Sajadah itu milik ibunya.
Ibunya yang sudah lama mati.
Ibunya yang selalu memaksanya shalat.
“Kamu boleh jadi apa saja, Riz, tapi jangan tinggalkan sujud.”
Fariz menyalakan rokok lagi. “Omong kosong,” gumamnya.
Ia kembali ke ruangan besar. Beberapa anak buah sedang bermain kartu. Tumpukan uang di tengah.
“Gue ikut,” kata Fariz.
Permainan berjalan cepat. Uang berpindah tangan. Fariz menang besar.
“Kita raja kota ini,” kata Ilham.
Fariz tersenyum tipis. Tapi di dalam dadanya, ada ruang kosong.
Pintu depan terbuka keras.
Seorang anak buah masuk terengah. “Bos! Garuda Hitam masuk wilayah kita!”
Fariz berdiri. “Di mana?”
“Pelabuhan timur.”
Mata Fariz menyipit. “Darman.”
Garuda Hitam adalah mafia besar lain. Pimpinan mereka, Darman, dikenal sadis.
“Siapkan orang,” kata Fariz.
Mereka naik mobil. Konvoi kecil melaju ke pelabuhan timur. Lampu-lampu gudang redup. Suara ombak memukul beton.
Sekelompok pria berdiri di depan gudang.
“Itu wilayah kami!” teriak Raka.
Seorang pria besar maju. Wajahnya penuh bekas luka. “Sekarang wilayah kami.”
Fariz turun. “Pergi.”
Pria itu tertawa. “Atau apa?”
Fariz mengangkat tangan.
Pertarungan pecah.
Besi beradu besi. Teriakan menggema. Fariz memukul satu orang hingga jatuh. Ia tidak menusuk. Tidak membunuh. Hanya mematahkan tangan, menendang lutut.
Darman mundur. “Ini belum selesai!”
Fariz menatapnya dingin. “Gue tunggu.”
Mereka kembali ke markas. Baju Fariz basah oleh keringat dan air laut.
Ia masuk ke ruangan belakang. Duduk di kursi.
Tangannya sedikit gemetar.
Ia mengambil botol minuman dari laci dan meneguknya.
“Kenapa hidup gue begini…” gumamnya.
Bayangan masa kecil muncul di kepalanya: masjid kecil, suara azan, ibunya memanggil Subuh.
Ia berdiri dan membuka lemari. Mengambil sajadah.
Ia bentangkan di lantai.
Diam.
Fariz berdiri di atasnya. Bingung.
“Allahu…” katanya, lalu berhenti.
Ia duduk lagi.
“Gue ini siapa mau shalat?”
Ia melipat sajadah kasar dan memasukkannya kembali.
“Aku bukan orang baik.”
Di luar, suara sirene jauh terdengar.
Fariz menyalakan rokok.
Ia adalah Fariz.
Pemimpin mafia.
Penguasa malam.
Dan dunia malam adalah rumahnya.
Untuk sekarang.
---