
Petualangan Ai (nama santri)
tinta kumala|Bersambung
- Jumlah kata
- 30.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
- Jumlah kata
- 30.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
Sinopsis
Petualangan AI: Santri, Preman, dan KKN Sihir Di Lembaga Perguruan Ilmu Nusantara (L-PIN), sihir adalah status sosial. Tapi bagi Ai, santri dari pesantren terpencil, sihir cuma alat buat nunggak utang. Ai bukan murid pilihan. Dia cuma anak yatim yang dapat beasiswa karena salah urus berkas. Di sekolah elite tempat para pangeran dan putri bangsawan belajar sihir, Ai lebih sering kena sanksi karena sholat di kelas daripada dapet nilai A. Tapi ketika tanah leluhur di bawah sekolah mulai kering dan energi spiritualnya dikuras habis oleh Orde Dalem—konglomerasi gaib pimpinan Rektor yang licik—para bangsawan panik. Tongkat sakti mereka melemah, jubah mereka pudar. Sementara Ai? Dia malah buka Warung Nasi Padang di pojok asrama. Tanpa disangka, warungnya jadi pusat energi baru. Tukang parkir, petugas kebersihan, sampai rival sombongnya, Pangeran Arsa, semua nongkrong di situ. Ai sadar, untuk ngalahin korporasi jahat, dia gak butuh sihir tingkat tinggi. Dia butuh gotong royong. Kini, santri paling gablok di sekolah paling elite harus menyatukan preman pasar, tukang ojek, dan cewek kutu buku untuk mengajarkan satu pelajaran berdarah: Jangan pernah coba-coba ngutang sama rakyat. Apalagi sama santri.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Santri di Negeri Ondel-ondel
Angkot jurusan Jogja-Sleman W-12 mangrok mendadak. Supirnya, seorang bapak berkumis setebal sikat cukur, menoleh ke belakang sambil nyeringai.
"Wes, Neng! Ngangkot paling ujung! Lembaga Perguruan... apaan jenenge?"
"Lembaga Perguruan Ilmu Nusantara, Pak," sahut seorang pemuda dari kursi paling belakang.
Dia turun. Kaki kanannya menyentuh aspal, diikuti kaki kiri yang menjepit sandal jepit *Croc* warna hitam—yang jepitnya udah putus, ditambal pake selotip listrik.
Raden Mas Bintang Abiyasa, atau yang akrab dipanggil **Ai**, menatap gerbang di hadapannya.
Gerbangnya tinggi. Banget. Dua kali lebih tinggi dari gerbang masjid di kampungnya. Materialnya kayak marmer, tapi kilapnya kayak kaca. Di atas gerbang, ukiran naga gakaran nggak ngelilit tiang, tapi kayak lagi main *skateboard* sama phoenix. Di tengahnya, ada tulisan neon:
**L.P.I.N**
*(Lembaga Perguruan Ilmu Nusantara)*
*“Masa Depan Ada di Tangan Mana Anda.”*
"Hadeh," desis Ai sambil ngangkat karung goni isi baju batik peninggalan kakeknya. "Gedhe tenan."
Dia nggak punya koper. Karung goni itu satu-satunya barang mewah yang dia punya. Isinya: tiga baju koko, satu sarung, mukena buat ibunya (yang udah nggak ada), tasbih kayu cendana, dan satu paket mie instan rasa soto ayam—cadangan kalau lapar.
Di pos jaga, satpakai baju loreng tapi bahannya kayak sutra langsung nyengir sinis.
"Hei, Mas. Ngapain?" tanya satpam itu, matanya nyapu dari sandal jepit Ai sampai ke kopyah lusuh di kepalanya. "Jualan bakso lewat sini? Dapur umum di belakang."
Ai nggak marah. Dia cuma melotot, terus ngeluarin amplop cokelat dari saku celana bahan longgarnya.
"Bukan, Pak. Saya murid baru."
Satpam itu nyamber amplopnya. Buka. Matanya melek. "Oh... Oh! R.M. Abiyasa? Eh, Mas Raden! Sorry, Mas! Silakan, silakan! Nggak dikenali wae, hahaha!"
Ai cuma nyengir tipis. "Nggak apa-apa, Pak. Saya emang muka wong cilik."
Dia jalan masuk. Baru dua langkah, dia berhenti.
*Krek.*
Dia muter badan 180 derajat. Matanya melihat ke atas, ke kiri, ke kanan. Bibirnya gerak-gerak ngitung. Tangannya sibuk di jari-jari, kayak lagi main sempoa.
"Aneh," gumamnya. "Arah kiblat kok muter-muter?"
Dia lihat jam tangan *Casio* digital harga lima puluh ribu. Jam 11.55 WIB.
"Udah deket Dzuhur nih."
Ai nggak lanjut jalan ke gedung administrasi. Dia malah ngambil karung goninya, taruh di pojok lobi yang sepi—tepat di bawah AC sentral yang ngebulin angin dingin -10 derajat. Dia ngeluarin sajadah kecil yang digulung rapi dari dalam karung. Dia bentangin.
Lobi L-PIN itu ramai. Anak-anak umur 16-18 tahun pada lalu-lalang. Ada yang naik *hoverboard*, ada yang naik sapu terbang (yang kayak sapu pel tapi gagangnya ada kristalnya). Cewek-ceweknya pake seragam batik modern yang *skirt*-nya pendek banget. Cowok-cowoknya rambutnya warna-warni, ada yang biru, ada yang ungu kayak ulat.
Mereka semua berhenti.
"Eh, liat tuh."
"Bau apa? Bau tanah?"
"Woy, itu santri beneran? Di L-PIN ada santri?"
Ai nggak peduli. Dia udah wudhu pake air mineral *Aqua* gelas ukuran 600ml yang dia beli di warung depan tadi. Dia berdiri tegak, takbir.
*"ALLAHU AKBAR..."*
Suaranya nggak kenceng. Tapi *dalem*. Kayak suara bedug dari kejauhan.
Satu anak bangsawan, yang pake kalung emas segede rantai motor, nyengir. "Woy, Bang! Ini lobi, bukan masjid! Ngapain sholat di sini? Ngapain!"
Ai lagi ruku'. Dia angkat kepala dikit. Matanya nyipit, tapi nyala.
"Mas," kata Ai pelan. "Kalau Bapak lu lagi nelpon, apa Bapak lu nolak? Ini saya lagi nelpon Bos Gue. Urusan penting. Jangan diganggu."
Anak bangsawan itu melek. Dia ngerasa ada tekanan aneh di dada. Kayak ada batu gede nindih.
Ai lanjut sholatnya. *Khusyuk*. Saking khusyuknya, AC di atas dia tiba-tiba *ngel-eng*... mati.
Pas Ai selesai sholat dan nyium sajadah, baru deh satpam tadi lari ketakutan.
"Mas! Mas Raden! Aduh, Mas! Kenapa sholat di sini?! Rektor lewat nanti gimana?!"
Ai lipat sajadahnya, masukin ke karung. "Ya wes, Pak. Saya kira ini negara merdeka. Sholat aja dilarang?"
"Bukan dilarang! Cuma... gak pantas! Ini Lobi Utama! Tempat orang penting!"
"Saya juga penting," jawab Ai datar. "Saya penting buat diri saya sendiri. Kalau saya gak sholat, hidup saya mager. Kalau hidup saya mager, saya gak bisa lulus. Kalau gak lulus, saya gak bisa balik kampung. Terus Pak mau kasih ongkos?"
Satpam itu bengong. Logikanya apa?
"Y... ya udah, Mas. Ke administrasi aja. Sayap Perak, lantai 3. Kamar 304."
"Makasih, Pak. Salam 5 waktu ya."
Ai nyangking karung goninya. Dia jalan menembus kerumunan anak-anak sombong yang sekarang pada diem seribu bahasa. Dia denger bisik-bisik mereka.
*"Itu siapa?"*
*"Dengar-dengar anak yatim dari pesantren terpencil."*
*"Hah? Petani?"*
*"Bau kambing."*
Ai nggak ngeh. Dia lagi sibuk mikirin. *Sayap Perak*. Artinya pasti ada *Sayap Emas*. Bagus. Berarti ada diskriminasi. Kalau ada diskriminasi, berarti ada *untung-untungan*.
Di lantai 3, suasananya beda. Koridor Sayap Perak agak remang, karpetnya udah agak bolong. Di kamar 304, pintunya setengah terbuka.
Ai dorong. *Kreeet.*
"Assalamualaikum."
Di dalam, ada dua orang.
Satu cewek gemuk banget, mukanya nyemplung di buku setebal bata judulnya *"Ensiklopedia Runes Kuno Nusantara Edisi ke-4"*. Dia nggak ngeliat Ai dateng.
Satu lagi cowok bulat pendek, lagi sibuk ngomong sama... kecoa?
"Iya, Nyai Kecoa. Gue tau dia jahat. Tapi gimana? Dia anak Rektor. Kita cuma tukang parkir... eh, tukang sapu."
Ai batuk. "Ehem."
Cowok bulat itu langsung lompat, nyembunyi di belakang lemari. "Aduh! Hantu! Hantu santri!"
Cewek gemuk itu angkat kepala. Kacamatanya melorot. "Lo siapa? Sinten?"
"Ai. Temen kamar kalian." Ai taruh karungnya di kasur paling ujung. Kasurnya berkarat. "Kasur nomor berapa yang bagus?"
"Nomor 4," jawab cowok bulat dari balik lemari. "Itu kasur Arsa. Tapi dia gak bakal dateng. Dia anak bangsawan, tidur di Sayap Emas."
"Arsa?"
"Pangeran Raksa Damar Panembahan. Anak satu-satunya Panembahan Agung. Sok ganteng, sok sakti, sok bau duit," jelas cewek gemuk itu sambil balik baca buku. "Gue Dewi. Dia Bambang. Lo?"
"Ai."
"Nama lo aneh," cemoh Dewi.
"Nama lo juga nggak enak didengar. *Dewi*? Berat, nanti jodohnya susah," balas Ai otomatis.
Dewi melek. Bambang keluar dari balik lemari.
"Lo peramal?" tanya Bambang.
"Bukan. Tukang warung. Dulu di pasar, kalau barang berat gak laku, pasti namanya berat," jawab Ai sambil mulai ngelap kasur berkaratnya pake kain lap. "Nah, sekarang gue lap dulu. Kasur ini kotor banget, aura negatifnya ngebul."
Tiba-tiba, bel berbunyi. *NGIIING! NGIIING!*
Suara robotik keluar dari speaker langit-langit. *"Selamat siang, siswa baru. Segera berkumpul di Aula Gajah Mada untuk Pembekalan Mana Channel. Dilarang makan di dalam aula. Dilarang bawa hewan peliharaan. Dilarang..."*
"Gila, sombong," kata Ai. "Gajah Mada aja disuruh nunggu."
"Itu nama aulanya, bego," kata Dewi. "Ayo, telat mati."
***
Aula Gajah Mada.
Namanya aula, tapi kayak stadion. Langit-langitnya kaca, bisa liat awan. Di panggung, ada kursi tunggal kayak Singgasana.
Ai, Dewi, sama Bambang duduk di barisan paling belakang. Di depan mereka, ribuan murid. Semua pake seragam batik, tapi beda corak.
Sayap Emas: Corak Megamendung (awan).
Sayap Perak: Corak Parang (belang).
"Lihat tuh," bisik Bambang nunjuk ke barisan depan. "Itu dia. Si Arsa."
Ai nyipitin mata.
Di barisan paling depan, tengah, duduk seorang cowok. Rambutnya disisir rapi, pake blangkon emas. Batiknya warna biru dongker, tapi kilaunya kayak ada lampu LED di dalamnya. Dia dikelilingi anak-anak lain yang pada ngebacin kipas, nawarin minum.
"Sok bangsawan banget," gumam Ai.
Tiba-tiba, lampu aula meredup. Musik gamelan elektronik nyala. *Dung... dung... teng... teng...*
Pintu di belakang panggung terbuka. Masuklah seorang pria.
Pria itu... *ganteng banget*. Umurnya keliatan 40-an, tapi kulitnya mulus kayak bayi. Dia pake jas batik, tapi di kakinya... sandal jepit kulit.
Rektor Pramana Adinegara.
"Selamat siang, generasi emas Nusantara!" suaranya merdu.
"SIANG, PAK REKTOR!" teriak semua murid serentak. Kecuali Ai. Ai lagi sibuk ngupas kerupuk.
Rektor senyum. "Hari ini, kita akan belajar dasar ilmu sihir. Membuka **Mana Channel**. Siapa yang bisa nyalakan lilin ini?"
Di atas meja di panggung, ada lilin putih.
Murid-murid pada maju.
Yang pertama, cowok gendut. Dia pegang tongkat. "Ignis!" *Pruut.* Cuma keluar asap bau kentut. Gagal.
Yang kedua, cewek cantik. Dia petegin jari. *Crek.* Ada percikan api segede korek. Lilin nggak nyala. Gagal.
Arsa maju. Anggun banget. Dia cuma jentikkan jari. *Sleb!* Api biru langsung nyala di ujung jarinya. Dia deketin ke lilin. *Fuuush.* Lilin nyala sempurna.
Sorak sorai!
"Wih! Pangeran!"
"Sakti bener!"
Rektor angguk puas. "Bagus. Nilai A untuk Pangeran Raksa."
Arsa balik ke tempat duduk, dada didepannya. Dia lewat di samping barisan Ai. Matanya nyemplung ke karung goni Ai. Dia nyengir sinis.
"Hewan peliharaan baru, Bambang? Bau kambing," ejek Arsa pelan.
Bambang merana. Dewi gemetar marah.
Ai? Ai lagi ngunyah kerupuk. *Krek. Krek.*
Dia liat Arsa, terus liat ke lilin di panggung yang barusan dinyalain Arsa. Api birunya lagi goyang-goyang, kayak lagi keanginan. Padahal di aula nggak ada angin.
Ai melotot ke atas. AC di atas panggung lagi bocor. Tetesan air jatuh pas di atas sumbu lilin. *Crek... crek...*
"Pak Rektor!" teriak Ai tiba-tiba. Suaranya nembus sorak-sorai.
Semua murid menoleh. Arsa juga kaget.
Rektor Pramana ngeringok. "Ya? Ada apa, anak... sayap perak?"
"Lilin itu bohong, Pak," kata Ai blak-blakan.
Hening.
Bisa denger suara jangkrik.
Arsa nyengir. "Dasar wong cilik. Iri."
Rektor angkat alis. "Bohong? Maksudmu?"
"Api Pangeran Arsa itu nggak nyala dari dalam. Nyalanya dari luar," kata Ai sambil berdiri. Dia nunjuk ke atas panggung. "Sumur bor bocor, Pak. Airnya netes ke lilin. Kalau Pak Rektor percaya sama ilmu Pangeran, coba Pak Rektor pindahin lilinnya."
Muka Rektor berubah. Dia liat ke atas. Beneran. Ada tetesan air.
Tapi dia nggak mau kalah. "Mungkin kebetulan."
"Oke," kata Ai. Dia jalan ke depan.
Semua murid ngelotin. Santri gablok ini mau ngapain?
Ai naik panggung. Dia nggak pake tongkat. Dia cuma jongkok di depan lilin. Dia liat pipa AC di atasnya yang bocor.
"Bapak, pinjem selotip dong?" Ai minta ke Rektor.
Rektor bingung, dia lempar selotipnya. Ai nangkep.
Ai naik ke kursi. Dia tempelin selotip ke bocoran pipa AC. *Slet!* Beres.
Terus dia liat lilin yang basah. Sumbunya udah becek. Ai ngeluarin korek api gas harga 2 ribuan. *Crek.* Dia nyalain.
*Fuuuush.*
Lilin nyala. Api kuning stabil. Nggak goyang.
Ai lompat turun. "Selesai, Pak. Sihir itu kayak pipa bocor. Kalau cuma dibayang-bayangin airnya, nggak bakal ngalir. Yang penting pipanya dibenerin dulu."
Rektor Pramana melongo.
Murid-murid melongo.
Arsa? Muka Arsa merah padam. Dia dihina di depan umum sama santri bau kambing!
"Dasar...!" Arsa mau ngamuk.
Tapi Rektor ngangkat tangan. Dia senyum. Senyum yang bikin merinding. "Menarik. Sangat pragmatis. Nilai C plus buat kamu, anak... Abiyasa. Karena kamu nggak pake mana. Kamu pake selotip."
"Alhamdulillah, lulus," jawab Ai santai. Dia balik ke tempat duduk.
Dewi dan Bambang nahan tawa.
***
Jam makan siang. Kantin.
Kantin L-PIN itu kayak food court mewah. Ada stall Sushi, Pasta, Steak.
Ai cuma punya uang 50 ribu buat seminggu. Dia beli nasi uduk, tempe orek, sama es teh manis. Total 15 ribu.
Dia cari meja kosong. Nggak ada. Semua meja penuh anak-anak Sayap Emas yang sok gaul.
Ai akhirnya duduk di pojok, di meja bulat kecil.
Dia lagi asyik makan tempe, tiba-tiba... *DUG!*
Seseorang nabrak mejanya.
Bukan nabrak biasa. Nabrak pake sengaja.
Piring nasi uduk Ai terbang.
Tempe oreknya nempel di batik Arsa.
Nasi uduknya tumpah ke sandal jepit Arsa.
Es teh manisnya jatoh, pecah. Cipratan teh manis ngenain muka Ai sendiri.
Aula mendadak hening lagi.
Arsa berdiri, mukanya merah menyala. Batik kesayangannya kotor. Dia sengaja nabrak Ai. Dia emang niat.
"Aduh!" teriak Arsa pura-pura kaget. "Maaf banget, Mas! Kaki gue gak sengaja keselip!"
Dia senyum sinis ke Ai. "Dasar wong cilik, duduknya nggak liat-liat. Meja kan cuma buat orang penting."
Teman-teman Arsa pada ngakak.
"Hahaha! Kena tempe!"
"Bau pesek!"
Ai diem.
Dia duduk di lantai, di antara pecahan gelas dan nasi becek.
Rambutnya ada nasi. Mukanya ada es teh manis.
Dia ngangkat kepala pelan. Matanya nyolok ke Arsa.
Bambang di meja sebelah udah siap lari. Dewi tutup muka. Ai kalau marah... bahaya.
"Mas Arsa," suara Ai tenang banget. Terlalu tenang.
"Ya? Mau minta ganti rugi? Gue kasih 100 ribu, cukup?" Arsa ngeluarin dompet.
Ai berdiri. Dia bersihin mukanya pake lengan baju.
Dia jalan mendekat ke Arsa. Jarak mereka cuma sejengkal. Ai lebih pendek 5 cm, tapi auranya... lebih gede.
"Nggak, Mas," kata Ai. Suaranya datar. "Saya cuma mau bilang..."
Ai senyum. Gigi putihnya keliatan.
"...Rezeki saya emang jatohnya agak kasar. Makasih ya, Mas, udah bantuin saya nge-prayok-in nasib saya."
Arsa bingung. "Apaan lo ngomong?"
"Tapi," lanjut Ai, matanya tiba-tiba nyala sepersekian detik. Cuma Arsa yang liat. "Kalau ada yang nyentuh makanan saya... dia bakal kena *sengsara*."
Ai balik badan, ambil sapu lidi di pojok kantin. Dia sapu nasi di lantai.
Arsa nyengir, mau jalan.
Tapi...
*KREK.*
Suara logam bengkok.
Arsa berhenti. Dia liat ke tangannya.
Sendok makan stainless steel yang dia pegang... **bengkok**. Bengkoknya nggak wajar. Kayak dijepit raksasa. Ujungnya nyungsep ke telapak tangannya.
"Aduh!!" Arsa jerit.
Semua murid ngeliat. Sendok Arsa bengkok parah.
Arsa liat ke Ai yang lagi sapu-sapu di pojok, pura-pura nggak tau. Ai nyengir ke Bambang. Bambang ngacengin jempol.
Arsa gemetar. Dia liat sendoknya. Dia liat Ai.
Ada rasa takut yang baru pertama kali dia rasain. Bukan takut sama kekuatan. Tapi takut sama... *tukang warung*.
Ai balik ke mejanya, ambil sisa nasi yang nggak tumpah. Dia makan lagi sambil nyengir.
"Wih, enak. Ada tempe lagi nggak, Pak?"
Daftar bab
22 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








