Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
THE FORGOTTEN SAVIOR: AN UNWANTED HERO'S SLOW-BUILD JOURNEY

THE FORGOTTEN SAVIOR: AN UNWANTED HERO'S SLOW-BUILD JOURNEY

prasfaa | Bersambung
Jumlah kata
84.5K
Popular
100
Subscribe
1
Novel / THE FORGOTTEN SAVIOR: AN UNWANTED HERO'S SLOW-BUILD JOURNEY
THE FORGOTTEN SAVIOR: AN UNWANTED HERO'S SLOW-BUILD JOURNEY

THE FORGOTTEN SAVIOR: AN UNWANTED HERO'S SLOW-BUILD JOURNEY

prasfaa| Bersambung
Jumlah Kata
84.5K
Popular
100
Subscribe
1
Sinopsis
FantasiIsekaiIsekaiPertualanganSihir
Bagi Harito Adingra, menjadi sosok yang tidak terlihat adalah keahliannya di dunia nyata. Namun, ketika ia tiba-tiba terlempar ke dunia Aethelgard di tengah reruntuhan kuil yang penuh mayat, kemampuannya untuk tidak mencolok menjadi kunci utama keselamatannya. Tanpa mengetahui bahwa dirinya adalah "Pahlawan" yang diramalkan, Harito melarikan diri dari kuil berdarah tersebut dan memulai hidup dari nol di dunia fantasi yang keras. Berbekal status kemampuan yang serba rata-rata dan keahlian bertahan hidup yang ia pelajari secara otodidak, Harito memalsukan identitasnya dan bekerja sebagai petualang peringkat bawah muda. Ia memungut besi tua, mengumpulkan herbal, dan menghindari konflik besar. Tanpa beban ramalan atau tekanan untuk mengalahkan Raja Iblis, Harito dibiarkan berkembang dengan caranya sendiri—perlahan, penuh perhitungan, dan sangat pragmatis. Dalam perjalanannya mencari cara untuk bertahan hidup (dan mungkin mencari jalan pulang), Harito tanpa sengaja menyelamatkan dan membentuk ikatan dengan orang-orang yang terbuang: Cedric, seorang mantan ksatria yang kehilangan kehormatannya; Lyra, seorang Rogue Elf yang sinis terhadap dunia; dan Alistair, seorang penyihir akademis yang nyentrik. Bersama kelompok kecilnya, Harito mulai menyelesaikan masalah-masalah lokal yang diabaikan oleh kerajaan besar. Namun, setiap krisis kecil yang mereka selesaikan secara tidak sadar merusak rantai komando pasukan iblis. Harito tumbuh menjadi ancaman terbesar bagi para iblis, bukan karena ia memiliki kekuatan dewa yang tiba-tiba turun dari langit, melainkan karena ia adalah bayangan yang tidak pernah diprediksi oleh siapa pun. Ini adalah kisah tentang seorang anak biasa yang berevolusi menjadi legenda sejati, justru karena ia tidak pernah diberitahu bahwa ia harus menjadi satu.
BAB 1: GEMA DALAM KEHENINGAN YANG BERDARAH

Dunia ini tidak pernah benar-benar ramah pada Harito Adingra.

Bagi remaja laki-laki berusia tujuh belas tahun itu, eksistensi adalah sebuah garis datar yang membosankan, kadang-kadang sedikit melengkung ke bawah karena ejekan teman-teman sekelasnya. Harito adalah definisi dari "anak culun" yang sering kali dianggap sebagai dekorasi ruangan daripada manusia. Dengan kacamata berbingkai hitam yang sering melorot di hidungnya dan kecenderungan untuk menundukkan kepala saat berjalan, Harito lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan atau di depan layar komputer, tenggelam dalam simulasi statistik ekonomi—pelarian kecilnya dari kenyataan yang melelahkan.

Sore itu, hujan turun dengan deras di Yogyakarta. Harito sedang merapikan tasnya, bersiap meninggalkan area kampus setelah sesi belajar mandiri yang panjang. Ia sempat melamun melihat rintik hujan yang menghantam kaca jendela, memikirkan tumpukan tugas analisis data yang menunggunya di rumah. Ia tidak pernah bermimpi menjadi pahlawan. Ia tidak pernah membayangkan dirinya memegang pedang. Impian terbesarnya hanyalah lulus dengan nilai memuaskan, mendapatkan pekerjaan stabil, dan mungkin, jika beruntung, tidak lagi diabaikan oleh dunia.

Namun, takdir memiliki selera humor yang gelap.

Saat ia melintasi lorong gedung yang sepi menuju gerbang keluar, sebuah getaran aneh merambat di bawah kakinya. Awalnya, ia mengira itu adalah gempa bumi tektonik yang biasa terjadi di wilayah tersebut. Namun, getaran itu tidak mengguncang gedung; getaran itu seolah-olah menarik jiwanya. Cahaya biru pucat mulai berpendar dari lantai semen yang dingin, membentuk pola geometris yang rumit—sebuah lingkaran sihir yang terlihat sangat tidak logis bagi akal sehat seorang mahasiswa ekonomi.

"Apa-apaan ini?" gumam Harito pelan. Suaranya gemetar.

Ia mencoba melangkah mundur, tetapi kakinya terasa seperti terpaku pada beton. Cahaya itu semakin terang, menelan kegelapan lorong, dan sebelum Harito sempat berteriak, dunia di sekitarnya meledak dalam warna putih yang membutakan.

Di belahan dimensi lain, di sebuah tempat yang dikenal sebagai Aethelgard, suasana sama sekali tidak sunyi.

Kuil Agung Valerius, sebuah mahakarya arsitektur kuno yang tersembunyi di dalam gua raksasa bawah tanah, kini berubah menjadi rumah jagal. Bau tembaga dari darah yang tumpah menyengat udara, mengalahkan aroma kemenyan suci yang biasanya memenuhi ruangan. Di tengah aula besar, lingkaran sihir raksasa masih berdenyut dengan energi sisa, namun para operatornya sudah tidak lagi bernapas.

Pendeta Agung Elara, wanita yang telah mendedikasikan hidupnya untuk ramalan tentang "Sang Penyelamat," tergeletak bersandar pada pilar marmer yang retak. Jubah putihnya kini berwarna merah pekat. Di depannya, Jenderal Malacor—seorang iblis setinggi dua meter dengan kulit serupa arang yang membara—membersihkan pedang besarnya dari darah manusia.

"Ritualmu gagal, Pendeta," suara Malacor terdengar seperti gesekan batu nisan. "Pahlawanmu tidak akan datang. Manusia ditakdirkan untuk punah di tangan tuanku."

Elara terbatuk, memuntahkan darah. Matanya yang mulai meredup menatap lingkaran sihir di belakang Malacor. Bibirnya bergerak tanpa suara, menyelesaikan bait terakhir dari mantra kuno yang sudah terlanjur berjalan. Ia tahu ia akan mati, dan ia tahu pasukan iblis ini akan pergi setelah merasa misi mereka tuntas. Namun, sihir Grand Summoning bukanlah sesuatu yang bisa dihentikan begitu saja setelah dipicu oleh pengorbanan nyawa.

Malacor tertawa dingin. Ia tidak merasakan adanya kehadiran kuat yang muncul dari lingkaran itu. Hanya ada sisa-sisa mana yang tidak stabil. "Periksa semua sudut. Pastikan tidak ada satu pun dari mereka yang hidup. Lalu kita tinggalkan tempat terkutuk ini," perintahnya pada bawahannya.

Pasukan iblis itu bergerak cepat, memastikan kematian setiap penyihir kerajaan, sebelum akhirnya mereka menghilang ke dalam kegelapan lorong kuil, yakin bahwa harapan terakhir umat manusia telah padam sebelum sempat menyala.

Tiga jam berlalu. Keheningan di Kuil Valerius begitu pekat hingga suara tetesan darah yang jatuh ke lantai terdengar seperti detak jam yang mengerikan.

Tiba-tiba, lingkaran sihir yang seharusnya sudah mati itu berpendar kembali. Tidak ada ledakan besar, tidak ada sambaran petir legendaris. Hanya sebuah letupan kecil energi, dan di sana, di tengah-tengah mayat para pendeta yang sudah mendingin, muncul seorang remaja laki-laki yang mengenakan hoodie abu-abu dan tas ransel yang masih tersampir di bahunya.

Harito Adingra jatuh terduduk. Kepalanya berdenyut hebat seolah-olah seseorang telah memukulnya dengan palu godam. "Aduh..." ia mengerang, memegangi kacamata yang nyaris jatuh.

Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan dirinya. Namun, saat paru-parunya menghirup udara sekitar, rasa mual yang luar biasa langsung menghantamnya. Itu bukan bau hujan. Itu bau kematian yang sangat segar.

Harito membuka matanya, dan dunianya runtuh untuk kedua kalinya dalam satu hari.

Ia tidak berada di lorong kampus. Ia berada di sebuah aula raksasa yang tampak seperti gereja dari zaman pertengahan, namun dalam kondisi hancur total. Dan yang paling mengerikan adalah apa yang ada di sekelilingnya. Mayat-mayat manusia berseragam aneh bergeletakan dalam posisi yang mengerikan. Beberapa tampak seperti habis dicabik-cabik oleh binatang buas.

"Ini... ini tidak mungkin," Harito merangkak mundur, tangannya menyentuh sesuatu yang basah dan lengket di lantai. Ia melihat tangannya—merah. Itu darah.

Ia berteriak, sebuah teriakan pendek yang tertahan di tenggorokan karena rasa takut yang melumpuhkan. Ia melihat ke arah seorang wanita tua yang mengenakan mahkota kecil—Pendeta Agung Elara—yang matanya masih terbuka lebar menatap kosong ke arahnya. Di tangan wanita itu, ada sebuah gulungan kertas yang masih digenggam erat.

Harito gemetar hebat. Ia ingin lari, tapi kakinya lemas. Ia merasa seperti sedang berada dalam mimpi buruk yang paling realistis. Tenang, Harito. Berpikir secara logis, perintahnya pada dirinya sendiri, sebuah kebiasaan yang ia pelajari saat menghadapi data statistik yang rumit. Jika ini mimpi, aku harus bangun. Jika ini nyata... aku dalam masalah besar.

Ia mencoba berdiri, menggunakan pilar sebagai sandaran. Saat itulah, sebuah jendela transparan muncul di depan matanya.

[PROSES INTEGRASI SELESAI]

[INDIVIDU TERDETEKSI: HARITO ADINGRA]

[STATUS: PAHLAWAN (TERLAMBAT)]

Harito mengerjap. "Status? Pahlawan?"

Ia melihat detail di bawah teks tersebut:

Kekuatan (STR): 8 (Rata-rata manusia biasa: 10)

Ketangkasan (AGI): 7 (Rata-rata manusia biasa: 10)

Kecerdasan (INT): 14

Mana: 10/10

Kemampuan Unik: [Belum Terbuka - Kondisi Ritual Tidak Sempurna]

Harito tertawa getir, sebuah tawa yang nyaris terdengar seperti isakan. "Pahlawan? Lihat angka-angka ini. Aku bahkan lebih lemah dari rata-rata orang di sini."

Ia melihat sekeliling lagi. Tidak ada raja yang menyambutnya dengan sorak-sorai. Tidak ada putri cantik yang memberinya pedang suci. Hanya ada keheningan, mayat, dan reruntuhan. Ia adalah pahlawan yang datang setelah pesta pembantaian selesai. Ia adalah pahlawan yang tidak diinginkan oleh siapa pun, terpanggil oleh sisa-sisa energi dari orang-orang yang sudah mati.

Rasa takutnya perlahan berganti dengan insting bertahan hidup yang paling dasar. Jika ada sesuatu yang membunuh semua orang ini, sesuatu itu mungkin masih ada di sekitar sini. Harito tidak tahu di mana ia berada, tetapi ia tahu ia tidak boleh tetap tinggal di tengah-tengah kuburan massal ini.

Ia mendekati jenazah Elara dengan ragu-ragu. Dengan tangan gemetar, ia mengambil gulungan kertas dari genggaman wanita itu. Ia tidak bisa membaca aksara yang tertulis di sana, namun entah bagaimana, sistem di matanya menerjemahkannya.

“Bagi dia yang datang dari bintang, larilah. Jangan biarkan mereka tahu kau ada di sini hingga kau siap. Dunia ini telah jatuh, namun bayangan tidak bisa membunuh apa yang tidak bisa mereka temukan.”

Harito menelan ludah. Pesan itu terdengar seperti peringatan daripada ramalan pahlawan yang mulia. Ia mengambil sebuah jubah cokelat tua yang tergeletak tidak jauh dari sana—mungkin milik salah satu murid penyihir—dan menggunakannya untuk menutupi hoodie-nya. Ia melepaskan kacamatanya sejenak, mengusap embun dan darah yang terciprat, lalu mengenakannya kembali.

Ia melihat ke arah lubang besar di langit-langit kuil yang menunjukkan langit malam dengan dua bulan yang bersinar redup. Warna ungu dan perak menyatu di cakrawala yang asing.

"Aku bukan pahlawan," bisik Harito pada kegelapan. "Aku hanya ingin hidup."

Harito mulai melangkah, menghindari genangan darah dengan hati-hati. Ia tidak memiliki pedang ajaib, ia tidak memiliki kekuatan penghancur. Ia hanya memiliki otaknya yang terbiasa menghitung kemungkinan terkecil dan keinginan keras kepala untuk tidak mati di tempat yang tidak dikenalnya ini.

Setiap langkahnya bergema di aula yang sunyi itu, seolah-olah lantai batu itu sendiri sedang mencatat kedatangan seorang legenda yang tidak pernah diharapkan. Ia keluar dari pintu besar kuil yang sudah hancur, menuju hutan gelap yang membentang di luar gua.

Di dunia nyata, Harito Adingra hanyalah seorang anak culun yang hilang dalam keramaian. Di Aethelgard, ia adalah sebuah anomali. Seorang pahlawan yang tumbuh tanpa bayang-bayang kejayaan, dimulai dari titik terendah dalam sejarah dunia yang sedang sekarat.

Perjalanan panjang itu baru saja dimulai, dan langkah pertamanya bukanlah menuju istana raja, melainkan menuju kegelapan untuk bersembunyi.

Lanjut membaca
Lanjut membaca